
"Aku mencarimu. Aku Khawatir padamu, Tolong beri Aku kabar." ¦¦ Aska Langit ¦¦
Para pemain basket pun diberi waktu 15 menit untuk beristirahat,Di ronde pertama mereka seri dalam pertandingan ini.
Kini Langit dan timnya sedang berkumpul dipinggiran lapangan. Pandangan Langit melihat kepenonton ia berusaha mencari sosok yang sering ia temui. Tapi Langit sedari tadi tidak menemuinya. Dari barisan ke 3 penonton. Lami melambaikan tangannya tinggi-tinggi kearah Langit.
"Itu lami? Tapi mana Matahari?" batin Langit bingung. Matanya terus mencari-cari keberadaan Matahari. Lami turun kelapangan, untuk menghampiri Langit, dan memberikan Handuk serta air mineral nya.
"Matahari mana?" tanya Langit yang menerima handuk dan airnya.
"Bilangnya sih mau ngisi perut," jawab Lami.
Langit terdiam."Dia belum sarapan?" Batin Langit menghembuskan nafas panjang.
"Hai Lam!" sapa Arya sambil tersenyum jail.
Lami menyipitkan matanya menatap Arya. "Ape lo?!"
"Nggak usah marah-marah gitu dong! Entar Cantiknya ilang loh." goda Arya yang mengedipkan sebelah matanya.
Lami memutar bola matanya malas. "BODO AMAT!"
"Dibilangin malah ngelunjak! Dasar Parit." cibir Arya. Lami mengacuhkan Arya dan memilih untuk naik keatas lagi.
"Hmmm...Lo mulai suka Lami yaa." sahut Adena terkekeh melihat Arya.
Arya mendengkus sebal. "Ngaco lo!"
"Tu kan marah!" goda Adena terus terkekeh.
"Lama-lama gue gigit lo Na!" ancam Arya menatap Adena datar.
"Iiiihhhkkk takutt..." ledek Adena yang sepertinya senang membuat Arya geram.
Arya menatap Adena sengit lalu menghembuskan nafas kasar. "Sabar Ar, sabar. Orang sabar cepet dapet pacar!" gumamnya terdengar oleh Adena dan juga Langit.
"Jones lo!" Kata Langit terkekeh.
"Kayak situ nggak aja." balas Arya ketus.
...~®MatahariLangit.~...
Arsenio menatap Ibunya datar seraya berhenti mengunyah makanannya. "Maksud mama apa?!" tanya Arsenio terdengar kesal.
"Mama mau menjodohkan kamu dengan anak temen mama." jawab Alma lembut.
Arsenio mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Arsen udah besar ma! Arsen bisa pilih pasangan Arsen sendiri."
"Mama tau. Tapi tidak ada salahnya kan kamu menerima nya. Lagian mama bisa menjamin pasti kamu bakalan suka sama cewek itu. Dia cewek baik sen. Mama suka sama dia." jelas Alma terdengar penuh harapan.
" Kalo mama suka, ya jangan Arsen yang harus jadi pasangannya! Agler kan bisa!"
"Agler punya wanita nya sendiri sen. Agler cerita sama mama kalo dia lagi suka sama seseorang,jadi mama memilih kamu buat dijodohin."
Arsenio lagi-lagi mendengkus kasar. "Arsen nggak mau!" tungkasnya lalu pergi.
"Arsenn..." panggil Alma agak berteriak.
Arsen pergi keluar dengan motornya, ia butuh tempat yang tenang untuk membuang segala masalah nya.
"Ma,kalo Arsen nggak mau...mama nggak usah maksa dia, Arsen kayaknya lagi ngincer cewek juga." sahut Agler yang mendekati Alma.
"Dia udah punya cewek ya? Mama nggak tau...." kata Alma menunduk bersalah.
"Kalo mama suka sama cewek itu, nggak ada salahnya kok mama ajak dia kerumah ini dan anggap cewek itu anak mama juga."
"Tapi mama pengennya salah satu dari kalian bersedia dijodohkan oleh mama. Soalnya mama udah setuju dengan keluarga perempuannya."
Agler membelalak. "Aaaa....T-terus gimana dong?"
__ADS_1
"Mama mohon bantuan kamu lagi ***, buat Arsen nanti malam pulang. Cuman itu jalan satu-satu kalo memang perjodohannya mau dibatalin."
"Mmm...Oke ma! Agler cari Arsen sekarang ya." pamit Agler seraya menyalami tangan ibunya.
...~®MatahariLangit.~...
Matahari menghembuskan nafas panjang. Setelah berbicara banyak dengan Bulan Matahari memilih untuk pulang saja kerumah. Entah kenapa ia sangat malas untuk menunggu Langit. Dan kini Matahari sedang di halte bus.
"Tumben banget bus nya nggak nongol-nongol?" kata Matahari melirik kanan kiri.
Sudah lebih dari 15 menit Matahari menunggu bus. Namun tidak datang juga. Tidak ada pilihan lain selain jalan. Matahari pun memilih jalan daripada menunggu.
Selama dalam perjalanan Matahari terdiam dan melihat sekeliling jalanan, Mungkin jalanan ini lumayan sepi, karena takut Matahari pun memutuskan untuk bernyanyi agar menghilangkan rasa takutnya.
"Pernahkah kau bertanya,seperti apa bentuk air tanpa wadah?" Matahari bernyanyi begitu merdu sampai-sampai ia pun tersenyum saat menyanyikannya. Setelah 3 menitan ia bernyanyi, Matahari pun terdiam lagi.
"Siapa?" tanya Matahari dalam hati ketika melihat motor melaju kearahnya.
Matahari menatap orang tersebut. Dan saat ia berhenti tepat didepan Matahari,Pria itu membuka helm nya.
"Lo ngapain?" tanya Pria itu dingin.
Matahari menyipitkan matanya. "Harusnya gue yang nanya begitu! Lo ngapain ada disini,dan tiba-tiba berhenti?"
"Ya udah gue pergi." cowok itu memakai kembali helm nya.
"Eehhkk.....Jangan gitu dong! Kalo mau pergi gue ikut." kata Matahari dengan akhiran tersenyum manis.
Arsenio menatap Matahari datar."Naik!"
Matahari tersenyum manis lagi, lalu naik ke motor Arsen.
"Sen, kapan-kapan gue pinjem motor lo ya." kata Matahari cukup terpesona pada motor Arsen.
"Kagak." jawabnya cuek.
"Gue mau nyoba doang! Lagian gini-gini juga gue jago kali," celoteh Matahari agak berteriak pasalnya motornya sudah melaju.
"GUE SERIUS ARSEN!" gerutu Matahari berteriak tepat ditelinga Arsen.
Untung ada helm. Pikir Arsenio.
"Bukti." kata Arsen.
"Bukti?"
"kalo bener-bener lo jago, gue tantang lo balapan mau nggak?!"
Matahari melototkan matanya bulat-bulat. "Lo nantang gue?" tanyanya polos.
"Lo nggak mau. Oke berart-"
"Gue mau!" potong Matahari.
Arsenio tersenyum simpul. "Oke nanti malam jam tujuh gue kirim tempatnya ke lo!"
"Oke siapa takut." jawab Matahari yang melirik wajah Arsenio dari pinggir.
...~®MatahariLangit.~...
Matahari merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk dengan seprai bermotif Doraemon . Matanya Menatap langit-langit kamarnya. "Gue kenapa sih?" tanyanya heran.
Tokk.. Tokk..
Matahari melirik kearah pintu.
"Ri...Mama boleh masuk?" tanya Sandara dari luar.
Matahari membenarkan posisi nya menjadi duduk diujung ranjang. "Masuk aja ma."
__ADS_1
Sandara menbuka pintu kamarnya. Lalu menghampiri Matahari lengkap dengan senyuman simpul yang tidak bisa diartikan.
"Ada apa ma?" tanya Matahari mulai kepo.
Sandara mendudukkan bokongnya disebelah Matahari. "Mama mau nanya nih."
Matahari mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu udah punya pacar belum?" tanya Sandara hati-hati.
Matahari menyipitkan matanya. "Heee....Tumben banget mama nanya kayak begituan?"
"Memang nya mama nggak boleh tau ya?"
"Mmm, ini kan masalah pribadi Zelle."
"Kamu udah lupa ya sama mama, karena mama jarang banget ada disamping kamu buat dengerin curhatan kamu."
Matahari menghembuskan nafas panjang. "Zelle nggak pernah lupa sama mama. Lagian zelle belum punya pacar."
Sandara mengangguk senang. "Serius,belum punya?"
"Belum ma, tapi zelle lagi suka sama seseorang."
"Hee...Siapa?"
"Iisshh...mama,"
"Ayolah kasih tau mama."
Matahari menampakkan senyuman malu-malunya.
"Mmm,jangan-jangan kamu suka sama Langit ya?" tebak Sandara membuat Matahari bungkam.
"E-ehhkk...."
"Ayokk ngaku!"
Matahari terkekeh.
"Tuh kan bener!" kata sandara.
"Tapi Langit nggak pernah suka sama Zelle ma."
"Kenapa?"
"Ya gitulah....."
Sandara menghembuskan nafas panjang. "Boleh nggak mama pilihin cowok buat kamu?"
"What?!"
"Nggak boleh ya..."
Matahari terdiam.
"Ya sudah nanti malam jam tujuh kamu ikut mama ya!"
"kemana?"
"Kerumah temen mama."
"Tapi nanti malam Zelle ada janji,"
"Sekali ini aja zel, mama mau kamu ikut."
"Mmm, ya udah deh. Zelle nanti batalin janji nya dulu."
sandara tersenyum lalu memeluk Matahari.
__ADS_1
...~®MatahariLangit.~...