Matahari Langit

Matahari Langit
05.Five


__ADS_3

"Beri aku celah untuk bisa dapetin kamu, Aku mohon." *¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦


Matahari menatap Grizalle yang kini tengah tersenyum kearahnya. Dari awal wanita itu sudah tersenyum manis kearah Matahari, Namun Matahari tetap saja memasang wajah datar.


"Kamu nggak kangen kakak?" tanya Grizalle dengan nada menggoda.


Matahari memutar bola matanya malas, lalu berjalan ke arah kakaknya.


"Zelle kangen nya sama Noe." jawab Matahari kemudian berjongkok dan tersenyum kearah Noe.


"Bilang aja kamu gengsi.jadi nggak mau ngakuin kalo rindu kakak,"


"Dih pede gila."


"Pede lah."


"Iyalah terserah kakak."


Kini Grizalle kembali menyambut seseorang yang sangat-sangat ia rindukan. "Langittt...." cicit Grizalle yang langsung memeluk Langit.


Langit pun membalas pelukan tersebut. Matahari yang melihat momen itu hanya memasang raut wajah mual. "Alay tau emak kamu Noe." bisik Matahari pada Noe.


Karena umurnya yang baru menginjak 3 tahun Noe hanya mengangguk senang. Memang menggemaskan bukan. Saking gemasnya, Matahari mencubit pipi Noe pelan kemudian menggendong nya dan membawanya pergi ke dekat  Sandara,Xandra,dan Gandira.


"kamu apa kabar Lang?" tanya Grizalle melepas pelukannya.


"Yang seperti kakak liat. Langit baik-baik aja." jawabnya dengan senyuman manis.


Grizalle tersenyum. "Ya sudah ayok kita kumpul bareng yang lain,.Acaranya sebentar lagi mau dimulai."


"Oke."


Matahari benar-benar lucu ketika sedang mengajak Noe bermain. Wajahnya sangat imut bila diperhatikan terus, Seperti Langit kini ia sedang tersenyum lebar memperhatikan Matahari yang bersikap kekanak-kanakan itu. Satu kalimat keluar dari mulut Aska langit. "Lo Lucu Grizelle Matahari." gumamnya.


...~®MatahariLangit.~...


Lagi-lagi rutintitas seorang Arsenio kembali. Karena sudah jadi kebiasaan nya keluar malam tanpa izin dari kedua orangtua nya. Arsen pun memilih keluar lewat jalan dapur. Saat sudah di depan gerbang, Arsen selalu memberikan Satpam nya uang agar gerbang rumahnya itu dibuka. Hal yang sangat-sangat buruk bukan? Penampilan nya saja yang baik, Namun sikap nya sangat tidak patut untuk di tiru.


Dengan cepat Satpam rumah Arsen pun membuka kan gerbangnya, kenapa mau? Ya karena Arsen sudah memberikan separuh uangnya pada Satpam, dan ia sudah berjanji pada satpam bahwa ia akan pulang seperti biasanya.


Selama dalam perjalanan, Arsenio lagi-lagi membayangkan sesuatu yang menurutnya sangat lucu bila di ingat. Entah dari mana lucunya, Namun bagi Arsen bayangan itu sangat Lucu. Ia terus memutar kembali kejadian pagi tadi, saat ia menabrak seorang gadis imut, nan Lembut. Dan lebih lucunya Arsenio berucap padanya agar hati-hati. Huft!


Arsenio menggeleng lalu berdecak sebal. "Apa sih! Bisa-bisanya lo senyum cuma gara-gara hal yang begituan! Arsen Arsen."


Ia berusaha menepis bayangan itu, seperti nya Ia baru menyadari bahwa ia telah gila karena sudah tersenyum dengan hal-hal yang sangat tidak lucu itu.


...~©MatahariLangit.~...


"Oke! Gue harus siapain suara gue buat My Arsenio," ucap Auristela dengan senyuman.


"Jangan terlalu berharap,bisa dapetin Arsen La." Sahut Kenzoㅡㅡ,salah satu teman Arsenio.

__ADS_1


"Suka-suka gue lah,"


"Yeuhh! Dibilangin malah ngeyel."


"Bodo amat,gue ini kok yang suka!  Bukan lo."


"Ck. Ya kali kan gue suka sama Arsen? What? G*y gob**k!"celoteh Kenzo yang dapat Tatapan sengit dari Auristela.


"Arsen nggak mungkin suka sama lo!" celetuk Moza berada tepat di samping kenzo. Auristela hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Pasalnya, lo itu adek kandung dari seorang Gavin, lebih tepatnya lo adik kandung musuh nya Arsen!" kata Moza penuh penekanan.


"Gue juga ogah kali punya kakak kayak Gavin! Syukur-syukur dia bodo amat sama gue." jawab Auristela selalu membenci kakaknya karena ia musuh Arsenio.


"Seharusnya lo ada di pihak kakak lo." ucap kenzo.


"Idihh males, yang ada gue malah di jadiin bahan taruhan sama dia."


"Pokoknya jangan berani buat dapetin Arsen." ujar Moza datar.


"Sebelum dia belum tahu kenyataan nya kalo gue adek Gavin. Gue bakalan tetep suka dia dan masih mau berjuang buat dapetinnya." keukeuh Auristela yang dapat gelengan kepala dari kenzo dan Moza. Tak lama motor Arsenio pun terparkir tepat dihadapan mereka ber tiga. Arsen kemudian membuka helm lalu turun dari motor.


"Kagak ada yang mau lawan gue?" tanya Arsenio.


"Nyerah duluan gue." balas Kenzo sambil mengangkat kedua tangannya.


"Za?" tanya Arsenio dapat gelengan kuat-kuat dari Moza.


"Mau balap bareng gue?" tawar seseorang.


Arsenio membalikkan badannya, Lalu mengernyit. "Cewek?"


"Masih inget gue kan?" tanya Bellvania annora. Arsen hanya menatapnya datar.


"Lo yakin bisa lawan Arsen?" tanya Auristela yang tentunya mengenal Bellvania Annora. Siapa sih yang tidak kenal dengan Queen nya Genk The Boy X. Tentunya Genk Gavin. Selain berwajah cantik, ia juga ternyata wanita yang lumayan nakal.


"Hoho....stela! Lo berpihak di sini toh." cibir Bellvania Annora.


Auristela berdecih. Kemudian mendekati Bellvania. "Lo salah bergaul Vania."


"Bukannya lo juga iya?"


"Gue bergaul sama mereka karena mereka yang terbaik nggak kayak lo. Bergabung dengan manusia muna."


"Parah lo A-" ucapan Bellvania terpotong.


"Lo jadi lawan gue apa nggak?" tanya Arsenio.


"Awas lo ya!" tunjuk Bellvania pada Auristela.


Kini Auristela sangat berterima kasih pada Arsen, karena sudah menyelamatkan nya dari Ucapan Bellvania yang ingin menyebut Gavin adalah abangnya. Untung saja!

__ADS_1


Balapan pun dimulai, Sudah dapat di bayangkan bahwa pastinya Arsenio lah yang menang bukan Bellvania. Tapi Bellvania sangat menantang Arsenio maka dari itu Arsenio menerima tawaran nya dengan senang hati. Selama ini dapat membuat senang, mengapa tidak mencobanya. Pikir Arsenio.


...~®MatahariLangit.~...


"Happy birthday Noe..." ucap seluruh hadirin. Banyak tepuk tangan yang membuat Noe tersenyum senang.


"Tiup lilin nya dong Noe!" titah Langit yang siap-siap membidik foto Noe dengan kameranya. Dalam hitungan ke 3 pun Noe terbidik oleh kamera milik Langit, Sangat imut.


Karena terlalu sibuk makan Matahari pun jadi tidak sadar bahwa ia terus-terusan di bidik oleh Langit. Yang mempoto hanya terkekeh geli melihat ekspresi aib Matahari sang Primadona.


"Kayaknya ngakak deh kalo gue sebarin dengan tagar 'RecehnyaSiPrimadona!' Wkwkw." gumam Langit dengan kekehan. Langit beralih membidik semua yang ada dipesta ini. Sepertinya ia fotografer sewaan nya kak Grizalle.


"Lang,Kamu tolong potoin kakak sama noe sama suami kakak ya!" pinta Grizale yang diangguki Langit.


...~©MatahariLangit.~...


"Lo nggak takut gendut." celetuk Langit yang datang menghampiri Matahari. Matahari hanya mengacuhkan nya, dan lebih memilih lanjut makan.


Langit merebut cake yang ada ditangan Matahari. Matahari menatap Langit datar. "Cukup Ri,Lo dari tadi makan mulu? Jangan bilang lo lagi badmood."


"Kalo iya kenapa?!" tungkas Matahari kemudian memalingkan wajahnya.


Langit berdecih, lalu memakan cake yang ada ditangannya itu. Daripada beradu mulut dengan Matahari lebih baik makan. Matahari pergi begitu saja meninggalkan Langit, Seperti nya Badmood nya ini datang karena Langit. Fiks, Langit kudu membujuknya berkali-kali agar ia tidak kesal lagi.


"Dasar Manja! Gemesin deh." gumam Langit gemas lebih tepatnya geram.


Langit pun pergi mengekori Matahari, Langit tidak tahu kenapa Matahari tiba-tiba Badmood padanya. Padahal Langit sangat ingin mengajak Matahari berpoto bersama tadi. Namun rencana nya gagal.


"Ri..."panggil Langit namun tidak didengar oleh Matahari. Karena tamu-tamu terlalu ramai Langit menjadi sulit untuk bergerak cepet. Begitupun Matahari ia kesulitan untuk berjalan cepat.


Dan sialnya saat Matahari ingin melangkah ke arah meja yang banyak makanan tiba-tiba keseimbangan nya hilang, karena ada seseorang yang menabraknya alhasil ia pun tercebur ke dalam kolam. Lebih parahnya Matahari tidak bisa berenang!


Langit yang melihat kejadian itupun segera meluncur kedalam kolam dan menolong Matahari. Ia mengangkat Matahari dengan bride style. Sepertinya Matahari terlalu banyak meminum air kolam sehingga ia terbatuk-batuk terus.


"Bisa nggak sih lo tu hati-hati kalo mau ngelangkah!" Tegur Langit khawatir.


"Kok lo malah marahain gue Hikss.." Matahari meloloskan air matanya begitu saja. Pasalnya ia masih syok dan malah di marahi oleh Langit.


Langit menghela nafas panjang kemudian menenggelamkan kepala Matahari di dada bidangnya. Uwow! Langit memeluk Matahari. Bukan hal yang aneh sih! Tapi baru kali ini lagi Langit memeluk Matahari.


"Udah jangan nangis lagi, gue minta maaf." ucap Langit lembut.


Matahari memejamkan matanya dalam-dalam. Ia sangat merindukan sosok Langit yang ini, yang selalu hangat terhadap Matahari. "Gue makin sayang sama lo Lang." batin Matahari.


"Zelle, kamu nggak papa nak?" tanya Sandara sangat panik.


Langit melepas pelukannya dan beralih Sandara yang memeluk Matahari.


"Hikss ma.." lirih Matahari kemudian memeluk erat ibunya itu.


"Lo selalu berhasil buat gue khawatir Ri." batin Langit.

__ADS_1


...~®MatahariLangit.~...


__ADS_2