Matahari Langit

Matahari Langit
17.Seventeen


__ADS_3

"Aku hanya tidak suka melihat nya bersama pria lain." ¦¦ Aska Langit ¦¦


"Boleh gabung?" tanya wanita itu lembut.


Arsenio sedikit mendongkakkan kepala melihat ke sumber suara. Setelah melihatnya, Arsenio pun mengalihkan pandangannya ke sekeliling kantin, ternyata penuh. Dan hanya tempat Arsenio yang masih lapang.


"Duduk aja!" titah Arsenio dengan suara khasnya yang datar.


Wanita itupun mengangguk senang lalu duduk didepan Arsenio. Pandangan Arsenio tiba-tiba tidak bisa teralihkan dari wanita yang ada dihadapannya ini. Wanita yang selama ini selalu menganggu pikirannya. Siapa lagi kalo bukan Adena Chalondra. Karena merasa diperhatikan Adena pun sedikit melirik kearah Arsenio. Pandangan mereka pun bertemu dan terpaku.


"L-lo kenapa liatin gue kayak gitu?" tanya Adena gugup. Arsenio sedikit menyumbang kan senyuman nya. Kemudian kembali kepada wajah datar nya lagi.


"Mata lo!" ujar Arsenio kemudian meneguk segelas air putihnya. Adena buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan berusaha mencari keganjalan yang ada dimatanya. ia kira ada tai mata, Namun seperti nya tidak ada.


Adena mendengkus sebal karena merasa dijahili oleh seorang pangeran sekolah. Tampangnya saja yang cuek sok cool. Aslinya NYEBELIN. "Lo rese iihhkk!" Cibir Adena lalu kembali melahap Mie ayam nya.


Arsenio hanya dapat terkekeh geli melihatnya. Entah kenapa setiap bersama Adena Arsenio selalu tidak sadar mengeluarkan sikap aslinya. Selain bersama Matahari,juga Agler. Arsenio pun dapat berbicara panjang pada Adena. Padahal baru mengenal wanita itu, tapi entah kenapa Arsenio sudah menemukan kenyamanan di dalam diri wanita itu.


"Kenapa lo sendiri,kemana Matahari?" tanya Arsenio membuat Adena terdiam bingung.


"Lo sadar nggak sih? Setiap lo ngomong sama gue pasti lo nggak sedatar kayak biasanya? Lo kenapa?" tanya Adena merasa heran melihat Arsenio.


Arsenio mengangkat kedua bahunya. "Gue kan udah ngomong ke lo. Gue ngerasa nyaman aja ngomong sama lo jadi nggak ada salahnya kan gue ngomong santai ke lo."


Deggg


Jantung Adena berloncat-loncat didalam sana. Ucapan Arsenio selalu berhasil membuat Adena merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.


"Kenapa diem?" tanya Arsenio.


"E-ehhk, enggak." jawabnya salting kemudian memalingkan wajahnya ke lain arah.


...~©MatahariLangit.~...

__ADS_1


Matahari menghampiri Langit yang berada di lapangan Basket sembari menenteng dua  susu kotak. Perlahan Matahari mendekati Langit yang kini tengah sibuk memantul-mantulkan bola oren.


"Iiisshh, Baru jam istirahat pertama aja lo udah keringatan." Desis Matahari sambil memberikan susu kotak rasa coklat pada Langit.


Langit berhenti memantulkan bola dan beralih menatap Matahari. "Kenapa emangnya?"


"Bau tau," ujar Matahari kemudian meminum susu kotak miliknya.


Langit menghembuskan nafas panjang lalu meminum susu kotaknya. "Lo kesini cuman mau ngasih susu doang?" tanya Langit setelah menghabiskan susu kotaknya.


Matahari menggeleng kan kepala. "Mau liat lo main basket."


"Liatin doang?"


"Ya udah ajarin!" kata Matahari lalu beralih memungut bola basket yang ada didekat tiang ring.


Takk... Takkk...


"Kenapa lo tiba-tiba minta diajarin?" tanya Langit seraya merebut bola basket nya.


Matahari mendengkus sebal lalu berkacak pinggang. "Lo bawel banget sih! Tinggal ajarin gue kayak gimana mainnya,"


"Iidihh malah ngomel. Gue nanya baik-baik juga."


"Ayolah ajarin gue!"


Langit menghembuskan nafas kemudian berdiri tepat dibelakang Matahari, Kedua tangannya mengarah kedepan, Dan berusaha mengajari Matahari bermain Dribbling dengan benar.


Tubuh Langit kini sangat dekat dengan Matahari, Hingga Matahari tidak fokus untuk berlatih. Ia malah lebih fokus menatap wajah Langit dari samping. Senyuman manis nya terbit ketika wajah Langit sangat dekat dengannya.


"Lo perlu fokus kalo udah ketemu lawan, jangan sampe Dribbling lo ini direbut." jelas Langit seraya mengajarkan caranya. Matahari tidak memperhatikan nya, ia malah fokus memperhatikan Langit. Sialnya Langit tidak sadar akan hal itu.


"Kalo lo udah deket sama ring, lo tinggal bidik kearah ring nya." kata Langit seraya membantu mengangkat kedua tangan Matahari untuk ancang-ancang melempar bola.

__ADS_1


Saat bola sudah melambung diatas,Langit pun sedikit melirik kearah Matahari. Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Matahari semakin tersenyum lebar ketika Langit beralih meliriknya.


Langit yang melihatnya hanya merasakan sesuatu hawa yang aneh,Panas disekitaran wajah, dan juga dadanya sedikit berdetak hebat. Langit tersadar dan buru-buru memundurkan tubuhnya sembari membenarkan posisi nya.


"L-lo coba lempar sendiri!" titah Langit membuat Matahari tersadar pula. Matahari cepat-cepat menutup matanya dan beralih menatap bola basket yang kini sudah ada ditangannya,dan siap untuk dilempar.


...~©MatahariLangit.~...


Saat pulang sekolah Arsenio tidak sengaja melihat seorang pria paruh baya mengenakan topi dan juga kaca mata hitam tengah menatapnya diluar gerbang. Begitu mengenalnya, Arsenio pun membelalak tidak percaya, dengan cepat ia kembali kedalam untuk mencari Matahari.


"Ri, berarti besok kita tinggal tunggu mobil barangnya ya?" tanya Lami memastikan seraya berjalan beriringan bersama Matahari dan juga Adena.


"Iya, terus besoknya kita mulai dekor." jawab Matahari diangguki Lami.


"Oya, Btw... Lukisan lo ikutan dipamerin ya Na," sahut Lami tersenyum lebar.


Adena tersenyum lalu mengangguk. "Gue kira, lukisan gue nggak akan dipamerin nyatanya di-" ucapan Adena terpotong karena tiba-tiba Matahari ditarik oleh Arsenio untuk pergi bersamanya..


Ada rasa tidak terima didalam hati Adena ketika melihatnya.


"Eehhhkk! Arsen! Lo mau bawa gue kemana?!" kata Matahari seraya berlari karena Arsenio berlari.


"Orang suruhan nyokap gue ada didepan gerbang, pasti dia disuruh mantau kita! Nggak mungkin kan gue pulang sendirian ketika dia ada disana!" jelas Arsenio kemudian berhenti berlari.


"Ribet banget sih, pake acara-acara mantau segala. Sekalian aja warga sekampung yang mantau!" gerutu Matahari.


Arsenio menghembuskan nafas panjang setelah sudah ada didekat parkiran. Dengan cepat Arsenio pun merangkul Matahari. Matahari tersentak kaget akan perlakuan Arsenio itu. Rasanya ingin melepasnya Namun Arsenio malah berbisik


"Untuk sementara waktu, gue mohon kerjasama nya." bisiknya membuat Matahari melirik ke arah gerbang. Ternyata benar, disana sudah ada yang memantau dirinya dan juga Arsenio. Matahari pun hanya dapat berpasrah. Ia harap hubungan palsu ini akan berakhir secepatnya.


Setelah mereka berdua sudah masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya. Dari arah parkiran sebelah kiri, ternyata Langit sedari tadi terus memperhatikan Matahari dan juga Arsenio. Ada rasa kesal yang Langit rasakan ketika melihatnya.


...~©MatahariLangit.~...

__ADS_1


__ADS_2