Matahari Langit

Matahari Langit
19.Nineteen


__ADS_3

"Saat bertemu kamu, Entah kenapa aku selalu tidak sadar apa yang aku lakukan. Tapi aku sungguh merasa senang." ¦¦ Arsenio Edzadr ¦¦


"AN**R!!"


Matahari berlari cepat turun kebawah setelah berhasil mengganggu Langit yang tengah tertidur pulas dihari minggu. Setelah sampai di ruang tengah rumah Langit, Matahari segera terduduk manis di sofa empuk,Sambil menahan tawanya.


Raut wajah Langit menjadi masam setelah mendapatkan make up ondel-ondel dari Matahari. Langit mendengkus kesal sambil menatap cermin yang ada dihadapannya itu. "Grizelllee......" Gumam Langit kesal dengan penuh penekanan.


Langit cepat-cepat turun kebawah untuk mencari Matahari. Dengan rambut yang masih acak-acakan,dan juga wajah yang bermake up tidak karuan Langit menghampiri Matahari dengan raut wajah kesalnya.


"Lo bener-bener ya,Ri!" Ujar Langit kesal.


"Ya ampun siganteng udah bangun..." Ledek Matahari sembari tertawa renyah. Langit mendengus kasar,Kemudian melempar bantal sofa tepat pada wajah Matahari.


"Askaaa!" Gerutu Matahari.


"Apa lo hah?!" tanya Langit julit seraya melipat kedua tangannya didepan dada.


Matahari mengerucutkan mulutnya. "Untung sayang..."


"Bacot!"


"Marah mulu lo mah iihkk! Enggak asik."


"Bodo amat!"


"Entar darah tinggi mampus lo lang,Rumah sakit jauh!"


"Bodo Amat!"


Matahari berdiri disofa menghadap Langit sembari berkacak pinggang. "Maaf!" Kata Matahari Nyolot.


Langit membuang wajah. "Lo ngajak gelut sama gue?"


"Gue minta maaf malah diajak gelut,"


"Bodo Amat."


Matahari turun dari atas sofa lalu mendekati Langit dan menatapnya dalam-dalam. "Daripada lo marah-marah mulu, mending lo mandi biar wangi."


Langit menatap Matahari tajam


"Apa?! Mau dimandiin?" Tawar Matahari


"Najisss!" jawabnya lalu pergi ke kamar mandi.


"Dasar cowok! Baperan amat." Gumam Matahari.


...~©MatahariLangit.~...


"Lo masih marah?" tanya Matahari setelah masuk kedalam mobil. Langit mengacuhkan pertanyaan nya dan memilih fokus pada setiran mobil.


"Gue cuman make up in lo aja, lo malah marah." Ujar Matahari merasa tidak salah atas perbuatannya.

__ADS_1


Langit melirik dengan sudut matanya. "Kalo gue make up in lo kayak gitu juga lo gimana?"


"E-enggak, gue nggak akan marah."


"Bullshit lo nyai!"


"Beneran."


"Yakin?"


"Yakin seyakin yakinnya."


Langit seketika memperlihatkan senyuman jailnya.


"Awas aja kalo lo mau balas dendam." sahut Matahari menyipitkan mata.


"Suka-suka gue dong." jawab Langit seraya terkekeh.


"iiisshh, Nggak asik."


Setelah beberapa menit diperjalan, Akhirnya mereka pun sampai ditempat tujuan.


"Ngapain sih pake topi segala?"tanya langit heran melihat Matahari memakai kacamata photocromic dan juga topi hitam.


"Itu juga, padahal lagi nggak ada cahaya matahari, lo make kacamata."


"Kan gue udah bilang, ada yang nguntit gue sama Arsen. Jadi kalo gue jalan sama cowok lain tanpa pake beginian pasti penguntit itu bakalan ngasih tau nyokap bokap gue, dan yang akhirnya gue nggak akan diboleh jalan sama lo lagi."


"Ribet banget sih."


"Cepet ahkk turun."


Matahari turun dengan menurunkan topinya agar lebib menutup wajahnya.


"Riii..."


"Apa?"


Langit menarik lengan Matahari hingga tubuh mereka merapat,Dengan cepat Langit pun merangkul bahu Matahari yang pendek.


"Karena lo pendek, jadi lo mudah buat ngumpet diketek gue!" kata Langit yang terdengar tidak ada romantis-romantisnya.


"Hiisshh! Lo mah romantis kagak, Jorok iya."


"Masih untung gue bantuin lo ngumpet,lagian gue udah mandi kali, jadi masih wangi,"


"Wangi menyan."


"Nenek lo bau menyan."


"Apaan sih, bawa-bawa nenek gue?!"


"Bilangin gue sayang nenek lo gitu."

__ADS_1


"Bukan gue?"


Langit terdiam sesaat."Najiss sayang sama lo."


Matahari mendengus kasar. "Gue doain lo sayang sama gue!"


"Gue Aminin deh,biar lo seneng." Langit tersenyum.


Matahari tersenyum lalu mengalungkan kedua lengannya dipinggamg Langit, yang membuat Langit tersentak dan lagi-lagi jantungnya berdebar.


"Gue sayang lo!" Kata Matahari tersenyum senang.


Langit merasakan wajahnya memanas lengkap dengan jantung yang terus berdetak kencang. "Lepas kampret!"


"Gue nggak mau."


"Ya udah gue lepas rangkulannya!"


Matahari buru-buru melepas pelukannya lalu mendongkakkan wajahnya. "Kapan lo jatuh cinta sama gue?" Pertanyaan Matahari berhasil membuat Langit terdiam.


"Heee,Bulan" gumam Matahari membuat Langit melirik kearah wanita yang kini sudah ada didepan mereka berdua,dan tengah tersenyum manis


"Hai,Matahari,Langit." sapanya ramah.


"O-oh, Hai Bulan."sapa balik Langit.


"Apa kabar kamu?"Tanya Langit tersenyum lebar.


Bulan terus tersenyum manis. "Aku baik, kamu gimana?"


"Aku juga baik. Oya, kamu ngapain disini?"


"Aku keliling aja sih sambil nyari beberapa buku komik."


"Mmm,"Langit mengangguk. Bulan ikut mengangguk seraya melirik Matahari. Ternyata Matahari tengah menunduduk berpura-pura fokus pada headphonenya. ia tidak mau melihat keakraban mereka berdua.


"Matahari. Apa kabar?" sapa Bulan lembut.


Matahari tersenyum simpul. "Baik."


"syukurlah. Kalo gitu aku pamit ya!"


"Eehhkk, kenapa buru-buru! Kita kan bisa makan siang dulu di kafe deket sini." kata Langit.


"Aku takut ganggu kalian."


"Enggak kok, ya kan ri?" Matahari hanya mengangguk untuk menjawab,walaupun hatinya tidak setuju.


"Ya udah aku ikut kalian." ujar Bulan tersenyum manis.


"Kalian ngobrol lah dulu, gue mau nyari keperluan gue dulu!" pamit Matahari lalu pergi. Langit hanya menatap Matahari serba salah. Karena Langit tau bahwa Matahari cemburu, Namun disisi lain Langit tidak bisa meninggalkan Bulan.


"Gimana kalo kita tunggu Matahari disana!" ajak Bulan kekursi yang ada didalam toko.

__ADS_1


"O-ohh,Oke" Mereka berdua pun terduduk santai dikursi, sambil mengobrol.


...~©MatahariLangit.~...


__ADS_2