Maura Untuk Ansel

Maura Untuk Ansel
13. Pantai


__ADS_3

Ting tong......


        Ting Tong......


      Bel rumah berbunyi ber- kali-kali tapi tidak satupun ada jawaban yang keluar oleh penghuni rumah.


"Kok ga di buka sih? Pada kemana *****"


"Mom? Dad? Bang rey?! Rara?!"


Ting tong...Ting Tong....


        Ansel tampak kesal karna tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakan sosok yang sayang di sayangi nya dengan rambut acak-acakan sperti baru bangun tidur.


Cklek.


"Siapa?"Tanya Maura sambil menutup mata karna ngantuk.


"Penculik"Bisik Ansel di telinga Maura.


"Ohh penculik"Ucap Maura belum sepenuhnya sadar.


"Hah?!penculik? Mau culik siapa bang! Saya bukan anak kecil bang! Saya cuma punya uang segini bang"Uap Maura yang kaget dan langsung kalang kabut mengeluarkan uang 50rb dari saku piama nya.


"Pfffft hahahaha ngakak anjirr"Tawa Ansel pecah melihat tingkah lucu Maura.


"Ihhh Ansel ga lucu!"kesal Maura yang merasa di permainkan.


      Maura hendak menutup pintu tapi Ansel buru-buru menahan pintu. Maura. Mendorong pintu dengan sekuat tenaga agar Ansel tidak dapat masuk. Al hasil dia kalah karna tenaga Ansel lebih kuat darinya.


       Pintu pun terbuka dan Ansel main masuk meninggalkan Maura yang terpaku melihat Ansel. Dia kira ini rumah dia?.


"Ra momy mana?"Teriak Ansel.


"Mau kencani momy gw!?"


"Gw laper"


"Ya pulang lah"


"Maunya makan disini, Lo cepet masakin Sono suami laper nih! Malah tidur aja kerjanya kaya kebo"


"Apa kebo? Heh gada kebo secantik gw ya"ucap Maura dengan soms nya.


"Halahhh kebo tetep aja kebo, Ras laper Ra mau makan"rengek Ansel dengan pupy eyes nya.


"Gamau!"tolak Maura.


        Ansel pun berjalan mendekati Maura. Dekat sangat dekat sekali. Menaru wajahnya di cekuk leher Maura.


"Lo mau masakin gw makanan? Apa Lo yang gw makan? Mumpung Lo belum mandi ntar kita bisa mandi bareng"Ucap Ansel. Membuat Maura melotot tak percaya.


"Tapi ga ada makanan sel, mama lagi pergi ke pasar Ama bang Rey!"kesal Maura. Membuat Ansel memasang muka sedih dan menaruh dagunya di bahu Maura.


"Mama pulang!" Teriak Rina yang tiba-tiba datang di ikutin Rey yang membawa plastik besar yang di yakinin adalah bahan makanan.


"Ehhh kalian ngapain? Ansel ngapain? Kok sedih?"tanya Rina.


"Ini mah Ansel laper katanya, aku suruh pulang gamau, terus nyuruh aku masakin makan kalo ngga dia yang makan aku"ucap Maura polos karna memang ia pikir Ansel ingin mencincang tubuh nya lalu di makan.


      Kata-kata Maura sontak membuat Ansel menutup mulut Maura dengan tangan. Ia gemas kenapa gadis ini begitu polos?. Sedangkan Rina dan Rey tampak kaget mendengar kata-kata Maura tadi.


      Rina yang mengerti maksud Ansel pun langsung melayangkan tatapan mematikan ke arah Ansel. Begitu juga Rey.


"Ansel!!!"Kesal Rina dan Rey.


"Ia tuh mah, masa anak mamah mau di cincang-cincang Ama ansel terus di makan"lanjut Maura yang belum mengerti ucapan Ansel.


        Rey yang mendengar pun tertawa terbahak bahak, polos sekali adik tersayang nya ini.


"Udah udah yaudah yuk makan, mama ga sempet masak sarapan tapi mama bawa nasi Padang yuk makan bareng-bareng"


"Horeeee" Ucap maura,Ansel,Rey serentak.


"Giliran makan cepet"cibir Rina membuat ketiga anak nya terkekeh.


      Lama mereka bergulat dengan makanan nya. Tak ada satupun yang membuka suara. Hanya senyuman piring dan sendok yang terdengar. Hingga Rina membuka suara.


"Hari ini kan hari Minggu siang ini mau kepantai?" Tanya Rina. Membuat Maura berbinar.


"Setuju ma!" Ucap Maura sambil berdiri di kursi makan nya membuat orang-orang kaget sambil menengok ke arahnya.


"Kalem dong gembul"ucap Rey.


"Aku ga gendut bang, liat nih"ucap Maura seraya memutar badan nya bak model.


"Bodo Abang maunya panggil gembul"


"Ih Abang!"Kesal Maura lalu menghentakan kaki nya.


      Maura pun kehilangan keseimbangan dan jatuh dari kursi. Ansel buru-buru menangkap Maura ke dalam pelukan nya. Maura yang serasa di peluk pun menengok kan kepalanya ke arah atas.


Cup.

__ADS_1


Ciuman singkat di kening Maura berhasil membuat pipi nya merona.


"Lain kali hati-hati"Ucap Ansel.


"Cieee cieeee"ucap Rina dan Rey.


"Udah woy mau makan bukan mau mesra-mesraan"cibir Rey.


"Gara-gara Abang!"kesal Maura.


                                       ###


        Pagi pukul 10:00 Maura, Rey , Ansel dan kedua orang tua Maura sudah siap pergi ke pantai.


"Ra sini biar aku yang bawa"ucap Ansel yang melihat Maura kesusahan membawa koper.


"Gapap sel aku aja"ucap Maura.


"Gaboleh sini aku aja" Ucap Ansel.


"Pengen banget sih jadi babu aku?" Ejek Maura.


"Berisik dasar gendut"kesal Ansel.


"Apa! Aku ga gendut!"kesal Maura.


"Bodo"


"Ngeselin banget sih"


                                         ###


    Perjalanan ke pantai memakan waktu 2 jam, dan mereka beristirahat selama 1 jam. Lalu Maura berpamitan ke kedua orangtuanya nya dan Rey.


"Ma pa bang Rey, Maura mau ke pantai ya"


"Maura masih jam 1 sayang panas loh"ucap Rina.


"Gapapa ma kan Maura pake topi"


"Terus kamu sama siapa?"tanya Rina


"Sendi-"Ucap Maura terpotong.


"Ama aku mom"ucap Ansel yang memotong ucapan maura.


        Maura hanya memandang Ansel kesal karna ia masih marah sebab di jalan tadi.


"Gajadi"


"Ok aku duluan" ucap ansel hendak meninggalkan Maura.


"Eh mau kemana?"tanya Maura.


"Mau ke pantai lah, siapa tau ada bule cantik"


"Ihh gaboleh!"ucap Maura menarik lengan Ansel.


"Kenapa?"


"Kamu tuh punya aku!" Kesal maura.


"Sejak kapan? Emang aku mainan?"


"Ih Ansel ngeselin, yaudah Sono pergi!"kesal Maura dan pergi ke arah kamar vila nya.


        Maura berjalan dengan menghentak an kaki nya karna ia kesal dengan Ansel. Mengapa Ansel slalu membuat darah nya naik?.


Tok tok.....


        Pintu di ketuk tapi tidak ada suara seseorang pun di luar.


Tok tok .......


"Siapa?"Triak Maura.


       Hening tiada jawaban, Maura mulai bingung siapa itu? Mengapa tidak aja jawab an? Maura pun hendak bangkit menuju pintu.


Ceklek.


     Pintu di buka. Tapi tidak ada seorang pun di luar, Maura mulai merasa takut, banyak fikiran aneh di kepalanya.


"Siapa sih?"Ucap Maura yang hendak mengeluarkan air mata..


"Hiks hiks siapa?"Tanya Maura. Kali ini sudah menangis.


      Tiba-tiba ada sebuah tangan memeluk pinggang Maura dari belakang membuat Maura terlonjak kaget dan langsung menampar wajah seseorang yang memeluk nya dengan kuat.


Plak!!!


"Awwh sakit..galak banget sih kamu! Sakit tau gak!?"


"Ngeselin banget si kamu! Aku gamau ngomong Ama kamu"teriak Maura sambil berlinang air mata, karna ia memang sunggu ketakutan.

__ADS_1


Bugh bugh bugh...


     Maura memukul mukul dada Ansel. Ansel yang melihat itu merasa kasihan dan menyesal. Ternyata Maura sangat takut. Ia benar-benar keterlaluan. Ia pun segera menarik Maura kedalam dekapannya.


"Udah udah ya sayang gapapa kok, aku di sini, maaf in ya aku usil nya keterlaluan!


"Hiks hiks"tangis Maura.


"Udah dong sayang aku minta maaf nih, liat tuh ingus nya kena baju aku"


     Maura tidak menjawab, ia pun memiliki fikiran jahil terhadap Ansel. Lama Maura pura-pura menangis.


"Awwhh... Maura! Jail banget sih kamu! Kenapa dada aku di gigit!' pekik Ansel karna Maura yang mengigit dada nya.


"Biarain kamu duluan!"


"Mana bibir kamu ini aku gantian gigit"ucap Ansel.


"Ih apasih kamu mesum! Gamau aku gamau!"Ucap Maura sambil berlari meninggalkan Ansel.


"Eith gantian, aku tangkep ya kamu!"


"Kejar kalo bisa wleeek"ejek Maura menjulurkan lidahnya kearah Ansel.


  


                                        ###


   Petang sudah tiba, lama pula Ansel dan Maura bermain air. Kini mereka sedang menikmati matahari terbenam yang sangat indah.


        Hening tiada yang membuka percakapan hingga Ansel yang duluan memulainya.


"Ra?"


"Hmm?"


"Kalo nanti aku harus ninggalin kamu tanpa alasan yang gabisa kamu ketahui kamu bakal marah ga sama aku?"


"Kok kamu nanya gitu?"


"Gapapa, apa jawaban kamu?"


"Aku gatau, tapi aku bisa pastiin kalo saat itu terjadi aku bakal hancur"ucap Maura tersenyum miris.


"Aku ga janji Ra! Gabakal buat kamu kecewa!"


"Gausah janji sel. Aku takut kamu bakal menyesalinya"


"Kenapa kamu ngomong gitu?"


"Gada yang tau kejadian di masa depan sel"ucap Maura memandang ke arah matahari yang terbenam.


"Tapi aku janji-"ucap Ansel terpotong karna Maura meletakkan jari telunjuk nya di bibir Ansel.


      Maura memandang Ansel dengan teduh dan dalam sebelum berucap.


"Sel???..Pria sejati itu"Ucap Maura.


"Tidak berjanji untuk selalu bersama, Tapi berusaha untuk tetap bersama. Mempercayai satu sama lain lewat hati bukan pandangan." Lanjut Maura lalu berlalu meninggalkan Ansel.


       Cukup lama Ansel terpaku mendengar ucapan Maura, sungguh dewasa gadis yang saat ini berstatus sebagai pacarnya ini. Mengapa dia bodoh dulu? Membuat gadis itu menangis?.


      Sudah cukup jauh Maura berjalan meninggalkan Ansel yang memaku di tepi pantai sampai akhirnya ia pun menengok ke belakang hendak memanggil Ansel.


"Sel? Ayo balik ke vila mau makan abis itu pulang" teriak Maura.


"Iya"Teriak Ansel lalu berlari ke arah Maura.


        Setelah berada di samping Maura. Ansel pun memandangi wajah cantik maura, sungguh dia tidak menyesal dan tidak akan menyesal menjadikan Maura milik nya.


"Masih mikirin yang tadi?"tanya Maura.


"Ngga"ucap Ansel.


"Gausah di pikirin, kamu fokus pikirin aku aja"ucap Maura.


"Gamau" tolak Ansel.


"Kenapa?" Tanya Maura.


"Mending mikirin Bi Inah"ucap Ansel membuat Maura kesal namun tertawa.


"Lah kok bi Inah?"tanya Maura .


"Bi Inah masakan nya enak, kalo aku Ama dia aku bisa makan enak terus"ucap Ansel.


"Halahhh bi Inah nya jga gamau Ama kamu"


"Liat aja nanti"cemberut Ansel. Membuat Maura tertawa melihat tingkah lucu Ansel.


     Ansel memandang tawa Maura, sunggu cantik, senyum tanpa beban yang slalu di mimpikan Ansel. Ia berdoa semoga senyum itu akan slalu ia lihat di wajah Maura.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2