Maura Untuk Ansel

Maura Untuk Ansel
32. Rumah sakit


__ADS_3

Rumah sakit Cemara 15:00.


Tap Tap Tap Tap Tap.


    Suara langkah kaki Maura yang berjalan di sebuah koridor rumah sakit sambil bersenandung kecil.


Saat Maura berjalan ke ruang rawat Ansel Maura sempat sempat kaget dan jantungkan memompa cepat. Bagaimana tidak? Ia melihat para suster membawa Pasian yang sudah di tutupin oleh selimut seluruh badan nya.


"Ngga! Ini ngga mungkin! Ansel ga mungki! Ga mungkin!!!! Ansel gabakal ninggalin gw lagi!!"Batin Maura dengan dada yang mulai terasa sesak.


Tak sanggup membopong tubuh nya, Maura akhirnya ambruk di tempat ia berdiri, menatap kosong ke arah zenazah yang di bawa oleh suster.


"Ga mungkin tolong jangan ambil Ansel dari aku lagi, aku mohon hikss"Batin Maura sudah menengis.


"Hiks hiks hiks, ngga Ansel gamungkin ninggalin aku! DI ga mungkin!"ucap Maura.


Maura pun berlari ke arah para suster dengan dada yang sesak. Rey yang baru datang melihat ekspresi Maura merasa heran, dan berlari mengejar Maura.


"Suster dia kenapa? Kenapa tubuh nya di tutupin"ucap Maura dengan ekspresi takut.


"Oh ini pasien yang kecelakaan baru saja meninggal, dan akan di pindahkan ke ruang mayat."ucap suster tersebut.


Mendengar itu Rey sempat kaget, buru-buru ia melihat ekspresi Maura. Sungguh ia merasakan kesedihan Maura, kehilangan orang yang kita sayang itu sayang sakit.


"Ngga! Ngga mungkin! Ansel belum meninggal sus! Dia gabakal ninggalin aku! Suster jangan asal ngomong!"ucap Maura tak terima.


"Dek udah, kamu tenangin diri kamu dek, udak Abang mohon sama kamu, kamu tenangin diri kamu"ucap rey mengelus punggung Maura yang gemetar.


"Mana bisa Maura tenang bang hiks hiks, Ansel udah ninggalin Maura untuk selama-lamanya bang hiks, ansell huhuuu hiks"tangis Maura di pelukan Rey.


"Kamu harus ikhlas dek, kamu harus kuat"


Maura memang gadis yang kuat, bully an yang ia terima dari kecil telah menjadikan nya sosok nya kuat. Namun bagaimana jika kelemahan nya adalah Ansel?.


"Bang Maura gamau ditinggal Ansel lagi huhuuu hiks"


"Kamu masih punya Abang Ama mama dek, ikhlasin Ansel"ucap Rey ikut sedih.


Rey pun membawa Maura duduk di sebuah bangku untuk menenangkan Maura, dirasa Maura mulai tenang Rey ikut tenang melihatnya.


Takama kemudian seorang dokter menghampiri mereka.


"Perimisi?ini keluarga pasian yang bernama Ansel?"ucap dokter.


"Iya saya keluarga Ansel"ucap Rey.

__ADS_1


Maura yang menyadari kedatangan dokter tersebut nampak acuh, fikiran nya berpusat pada Ansel sekarang. Bagaimana ia akan melanjutkan hidup tanpa Ansel?.


"Maaf saya belum bilang, tapi pasian Ansel sudah kami pindahkan ke ruang ICU karna kondisinya yang memburuk"


Mendengar itu Maura langsung berdiri dari duduk nya dan menatap dengan tatapan berharap ke arah dokter tersebut.


"Dok jadi Ansel msih hidup?"ucap Maura berbinar.


"Iya sekali lagi maaf kan saya"


"Iya dok, sekarang di mana ruangan Ansel?"tanya Maura.


"Di ujung lorong sebelah sana"ucap dokter sambil menunjuk sebuah lorong.


"Baik dok terima kasih"


"Sama-sama saya pergi dulu"ucap dokter yang di balas anggukan oleh Maura dan Rey.


Tidka tunggu waktu lama, Maura dan Rey pun Berlari ke arah ruangan Ansel.


"Ansel aku gabakal biarin kamu ninggalin aku lagi"Ucap Maura.


Setelah sampai di depan ruangan Ansel, jantung Maura memompa kuat. Perasaan lega yang bercampur khawatir menguasai dirinya.


Maura pun membuka pintu tersebut, tampak seorang pria tampan dengan banyak alat bantu di tubuh nya sedang berbaring lemah.


"Bang aku mau berdua dulu Ama Ansel, gapapa bang?"tanya Maura.


"Yaudah Abang kasi waktu 15 menit, terus abang mau ngomong sama kamu tentang orang yang kecelakaan sama Ansel"


"Iya bang"


Rey pun keluar meninggalkan Maura dan Ansel yang di selimuti keheningan hanya ada suara monitor detak jantung Ansel.


"Sel? Kamu gimana hari ini? Kamu kapan bangun? Aku nungguin kamu loh, kamu gamau buat aku nunggu kan? Kalo kamu ga bangun bangun aku bakal nikah sama orang lain nih hiks"ucap Maura menahan Isak nya.


"Kamu tau gak sel? Dulu aku ga pernah berfikir jadian sama kamu karna aku rasa cewe gendut kaya aku gabakal bisa dapet cowo kaya kamu, jadi aku gapernah mikir bisa pacaran sama kamu, tapi ternyata Tuhan berkata lain, aku di ketemuin Ama cowo sebaik kamu, yang rela ngorbanin kebahagiaan kamu demi aku"ucap Maura.


"Aku beruntung sel bisa dapetin kamu, dan aku cuma mau kamu sehat slalu, aku ga perduli Ama apapun, ga perduli bentuk tubuh kaya mana, atau make up semahal apa, aku cuma mau kamu"


Maura terus berbicara, berharap Ansel mendengarnya, henin. Ansel yang hanya diam tertidur. Maura mulai meneteskan air matanya kembali.


"Sel kamu tau gak? Tadi pas aku mau ke ruangan kamu, ada jenazah yang lagi di urus Ama suster, hati aku udah deg deg an, dada ku sesak banget. Aku takut kehilangan kamu lagi. Aku gatau bisa hiduap tanpa kamu atau ngga sel, aku butuh kamu, di saat kamu udah jadi nafas aku, pliss jangan tinggalin aku sel hiks hiks"


15 menit sudah berlalu, Maura pun keluar mencari keberadaan Rey. Ia pun melihat Rey keluar dari kamar di samping ruang rawat Ansel.

__ADS_1


"Bang tadi Abang mau ngomong apa?"


"Kamu tau siapa yang Dateng kesini bareng Ansel?"tanya Rey.


"Aku gatau, Abang gapernah kasi tau aku"


"Dia Ryan Ra"


Mendengar itu Maura sempat kaget namun ia kembali menormalkan ekspresinya kembali.


"Ryan? Kenapa bisa Ryan?"


"Menurut penyelidikan Abang sih, kayanya mreka ketemuan, tapi kenapa bisa begini? Abang juga bingung"


"Abang masih selidikin?"


"Iya, ntar Abang telfon bawahan Abang."


"Sebenernya waktu Maura bilang bakal balikan sama Ansel, Ryan sempet marah sama Maura bang"


"Apa mungkin mereka berantem?"


"Maura gatau bang, yuk Maura mau liat kondisi Ryan"


"Yuk"


*****


Maura memasuki ruang rawat Ryan. Tampak Ryan sedang berbaring di sana dengan luka sedikit lebam di wajah nya.


"Yan? Lo kenapa bisa gini? Maaf in gw, kalo bukan gara-gara gw yang terlalu egois, gw ini egois yan, gw minta maaf"ucap Maura merasa bersalah.


"Jan salahin diri kamu sendiri dek"


"Maura terlalu egois bang, kalo bukan karna Maura semuanya gabakal kaya gini"


"Udah kamu ga salah, ini udah di kehendaki Ama yang di atas, kita cuma perlu jalanin"


"Makasih beng"ucap Maura memeluk Rey.


"Tuhan, Maura cuma mau Ryan dan Ansel bakal baik baik aja, Maura gamau apa apa"Batin Maura.


Seiring berjalan nya waktu, Maura terus menjenguk keadaan Ansel di rumah sakit dengan hati berharap semoga Ansel lekas bangun, begitu juga dengan Ryan. Maura tidak melupakan Ryan. Ia sering menjenguk keadaan Ryan.


Bersambung..........

__ADS_1


     Selamat membaca gays ❤️


__ADS_2