
"*Aku masih memiliki janji, Tolong kuatkan hati ini." ¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦
Arsenio menghentikan motornya tepat di depan rumah minimalis berwarna hitam putih. Seperti nya ini rumah Agler, karena nomor rumahnya sama dengan yang disebutkan oleh Adena. Arsenio pun turun dari motor gedenya itu, kemudian menghampiri pintu utama rumah tersebut.
"Assalamualaikum." Ucap Arsenio sembari mengetuk pintu beberapa kali.
"Waalaikumsalam." terdengar suara wanita didalam sana, yang sepertinya selalu Arsenio dengar setiap hari. Pintu pun terbuka lebar, menampakkan seorang wanita dengan baju dasternya dengan perpaduan sandal jepit birunya, juga di kepalanya terdapat beberapa rol gulung.
"Arsen..." panggil Alma lembut. Baru kali ini Arsenio berani menghampiri kediaman Ibunya dengan Ayah tirinya. Begini. Jadi Ibu Arsenio jika malam ia akan tinggal bersama Arsenio dirumah besarnya itu. Namun jika siang ia akan tinggal dikediaman Suaminya.
Arsenio memutar bola matanya. "Arsen mau ketemu Agler."
Seketika Senyuman wanita itu pudar, kiranya Ia mencari ibunya, Namun ia malah mencari Agler. "Ya udah ayok masuk dulu,Mama panggil dia dulu." ucap Alma yang masih terlihat tenang.
"Arsen tunggu diluar aja." Jawab Arsenio datar.
Alma hanya dapat menghembuskan nafas panjang. "Ya udah mama panggilin dulu ya."
Arsenio duduk dikursi yang tersusun rapi diteras rumah.
"Tau darimana lo rumah gue?" tanya Agler memasang raut wajah aneh.
"Dari manusia." jawab Arsen ketus. Agler mendengkus, kemudian terduduk disebelah Arsen.
"Ngapain nyari gue?" tanya Agler to the point.
"Gue mau ngajak lo, Balapan." jawab Arsenio.
"Hah? Balapan. Ya kali sen gue balapan. Bisa habis gue ditabokin bokap!"
"Ya udah kalo nggak mau."
"Sen,Mama lo selalu cerita ke gue, kalo-"
"Kalo gue itu sering kabur dari rumah! itu yang mau lo bilang?"
"Bukan itu doang. Lo juga nggak pernah mau makan, padahal mama lo udah masakin makanan kesukaan lo. Seharusnya lo-"
"Jangan ceramahin gue, gue sama sekali nggak pernah nganggep lo sebagai saudara gue,"
"Serah lo deh, gue cuman mau bilang aja, tolong berpikir dewasa." kata Agler menepuk bahu Arsen.
Arsen terdiam sejenak. "Lo mau apa kagak?"
"Gue mau tapi ada syaratnya."
"Ck. Apaan?"
__ADS_1
"Lo tinggal bareng gue sama nyokap bokap!"
Arsenio melotot. "Kagak!"
"Ya udah kalo gitu gue nggak ikut lo."
Arsenio mendengkus sebal,Seraya mengacak rambutnya frustrasi. Pasalnya nanti malam Gavin dan Bellvania mengajaknya balapan lagi, Namun syaratnya harus membawa satu pembalap lagi. Makannya Arsen mengajak Agler.
"Bisa nggak sih lo ngasih syarat tuh yang bener!"
"Gue selalu bener sen."
"Sekali aja kek bantuin gue tanpa pake syarat apapun!"
"Gue nggak mau,"
Arsenio terdiam, jika ia tinggal bersama Agler, maka ia akan kesusahan untuk bebas, Karena Agler itu tipikal cowok yang dewasa nya tingkat atas. Jika Arsenio tinggal bersamanya ia akan terus dibuntuti.
"Kalo lo menang baru gue terima syarat itu."
Agler tersenyum menang. "Oke!"
"Gue tunggu entar malam lo digang rumah."
"Oke,"
Arsenio mengangguk lalu pergi.
Ia terus melajukan Motornya dengan kecepatan sedang. Sambil membayangkan ucapan Agler tadi, ucapan yang berhasil membuat Arsenio bungkam. Ya Arsen memang belum dewasa seperti Agler.
...~®MatahariLangit.~...
Disiang bolong seperti ini Matahari terdiam santai di halaman rumahnya, tanpa penutup kepala. Bisa dilihat kini Matahari tengah menyerap cahaya di siang bolong itu.
"Sayang kulit lo entar item!" tegur seseorang yang Matahari ketahui.
Matahari hanya mengacuhkannya. Pikirnya lelaki satu ini selalu menampakkan batang hidungnya tanpa merasa bersalah padahal ia baru kemarin membuat Matahari menangis. Dasar cowok!
"Daripada lo panas-panasan disitu, mending temenin gue ke kafe kuy!" ajak Langit sembari memberikan kode kepada Matahari supaya cepat mengiyakan.
"Pergi aja sendiri!" tungkas Matahari ketus.
"Gue maunya sama lo."
Matahari menyipitkan matanya. "Gue Males."
Langit mendengkus. "Lo marah?"
__ADS_1
"Menurut lo?"
"Iya, tapi Zelle gue nggak mungkin bisa marah sama Askanya." pekik Langit yang diakhiri dengan tawaan renyah.
Matahari mengangkat alisnya sebelah. "Sotoy lo, kata siapa gue nggak bisa marah sama lo!"
"Ya kata Gue lah, Ri."
Matahari berdiri menghadap sahabatnya itu dengan raut wajah masam. "Gue marah sama lo, gue nggak suka."
Matahari benar-benar marah pada Langit,Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya yang begitu menyeramkan. Langit meringis ketakutan. pasalnya Wanita dihadapannya kini tengah mengeluarkan jurus pamungkasnya,.
"Gue minta maaf." ucap Langit. Matahari mengalihkan pandangannya dari Langit.
"Basi!" Matahari melangkah masuk kedalam rumahnya meninggalkan Langit yang terpaku ditempat.
"Zel...." cicit Langit, sepertinya keberanian mengejar Matahari menciut. Langit memilih membalikkan badannya lalu kembali pulang kerumah. Sepertinya Matahari sedang tidak mau diganggu.
...~®MatahariLangit.~...
'Tak....Tak...
Bola besar bewarna oren hitam itu memantul-mantul dengan suara yang cukup nyaring. Sore menjelang petang ini seorang Aska Langit tengah berada di salah satu taman yang memiliki lapangan basket nya. Pikirannya melambung tinggi, membayangkan kejadian tadi siang. Ia terus memikirkan sosok Grizelle Matahari. Sepertinya ini memang salah Langit.
"Ucapan! Harapan!" gumam Langit masih setengah dibayangan itu.
Langit mendengkus sambil menutup matanya rapat-rapat,detik kemudian pun ia membuka matanya lalu melepar bola basket ke ring, Satu lempar itu pun dengan mudah dapat memasukkan bola ke ring.
"Gue selalu nyakitin lo, Gue nggak pernah ngerti perasaan lo Ri. Gue minta maaf!" lirih Langit nyaris tak terdengar.
Langit menghempaskan tubuhnya kelapangan basket tersebut, ia menatap keatas tanpa berkedip, Nafasnya terengah-engah, keringatnya terus bercucuran membasahi baju kaosnya.
"Matahari.Gue memang nggak suka lo, tapi pada kenyataan nya yang asli gue suka." kata Langit terus memandangi matahari yang mulai tenggelam.
"Gue suka..." gumamnya.
...~®MatahariLangit.~...
Mata hitam pekat itu memandang lurus keatas, menikmati sunset yang terasa nyaman bila dipandangi terus. Matahari tersender nyaman dipembatas Balkon nya, sambil menopang dagu dengan sebelah tangan. Matanya terus memandang keatas untuk melihat matahari terbenam.
"sekarang gue ngerti, Kalo lo memang nggak bisa menerima gue." Gumam Matahari pada dirinya sendiri. Hitungah menit pun langit sudah berubah menjadi hitam dan menampakkan bulan yang mulai muncul perlahan.
"Lo lebih suka Bulan kan Lang? Gue harap lo bisa ketemu dia." lirih Matahari. Mulai sekarang mungkin Matahari akan berusaha untuk menjauh dari Langit, agar Rasa sukanya itu sedikit demi sedikit menghilang. Lebih tepatnya cepat-cepat hilang.
"Untuk terakhir kalinya,I love you Aska Langit." ujar Matahari penuh penekanan.
"Makasih." ucapanya nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
Matahari menghela nafas berat kemudian memejamkan matanya rapat-rapat dan, Hufttt. "Gue Nggak bisa...."Rengek Matahari.
...~®MatahariLangit.~...