
"Aku sudah nyaman seperti ini. Mengejar dan mencintaimu. Aku tidak mau kamu pergi." *¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦
Sudah dua hari Matahari dirawat di rumah sakit, dan besok ia sudah diperbolehkan untuk pulang, Kini Matahari sedang makan siang untuk minum obatnya. "Lo cepet sekolah ri, gue capek tau kerja sendirian." ujar Arsenio dengan nada malas.
Matahari tersenyum lebar. "Rajin banget,Kalo gini mending gue nggak usah masuk sekolah tiap hari."
Arsenio menatap Matahari tajam kemudian menyuapi Matahari dengan raut wajah ketus. "Nyusahin!"
"Gitu banget sih lo! Enggak ada baik-baiknya sama gue." gerutu Matahari.
"Bawel lo."
"Ketus mulu,Kapan lembutnya?!" celetuk Matahari yang memang selalu berbicara blak-blakan.
Arsenio menyipitkan mata menatap Matahari. "Gue mau nanya sama lo." kata Arsenio mengganti topik.
"Apa?"
"Kenapa kemarin lo nangis? Langit jahatin lo?"
"Lo Khawatir sama gue?" godanya tersenyum lebar,berusaha menutupi rasa patah hatinya.
Arsenio menaruh mangkuk bubur keatas meja lalu beralih menatap Matahari.
"K-A-G-A-K!"jawabnya penuh penekanan. Matahari mendengkus kasar lalu mengerucut kan mulutnya.
"Gue pamit ya ri." kata Arsenio.
"Mau kemana?"
"Gue mau ke bascame."
Matahari terdiam sejenak lalu mengangguk mengiyakan. "Hati-hati."
Arsenio mengangkat bokongnya dari kursi dan segera pergi. Namun rasanya ia tidak tega untuk meninggalkan wanita yang sedang patah hati ini. Arsenio menghembuskan nafas panjang lalu terduduk kembali, sembari menatap Matahari fokus. "Kalo lo lagi pengen curhat, tinggal curhat sama gue." ujarnya.
"Memangnya lo mau dengerin?" tanya Matahari yang dapat anggukan dari Arsenio.
"Kalo gue nya nangis gimana?"
"Pundak gue ada dideket lo." jawab Arsenio.
Matahari tersenyum manis kemudian memeluk Arsenio hangat, ia merasakan hatinya tenang jika sudah memeluk seseorang. Yang dipeluk hanya terdiam mematung. Sudah kedua kalinya mereka berpelukan, dan entah kenapa Arsen tidak pernah menolaknya, ia malah menerima dengan penuh ketulusan.
...~©MatahariLangit.~...
"Kenapa gue harus dapat tugas bareng lo sih." gerutu Lami melirik Arya sinis.
"Terima aja sih, lagian lo nggak akan rugi kalo nugas sama gue!" balas Arya.
"Rugi gue nugas sama lo!"
Arya membalikkan badan menghadap Lami,Kedua tangannya ia lipatkan didepan dada. "Sebutin dimana ruginya? Biar entar gue ganti rugi."
Lami mendengkus sebal lalu menatap Arya tajam. "Waktu berharga gue rugi karena lo!"
"Terus apa lagi?"
"Keringet gue keluar sia sia karena lo!"
"Mmm, terus apa lagi?"
"Gue pulang!" kata Lami lalu menyambar tasnya kemudian berjalan keluar ruangan.
"Eehhkk! Paarriittt!" teriak Arya lalu berlari mengejarnya.
"Woy! Kalo misalnya entu ruangan belum beres, Kita bisa kena amuk Pariitt." jelas Arya sudah ada dihadapan Lami.
Lami memasang wajah malas. "harus banget?"
"Astaga! Lo inget kagak sih, kita disuruh beresin semuanya?!"
Lami mendengkus sebal. "Ini udah sore, Gue harus pulang."
"Tega lo sama gue Lam."
"Ya udah gue bantu liatin aja ya."
"Paritt! Lo nyiksa."
"Heee, kapan gue nyiksa lo? Gue dari tadi diem aja."
"Kuatkan iman hamba ya allah." gumam Arya berlapang dada..
"Bantuin gue ya Lami cantik!"kata Arya malas. Lami tersenyum manis kemudian menatap Arya malu-malu kucing.
"Lo kenapa Lam?" tanya Arya bingung melihat Lami senyum-senyum sendiri.
"Kamu tadi bilang aku apa?"
Arya menutup mata rapat-rapat,Rasanya ia ingin mengutuk Mulutnya ini.
__ADS_1
"Baperan amat sih nih cewek!" batinnya
"Ahhaahaha...Lami Cantik bantuin Arya yhaa!!" ujar Arya seraya tertawa garing sambil menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.
Lami semakin tersipu malu. "Ayokk!"
"Anjjiirr! Nih cewek gampang banget nurutnya ternyata..."Batin Arya terkekeh.
Lami dengan sigap membantu Arya membereskan semua barang-barang untuk persiapan pameran dua hari lagi. Sesekali Lami menatap Arya diam-diam, Ia mulai tertarik dengan Sicowok bermata biru itu. "Sayang gue benci sama lo!" Batin Lami seraya emasnag raut wajah malas.
Arya melirik lalu menatap nya tajam. "Naon lo liat liat!" celetuk Arya datar.
"Diih pede gila!" Jawab Lami ketus dan beralih fokus pada kerjaannya.
"Baru aja tadi lo leleh sama gue! Kunaon ayena judes dei?"batin Arya heran.
"Lamiii! Arya itu cowok jahat!"batin Lami.
...~©MatahariLangit.~...
"Langit!!!" panggil seseorang membuat Langit melirik kesumber suara.
Seketika senyum nya merekah setelah melihat kesumber suara tadi.
"Kamu ngapain ada disini?" Tanya Langit sambil memasukkan tangan kirinya pada saku celana dan tangan kanan nya menggenggam Cup Coffie.
"Aku lagi nunggu jemputan."
"Oohh,Kamu pulang sore karena ikutan ekstrakurikuler?" tanya Langit yang diangguki oleh Bulan.
"Btw,Maaf ya waktu itu aku ninggalin kamu gitu aja."Kata Langit merasa bersalah.
Bulan menggelengkan kepalanya dan tetap tersenyum. "Enggak papa."
"Eemm,sebagai permintaan maaf aku ke kamu. Gimana kalo aku anterin kamu pulang?" tawar Langit tersenyum kikuk.
"T-tapi nanti ngerepotin kamu,"
"E-enggak kok,Kamu nggak pernah ngerepotin." Ujar Langit gugup.
"Cuman ngerepotin hati gue aja!" Batin Langit.
Bulan tersenyum lebar kemudian mengangguk setuju. "Kalo gitu iya deh."
"Ya udah ayok!" ajak Langit lalu menarik lengan Bulan agar mengikutinya keparkiran mobil. Bulan terus tersenyum bahagia, Dan Langit berusaha mengatur nafasnya,karena jantungnya terus saja berdetak hebat didalam sana.
...~©MatahariLangit.~...
"Langit! Mau kemana kamu?" teriak Xandra terbangun karena mendengar suara mesin motor Langit.
"maaf bun." gumam Langit lalu menancapkan gas dengan kecepatan penuh.
Xandra menghembuskan nafas panjang lalu memijat pelipis-nya. "Langitt!"
Langit memfokuskan pandangan pada jalanan yang ada didepannya ini. Jalanan yang terlihat sepi karena sudah sangat malam. Saat sudah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Langit sampai ditempat tujuan. Cowok berpakaian dadakan itu pun langsung turun cepat-cepat dari motor nya.
Takk...Takk...Takk...
Langit berlari sambil mencari sebuah ruangan yang ditujunya.
Ceklekk
Saat sudah sampai Langit menatap wanita yang tengah menatapnya juga. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Langit tersenyum manis sekilas,lalu menghampiri wanita tersebut.
"Ngapain lo kesini?" tanya Matahari bingung.
Langit mendudukkan bokongnya dikursi samping ranjang Matahari ."Nemenin lo." jawabnya.
Matahari terdiam. "Gue udah ada yang nemenin."
Langit mengernyit. "Siapa? Arsen?"
"Heemm..."
"Nggak ada pun orangnya."
"Dia lagi keluar bentar."
Langit menghembuskan nafas kasar. "Lo tau nggak. Gue kabur dari rumah cuman gara gara pengen ketemu lo!" Matahari terdiam mematung,tatapannya terpaku pada Langit.
"Tadi sore gue lupa jengukin lo."ujar Langit sendu.
Matahari memejamkan matanya lalu menatap kembali Langit. "Kenapa lo kabur?"
"Kan udah gue bilang, Mau Ketemu Lo!"
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Lo mau ketemu gue?"
__ADS_1
Langit terdiam ia gugup untuk berbicara yang sejujurnya kalo ia tiba-tiba merindukan sosok Matahari. "Nggak mungkin kan gue ceritain mimpi gue tadi." batinnya.
"Gue nanya sama lo Lang."sahut Matahari menungu jawaban.
Langit berdehem lalu menatap Matahari. "Eemm,Lo gerah nggak sih Ri? Gue gerah loh." kata Langit mengalihkan pembicaraan..
Matahari menepuk kening Langit pelan. "Tolol!" ledeknya membuat Langit mengernyit.
"Lo nggak liat apa, Ac segede itu!" sambung Matahari menunjuk kearah Ac.
Langit memejamkan matanya rapat-rapat, ia memang tolol, tapi ia memang merasa panas,Apa lagi disekitar wajahnya. "Hehehe..."
"Cengir lo!"
"Serius gue gerah, Ri."
"Buka jaket lo!" titah Matahari.
"Kenapa mau lo pake?" tanya Langit membuka Jaket nya.
"Katanya lo gerah, gimana sih?"
"E-ehhkk, iya...gimana sih lo lang!" kata Langit yang sudah salting dari tadi.
Matahari terkekeh sejenak. "Lo kenapa jadi salting gitu sih Lang?"
"E-enggak kok, kata siapa gue salting?!"
"Kata gue."
Langit menghembuskan nafas panjang lagi, lalu menutup matanya.
"Gue..... Ka-"
Ceklekk
Langit berhenti berucap, dan beralih menatap kearah pintu. Begitupun Matahari ia beralih menatap kearah pintu. Ternyata Arsenio sudah kembali. "Langit." gumamnya pelan.
"Si kampret ganggu gue aja lo." batin Langit.
"Nih!" kata Arsenio sembari memberikan martabak pesana Matahari.
Matahari tersenyum manis. "Makasih Arsen."
"Eemm..." jawabnya cuek lalu beralih menatap Langit.
"Nagapain lo kesini?!" tanya Arsen ketus.
"Suka suka gue dong." jawab Langit tak kalah ketus.
Arsenio mendengus kasar. "Jangan buat cewek nangis lo!" Matahari membelalakkan mata saat mendengar ucapan Arsenio yang tiba-tiba megagetkannya.
"Apa lo bilang?" tanya Langit.
Arsenio menunjuk Langit dengan raut wajah datar. "Sekali sekali lo harus mencoba rasanya mencintai dan mengejar bertahun-tahun,dan tersakiti berkali-kali! Biar lo tau seberapa terpuruknya perasaan itu!"
Matahari memegang lengan Arsenio. "Arsen!"
Langit menghela nafas berat. "Gue tau rasanya, sen. Gue tau rasanya mencintai bertahun-tahun." Batin Langit
" Seharunya lo tau mana kata-kata yang harus lo simpan dan lo katakan!" sambung Arsenio tersulut emosi. Langit mendengus kasar kemudian melirik Matahari yang terus menundukkan kepalanya.
"Lo nggak tepat memilih cowok Ri."ujar Arsenio.
Matahari mendongkkan kepala menatap Arsenio. "Lo terlalu emosian." gumam Matahari.
"Lo terlalu baperan jadi cewek!" celetuknya membuat Matahari menatap tajam.
"Gue memang nggak harus lo kejar Ri." kata Langit.
Matahari menatap Langit sendu. "kalo gue sukanya sama lo dan maunya lo gimana?"
"Gue nggak bisa,"
"Tapii..."
"Cowok kayak gue nggak pantes buat lo."
"Gue sayang sama lo!"
"Maaf Ri." ujar Langit lalu membenarkan posisi duduknya menjadi berdiri.
"Gue pulang." pamitnya lalu pergi.
"Aaaaarrrsennn!" gerutu Matahari sebal. Arsenio mengacuhkan Matahari dan memilih fokus pada headphonenya.
"Arsen gue benci lo!"
"Eemm, gue juga." Balas Arsen datar. Matahari menggerutu kesal, Rasanya ia sangat ingin memukul Arsenio.
...~©MatahariLangit.~...
__ADS_1