
"Aku cemburu." ¦¦ Aska Langit ¦¦
"Zel,Cepet sarapan dulu!" teriak Grizalle dari arah dapur.
"Iya bentar!"jawab Matahari tak kalah kencang.
"Noe." panggil Grizalle seraya mencari Anaknya itu. Ternyata Noe sedang sibuk menonton kartun kesukaannya,yaitu Doraemon dan parahnya lagi Matahari berada disamping Noe sembari fokus menatap layar televisi.
"Zellee!!" teriak Grizalle membuat Matahari menutup kedua telinga nya.
"Apa sih kak?!"jawabnya dengan berteriak.
"Kamu niat sekolah nggak sih?!"
"Niat kok....lagian nanggung Doraemonnya bentar lagi iklan."
"Zelle!"
"Iiihhhhkk! Kakak...."
"Kamu ketua osis loh zel. Jangan berangkat siang!"
Matahari mendengkus sebal lalu berdiri dari duduknya, dan melangkah kan kaki menuju dapur dengan raut wajah malas.
"Jangan jadi anak malesan kamu!" kata Grizalle setelah Matahari sudah ada didapur.
"Bawel banget sih!"gerutu Matahari pelan lalu duduk dikursi makan. .
Jika bukan karena Ibunya yang menyuruh ia tinggal dirumah kakaknya, Pasti Matahari sudah tidak mau. Berhubung Ibu dan ayahnya akan terbang ke Paris maka dari itu satu bulan ini Matahari akan tinggal bersama Kakaknya dulu.
...~©MatahariLangit.~...
"Bun,Langit berangkat ya!" sahut Langit sambil menyambar roti.
"Kamu berangkat bareng siapa?" tanya Xandra.
"Sendiri."
"Jemput Matahari gih! Dia ada dirumah kakaknya. Siapa tau dia lagi nunggu jemputan disana!" titah Xandra yang mengetahui bahwa Matahari ada dirumah Grizalle. Langit mengangguk mengiyakan lalu mengeleos pergi masuk ke mobil.
Selama dalam perjalanan menuju rumah kakaknya Matahari, Langit terus terdiam sambil memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada Matahari,dan Bagaimana caranya agar tidak menyakitinya lagi.
Drrrttt...
Headphonenya bergetar tanda ada chat masuk, Langit pun membacanya sekilas.
Matahari 🐳 : Jemput gueee:(
Langit mulai mengetikkan Keyboard, sesekali sambil menatap jalanan.
Langit 🐽 : Gue lagi dijalan ke rumah kak grizalle : )
Langit menyinpan Headphonenya lalu menancapkan gas secepat mungkin, agar cepat sampai ditempat tujuan. Tak lama kemudian Langit pun sampai ditempat tujuan nya, Saat ia sudah sampai ternyata Matahari sudah berdiri didepan gerbang rumah kakaknya menunggu Langit dari tadi.
"Maaf lama." kata Langit setelah Matahari masuk kedalam mobil.
"Udah biasa." celetuknya terdengar meledek.
Langit hanya dapat terdiam tidak tahu harus berbicara apa, Selama dalam perjalanan kesekolah mereka berdua hanya saling terdiam, hanya alunan musik yang menemani keheningan nya. "Gue benci suasana canggung!" batin Matahari berjerit.
"Eekheemm!" Langit dan Matahari berdehem secara bersamaan.
"Eehhk?!" Langit sedikit melirik Matahari dengan raut wajah kikuk.
Matahari tersenyum sambil menatap Langit. "Kita mau diem-dieman aja nih?!"
"Abisnya gue nggak tau harus ngomong apa?"jawab Langit tetap fokus pada setirannya.
__ADS_1
"Mmm,Lo nggak mau minta maaf gitu sama gue?" kata Matahari membuat Langit menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Langit menghela nafasnya lalu, setelah itu ia melirik Matahari sejenak.
"Gue minta maaf, tapi lo jangan maafin gue!"
"Hah?! Kenapa?"
"Gue udah sering banget nyakitin lo, jadi lo nggak usah maafin gue! Oke!! Lo paham kan!"
Matahari berkedip sebanyak dua kali. "Lo jangan terlalu merasa bersalah gitu! Lagian gue nya aja kok yang terlalu baperan sama lo."
"Pokoknya gue yang salah! Cowok itu selalu salah kecuali Bokap lo sama Bokap gue!" Matahari terkekeh geli mendengar perkataan Langit yang terdengar kekeh.
"Ya udah gue nggak usah maafin lo." jawab Matahari tersenyum simpul.
Senyuman Langit mengembang ketika mendapat jawaban yang ia ingin dengar dari Matahari. "Makasih Matahariiii..." ujar Langit lembut.
"Baru tau gue, ada orang sebahagia lo kalo nggak dimaafin."
"Gue bakal lebih bahagia lagi kalo lo benci gue."
"Askaa! Gue nggak mau!"
"Just Kidding."
Matahari mencubit lengan Langit keras hingga yang dicubit meringis kesakitan. "Aaaa...."
"Inget ya! Gue bakalan benci lo kalo hati gue udah nggak jatuh lagi ke lo!" ujar Matahari tepat pada telinga Langit.
Langit berdecak lalu berfokus lagi pada jalanan didepannya. ia agak kesal mendengar ucapan Matahari. "Heee, kenapa muka lo jadi badmood gitu?!" tanya Matahari heran.
"Bawel lo!" jawabnya datar.
"Apaan sih,Lo malah marah?"
...~©MatahariLangit.~...
"Berangkat sama siapa lo?" tanya Arsenio sudah berdiri disamping Matahari. Matahari melirik Arsenio sekilas lalu beralih menatap kelapangan lagi.
"Langit." jawabnya tersenyum.
Arsenio mengangguk paham. "Awas lo mewek lagi."
"Lo jangan ngomong gitu!"
Arsenio hanya berdehem sembari menatap kedepan melihat Adena yang sedang sibuk bersama Lami. "Gue udah nemuin cara," kata Arsenio
"Serius?"
"Eemm..."
"Apaan?" tanyanya yang menatap Arsenio senang.
Arsenio melipat kedua tangannya lalu menatap Matahari. "Sini!" kata Arsen menyuruh Matahari lebih mendekat kearahnya untuk ia bisikan sesuatu rencana.
Matahari mengangguk. "Kapan?"
"Malam ini dong!" jawab Arsenio mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.
Matahari terkekeh lalu mengajak Arsenio untuk ber tos tangan.
"Gue suka cara lo."kata Matahari tertawa.
Tukk...
"Aaaaa..." ringis Matahari mengelus ngelus Keningnya.
__ADS_1
"Pulang sama gue!" ujarnya datar lalu pergi begitu saja. Matahari menyipitkan mata menatap Arsenio tajam. Detik kemudian Matahari tersenyum sambil menyentuh keningnya yang memerah karena ulah Arsenio.
"Ngomong apa lo sama Arsen?!" sahut Langit yang sedaritadi sudah memperhatikan mereka berdua.
"Hhemm? Lo dari tadi liatin?"
"Kalo iya kenapa?"
"Enggak papa."
Langit melempar pita ungu pada Matahari. "Bantuin gue!"
"Gue baru sembuh, loh.."
"Nggak usah manja." kata Langit beralih merangkul Matahari dan membawanya untuk mendekor.
"Lo berat oon!" ujar Matahari berusaha melepas rangkulannya.
"Pulang sama gue oke." Langit melepas rangkulannya.
Matahari terdiam. "Eemm, Lain kali aja ya Lang, gue mau pulang sama Arsen."
Langit menyipitkan matanya. "Arsen mulu..." cibirnya.
Matahari menarik lengan Langit. "Lo cemburu yaa.."
Langit tersenyum. "Mungkin." jawabnya lalu pergi untuk mendekor lagi.
Matahari membelalakkan matanya. "Seriusss?!"
"Hhemm..."
Matahari tersenyum manis kemudian membantu Langit dengan hati berbunga-bunga. "Gue semakin jatuh lang." batin Matahari.
"Gue nggak tau apa yang gue rasain sekarang,Gue memang kesel liat lo sama Arsen terus." batin Langit.
...~©MatahariLangit.~...
"Haacchimm!"
"Aahhhkkk..." Adena menyentuh Hidung mancungnya.
"Haacchiimm!" Lagi-lagi Adena bersin,Pasalnya ia alergi terhadap debu.
"Na." suara itu membuat Adena membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Haacchimm!" lagi-lagi Adena bersin tepat didepan lelaki jangkung itu.
"Lo kenapa?" tanyanya agak khawatir.
Hidung Adena sudah terlihat memerah, "Gue alergi... Haacchiim!"
Arsenio menutup matanya ketika Adena bersin. "Bersinnya nggak usah dimuka gue juga dong!"
"Maaf..." kata Adena lalu menutup hidungnya.
Arsenio melirik lemari berdebu itu. Kemudian merebut kemoceng yang ada ditangan Adena. "Lo kerjain yang lain aja! Biar gue yang bersihin lemarinya!" Titah Arsenio sudah memulai membersihkan.
"Haacchimm..."
Arsenio terkekeh. "Arseennn!"gerutu Adena kesal.
"Nggak sengaja." kekehnya. Adena mendengus kesal lalu pergi untuk mengerjakan yang lain.
"Dasar anak orang," gumam Arsenio setelah Adena pergi.
"Gemesin." sambung nya tersenyum manis.
__ADS_1
...~©MatahariLangit.~...