Matahari Langit

Matahari Langit
11.Eleven


__ADS_3

"*Tidak ada salahnya kan aku cemburu? Karena Aku Menyukainya." ¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦


"Rumah mama gede ya.." Pekik Agler yang terdengar manis ditelinga Alma.


Alma tersenyum manis. "Makasih ya ***. Udah buat kita kumpul sekeluarga."


"Ini juga karena mama kok." jawab Agler tersenyum tulus.


"Ya sudah ayok kita masuk!" ajak Alma berjalan duluan.


Ketika sudah masuk kedalam, Agler terpukau dengan ruang tengah rumah ini, pasalnya rumah ini sangat rapi juga terdapat beberapa foto yang menurut Agler itu adalah foto keluarga nya Arsen dulu. Agler sekilas menyumbangkan senyuman simpul nya.


"Bi...bibi..." panggil Alma.


"Iya Nyonyaa..." jawab Bi ijah menghampiri Alma.


"Arsen dimana?" tanya Alma seraya melihat kesekeliling rumah.


"Den arsen tadi bilangnya sih mau ke tempat temen-temennya,"


"Arsen...." gumam Alma pelan.


"Ya udah Bi tolong buatin minuman ya!" titah Alma yang diangguki Bi ijah.


"Agler! Ayokk mama kasih tau kamar kamu!" ajak Alma diangguki Agler.


Agler mengikuti Ibu tirinya itu naik ke lantai atas. Setelah di atas Ibunya memberikan Satu kamar untuk Agler yang bertepatan disamping kamar Arsen. Saat sudah didalam kamar,Agler membelalakkan matanya.karena kamar tersebut sudah rapi dan sudah lengkap dengan barang-barangnya.


"Ma..ini kamar Siapa?" tanya Agler.


"Kamar kamulah." jawab Alma.


"Tapi kok?"


"Mama udah dari waktu itu rapihin kamar ini buat kamu ***."


"Agler ngerepotin ya?"


"Enggak kok! Kamu sama sekali nggak ngerepotin Mama. Mama malah seneng kamu udah tinggal disini."


Agler tersenyum lalu menaruh tas diatas kasur empuknya. "Makasih ma." kata Agler.


Alma hanya mengangguk lalu mencubit kedua pipi Agler gemas. "Kamu tuh lucu tau." ujar Alma yang dapat kekehan dari Agler.


"Kamu mandi dulu gih! Nanti kalo udah mandi turun kebawah ya," kata Alma.


"Iya ma." jawab Agler menurut.


...~®MatahariLangit.~...


Langit mendengkus kasar sembari terus mengacak rambutnya Frustrasi. Pasalnya sedari tadi ia kalah melulu bermain Vs bersama Matahari. Ternyata Matahari ini jago ngegame juga.


"Ri males ahkk!" gerutu Langit.


Matahari tertawa kecil. "Males karena lo kalah?!"


"Ck...Udahan ahkk! Males gue." gerutu Langit lalu menaruh stik Gamenya dan merebahkan tubuhnya dikasur empuk.


"Aaa...lo mah nggak asik!" dengus Matahari kesal.


"Males gue."


"Iiissss...ayolah Lang! Satu ini lagi aja plisss!"


"MALES!"


Matahari mengerucut kan mulutnya. "Ya udah gue main sama tante Xandra aja!"


Langit bangun dari rebahannya lalu menatap Matahari datar. "Nggak! Jangan ganggu bunda gue." kata Langit ketus. Matahari memutar bola matanya malas, lalu beranjak berdiri.


"Mau kemana?" tanya Langit.


"Pulang!" jawab Matahari ketus.


Langit berdecak. "Lo mah gitu."


"Lo nya yang gitu. Nggak asik." cibir Matahari melipat kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


Langit mendengkus sebal lalu berdiri. "Makan aja yukk! Gue laper." ajaknya.


"makan sama tante Xandra?" tanya Matahari.


"Iya lah...Ayokk!" ajak Langit sudah berjalan duluan.


Matahari tersenyum senang lalu berjalan mengikuti Langit dibelakang. Apa sih yang nggak buat makan, pikir Matahari. Didapur telihat Xandra sedang merapikan lauk pauk dimeja makan. Ia juga dibantu oleh pembantu rumahnya.


"Tante ada yang bisa Zelle bantu?" tanya Matahari tersenyum pada Xandra.


Xandra membalas senyuman nya. "Ada Zel."


"Apa tan?"


"Bantuin tante ngabisin makanan ini ya." kata Xandra terkekeh.


Matahari tersenyum lebar. "Siap tante! Apa sih yang nggak buat Tante..." goda Matahari sudah duduk dikursi makan.


Xandra hanya tertawa kecil melihat tingkah Matahari yang sangat mirip dengan ibunya dahulu. "Kamu mirip banget sama ibu kamu zel." ujar Xandra mengambil kan nasi untuk Matahari.


Matahari terdiam sembari memberikan piringnya. "Kenapa harus mama sih? Kan zelle maunya mirip papah,"


"Syukuri yang ada." celetuk Langit seraya merebut piring Matahari yang sudah terisi nasi.


"Heeee...Langitt itu piring gue!" rengek Matahari.


"Ambil lagi sih! Masih banyak kok nasinya." kata Langit sudah mengambil lauknya. Matahari mendengus sebal.


"Udah-udah sini tante kasih nasinya lagi." kata Xandra yang melerai mereka berdua.


Matahari hanya tersenyum senang lalu memberikan piringnya lagi pada Xandra.


Ingat! Matahari tidak pernah malu jika harus begini dirumah Langit, pasalnya Langit pun begitu jika sedang dirumah Matahari. Tidak ada kata Malu!


...~®MatahariLangit.~...


"Ini sekolahnya lumayan juga ya." puji Arya melihat sekeliling SMA Nusa Galaksi.


"Ayokk ke ruangan!" ajak Langit berjalan duluan.


Selama dalam perjalanan menuju ruangan. Para kaum hawa SMA Nusa Galaksi ini menatap Langit terus, Dan bergosip ria tentang ketampanan Langit. Bukannya mau sombong, Tapi Memang benar nyatanya kalo Langit ini Handsome. Dan ia mengakui itu,.


Awalnya Langit biasa saja, Namun saat mata mereka bertemu dan terpaku, tiba-tiba Langit merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa ini?


Tanpa Langit sadari ternyata ada seseorang yang melihat kejadian itu, Bukannya mendekati Langit, Wanita itu malah balik kanan lalu pergi begitu saja. Ia tidak jadi menghampiri Langit.


"Niat ke ruangan nggak sih!" sahut Arya agak berteriak.


Langit tersadar lalu melepas tangan nya dari pinggang wanita itu. "M-maaf ya."kata Langit menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal.


Wanita itu berjongkok,untuk mengambil buku-bukunya yang berserakan dilantai.


"Lo denger kata gue nggak sih?" pekik Langit yang ikut membantu. Wanita itu beralih menatap Langit lalu mengedipkan kedua matanya untuk menjawab.


"Lo nggak bisa ngomong?" tanya Langit hati-hati sembari memberikan bukunya.


"Bisa kok." jawabnya lembut lalu tersenyum.


Wanita itu berdiri dari posisi jongkok. "Makasih ya." katanya.


Langit menatapnya lalu mengangguk. "Ehkk! Nama lo?"


"Bulan."jawabnya lalu tersenyum lagi.


Langit tersenyum manis. "Langit."


Bulan mengangguk lalu pergi. Langit terus menatap kepergian Wanita tersebut. Seperti ada rasa yang aneh saat wanita bernama Bulan tersebut pergi. Langit pun tidak tau apa maksudnya semua ini?


"Lo jadi ikut turnamen nggak sih Lang!" omel Arya terlihat kesal.


"Aaa...Jadi kok, Yuk!" Langit berjalan duluan lagi.


...~®MatahariLangit.~...


Matahari berdiri disebelah Lami sambil memasang wajah datar.


"Lo kenapa?" tanya Lami.

__ADS_1


Matahari melirik lalu menghembuskan nafas kasar. "Tolong kasihin ini ke Langit ya!" titah Matahari seraya memberikan handuk kecil dan botol mineral kepada Lami.


"Kenapa nggak lo aja?"


"Males! Gue mau pergi."


"Kemana?"


"Gue mau ngisi perut!" jawab Matahari ketus lalu pergi. Matahari sangat kesal, lebih tepatnya ia cemburu melihat kejadian tadi. Saat Langit bermesraan dengan wanita lain.


Matahari menghembuskan nafas panjang saat sudah sampai di salah satu kantin SMA Nusa Galaksi. Matahari duduk disebelah Siswi yang menurutnya salah satu anak murid dari sekolah itu.


"Bi Es teh nya satu!" pesan Matahari yang diangguki bibi kantin. Matahari melirik wanita disebelahnya itu, Sial! Wanita itu wanita yang tadi bersama Langit.


"Kamvret." umpat Matahari dalam hatinya. Perlahan wanita itu melirik kearah Matahari juga. Lalu ia menyumbang kan senyuman manis nya.


"Kamu Sekolah di SMA dua gajah mada ya?" tanya Wanita itu terlihat ramah. Matahari mengangguk mengiyakan.


"Woahh.....Nama kamu siapa?" tanyanya.


"Matahari." jawab Matahari.


Wanita itu tersenyum lagi lalu mengulurkan tangannya. "Aku Bulan."


Deggg


Matahari tersentak kaget mendengar ucapan Wanita tersebut.


"Bulan?" ulang Matahari pelan.


"Salam kenal ya Matahari." kata Bulan.


"Mmm..." jawab Matahari lalu meneguk es tehnya.


"Btw...Lo nggak nonton turnamen?" tanya Matahari.


"Mmm..Menurut kamu?"


"Kenapa nggak nonton?" tanya Matahari mulai penasaran.


Bulan menghembuskan nafas panjang. "Kalo aku ada ditengah-tengah temen-temen aku. Pasti mereka bakalan pergi gitu aja. Jadi percuma aku kesana. Aku nggak punya temen." jelasnya terdengar sedih, Namun ia tetap menyumbangkan senyuman manis nya.


"Kenapa? Kok temen-temen lo pada ngejauhin lo?" tanya Matahari lagi yang benar-benar merasa prihatin. Bulan lagi-lagi tersenyum manis. Mungkin itu cara dia untuk menyemangati dirinya.


"Mmm...Aku dari dulu memang udah dijauhi." jawabnya sedikit gugup.


Matahari mengernyit. "Nggak ada yang mau temenan sama lo satupun?"


Bulan menggeleng kan kepala nya.


"Lo nggak sedih apa?" tanya Matahari.


"Aku sedih Matahari. Tapi Aku memang harus menerima kenyataan itu." jawab Bulan lembut dan masih mengukir senyuman manis.


Matahari saja sempat bingung. Bulan ini sedang sedih atau bahagia? Karena setiap ia bercerita sedih ia selalu tersenyum manis. "Kalo lo sedih kenapa lo senyum terus?"


"Aku menyukainya. Karena senyum dapat membuat diri aku tenang."


Matahari mengangguk.


"Apa kamu juga mau pergi?" tanya Bulan tiba-tiba.


"E-eehhkk...Gue?"


"Iya."


Matahari terlihat sedang berpikir.


"Kalo gitu....Gue mau jadi temen lo." kata Matahari lalu tersenyum.


Bulan tersenyum lebar. "Beneran?"


"Beneran lah. Gue nggak pernah boong kalo soal temen!"


"Aku seneng banget Ri."


Matahari tersenyum manis. Ternyata Bulan bahagianya sangat sederhana, pikir Matahari.

__ADS_1


"Entah kenapa gue udah nggak kesel lagi sama si Bulan." batin Matahari. Selama pertandingan basket dimulai. Matahari tetap dikantin bersama Bulan. Mereka menghabiskan waktu bersama.


...~®MatahariLangit.~...


__ADS_2