Matahari Langit

Matahari Langit
06.Six


__ADS_3

"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak mau kamu dijumpai oleh lelaki lain, kecuali aku mengetahui nya." ¦¦ Aska Langit ¦¦


Setelah kejadian kecebur malam itu, Matahari menjadi sering takut untuk menghampiri kolam renang rumahnya.Walaupun tidak sedalam kolam renang Kakaknya, Matahari tetap saja takut jika harus mendekati kolam. Hari ini Matahari tidak masuk sekolah karena ia sedang datang penyakit sindrom lelah nya. Lebih tepatnya ia malas sekolah


Setelah Langit benar-benar pergi dari rumahnya Matahari pun turun kebawah untuk menonton. Untung saja orang tuanya sedang tidak ada dirumah. Jadi Matahari dengan santuy tidak sekolah. Iya ia tahu bahwa ia adalah seorang Ketua osis,Tapi sekali-kali tidak hadir disekolah tidak apa-apa kan?


"Bi,masak apa?" tanya Matahari yang berpenampilan seadanya, Dengan baju kaos lengan panjang kebesaran dan celana jeans di atas lutut. Serta rambut yang terurai lurus.


"Bibi masakin bubur buat Enon. Kan katanya lagi nggak enak badan." balas Bi inah.


Matahari cemberut. "Zelle nggak mau bubur Bi,"


"Lah,terus mau nya apa?" tanya Bi inah kebingungan.


"Yang kayak biasa, makanan kesukaan." jawab Matahari sambil tersenyum.


"Tapi enon kan lagi sakit. Lebih baik makan bubur!" titah Bi inah yang menyodorkan bubur pada Matahari.


Matahari menghembuskan nafas panjang. "Tapi zelle mau nasi telor."


"Hmmm,ya udah tunggu sebentar Bibi buat dulu."


"Okee...." kata Matahari dengan jempolnya yang terangkat. Selama menunggu Matahari hanya menonton film kesukaan nya Larva. Anak bocah memang.


...~®MatahariLangit.~...


"Tumben sendirian Lang." ujar Reza ketika berpapasan dengan Langit. Langit hanya tersenyum simpul.


"Kemana si primadona?" tanya Reza lagi.


"Sakit." jawab Langit.


"Wahh... Harus di jenguk nih!" kata Reza membuat kerutan didahi Langit.


"Nggak usah!" elak Langit datar.


Reza menatap Langit bingung. "Loh, kenapa? Kan gue mau jenguk, emang nggak boleh?"


Langit memberikan tatapan sengit nya pada Reza. "Lo berani jenguk Matahari, gue keluarin lo dari tim!"


"Astagfirullah..Kejam amat mas!" ujar Reza menggelengkan kepalanya. Langit hanya bodo amat dan memilih melanjutkan jalan nya untuk cepat sampai di kelas.


"Ternyata lo cemburu Lang," gumam Reza terkekeh.


"Akhirnya lo tau rasanya cemburu." kata Reza merasa bahagia karena sohib nya itu bisa merasa kan panas Hati.


"Saha atuh nu cemburu?" tanya Arya tiba-tiba sudah ada disamping kiri Reza.


Reza melirik kemudian tersenyum. "Itu si Langit."


"Beneran?"


"Iya,Ar beneran."

__ADS_1


"Akhirnya.ehk tapi dia cemburu kenapa?"


"Cuman gara-gara gue mau jenguk Matahari."


"Yes! Akhirnya si Langit cemburu. Berarti Matahari aya celah jang ngadepetkeun si Langit." kata Arya yang dapat anggukan dari Reza.


"Berita baik buat primadona." ucap Reza. Setelah asik mengobrol mereka pun pergi ke kelas nya masing-masing.


...~®MatahariLangit.~...


Bukannya mengerjakan tugas, Arsenio malah bersantai-santai di kursi taman dengan buku yang tersimpan dengan baik di atas wajahnya.Mmmm....lebih tepatnya Arsenio sedang tidur nyenyak di kursi panjang itu. Mentang-mentang para guru jarang patroli.Dengan seenaknya Arsenio tertidur.


Seseorang sedang berjalan tepat disekitar taman, Namun langkahnya terhenti karena melihat seorang Arsenio sedang tertidur. Entah apa yang merasuki Adena,ia memilih melangkah mendekati Kursi yang ditiduri oleh Arsenio.


"Kasian banget, tidurnya di sini." gumam Adena terlihat polos. Adena berjongkok tepat di depan kepalanya. Hasratnya sangat ingin membangunkan lelaki satu ini, Namun Adena malah terpaku ditempat. Alasannya ia takut jika lelaki ini marah bila dibangunkan.


"Bangunin nggak ya?" batin Adena.


Hitungan ketiga pun Adena menjulurkan tangannya, belum sempat menyentuh bahunya, Adena sudah berhenti. Ia melotot karena melihat tag name yang ada di kaos lelaki itu. Arsenio Edzard.


"Arsen." batin Adena, karena kaget Adena pun membenarkan posisi jongkok nya menjadi berdiri. Adena berniat melangkah pergi, Namun langkahnya malah menginjak ranting kecil yang bersuara lumayan keras. Adena pun mengutuk kakinya karena sudah salah melangkah. Dengan hati-hati Adena memutar kepalanya dan... Ternyata Arsenio sudah membuka matanya.


"Tuh kan Bangun." gumam Adena merasa kesal.


Arsenio menyipitkan matanya kearah Adena. Ia membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk.


"Ngapain lo?" introgasi Arsenio dengan nada khas nya yang datar ples dingin.


Adena memejamkan matanya kemudian membalikkan badannya. "Aku?" tanya Adena polos.


"Mmm,...itu tadi, Numpang lewat aja." jawab Adena kikuk. Arsenio terkekeh geli, kemudian berdiri dari posisi duduk nya. Ia melangkah menghampiri Adena.


"M-mau ngapain?" tanya Adena yang merasa takut. Arsenio mendekat kan wajahnya ke wajah Adena. Dengan cepat Adena memejamkan matanya.


Arsenio tersenyum simpul kemudian. "Jangan takut, gue kagak mau nyium lo. Gue cuman mau bilang, Alesan lo lucu." bisik Arsen tepat ditelinga Adena.


Adena membuka matanya. Sumpah ia merasa malu karena sudah berpikiran jika Arsenio akan menciumnya. Tak lama Arsenio pun melangkah pergi menjauh dari Adena.


"Huft! Akhirnya bisa nafas lagi." kata Adena merasa lega.


"Kok jadi serem ya kalo liat muka Arsen." ucap Adena berusaha menelah ludahnya.


...~®MatahariLangit.~...


"Tinggal 5 hari lagi kita latihan." kata Langit sembari memegang bola basket di tangan kanan nya.


"Nggak nyaka gue kalo kita harus lawan sekolah unggul." sahut Reza.


"Seunggul-unggul nya mereka masih unggulan sekolah kita kali." Kata Jaxin yang menyombongkan nama sekolah.


"Bersyukur aja,jax!" titah Arya seraya merebut bola basket dari tangan Langit.


"Yok ahkk latihan, dari tadi anak chiliders doank yang latihan kita nggak," omel Arya memantul-mantulkan bolanya.

__ADS_1


"Oke." sahut semuanya.


Mereka pun berlatih begitu semangat, Keringat bercucuran nafas terengah-engah itu sudah biasa dalam suatu perjuangan bermain basket. Mereka tak kenal lelah,semoga saja Tim Langit memenangkan turnamen besok. Doakan yang terbaik saja.


Begitupun anak Chiliders, mereka begitu lincah menghapal berbagai gerakan hanya untuk menyemangati tim basket. Kadang ada yang terjatuh karena kurangnya keseimbangan, Namun mereka tetap terus berlatih. Memang pekerja keras.


"1...2...3...4 Girl cheer up Let's go!" teriak Adena terdengar tegas namun imut.


Gerakan demi gerakan Adena keluarkan dengan lincah. Dan tak lupa ia menyumbang kan raut wajahnya yang ceria nan imutnya itu. Tidak salah pilih deh, ia cocok sekali menjadi ketua Chiliders.


"Na,Tunggu dulu ya, Gue kebelet!" kata Zira membuat semua nya berhenti menari.


"Iya sana lah!" titah Adena dengan suara khas nya yang begitu lembut.


"Yang lain ayok lanjut!" ajak Adena dengan senyuman.


"Ayokk! Semangat gaes!" teriak Kantika penuh dengan semangat. Adena tersenyum manis kemudian kembali menggerakkan tubuhnya.


I love you baby.........🎶


Bunyi telepon itu membuat Adena memutar badannya dan menghampiri Handphonenya yang berada diatas kursi penonton.


"Hallo, Assalamualaikum." jawab Adena lembut.


"Na ,Pulang dong Bubun mau ke desa dulu nih, tolong jagain Adek!" titah ibu disebrang sana.


"kak Adnan kemana emang?"


"Dia kuliah! Kamu lupa?"


"Ya udah Adena pulang sekarang."


"assalamualaikum." Adena menutup telepon nya secara sepihak.


"Temen-temen kita latihannya udah dulu ya, soalnya gue mau jagain Adek dirumah." kata Adena.


"Oke!"Semuanya bubar pergi meninggalkan lapangan.


Adena berlari terburu-buru, pasalnya ia ingin cepat-cepat menaiki bus agar kedapatan tempat. Namun larinya tidak berjalan mulus, karena Adena sudah kehilangan bus nya.Adena menghembuskan nafas panjang.


"Taksi aja lah." kata Adena yang sudah meronggoh handphonenya.


"Nebeng nggak?" tawar seseorang, sepertinya dikenal oleh Adena. Adena terlihat berpikir sejenak.


"Ayok lah,Rumah lo cuman beda gang sama gue! Jadi bisalah gue anterin lo." kata Agler.


"Tapi jadi ngerepotin lo." ucap Adena tidak enak.


"Gue nggak merasa direpotin kok."


"Mmm, ya udah deh kalo lo maksa." kata Adena terdengar Imut.


"Nih pake!" Agler memberikan satu helm pada Adena.

__ADS_1


Adena memasang helm tersebut kemudian menaiki motor gedenya Agler. Setelah itupun Agler menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang, karena ia sadar tengah membawa seorang gadis. Lebih tepatnya gadis imut yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikiran Agler kalandra. Untungnya Agler mengenal dekat Adena jadi nya ia bisa terus-terusan berbincang dengan Adena.


...~®MatahariLangit.~...


__ADS_2