
"Kamu tidak tahu aku dimasa lalu seperti apa?" ¦¦ Aska Langit ¦¦
"Lo kenapa sih?" tanya Arsenio setelah melirik Matahari.
"Gue masih nggak abis pikir, kalo emang mau jodohin gue sama lo kenapa mereka harus boong?! Lagian belum tentu kan gue nolak." gerutu Matahari sembari *******-***** bajunya.
Arsenio mengernyit lalu menatap Matahari. "Emang lo nggak akan nolak?"
"Selagi itu yang orang tua gue suruh, ya gue harus ikutin, lagian mau kapan lagi coba buat nurut sama orang tua Itung itung bisa buat mereka bahagia."
"Sorry jalan pikiran gue beda sama lo, jadi gue ogah di jodohin sama lo."
"Diihh,Lo sama aja kayak Langit. Selalu nggak pernah nganggep gue!"
"Gue nggak suka sama lo."
"Kalo gue yang suka?" tanya Matahari becanda.
Arsenio menyipitkan matanya tajam. "Lo suka Langit kan?"
"Saye suka saye suka." jawab Matahari berbicara seperti Memei.
"Mmm,"
"Mmm,Lo lagi suka sama siapa?" tanya Matahari.
"Bukan urusan lo." jawabnya ketus.
"Lo dulu waktu jaman mos kalo gue ajak ngomong selalu seru dan nggak dingin kayak sekarang." kata Matahari menatap Arsenio sendu.
"Lo bawel banget sih!" ucap Arsenio kasar.
Matahari hanya melapangkan dadanya untuk menerima perkataan kasar Arsenio. "Ya udah gue diem."
...~®MatahariLangit.~...
Langit mengajak Bulan menghampiri kedai makanan yang ada ditaman itu. Langit berniat mentraktir Bulan malam ini. "Kamu mau pesan apa?" tanya Langit tersenyum manis.
"Mmm,Apa aja yang penting bisa aku makan." jawab Bulan lembut. Langit menganggukkan kepalanya lalu pergi untuk memesan makanan.
Bulan mengalihkan pandangannya kesekitaran taman. Pandangan nya tertuju pada seseorang yang ia kenal. Bulan berniat mendakatinya, Namun tiba-tiba Langit sudah datang dengan membawakan Jasuke.
"Maaf lan,Tinggal jasuke yang kesisa." kata Langit memberikan Jasukenya.
Bulan tersenyum. "Nggak papa kok."
"Mmm,Selamat makan." kata Langit kemudian melahap jasukenya.
Bulan masih terus menatap wanita itu. Ia sangat ingin menemui nya. Tapi ia tidak bisa meninggalkan Langit begitu saja. "Eemm,Lang..." panggil Bulan gugup. Langit melirik penuh tanda tanya.
"Kamu mau ikut aku nggak. Ketemu sama temen aku?" tanya Bulan.
Langit menelan jasukenya sebelum menjawab. "Temen? cewek cowok?"
"cewek. Dia ada ditaman ini juga kok."
"Mmm,Ya udah ayok aku ikut!"
Bulan pun mengangguk lalu berjalan duluan mendekati wanita yang kini tengah terduduk santai bersama pria tampan. Jika dilihat-lihat mereka sedang diam-diaman dengan pikirannya masing-masing.
"Halo." sapa Bulan pada wanita itu.
Langit melototkan matanya ketika melihat Matahari tengah berduaan dengan Arsenio. Matahari pun begitu, ia kaget melihat Langit bersama Bulan.
"Lo bilang mau makan malem sama nyokap bokap lo!" sahut Langit ketus.
"Lah lo juga kan bilangnya mau diem aja dirumah." jawab Matahari.
"Kapan gue bilang?"
Matahari terdiam.
"Kalian saling kenal?" tanya Bulan.
"Nggak!" jawab Matahari dan Langit bersamaan. Bulan dan Arsenio pun hanya mengernyit.
"Mmm,Kayaknya gue harus pulang! Gue duluan Ri." pamit Arsenio.
"Hee Arsen! Gue pulang sama siapa?" tanya Matahari beralih berdiri dari duduknya.
"Sama gue!" sahut Langit datar.
"Dih sama lo! Yang ada gue malah enek liat kalian pacaran entar!" tungkas Matahari lalu pergi mengejar Arsenio. Langit mendengkus kasar.
"Kamu sama Matahari kenapa?" tanya Bulan.
"Dia temen yang aku ceritain kekamu waktu dijalan mau kesini."
"Oh, jadi Matahari..."
"Iya,Jangan-jangan temen kamu itu Matahari juga?"
"Iya,Waktu disekolah, Cuman Matahari yang mau deket sama aku, temen-temen sekolah aku nggak pernah ada yang mau berteman sama aku."
"Kenapa gitu?"
Bulan tidak menjawab ia hanya tersenyum lebar untuk menjawab. Ada alasan tertentu yang tidak bisa ia katakan pada Langit. Langit terdiam, sambil memikirkan Matahari. Ia sungguh khawatir pada Matahari,karena takut ditinggal oleh Arsenio.
"Lan, Kamu mau pulang sekarang nggak?" tanya Langit. Bukan merasa kecewa, saat Langit hendak mengajaknya pulang. Tapi ia bisa apa, jika Langit pulang maka ia harus ikut, jika tidak ia akan semalaman ditaman ini.
"Eemm,Ya udah ayokk! Lagian ini udah larut." jawab Bulan tersenyum manis.
Langit tersenyum lalu menarik lengan Bulan, supaya mengikuti langkahnya. Bulan merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Dan ia pun merasakan sedikit senang, atas sikap Langit yang menurut nya manis.
...~®MatahariLangit.~...
Arsenio menghentikan motornya tepat didepan rumah Matahari. Matahari pun turun dari motor tersebut lalu memberikan helm nya pada Arsenio.
"Makasih." kata Matahari sedikit ketus.
Arsenio menerima helmnya sambil menatap Matahari datar. "Ikhlas nggak sih bilangnya?"
__ADS_1
Matahari menghembuskan nafas kasar lalu tersenyum simpul pada Arsenio. "Ikhlas Arsenio." jawab Matahari penuh penekanan.
Arsenio tersenyum sekilas dibalik helm nya, hanya terlihat matanya menyipit. lalu kembali menutup kaca helmnya. Dan tidak lupa mentelakson motornya untuk berpamitan.
"Hati-hati." kata Matahari setelah Arsenio memutar balik motornya.
Dengan kecepatan penuh, Arsenio pun pergi begitu cepat. Kini Matahari sudah masuk kedalam rumahnya. Dengan raut wajah yang begitu kesal. Ia masih merasa kesal karena melihat Langit tadi. Seketika Matahari berdesis sebal sesaat, kemudian mendorong pintu utamanya lalu masuk kedalam.
"Kamu kok lama sih pulangnya? Kemana dulu tadi?" tanya Sandara khawatir. Matahari melirik mamanya datar. Seketika ia teringat ucapan Arsenio yang berkata bahwa mereka sedang berbohong.
Matahari memejamkan matanya rapat-rapat lalu mendengkus sebal. "Habis pergi tadi sama Arsen." jawabnya ketus lalu mengeleos pergi naik keatas menuju kamar.
Sandara merasa kasihan pada putrinya itu, karena ia menjadi korban kebohongan dari kedua orangtua nya. Sandara sungguh tidak mau melakukan nya karena ia tau lelaki yang disukai Matahari itu Langit bukan Arsenio. Tapi Sandara bisa apa? Suaminya lah yang sudah bertindak dan ia harus menurut.
"Maafin mama zel." batin Sandara.
Matahari melempar tas nya kesembarang tempat. Ia cepat-cepat merebahkan tubuhnya diatas ranjang sembari memeluk boneka Doraemon pemberian ayahnya itu. Matahari membuat lengkungan sedih dibibirnya :( ia sungguh tidak habis pikir akan perbuatan orangtua nya, yang memaksanya untuk dijodohkan. Dan ia juga patah hati karena melihat Langit bersama Bulan malam ini.
"Kenapa hidup itu harus menyakitkan." gumam Matahari seraya mempererat pelukannya pada boneka kesayangan nya.
...~®MatahariLangit.~...
Langit membuka tirai jendela kamar nya, ia menatap balkon kamar, lalu beralih menatap balkon Matahari yang ada disebrang sana. Sorot matanya menyendu, mengartikan bahwa ia sedang sedih. Entah kenapa hari ini Langit merasakan sesak saat melihat Matahari berduaan bersama Arsenio.
"Nggak mungkin kan,gue suka sama Matahari lagi?" gumamnya.
"Apa memang perasaan itu masih ada?" Batin Langit dengan sorot mata meneduh.
Langit dapat melihat dari tirai doraemon milik Matahari. Bahwa Matahari malam ini belum tidur karena lampunya masih menyala. Langit menarik kursi belajarnya lalu mendudukkan bokongnya.
"Lo lagi ngapain sih ri? Jam segini belum tidur." tanya Langit sambil menatap lurus kearah kamar Matahari. Langit beralih menatap laci yang ada dimeja belajarnya. Ia pun menariknya dan mengeluarkan sebuah buku berukuran mini.
'Diary'
Langit sesaat terkekeh melihat buku tersebut. "Gue berasa jadi anak perawan kalo udah megang buku ini." kata Langit tersenyum.
Ia pun membuka buku Diarynya, dan memulai membaca apa yang ia tulis saat itu. Buku Diary itu Langit dapatkan dari Matahari. Itu kado yang Matahari belikan khusus untuknya. Langit pun awalnya bingung kenapa Matahari membelikannya buku Diary, padahalkan ia pria?
Tapi Matahari malah berkata. "gue mau lo tulis segala sesuatu yang menurut lo penting kedalam buku diary ini. Dan gue bakalan baca diary ini setelah lo ngijininnnya."
Langit masih terngiang-ngiang akan perkataan Matahari kala itu.
Lembar pertama terbuka.
Isi : '07 Jan 2018'
Aska langit >_<
Gue nggak tau harus nulis apa dibuku ini. Gue juga bingung,apa perlu gue nulis keluh kesah gue disini? Tapi gue kan cowok, Gue agak gengsi.
Tapi yang jelas gue seneng punya sahabat kayak Matahari.
Lembar pertama itu mengingatkan Langit kedalam masa lalunya saat baru saja diberikan diary itu. Sesaat Langit terkekeh geli melihatnya. Kemudian ia membuka lembar kedua.
Isi : ' 25 Apr 2019 '
Aska Langit_-
-Lindungin Matahari.
-Hibur Matahari jika sedang sedih :'(
-Ajak Matahari Setiap Minggu Ke Taman√
-Jangan Jatuh Cinta!
Langit membelalakkan matanya ketika ia teringat dengan cacatan tersebut. Ia lupa mengajak Matahari ke taman, mungkin sudah 1 bulan ia tidak mengajaknya, dan tadi malam malah berakhir yaaa seperti itu.
"Iiisshh, kenapa gue lupa sih? Parahnya lagi gue malah bawa Bulan bukan Matahari. " desisnya sebal.
"Eehkk tapi, Matahari juga berduaan sama Arsen." kata Langit berakhir berdecak sebal mengingat kejadian tadi. Langit mengambil pena nya lalu mencoret diarynya dilembar ke tiga.
Isi : '12 Sep 2019'
Aska Langit -_-
Gue Kesel sama lo! Grizelle :v
...~©MatahariLangit~...
Pagi-pagi sekali dihalaman rumah Matahari sudah terparkir sebuah mobil silver, Yang berisikan pria tampan didalamnya. Mau tidak mau Matahari pun cepat-cepat berlari turun kebawah untuk menyapanya. Dengan seragam yang masih dikeluarkan,Kaos kaki baru terpasang satu, dan juga rambut yang belum disisir,Matahari menghampiri Arsenio dengan modelan seperti itu.
Ceklek
Pintu terbuka, betapa kagetnya Arsenio ketika melihat primadona sekolah berpenampilan seperti gembel. Arsenio pun tidak dapat menahan tawanya lagi.
"iihhkk! Lo malah ngetawain gue lagi!"gerutu Matahari sebal.
Arsenio memegangi perutnya. "Abisnya lo,Astaga Ri! Ini yang namanya primadona sekolah? Modelan kayak gini?! Nggak salah." ledeknya sembari terus cekikikan.
Matahari menyipitkan matanya menatap Arsenio sebal. "Iiisshhhh! Nyebelin..." teriak Matahari lalu pergi masuk kedalam untuk rapi-rapi.
"Zelle kok malah teriak-teriak gitu sih!" tegur Sandara berada didapur.
Matahari berhenti dianak tangga ke tujuh. "Abisnya Arsen ngeselin, ma!" jawabnya ketus.
"Arsen?" gumam Sandara lalu beralih mematikan kompornya, kemudian melangkah mendekati pintu. Dan benar, disana terdapat Arsenio tengah menyenderkan tubuhnya, cool di dinding sebelah kanan pintu.
"Oohh, Arsen." kata Sandara menyadarkan Arsenio.
"Eehhk, tante. Pagi tan." sapanya sopan lalu menciumi telapak tangan Sandara.
"Eemm,Ganteng banget kamu sen. Tante sampe oleng loh, jadi pengen kemasa muda lagi," goda Sandara sembari tersenyum. Arsenio tersenyum kikuk sambil menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.
"Oya, mau masuk dulu! Kita sarapan bareng yuk!" ajak Sandara yang diangguki oleh Arsen.
Setelah Arsen masuk kedalam rumah Matahari. Ternyata dari rumah disebrang sana Langit tengah menatap terus gerak-gerik Arsenio. Ada rasa kesal dibenaknya. "Jadi gue nggak perlu nih, jemput lo Ri?" gumam Langit.
Matahari🐷 : Lang, lo duluan aja, ya! Maaf gue nggak bisa bareng lo :'(
Langit mendengkus kasar setelah membaca pesan dari Matahari. Dengan perasaan kesal,Langit pun menarik pintu mobil lalu menutupnya dengan keras.
__ADS_1
...~®MatahariLangit.~...
Satu sekolah gempar, karena melihat Primadona,dan juga Pangeran es berangkat bersama, Ada yang bergosip julit karena cemburu idolanya direbut Matahari. Dan juga fans Matahari tak kalah patah hati melihatnya.
"Apaan sih, Matahari main rebut-rebut!"
"Iya iihkk, mentang-mentang punya wajah oke, jadi main ngembat aja!"
"Heh! Matahari itu memang cantik, nggak kayak kalian-kalian. Tapi iya, gue juga sakit hati liat nya."
"Primadona ternyata sudah mempunyai pawang hati."
Matahari dan Arsenio hanya terus berjalan lurus, tanpa mendengar kan Komentar komentar para Fansnya.
"Sen! Lo risi nggak sih, sama mereka-mereka?!" tanya Matahari agak berbisik. Arsenio tetap fokus kedepan,dengan raut wajah Es nya.
"Sen!" Panggil Matahari yang tetap saja tidak di kubris.
"Arsenio!" pangilnya lagi dengan nada Vocal 'O'.
Arsenio malah mengambil permen karet yang ada disakunya, lalu membukanya dan memakannya. Kemudian memakaikan earphon dikedua telinganya,Agar tidak dapat mendengar panggilan Matahari.
"Si Kampret!" Decak Matahari lalu berjalan duluan sambil menghentakkan kakinya sebal. Setelah Matahari pergi, Arsenio pun dapat bernafas lega kemudian mencopot earphon nya.
Matanya memandang kearah taman yang ada disebrang kiri. Arsenio dapat melihat wanita yang selama ini, Selalu bertemu dengan nya. Terlihat wanita itu tengah membaca buku dibawah pohon.
"Adena." batinnya sambil terus menatap Adena disebrang sana.
Adena menutup bukunya setelah setengah nya sudah ia baca. "Capek juga ya, Maraton baca Novel." gumamnya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Jangan dikucek, Na!" Tegur seseorang berdiri tidak jauh dari tempat nya.
Adena mendongakkan kepala. "Agler." panggilnya pelan.
Agler mendekatinya lalu berjongkok didepan Adena. "Lo kelilipan?" Adena Menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa?" tanya Agler terdengar khawatir.
"Gue abis baca novel." jawabnya sambil memperlihatkan Novelnya.
"Astaga! Gue kira lo kelilipan. Nyata nya maraton Novel." kata Agler lalu terkekeh.
Adena ikut terkekeh. "Abisnya novel ini seru banget."
"Tentang apa gitu?"
"Yhaa tentang kisah cinta segitiga. satu cewek direbutin dua cowok,"
"Oohh,Terus Ceweknya suka sama yang mana?"
"Gue belum lanjut ***, Jadi belum tau." Agler mengangguk paham lalu tersenyum sesaat.
"Bentar lagi masuk, lo nggak mau masuk kelas?" tanya Agler seraya berdiri dari duduknya.
Adena berdiri lalu menepuk-nepuk roknya yang kotor. "Gue masuk setelah nganterin buku ini ke perpus,"
"Oke! Kalo gitu gue duluan ya."
"Iya." Agler melangkah pergi menuju kelasnya sedangkan Adena pergi ke perpustakaan untuk menyimpan novel pinjamannya.
...~®MatahariLangit.~...
"Langit!" panggil Matahari saat berpapasan dengan Langit.
Langit menghentikan langkah nya lalu melirik Matahari. "Apa." jawabnya datar.
"Kenapa kemarin malem lo liatin balkon gue terus?" tanya Matahari seraya mengangkat kedua alisnya.
Langit berdesis,kemudian menggeleng kan kepala. "Geer lo!"
"Bukan geer,tapi gue liat kok lo liatin ke arah balkon gue terus."
"Hohoho.... jadi lo liatin gue terus kemarin malam?!" Matahari mengangguk dengan senyuman lebarnya.
"Sampe jam berapa?" tanya Langit.
"Eemm,Sampe lo tidur." jawabnya membuat Langit melotot.
"Niat banget liatin gue!" Cibirnya kesal karena Matahari nekat sekali kemarin malam.
"Namanya juga cinta sama lo! Apa sih yang nggak nekat." kata Matahari seraya menusuk-nusuk pelan lengan Langit dengan telunjuknya beberapa kali.
Langit sedikit terkekeh melihat aksi Matahari yang tergila-gila padanya. Ada rasa bahagia didalam hati Langit saat Matahari masih berkata bahwa ia cinta pada nya.
"Bodo banget." ledek Langit.
"Makannya,Lo main ke rumah gue," ujar Matahari memasang wajah cemberut. Langit semakin dibuat gemas oleh Matahari.
"Buat apa? Bukannya ada Arsen?" kata Langit ketus. Matahari mendengkus sebal ketika nama Arsenio disebut.
"Lo main dulu ke rumah gue, baru gue kasih tau!" titah Matahari terdengar memohon.
Langit menghembuskan nafas perlahan. "Oke! Gue main ke rumah lo kayak jam biasa, Siapin cemilan buat gue pokoknya."
"Siap Bos!" Jawabnya seraya berhormat pada Langit lengkap dengan senyuman manis nya. Langit ikut tersenyum lebar.
"He he he! Ngapain jam pelajaran masih diluar! Masuk!" tegur Pak Beno yang akan mengajar kelas Langit.
"Bapak mah nggak mau liat anak muridnya seneng gitu!" Gumam Matahari pelan.
"Langit! Masuk kekelas,Atau saya hukum kalian berdua."
"Hukum aja pak!" celetuk Matahari tersenyum lebar. Pak Beno menatap Matahari heran.
"Ri, Lo masuk deh!" titah Langit agak berbisik dan langsung dituruti oleh Matahari.
"Sampai jumpa, di kantin nanti." kata Matahari seraya berlari menuju kelasnya.
Pak beno menggeleng kan kepala nya melihat tingkah Matahari yang cukup unik pagi hari ini. "Ayok masuk Lang!" ajak Pak Beno berjalan duluan.
...~®MatahariLangit.~...
__ADS_1