
Hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan. Ansel masih belum bangun dari tidur panjang nya. Dan Maura yang tetap sabar menunggu Ansel membuka matanya kembali.
"Ra? Makan siang dulu yuk"ajak Rey.
"Bang? Ansel kapan bangun ya bang? Udah 2 bulan dia ga bangun-bangun"ucap Maura.
"Maura sebenernya kalo di pikir-pikir sih, dulu Ansel yang paling menderita. Dulu pas kamu koma bahkan dia ga bisa liat kamu, lain dari kamu, kamu masih bisa di samping Ansel"
"Iya bang, Maura pengen Ansel cepet bangun. Maura kangen"
"Udah udah kita makan dulu yuk, terus ke ruangan Ryan. Seminggu yang lalu dia udahs sadar, tapi dia diem aja"
"Maura gamau ngomong sama dia bang"
"Maura? Dia kaya gitu juga karna dan sayang sama kamu, dia takut kehilangan kamu"
"Maura tau bang. Harusnya Maura ga hidup di dunia ini! Semua ini salah Maura! Abang puas?!"ucap Maura pergi meninggalkan Rey.
"Maura? Hey? Ga gitu maksud Abang, Maura? Maura? Tungguin Abang hey!"ucap Rey menarik pergelangan tangan Maura.
"Hiks hiks"Isak Maura.
"Kok nangis? Tadi perasaan marah-marah, kok jadi nangis?"ucap Rey.
"Hiks ini salah Maura bang"
"Ngga kok kamu ga salah, ini udah kehendak Tuhan Maura"
"Hiks hiks"
"Udah udah yuk beli makanan terus ke ruangan Ryan, kita harus dengerin penjelasan Ryan lebih lanjut. Kalo cuma separo kan ga adil buat Ryan"
"Iya bang"
******
Ruangan Ryan 12:45 wib.
Ceklek.
Pintu terbuka, menampakan Rey dan Maura dengan wajah datar nya ke arah Ryan. Sedangkan Ryan memandang dengan tatapan bersalah.
"Maura?"
"Iya, nih makan"ucap Maura menyodorkan makanan ke arah Ryan.
"Makasih"
Ryan menari makanan yang di bawa Maura di atas nakas dan menatap Maura kembali. Lalu mengisyaratkan kepada Rey, untuk meluangkan waktu untuk nya dan Maura hanya berbicara empat mata saja.
Rey pun mengijinkan, dan pergi. Sebelum pergi Rey menepuk pundak Maura. Mengisyaratkan tetap tenang.
"Maura, aku mau jelasin semuanya ke kamu"
"Jelasin"
"Aku akuin ini semua salah aku Ra, kalo ada orang yang harus di salahin itu aku"
__ADS_1
"Ga usah bertele-tele langsung aja"
"Oke. Jadi aku yang ajak Ansel ketemuan di taman. Terus kita sempet ngobrol dan akhirnya aku tersebut emosi dan meninjunya habis-habisan. Begitu juga dia. Kami saling babak belur satu sama lain."ucap Ryan.
"Terus?''maura.
"Tenaga Ansel cukup kuat. Dia ninju aku sampe aku tersungkur ke arah jalanan dan di situ aku hampir ketabrak truk. Tapi. Ansel nolongin aku. Dia dorong aku ke pinggir jalan. Akhirnya truk itu ngehantam dia."ucap Ryan mulai terisak.
Maura tak menjawab perkataan Ryan. Melain kan bulir air mata yang ia bendung luruh. Tetesan air mata membasahi pipi nya. Dengan isakan isakan kecil dan badan yang gemetar.
"Ra? Maaf, aku tau aku ga pantes Nerima maaf kamu his"ucap Reynand.
Maura mesih diam mematung. Tatapan nya kosong. Air mata masih jatuh membasahi pipi cantik nya. Ryan yang menyaksikan itu mulai tersiksa sendiri.
"Ra kalo perlu kamu bunuh aku Ra! Aku ikhlas Ra! Aku mohon Ra bunuh ak-"
Sebelum Ryan melanjutkan perkataannya. Maura dengan gerakan kilat mengarahkan pisau buah ke arah leher Ryan dengan tatapan tajam dana air mata.
"Iya Ra. Bunuh aku"ucap Ryan dengan senyum kecut nya.
Ryan pun menutup matanya. Seakan bersiap menerima ajal nya dengan senyum yang terukir di wajah tampan nya.
Klontang.
Suara pisau terjatuh. Ya Maura menjatuhkan pisaunya dan memeluk Ryan dari samping sambil menangis.
"Ngga yan, Lo ga salah. Di sini gw yang salah! Gw terlalu egois. Gw minta maaf gan. Gw egois! Gw plin plan! Sok cantik! Gw benc diri gw"ucap Maura.
Ryan memandangi wajah cantik maura yang sekarang sperti agak tidak terawat. Rambut yang agak acak-acakan,Badan hang mulai mengurus,tatapan sayu yang tidak bisa hilang, banyak perubahan pada diri Maura yang tidak di sasari oleh Maura.
"Ra? Kamu mau kabulin 1 permintaan aku?"
"Kamu nikah sama ansel. Dan aku akan pergi"ucap Ryan.
"Kamu ngomong apa si yan? Aku mau aku Ansel dan kamu hidup berdampingan"
"Ra? Aku gabakal kuat ngeliat kamu dengan cowo lain, aku bakal kesiksa, jadi aku mohon kamu nikah sama ansel. Dan aku akan pergi"
"Ngga ga bisa, gaboleh gitu gan"
"Aku gabisa nyiksa diri aku dengan tinggal berdampingan sama kalian Ra"
"Hiks hiks"tangis Maura.
"Jangan nangis, mungkin suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi ra"ucap Ryan di angguki oleh Maura.
*****
Keesokan harinya di rumah sakit tepat di ruangan tempat Ansel. Sudah ada orang tua Maura begitu juga Ansel. Dan jangan lupa. Di sana ada Ryan, sonya dan Rio.
Ya hari ini adalah hari pernikahan maura dan Ansel. Sesuai dengan permintaan Ryan. Maura mewujudkan permintaan trakhir Ryan sebelum Ryan pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Baiklah karna anggota keluarga dan orang orang terdekat sudah hadir semua. Saya akan memulai pernikahan nya."
Beberapa menit pun berlalu. Akhirnya Maura dan Ansel telah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan yang mengharukan sekali Gus menyiksa mata bagi orang yang menyaksikan nya.
Mempelai pria yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Dan pengantin wanita dengan tatapan satunya. Semua yang ada di sana tak henti henti nya menitipkan air mata melihat pernikahan tersebut.
__ADS_1
"Maura selamat ya dan sabar"ucap Sonya sayang.
"Iya soy makasih, dan selamat juga ya buat Dede bayi nya haha"ucap Maura dengan senyum kecut nya.
"Bisa aja, semoga Ansel cepet bangun ya Ra"ucap Sonya.
"Iya soy amin"ucap Maura.
Maura pun menghampiri kedua orang tua Ansel dan juga orang tua nya. Maura menyalim satu-persatu kedua mertua dan orang tua nya.
"Yang sabar ya sayang bunda yakin Ansel bakal bangun. Kamu tenang aja anak bunda itu kuat kok"ucap mama Ansel kepada Maura. Memberi kekuatan bagi Maura untuk tetap semangat dalam menjalani hari.
"Iya Bun amin. Maura kangen banget sama Ansel"ucap Maura.
"Sayang, bunda juga kangen sama anak bunda. Kamu tau kan? Dia satu-satunya anak bunda. Dia satu-satunya kebanggaan bunda. Bunda juga sedih. Tapi bunda yakin Ansel gabakal ninggalin bunda nya makanya bunda harus semangat nunggu Ansel bangun. Dan kamu juga harus kata bunda"
"Iya bunda! Maura bakal semangat jalanin hari demi Ansel"ucap Maura mantap dan tersenyum.
"Gitu dong"ucap mama Ansel dan memeluk Maura dengan sayang.
"Yaudah mama? Papa? Papa mertua? Maura pamit dulu ketemu sama temen."
Setelah pamit Maura pun menghampiri Ryan yang duduk di kursi roda.
"Selamat ya Ra, dan maaf in aku"ucap Ryan.
"Aku udah maaf in kamu, dan aku juga minta maaf ke kamu yan"
"Aku juga udah maafin kok, yang bahagia ya Ra"
"Makasih kamu juga, aku yakin kamu bakal nemuin cewe yang lebih cantik dan baik pokonya lebih sempurna yang bakal buat kamu bahagia setiap saat nya"ucap Maura.
"Haha amin, dan kamu, aku yakin Ansel bakal bahagia in kamu. Ansel itu orang baik. Dan aku percaya ke dia kalo dia bisa buat kamu bahagia"
"Haha iya makasih ya"
Begitulah acara pernikahan yang penuh rasa sedih, haru, dan kasihan yang di jalanin oleh Maura. Tidak ada orang yang ingin pernikahan nya seperti ini. Namun takdir sudah di tentukan. Maura tidak bisa menolak. Dan ia tetap bersyukur bisa menikahi lelaki yang ia cintai. Walau keadaan membuat nya tak bisa mencurahkan isi hatinya ke Ansel.
***
Sekali lagi hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan telah berlalu. Dan kini sudah pas 9 bulan Ansel belum bangun dari tdur panjang nya. Dan Maura tetap menunggu, menunggu dan menunggu menanti kesadaran Ansel.
"Walau jarak,waktu, keadaan memisahkan kita. Aku bakal berusaha berada di samping kamu sel. Aku ga janji untuk tetap di samping kamu. Tapi aku akan berusaha untuk tetap di samping kamu! Karna kamu udah jadi napas aku sel."ucap maura yang ia sendiri tak tau Ansel bisa mendengarnya atau tidak.
Berjam jam sudah berlalu, Maura merasa mengantuk dan tertidur di samping Ansel.
Beberapa menit kemudian Ansel mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis yang tertidur pulas tampak lelah. Terlihat dari wajahnya.
Melihat keadaan Maura Ansel mulai merasakan apa yang Maura rasakan. Maura pasti sangat menghawatirkan nya.
Ansel pun mencoba bangun dari tidurnya walau kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Ia memaksakan dirinya berjalan ke arah Maura. Menggendong Maura ke atas ranjang rumah sakit. Dan menatap wajah cantik maura yang terlihat sangat kelelahan.
"Maaf in aku ya, aku udah buat kamu khawatir"Batin ansel.
Cup.
Ansel mencium pipi Maura pelan dan berbaring di samping Maura dengan posisi Maura meluk dada bidang Ansel.
__ADS_1
Bersambung............