
"Aku hanya takut kamu pergi." *¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦
Selama pelajaran berlanjut yang Langit lakukan hanyalah melamun. Hingga Arya terlihat sangat bingung dengan sikap Langit yang tidak seperti biasanya.
"Lang,Maneh teh kenapa?" tanya Arya berbisik. Langit tidak mendengar ia tetap fokus pada lamunannya.
"Langit!" panggil Arya sekali lagi sembari menggoyangkan bahu Langit.
Seketika mata Langit melirik Arya lalu mengerutkan kening.
"Ada masalah Lang?" tanya Arya.
Langit menghembuskan nafas panajng lalu memandang kedepan papan tulis.
"Kagak." jawabnya.
Arya menggangguk kemudian kembali fokus ke depan memperhatikan Bu Lina yang sedang menjelaskan tentang Bioteknologi.
...~®MatahariLangit.~...
Auristela si antagonis yang selalu menghancurkan mood Grizelle Matahari.
Auristela mula-mula membenci Matahari karena Matahari terpilih menjadi Primadona SMA 2 Gajah Mada, dan semua Warga sekolah mengakuinya, Bahwa Matahari pantas menjadi Primadona.
Auristela selalu berbicara. "Seharusnya Gue yang jadi primadonanya bukan Matahari."
Hampir setiap Hari Auristela Menjahati Matahari. Dan hari ini pun Ia sedang menghadang Matahari di koridor yang arahnya menuju kantin.
"Halo Grizelle Matahari sang ketua osis ples sang primadona SMA dua Gajah Mada. Apa kabar?" sapa Auristela dengan nada meledek.
Matahari tersenyum miring. "Sangat baik Putri Auristela yang selalu mengirikan Princess Grizelle Matahari!" balas Matahari dengan pedenya.
Auristela berdecak sebal kemudian memutar bola matanya malas. "Princess apanya coba? Yang ada juga lo pembantu nya SMA Dua Gajah Mada ini. Hahahaha miris!" Cibirnya yang diakhiri dengan tawaan.
Matahari menghembuskan nafas kasar. "Gue pembantu nya yang selalu dapetin prestasi yang baik buat sekolah ini. Nggak kayak tuan putrinya yang selalu Mengomel tanpa hasil!"
Auristela mengepalkan kedua tangannya. "Bacot lo! Jangan mentang-mentang tingkat kepintaran lo diatas rata-rata lo jadi gampang menindas gue! Asal Lo tau ya, Kepintaran lo jauh sangat-sangat jauh dengan kepintaran jeniusnya Aska."
"Gue nggak ada niatan untuk menindas lo kali. Lo nya aja yang ke alayan...Dan asal lo tahu ya... Aska Langit itu My best friend me, Forever!" Tungkas Matahari lalu berjalan pergi ke kantin meninggalkan Auristela.
Tanpa mereka sadari ternyata seseorang sedari tadi sedang memperhatikan perdebatan mereka. "Jadi lo masih nganggep gue sahabat Ri? Bukan sebagai boyfriend kan?" gumam Langit dengan senyuman manis nya.
...~®MatahariLangit.~...
"Bukanlah!" ucap Matahari sembari tertawa.
"Kali aja dia yang menang debat," Sahut Adena chalondra.
"Kagak mungkin dia bisa ngalahin mulut gue." jawab Matahari sombong.
"Gue tau siapa yang bisa ngalahin mulut lo," kata Lami sambil memasang raut wajah serius.
"Siapa lam?" Tanya Adena yang penasaran.
"Emaknya! Wkwkwk..." Seru Lami dengan tertawa ngakak. Adena dan Matahari hanya bisa menatap Lami datar, tanpa ada ketawa-ketawanya.
"Garing sumpah." bisik Matahari pada Adena.
Adena mengangguk. "Banget..."
Lami berhenti tertawa,lalu menatap satu-persatu sobib nya itu. "Kenapa?" tanya Lami Bingung. Matahari dan Adena saling lirik-lirikan lalu mengangkat kedua bahunya cuek.
"Ihhkk apaan sih nggak asik." gerutu Lamit sambil mengkerucutkan mulutnya.
"Arya..." Panggil Adena pada Arya yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Arya melirik,lalu tersenyum manis kearah Adena.
"Gue pergi ya!" pamit Lami yang sudah berdiri dari duduknya.
"Eitss! Mau kemana lo?" tanya Matahari.
"Pergi." jawab Lami lalu membalikkan badannya.
"Woww... Ada si Parit." Ledek Arya sudah ada di hadapan Lami. Lami menatap Arya Emosi.
"Dasar Jastin Bibir!" ledek Lami nyolot. Arya terkekeh lalu memasukkan sebelah tangannya kesaku celana.
"Ri,Na kalian nyium bau aroma-aroma tidak sedap hanteu?" tanya Arya sambil mengendus-mengendus seperti Guguk.
"Iyaa.." jawab Matahari tersenyum jail.
"kayak bau Parit kan?" katanya sambil menatap Lami. Lami mendengkus sebal lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Lo Nyebelin...." Gerutu Lami kemudian menginjak kaki kiri Arya kuat-kuat.
"Awwhhh...." Ringis Arya dengan wajah nya yang memerah padam.
"Rasain noh!" kata Lami lalu pergi. Arya menghembuskan nafasnya perlahan, lalu mengelus kaki kiri nya yang nyut-nyutan. Matahari dan Adena hanya menatap Arya kasian.
"Sakit banget?" tanya Adena yang dapat anggukan dari Arya.
"Berasa retak tulang gue." kata Arya.
"Ayok ke uks, biar gue obatin!" ujar Adena lalu mengulurkan tangan kanan nya. Arya mendongkak lalu menerima juluran tersebut.
"Gue duluan ya Ri.." kata Adena sambil memapah Arya.
"Oke..waktunya kembali ke kelas." gumam Matahari. Rasanya langkah Matahari terhenti, karena ada yang mencengkal lengannya.
Matahari melirik kebelakang, dan ****!
"Apa sih!" Kata Matahari ngegas.
"Temenin makan." jawab Langit sembari memamerkan deretan gigi putihnya. Matahari menutup matanya sebentar lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Oke Tuan Aska Langit." ujar Matahari dengan senyuman terpaksa. Langit tersenyum lalu menarik lengan Matahari mencari tempat duduk yang nyaman.
...~®MatahariLangit.~...
Rintikan air bercucuran sangat deras, membasahi seluruh Kota Jambi. Waktu terus berputar cepat, Dan hari semakin gelap. Sial!
Umpatan dari seorang Matahari keluar dengan mulus begitu saja. Ya, dia sangat bosan menunggu hujan reda, di tambah menunggu Langit latihan basket. Langit dan tim nya tetap memaksakan latihan meskipun di guyur hujan yang sangat deras. Karena mereka akan mengikuti turnamen di SMA sebelah. Minggu depan.
Dan parahnya Langit dan tim basket tidak latihan di ruangan indoor melainkan di lapangan terbuka yang berada di halaman sekolah.
Matahari melipat kedua tangannya didepan dada,Lalu menyenderkan punggungnya ke dinding koridor, sembari memasangkan earphone nya.
...~®MatahariLangit.~...
"Tangkap Za!" teriak Arya pada Reza.
Reza dengan cepat menangkap Bola lalu melemparkan pada Langit yang langsung ditangkap Langit dengan sempurna. Satu loncatan tinggi Langit mampu memasukkan Bola basket pada ring.
"Selesai!" teriak Langit kemudian berjalan pergi keluar lapangan. Para tim pun bubar dan mengambil tas nya masing-masing, lalu melangkah pulang.
"Duluan woy.." pamit Reza yang sudah menggendong tasnya.
"Nebeng Za." kata Arya.
"Kan rumah lo nggak searah sama gue?" ucap Reza.
"Hehehe, nebeng aja gitu."
"Emang lo kagak bawa motor?"
"Sapri gue sakit!"
Gengs. sapri adalah sepeda motor milik Arya Jastin. Jangan salah Sapri itu motor bagus Ya! Motor Gude.
"Ya elah ya udah ayok!" kata Reza yang langsung di ikuti oleh Arya.
"Duluan Lang." ucap Arya sembari terkekeh. Langit menatap keatas ternyata hari sudah gelap. Dan hujan belum juga reda.
"Lang, lo nggak balik?" tanya Jaxin salah satu tim basket.
Langit melirik lalu mengangguk. "Balik kok."
"Kalo gitu gue duluan ya!" pamit Jaxin.
Langit menggendong tasnya disebelah kanan, lalu tangan kirinya menggenggam sebotol air mineral. Saat sudah sampai di koridor menuju ke arah parkiran, Langkah Langit terhenti Ia menatap lurus kearah Wanita yang tengah terpejam sembari menyender di dinding. Seketika senyum simpulnya terbit sekilas, kemudian ia melangkah lagi menghampiri wanita tersebut.
"Ri!" panggil Langit. Matahari membuka matanya perlahan,Dan.....
"Astagfirullah Flower Boy anjirrr!" Batin Matahari menjerit.
"Ri, maaf ya!" kata Langit.
__ADS_1
"So, let's go home!" ajak Matahari berjalan duluan. Matahari tersenyum tipis, pasalnya ia melihat Langit yang penuh dengan titikan air diwajahnya, Sumpah! Very Handsome :*
"Entar malem Gue nggak kerumah lo ya." ucap Langit fokus menyetir.
"why?"
"Gue mau rebahan, soalnya capek!"
"Ya udah."
"Ya udah nggak papa kan?"
"Hmmm..."
"Ri...Jawab kek! Kalo nggak Ya udh gue main ke rumah lo, Tapi..."
"Tapi apa?"
"Numpang Tidur, Makan, Minum, Ngegame, Dan lain-lain."
Matahari mendengkus. "Sekalian aja lo tinggal dirumah gue!"
"Oke kalo itu mau lo." kata Langit terkekeh.
"Mauuuu buangettt!" ucap Matahari dengan raut wajah sok cute.
Langit melirik sekilas. "Jijik sumpah!"
"Jijik an juga lo."
"Apanya coba yang jijik?"
"Tai nya."
"Wkwkwk...emang lo pernah look tai gue Ri?"celetuk Langit sembari tertawa renyah.
Matahari terkekeh. "Pernah! Waktu lo kebelet di sawah, dan akhirnya berak di kali."
"Dihh, Ngibul lo. Mana ada gue kayak gitu!"
Matahari terus tertawa, sembari memukul-mukul lengan Langit. "Lucu ya kalo dibayangin lang...Hahaha,"
"Jorok lo Ri, hal-hal kayak gitu aja pakek di bayangin." cibir Langit sabil bergidik jijik. Matahari hanya menjulurkan lidahnya. Kemudian turun dari mobil Langit.
"Thanks Langit Sayangg..." ucap Matahari lalu pergi dengan berlari memasuki rumahnya. Langit menggeleng dan tersenyum, Sambil melajukan kembali mobilnya kehalaman rumahnya.
...~®MatahariLangit.~...
Cukup.Malam ini Seorang Arsenio tidak keluar rumah lagi. Mungkin hanya malam ini, Malam berikutnya ia akan pergi lagi.
Arsenio membanting tubuhnya keranjang lebar nan empuknya itu,kemudian menutup rapat-rapat matanya. Namun matanya sangat sulit terpejam pasalnya Bi Ijah sedari tadi terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Arsenio.
Mau tak mau Arsenio pun turun dari ranjang lalu membukakkan pintu.
Terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju daster,lengkap menenteng nampan yang berisikan nasi beserta lauknya dan juga air minum.
"Makan dulu Sen!" titah Bi ijah dengan suara yang lembut. Arsenio menatap nampannya,kemudian beralih menatap Bi Ijah.
"Arsen nggak laper Bi." jawabnya.
"Bibi tau kamu lagi laper! Makannya Bibi siapin ini buat Kamu. Ayok dimakan!"
Bi ijah memberikan nampan tersebut pada Arsen.
Arsen menghembuskan nafasnya. "Bi ijah tau kan, Kenapa Arsen nggak mau makan."
"iya Bibi tau, tapi bukan gini caranya untuk menahan amarah. Jangan jadikan diri kamu itu menjadi sakit. Bibi nggak mau liat kamu sakit."
"Tapi Arsen nggak suka kalo mama yang nyuruh."
"Ini bukan ibu kamu yang nyuruh, liat sendiri kebawah, ibu sama ayah kamu udah tidur,"
"Dia bukan ayah Arsen Bi." kata Arsenio ketus.
"Iya bukan ayah kamu. Ya sudah ayok dimakan!" Bi Ijah lagi-lagi menyodorkan nampannya. Namun tidak ada juga pergerakan dari Arsenio. Bi ijah pun terlihat kesal dengan tingkah Arsen yang keras kepala.
"Bi ijah suapin ya!" kata Bi ijah menerobos masuk ke kamar Arsenio. Arsenio tidak marah jika Bi Ijah yang masuk, karena bagi Arsenio Bi Ijah itu seperti ibunya yang kedua. Yang lebih perhatian padanya.
"Buka mulut, pesawat mau mendarat!" titah Bi ijah dengan logat emak-emak lagi nyuapin anak nya. Arsenio terkekeh kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.
"Akhirnya mendarat dengan mulus, Mari angkut penumpang lagi." ucap Bi ijah yang lagi-lagi membuat Arsenio terkekeh.
Malam ini tepat pukul 00.27 WIB Arsenio masih belum memejamkan matanya. Ia masih setia menaruh kepalanya pada pundak Bi ijah. Bi ijah dengan penuh kasih sayang terus mengelus lembut kepala Arsenio.
"Arsen capek Bi." lirih Arsenio dengan isakannya yang terdengar begitu pilu.
"Arsen harus kuat, ada bibi yang selalu nemenin Arsen disini, Bibi yakin Arsen bisa terus kuat!" Arsenio meloloskan air matanya lalu memeluk hangat Bi Ijah. Ini sudah kesekian kali nya Arsenio memeluk Bi ijah. Begitu beratkah masalah yang Arsenio pikul?
...~®MatahariLangit.~...
"Gue nggak bisa tidur." gumam Matahari terbangun dari posisi tidurnya menjadi terduduk.
Matahari turun dari ranjang kemudian berjalan menuju balkon. Ia menyeret gorden besarnya kearah kiri, Seketika langit malam pun terlihat jelas dari situ. Bintang-bintang sepertinya sedang berkelap-kelip disana. Dan tak lupa di atas sana juga terdapat bulan yang terus memancarkan sinarnya. Senyum Matahari pun mengembang.
"Beautiful." katanya.
'Drrttt...Drrtt'
Handphone Matahari berbunyi tanda ada Chat masuk. Dengan cepat Matahari mengambil Handphone tersebut kemudia melihatnya. Ternyata.....
Langit🐽 : Tidur woyyy 😙
Matahari🐳 : Tidurin 😚
Langit🐽 : BOCAH!
Matahari🐳 : Lo dimana? Kok gue nggak liat?👀
Langit🐽 : Gue belum buka Balkon👀
Matahari🐳 : Bukalah, Langit nya lagi bagus lho...🙈
Langit🐽 : Bagus banget persis kek gue
Matahari mendongkkan kepalanya kedepan, ternyata Langit sudah menyenderkan tubuhnya di pembatas balkon sembari menghadap ke arah Matahari. Matahari tersenyum lalu membuka Balkonnya. Ia ikut menyenderkan tubuhnya di pembatas balkon dengan menghadap ke arah Langit.
Langit🐽 : Tumben lo belum tidur?
Matahari🐳 : Kangen lo :*
Langit🐽 : Apaan sih? Kagak jelas🐷
Matahari🐳 : GUE KANGEN LO ASKA LANGIT🔥
Langit🐽 : Sorry Gue kagak :v
Matahari🐳 : Ya udah Gue tunggu lo kangen sama gue : )
Langit🐽 : whathever_-
Matahari🐳 : Lirik ke atas dong!
Matahari🐳 : Bintangnya Bagus kan?
Langit🐽 : Nggak!
Matahari🐳 : Why? Kan dia cantik gitu berkelap kelip : )
Langit🐽 : Ya karena Gue nggak suka Bintang. Gue lebih suka Bulan. Dia sendiri tapi bisa Ngasih Cahaya nya keseluruh dunia😊 Nggak kayak Bintang mereka cuman bisa menumpang di sekitar Bulan dan Langit, dengan cahaya yang kecil :v
Matahari🐳 : Tapi Bintang secara fisik dia Cantik, dan juga dapat menghibur para makhluk hidup di dunia. Pasalnya dia membuat semua orang tersenyum bahagia, Apalagi saat Bintang Itu jatuh banyak orang yang make a wish. Pokonya Gue suka bintang karena Bintang selalu bikin mood gue enakan😊
...~®MatahariLangit.~...
Brakkk
Satu kata yang keluar dari mulut Arsenio. "Sial!"
Arsenio mengangkat motor nya, kemudian menghampiri wanita yang ia tabrak. Sepertinya wanita ini satu sekolah dengan Arsen pasal nya seragam mereka terlihat sama.
"Lo nggak papa?" tanya Arsenio tanpa membuka helm. Hanya kedua matanya saja yang terlihat.
Wanita itu mendongkak. "Nggak papa." jawabnya lembut. Arsenio terdiam sejenak, Sepertinya ia mengenal wanita ini. Tapi siapa?
"Lo luka." kata Arsen
__ADS_1
"Luka kecil doang kok." jawabnya berusaha berdiri.
Arsenio terus menatap gerak-gerik wanita di hadapannya ini, pasalnya ia Ingin berjalan namun sepertinya kesusahan.
Adena melangkahkan kaki sebelah kanan nya kedepan, Namun entah ada apa tiba-tiba keseimbangan nya hilang membuatnya terhuyung kedepan. Namun ia tidak merasakan tubuhnya menyentuh tanah, yang ia rasakan ada tubuh lain di depannya tengah memegang pinggang Adena erat.
Adena membuka matanya perlahan, Dan pandangan mereka bertemu. Sangat lama sekali mereka saling bertatapan. Hingga suara Klakson mobil membuyarkan pandangan mereka.
"Berangkat bareng gue aja!" Ujar Arsenio Datar sambil merangkul Adena berusaha membantu berjalan. Selama dalam perjalanan mereka hanya saling terdiam. Sesekali Adena melirik kaca spion berusaha menebak siapa lelaki itu? Karena hanya dua mata tajamnya saja yang terlihat.
Tak perlu waktu lama kini Adena dan Arsenio sudah tiba di sekolah. Untungnya tepat waktu, walaupun hampir telat. Arsenio membuka Helm nya, kemudian membenarkan rambutnya yang berantakan.
Adena membelalak. "Arsen." batinnya.
Arsen melirik Adena kemudian menghembuskan nafas kasar. "Kelas lo dimana?" tanya Arsenio lembut. ****! Ingat baru kali ini seorang Arsenio besikap hangat pada orang disekolah.
"Mmm,Gue bisa jalan sendiri kok." kata Adena lalu melangkah pergi begitu saja.
Arsenio terus menatapnya, "Dengan jalan yang kurang sempurna lo masih bilang bisa jalan sendiri! Hebat lo Cewek." omel Arsenio lalu membantu Adena berjalan.
Adena tersentak kaget saat Arsenio lagi-lagi merangkulnya. Sungguh ini hal yang paling memalukan bagi Adena, Karena banyak pasang mata yang menatap Horor.
"Selamat kan Adena ya allah...." batin Adena berdoa.
...~®MatahariLangit.~...
"Aryaaaaa...." teriak Lami parita melengking di lorong Koridor.
Pagi ini kelas 12 Ipa l Sedang dihebohkan oleh ulah Arya Jastin yang menjahili Lami.
Ia menjahili lami dengan kecoa yang ditaruh di dalam tas Lami. Sungguh jahat seorang Arya Jastin ini. Satu pukulan keras menghantam pintu kelas 12 IPA 3. Semua makhluk didalam nya pun seketika tersentak kaget.
"Apaan sih lo, nggak jelas banget pakek mukul-mukul pintu!" Kata Auristela judes.
"Dimana Arya?" tanya Lami dengan nafas terengah-engah serta wajah yang sudah merah padam.
"Yuhuuu nyari gue lo Parit!" Teriak Arya yang tidak jauh dari tempat Lami berdiri. Dengan cepat Lami berlari mengejar Arya.
"Sini lo jastin bibir!" teriak Lami.
"Kejar sampe dapet!" ucap Arya seraya menjulurkan lidahnya pada Lami. Karena terlalu fokus menghadap kepada Lami Arya jadi Oleng lalu menabrak Seseorang yang ada dibelakang nya.
"Aryaa!" teriak Matahari kesel.
"Ehhkk maaf Ri."
"Tengok Proposal rancangan gue? Ancur," kata Matahari menatap selembar kertas yang terbelah menjadi dua.
"Lam punya lem nggak?" tanya Arya.
"Buat apa?" tanya Lami polos.
"Buat ngelem lah."
"Astagfirullah, Selain nakal lo juga suka ngelem ya Ar."
"Bukan gitu Parit! Gue nanya ada lem entu buat bantu nyatuin kertas itu!" tunjuk Arya pada kertas yang depegang Matahari.
"Nggak perlu! Gue buat ulang." jawab Matahari ketus lalu berdiri dari posisi nya kemudian melangkah pergi dengan kesal.
"Eleg siah Matahari ngambek!" Lami menunjuk-nunjuk Arya.
"Nya enggeus atuh Maaf." ujar Arya lalu mengeleos pergi menyusul Matahari ke ruang osis.
"Ikuttt Ar..." cicit Lami lalu mengekori Arya.
...~®MatahariLangit.~...
Adena : Lang,Gue boleh minta tolong nggak?
Langit : Apa?
Adena : tolong bilang sama anak chiliders buat latihan tanpa gue dulu, soalnya gue habis kena musibah.
Langit : Oke! Gws : )
Adena : Thanks Lang.
Langit melangkah kan kakinya ke pinggiran lapangan basket dimana tempat latihan para Chiliders. "Kata Adena Kalian latihan dulu tanpa dia, soalnya dia lagi sakit." ujar Langit dengan wajah datarnya.
"Sakit apa?" tanya salah satu Anggota chiliders.
Langit hanya mengangkat bahunya tidak tahu. Kemudian kembali ke temgah-tengah lapangan untuk bermain basket.
"Za,Arya kemana?" tanya Langit.
"Bilangnya sih mau ngerjain misi rahasia dulu." jawab Reza masih memantul-mantulkan bola.
"Misi apaan dah?" gumam Langit bingung.
"Ya udah ayok mulai aja!" titah Langit melempar bola kearah jaxin.
"Pokonya kita nggak boleh kalah dari timm SMA Sebelah!" kata Langit yang dapat acungkan jempol dari semuanya.
"Fighting All!" teriak Langit yang langsung di soraki oleh nyanyian anak chiliders. Selama latihan basket berlangsung, Anggota Chiliders pun berlatih terus-menerus. Sungguh para pekerja keras.
...~®MatahariLangit.~...
Hari Rabu, Adalah hari yang paling dibenci oleh Matahari. Pasalnya dihari Rabu ini biasanya ia selalu mendapatkan tugas full oleh Pembina osis yaitu Bu Astrit azahry. Apalagi pada Hari ini, ia ditugaskan untuk membuat proposal karena minggu ke empat SMA 2 Gajah Mada akan mengadakan Pameran.
Untungnya Para Anggota osis sedia membantu, Bukan sedia sih namun WAJIB!
"Har,Lo udah catet kan apa aja yang diperluin di pameran besok?" tanya Matahari.
"Udah, Catatan nya ada di Belle." Jawab Haru seraya menunjuk Belle sang sekretaris Osis.
"Udah siap kok Ri, tinggal Lo cetak ulang proposal yang rusak itu!" ujar Belle yang kemudian sibuk kembali dengan buku-bukunya. Matahari mengangguk lalu mencetak ulang Proposal nya.
"Ri gue minta maaf! Dan gue ijin nggak hadir, gue mau latihan basket." Ucap Arya yang menongol di ambang pintu.
"Pergi aj sono!" Titah Matahari dengan nada datar.
"Oke, Bosku." teriak Arya dengan kekehan.
"Btw,Arsen kemana?" tanya Lami
Semua orang seketika berhenti beraktivitas. Kemudian...
"Nugas dia." jawab Matahari tanpa berhenti beraktivitas.
Lami hanya ber'Oh' ria,kemudian mendekati Matahari. "Perlu Gue bantu?" tanya Lami.
"Bantuin Esther aja sana lam!" titah Matahari. Lami mengangguk lalu menghampiri Esther yang tengah sibuk menghitung uang pengeluaran untuk besok.
...~®MatahariLangit.~...
"Lo telat!" Tegur Arsenio dengan suara khasnya yang datar.
"Jangan di hukum dong kak, pliss!" Mohon lelaki cupu itu pada Arsenio.
Arsenio hanya besikap cuek, sembari menuliskan sesuatu pada buku kecilnya.
"Temui Pak Deo dan jalani hukuman ini." Ucap Arsenio sembari memberikan selembar kertas kecil pada lelaki berkacamata ini.
"T-tapi kak-"
"Lakukan atau Gue kasih hukuman yang lebih berat!" Ujar Arsenio dingin.
Lelaki itupun menurut, kemudian melangkah pergi menemui Pak Deo, Guru yang selalu mencatat anak-anak telat. ia juga salah satu Guru Seni Budaya. Arsenio kembali berkeliling menyusuri setiap sudut yang selalu dijadikan pintu masuk orang telat.
Bughh
Sepertinya hari ini adalah hari sialnya Arsenio, Karena sedari pagi hingga sekarang ia terus bertabrakan dengan seorang wanita. Kali ini wanita yang berbeda, Ia adalah wanita yang selalu mengikuti Arsenio ketika balapan siapa lagi kalo bukan Auristela Friska.
"Awhhh..." Ringis Auristela.
"Tolongin kek sen, jangan diliatin mulu." kata Auristela. Arsenio pun membantu Nya berdiri.
"Gendong kek, lutut gue lecet nih gara-gara lo." gerutunya sambil diakhiri senyuman.
Arsenio hanya bersikap cuek. "Lo Anak PMR! Mandiri."
Auristela hanya melongo sambil meremas rok nya kuat-kuat.
"Dasar cowok batu!" Cicitnya.
__ADS_1
Arsenio tidak peduli,ia lebih memilih pergi dan kembali menjalani tugasnya.
...~®MatahariLangit.~...