
Apa aku salah jika aku mencintaimu?
Apa aku salah jika aku memuja mu?
Apa aku salah?
-Maura
Jam istirahat sudah tiba seperti biasa para sisawa/i berhamburan menuju kantin. Tidak terkecuali Maura dan sonya yang siap-siap keluar kelas.
"Soy gw pipis dulu yak, ga kuat gw"ucap maura.
"Yaudah gw tungguin jangan lama-lama ya"
Sesampai nya di toilet dan selesai keluar dari bilik toilet Maura pun hendak pergi menyusul Sonya. Tapi tiba-tiba lengan nya dicekal kuat oleh seseorang. Dan tiba-tiba rambut nya di Jambak hingga kepalanya terdongak ke belakang. Sontak ia kaget dan membulatkan matanya. Ia kenal 3 orang ini! Ya Ririn end the geng.
"Hai kita ketemu lagi!"Ucap Nina.
Plak!
Satu tamparan keras berhasil membuat pipi mulus Maura memerah terbakar. Ia rasakan perih dan panas di pipi nya. Ia menahan air matanya yg sudah siap keluar.
"Lo langgar omongan Lo"Ucap dingin Ririn sang ketua geng."Gays pegang tangan nya" lanjut Ririn memerintah kedua teman nya.
Kedua tangan Maura di cekal menghadap ke Ririn. Ririn pun mendekati Maura dan menginjak kuat kaki Maura lalu memutar kaki nya. Perbuatan itu membuat Maura meringis sakit di kaki nya.
Plak!Plak!Plak!
Suara tamparan menggema di dalam toilet yang sepi ini, ya Ririn memblokir toilet ini agar tiada yang masuk kedalam.
"Maksud Lo apa jalang?! Gak usah gatel! Gak usah sok cantik! Lo itu cuma sampah yang ga pantes dapetin Ansel! Ansel cuma punya gw punya gw anjing dia punya gw!"ucap ririn menggebu.
Bugh! Plak! Plak! Bugh!
Ririn meninju perut dan menampar pipi Maura dengan brutal. Maura tidak bisa bergerak karna kedua tangan nya di cekal oleh Nina dan rose.
"Dasar jalang anjing!"
Bugh!!!
Pukulan terakhir Ririn tepat di kepala Maura. Maura hanya diam pandangan nya menggabur hanya pusing yang ia rasakan. Gelap. Ya gelap mulai menghantui nya. Maura pingsan.
"Haha liat mau pura-pura pingsan dia!woy bangun woy gak usah pura-pura! Ini pelajaran buat Lo yang udah kegatelan ke Ansel!"ucap ririn sambil menendang perut Maura. Tapi tidak ada gerakan dari tubuh maura. Ririn mulai sedikit panik.
"Rin? Lo yakin dia pura-pura pingsan?"tanya Nina.
"Iya Rin dia pingsan deh kayak nya"ucap rose.
"Biar gw cek"ucap ririn dan membalik kan kepala Maura dengan kaki nya. Ririn kaget ada darah di sudut bibir dan hidung Maura serta kepala yang sudah berdarah karna jatuh nya Maura tadi yang membentur lantai.
"Gawat Rin dia beneran pingsan! Cabut cepet!" Ucap Nina lalu ketiganya pergi dari tolet itu.
Ririn end the geng meninggalkan Maura yang sudah tidak sadarkan diri. Mereka membuat tulisan 'Toilet ini sedang di perbaiki' dan menempelkan nya di pintu toilet tersebut. Dengan sebuah meja untuk menghadang pintu.
'Heh ini hari terakhir Lo bisa hidup di dunia ini jalang' ucap ririn lalu pergi dengan tersenyum puas.
Disisi lain ada Sonya yang terus menunggu Maura dengan perasaan cemas. Kemana maura? Mengapa dari tadi tidak kunjung datang? Akhir nya Sonya berniat menjemput Maura di toilet lalu tiba-tiba datang ansel.
"Woy Sonya! Lo liat Maura?" Tanya ansel.
"Lah gw malah lagi nunggu Maura malah baru mau jemput dia dari toilet soalnya dari tadi ga dateng-dateng padahal udah dari tadi loh"ucap Sonya cemas.
"Lo kenapa ga susul dia dari tadi?!" Ucapa naek yang mulai cemas.
"Loh kok Lo cemas?"tanya Sonya.
"Lo gatakut dia di bully lagi? Banyak cewek yang suka Ama gw! Kalo mereka liat gw Ama cewe lain udh pasti tuh cewe yang lagi Deket Ama gw bakal jadi korban mereka!" Ucap Ansel membuat Sonya membulatkan matanya sadar.
"Udah ayok bantu gw cari Maura! Gw takut banget sumpah!"ucap Sonya di balas anggukan dari Ansel.
__ADS_1
Setelah sampai di toilet wanita itu Sonya dan Ansel di pergoki Ririn end the geng.
"Eh Lo mau kemana?"tanya Ririn.
"Mau masuk lah"jawab Sonya.
"Ehh G-Gabisa lagi di perbaikin" ucap ririn sperti menyembunyikan sesuatu.
"O-oh Lo mau pipis? Pake toilwt di sana aja kan ada yakan temen-temen?"lanjut Ririn menambah keraguan sonya.
"Ooh oke" jawab Sonya heran dan melangkah menuju toilet lain di dekat UKS dengan Ansel di belakang nya.
Sonya sempat heran mengapa toilet nya sedang di perbaiki? Bukan nya tadi pagi masih bisa di pakai? Keraguan Sonya pun terjawab! Ia kembali kebelakang.
"Eh sonya mau kemana Lo?" Tanya ansel
"Gw udah ngerti! Ini akal-akalan nya Ririn! Gw yakin banget Maura di sana!"
"Lo yakin?"tanya Ansel.
"100% yakin!"ucap Sonya mantap.
Sonya pun kembali ke toilet sebelum nya dan masih ada Ririn end the geng di sana. Saat melihat wajah Sonya yang dingin Ririn mulai merasakan keringat di pelipis nya.
"Lo-lo Koo balik?" Tanya Ririn.
"Gak usah sok gatau!" Ucap Sonya dingin.
"Maksud Lo?" Tanya Ririn.
"Mana Maura?"tanya Sonya yang tidak di balas oleh Ririn end the geng melain kan hanya melihat ke masing-masing.
"Gw tanya sekali lagi! MANA MAURA!!?"teriak Sonya.
"Gw gatau! Udah ah gw pergi dulu"ucap ririn buru-buru pergi dari toilet tersebut.
Ansel pun mendobrak pintu tersebut. Dan Sonya langsung teriak histeris melihat kondisi sahabatnya yang 'Tidak' bisa di katakan baik-baik saja.
"Ya ampun Ra? Lo kenapa? Ra bangun Ra hiks Ra..."Tangin histeris Sonya melihat keadaan Maura dengan darah di pelipis, hidung, dan sudut bibir nya.
"Siapa yang buat Lo kayak sini Ra? Hiks Ra?"yang di tanya hanya diam tanpa bergerak sambil memejamkan matanya. Membuat gadis yang menangis itu tambah terpukul.
Sementara Ansel? Dia kaget matanya sudah memerah wajahnya merah padam karna amarah, siapa yang tega memperlakukan gadis kesayangan nya menjadi seperti ini? Setau nya Maura adalah orang yang baik tidak mungkin mempunya musuh. Ansel menyalahkan diri nya sendiri atas terlukanya Maura.
Ansel pun membopong tubuh kecil Maura ke arah parkiran mobil nya di ikuti Sonya yang menangis di belakang nya.
'lo harus gapapa Ra! Gw bakal marah kalo Lo kenapa-kenapa!'ucap Ansel dalam hati.
"Hiks mauraa....kenapa Lo bisa kayak gini Ra?...hiks..hiks..gw bego Ra! Gw *** gabisa jagain Lo! Gw bego hiks! Maura..maaf in gw" tangis Sonya karna Maura terlihat pucat.
"Sel cepet sel gw gamau Maura kenapa-kenapa sel hiks"ucap Sonya.
"Lo pegangan jagain Maura gw mau ngebut" ucap Ansel. Yang di angguki oleh Sonya.
###
Sesampai nya di rumah sakit dokter pun langsung memeriksa keadaan Maura. Dokter sempat kaget. Mengapa anak SMA bisa terluka separah ini? Dan ada bekas tamparan di pipi nya hingga lebam-lebam di pelipis serta darah di sekujur wajahnya yang cantik.
Dokter menyuruh Ansel dan Sonya menunggu di luar. Sonya pun memeriksa benda pipih yang ia pegang, langsung ia cari sebuah kontak dan menemukan nya. Ia pun memencet kontak tersebut. Tidak lama kemudian keluar suara wanita paruh baya dari sebrang sana.
"Hallo? Sonya kenapa sayang?"tanya Rina. Ya Rina. Mama nya Maura.
"Tante hiks..." Ucap Sonya diiringi tangisan.membuat Rina bingung ada apa sebenarnya nya?.
"Kenapa sayang? Kok nangis?"tanya Rina.
"Maura tante...hiks Maura....hiks..hiks" hal itu langsung membuat Rina kaget dan menanyakan apa yang terjadi?.
"Maura kenapa Sonya?!jelasin Ama Tante kenapa Sonya? Maura kenapa?!"ucap Rina panik.
__ADS_1
"Sonya ketemuin Maura di toilet cewe Tante..hiks..terus Maura...Maura udah penuh darah Tante...hiks..hiks"tangis Sonya tambah keras. Membuat Rina yang berada di sebrang sana ikut menangis histeris.
"Ya Alloh Maura!!! Kenapa kamu nak hiks hiks Maura!!!" Ya tidak ada lagi suara yang terdengar dari sebrang sana. Rina pingsan.
"Tante? Tan? Tante?!!! Tante kenap?"ucap Sonya tambah panik."Tante tante gapapa kan?"tanya Sonya lagi namun tidak ada jawaban.
Sonya kaget dan langsung membuka kontak nya lagi mencari nomor Rey kakak Maura dan menghubungi nya.
"Hallo?! Bang Rey? Bang sekarang bang Rey pulang kerumah bang! Cepet bang!!"ucap Sonya.
"Lah rumah mana gw lagi di Singapur"ucap Reynand.
"Iya bang Rey rumah bang Rey yang di Singapur! Tante Rina bang dia pingsan! Cpet bang tolong Tante bang!!!"ucap Sonya pancing dan sedikit isakan.
"Hah? Kok bsa? Oke oke gw bakal pulang! Tapi Lo jelasin dulu ke gw ada apa?"
"Udh bang ceritanya panjang! Abang cepet bantuin Tante! Ntar aku jelasin semuanya!"
Tutt...tuttt....
Ponsel di matikan sepihak dengan Sonya. Ia menangis karna belum ada kabar dari Maura, dokter yang memeriksa masih belum keluar.
Sekitar 30 menit Sonya dan ansel menunggu.
Ponsel Sonya pun berdering dan menampilkan nama 'Tante mama rina' ia pun memencet tombol hijau dan mulai terdengar suara di sebrang sana.
"Hallo Sonya?!"Ucap Rina.
"Iyah Tante?"
"Gimana Rara? Dia gapapa kan?"
"Belum Tante masih di periksa dokter"
"Oke kamu tolong jagain dia ya sayang, Tante udh mau ke bandara Ama Rey dan papa nya Rara"
"Iya Tante hati-hati ya Tante"
"Iyah udh jangan sedih oke?"
"Iya Tante"
Sekitar 5 menit menunggu dokter pun keluar dari ruangan Maura.
"Disini siapa anggota keluarga pasien?"tanya dokter.
"Saya tunangan nya pak" ucap Ansel tiba-tiba membuat Sonya melotot tak percaya.
"Oh ini... Saya mau bertanya dulu..kenapa Pasian bisa begini? Banyak luka lebam di wajah, perut dan dada nya. Saya khawatir akan ada luka dalam. Biasanya benturan atau semacam nya bisa mengakibatkan luka dalam dan bisa menjadi kanker" jelas dokter.
"Saya sudah memeriksa nya, dia pusing karna benturan kencang di kepala nya dan sesak nafas karna mungkin dada dan perut nya yang terkena benturan"jelas dokter tersebut.
"Kamu tenang saja saya bakal berusaha semaksimal mungkin"
"Makasih dok"ucap Ansel dengan senyum miris nya. Jangan lupa Sonya. Mendengar perkataan dokter tersebut membuat hati Sonya terenyuh ia menangis dalam diam. Sunggu ia tidak kuat jika harus begini.
"Dok?" Lirih Sonya.
"Ada apa?" Tanya dokter tersebut lembut.
"Kapan saya bisa liat sahabat saya?"tanya sonya.
"Sekarang juga bisa, Tapi 1/2 orang saja, saya khawatir Pasian bisa sesak nafas jika sempit"
"Baik dok terima kasih"ucap Sonya.
Bersambung........
__ADS_1