
"Maaf kan saya, sebaiknya bawa Pasian ke rumah sakit di luar negri, di sana pengobatan nya lebih baik dari di sini. Saya sudah berjuang semampu saya, namu hasil nya nihil."ucap sang dokter kepada keluarga Maura.
"Baik dok terimakasih"ucap Alvin.
"Pa? Ini gimana pa? Hiks"Rina.
"Telfon Maura, suruh dia pulang! Malem ini kita bakal ke Singapur"ucap Alvin tegas.
Rina hanya mengangguk dan mengambil ponsel nya di dalam tas lalu menekan nama Maura yang ada di layar.
Cukup lama tidak ada jawaban, akhirnya Maura mengangkat telfon nya.
"Iya ma kenapa?"
"Maura kamu pulang sekarang, kita bakal pindahin kakak kamu ke rumah sakit di luar negeri"
"Secepat itu ma? Emang nya kondisi Abang masih belum stabil?"
"Iya Ra hiks, kamu pulang sekarang hiks"
"Oke ma! Maura pulang sekarang mama tenang ya"
"Yaudah mama tutup dulu telfon nya"
"Iya ma"
Setelah memutuskan sambungan telfon Rina pun beranjak ke brangkar Reynand.
"Hiks Rey kenapa bisa gini Rey? Mama ga percaya kalo Ansel kaya gitu, tapi mama bener-bener kecewa sama dia Rey hiks"Tangis Rina.
"Rina sebaiknya kamu siapkan barang-barang kamu, ingat malam ini kita akan meninggalkan Jakarta"ucap Alvin.
"Iya"
***
Di sisi lain Maura sedang termenung di sebuah taman di mana banyak kenangan manis bersama ansel yang akan ia tinggalkan.
"Haha buat apa juga gw mikirin **** itu? Sumpah ga guna banget! Serasa kaya orang bego!"Maura bermonolog.
"Loh Maura? Kok Lo disini?"ucap Sonya yang kebetulan ada di sekitar taman bersama dengan Mario.
"Eh soy kenapa?"
"Gw lagi jalan-jalan aja di sekitar sini sama Rio"
"Weh kalian jadian? Asik nih ok dong"
"Yee Lo ma pj on ae Ra Lo tau ga temen Lo nih ya ambek- awwh"ucap Rio terpotong karna perutnya di cubit oleh Sonya.
"Hmm mesra banget sih kalian"ucap Maura.
"Enak aja ngga kok!"ucap keduanya.
"Tuh kan kompak hahaha"tawa Maura pecah walau masih ada kesan sperti pura-pura.
"Serah Lo deh Ra, eh btw Lo udh baikan sama Ansel?"tanya Rio.
Maura tidak menjawab pertanyaan Rio melainkan asik dengan lamunan nya.
"Eh Ra Lo kok bengong?"tanya Rio.
"Rio sini coba kuping kamu mana?"tanya Sonya.
"Lah kenapa yang?"
"Sini gw bisikin"
Sonya yang sudah tau masalah yang menimpa Maura pun menceritakan detail nya kepada Rio.
__ADS_1
"Hah?! Ngga Lo salah Ra! Lo salah! Ansel ga **** kaya gitu! Oke gw akuin dia suka sakitin prasaan cewe tapi dia ga bakal ngelakuin hal licik kaya gitu."ucap Rio yang tidak terima jika sahabatnya di anggap pembawa masalah.
"Yo tenang udh udh biar Maura dan Ansel yang selesain masalah mereka masing-masing"ucap sonya menenangkan Rio.
"Tapi Sonya dia ga gitu gw kenal sahabat gw Ra Lo harus percaya sama gw Ansel bukan tipe orang yang kaya gitu"
"Lo sahabatnya, Lo gabakal biarin sahabat Lo di jelek-jelek in. Gw faham kok. Tapi gw mohon jangan egois. Ini udah jadi bukti dan ini udah jadi alasan gw harus ninggalin Ansel."ucap Maura tanpa menoleh.
"Lagian percuma juga Lo bela sahabat Lo. Toh kita gapunya hubungan apa apa lagi dan lagi gw bakal pergi ke luar negri malem ini. Jadi gw izin pamit"lanjut Maura.
"Terserah Lo Ra, tapi satu yang harus Lo inget. Jangan nyesel kalo Lo kehilangan Ansel. Gw udah peringatin Lo"ucap Rio lalu meninggalkan Sonya dan Maura.
"Eh Rio Lo mau kemana? Ishh emosian banget sih!"kesal Sonya"maaf ya Ra dia emang gitu kalo nyangkut tentang sahabat-sahabat nya"
"Gapapa soy, Lo buruan kejar dia"
"Gapapa Ra gw temenin Lo disini"
"Gak soy, gw juga udah mau pulang kok, gw juga lagi pengen sendiri"
"Oke kalo itu mau Lo, tapi kalo Lo merasa sendiri atau butuh temen buat cerita Lo jangan sungkan hubungin gw, kita sahabat Ra"
"Makasih soy Lo sahabat baik gw"ucap Maura menahan Isak nya.
"Udh udh sini petung dulu"ucap Sonya dan memeluk Maura.
"Makasih ya soy"
"Iya udah gw pergi susul Rio dulu ya, sore ini gw bakal ke rumah Lo bantu Lo beres-beres"
"Gausah soy, Lo temenin gw ke bandara aja, oh ya soy gw punya satu permintaan"
"Apa?"
"Lo jangan pernah kasi tau ke siapapu kemana gw pergi, gw gamau ada yang ganggu kehidupan gw lagi"
"Gw janji, demi kebahagiaan sahabat gw, oke gw pergi dulu bye"
Setelah Sonya pergi, kini tinggal Maura yang kembali sperti beberapa menit lalu. Diam dan mengingat kembali kenangan masa lalu.
Cuaca yang dingin tidak membuat Maura kalah. Dia nggan pergi dari taman ini.
****
Bandara 19:00 WIB.
Kini Maura dan keluarga sudah siap pergi meninggalkan tempat kelahiran mereka. Ntah kapan mereka akan kembali. Tapi satu yang Maura yakini. Ia kan kembali lagi kesini suatu saat.
"Soy makasih ya udah antar gw, Lo jaga diri baik baik ya"ucap Maura.
"Lo juga ya Ra, jaga kesehatan jangan sampe sakit. Oh ya jangan cinta-cintaan Ama bule ga Ra, percuma cinta cinta *** anjinf:(("ucap Sonya.
"Wkwk untuk sementara gw msih troma Ama hubungan sih Lo tenang aja, kalo gw ga nikah-nikah gw bakal nikahin Lo"
"Ih gamau dasar lesbi Lo"
"Hahahaha"tawa keduanya pecah.
"MAURA BURUAN PESAWAT NYA UDAH MAU BERANGKAT" Teriak sang papa.
"Udah mau berangkat soy, bye gw bakal kangen sama Lo murah"ucap Maura mencium pipi Sonya dan memeluknya sekilas lalu pergi.
"Iya bye gw juga bakal kangen Lo Ra hiks"akhirnya tangis Sonya pecah.
"Bye Sonya!!"teriak Maura dari jauh.
"Bye Ra!"teriak Sonya tak kalah kencang.
Maura pun memasuki pesawat. Pintu pun di tutup mesin mulai di nyalakan. Akhirnya maura pergi meninggalkan nya meninggalkan kenangan nya saat di bangku SMA. Sonya hanya berharap Maura bisa kembali dan berkumpul dengan nya.
__ADS_1
****
Di sisi lain ada Ansel dengan penampilan acak acakan berdiri di depan rumah Maura. Setelah mendapat kabar dari Rio kalau Maura akan pergi ke luar negeri, Ansel buru-buru pergi ke rumah Maura.
Akhirnya Ansel Samapi di depan rumah Maura. Tapi keadaan rumah tersebut tampak sepi. Hati Ansel mulai tidak tenang. Ia pun membuka gerbang dan mengetuk pintu rumah tersebut.
"Maura?! Tante! Permisi!"teriak ansel.
"Permisi!"
"Ada orang!"
"Asalamualaikum Tante?!"
"MAURA?! hiks dia pegi dia bener-bener pergi?! Arrrgggh"teriak Ansel di iringi Isak tangis.
"Maura gw mohon maafin gw hiks! Gw bodoh! ****! Goblok! Bego! Lemah! Gabisa jagain Lo! Gabisa jagain orang yang gw cinta! Bahkan gw gabisa ngehentiin Lo pergi hiks"lirih Ansel.
"Maura Lo kemana? Hiks"
Semua yang melihat Ansel saat ini pasti berfikir kalau Ansel gila. Ya kenyataan nya memang begitu, Ansel gila karna Maura.
****
4 Tahun Kemudian.
Sudah lama Ansel menyewa orang suruhan nya untuk menyelidiki kemana Maura pergi. Namun hasilnya nihil. Maura hilang bagai di telan bumi. Ansel yang mulai gila karna Maura.
Ya di tambah ia harus menanggung beban perusahaan besar milik orang tuanya. Ansel sudah cukup pusing memikirkan keduanya.
Sudah sering kali kliennya menangkap basah Ansel sedang termenung. Begitu juga bawahan Ansel. Ntah apa yang di fikirkan Ansel.
"Ra Lo kemana? Pliss kali gw kesempatan se enggak nya kasi gw jejak Ra. Gw janji bakal nemuin Lo"lirih Ansel.
"Permisi tuan"ucap Ricard orang kepercayaan Ansel.
"Kenapa?"
"Saya sudah menemukan pelaku yang mencemarkan nama baik anda di depan keluarga geonino"
"Siapa?!"
"Dia rose tuan. Rosean Chen. Dia yang membuat nona Maura geonino kecelakaan dan dia juga yang menganiaya kakak daei Maura"
"Rose? Bukan nya dia teman nya Ririn!"
"Tuan saya juga mencari data dari rose"
"Jelaskan!"
"Dia bersekolah di SMA negeri X, satu sekolah dengan anda. Dia memiliki semacam geng/atau kelompok beranggotakan 3 orang yaitu. Ririn,Nina,dan rose. Mereka suka membully murid-murid lemah dan pernah membully seorang murid berbadan gendut hingga depresi lalu membully gadis cantik hingga masuk rumah sakit yaitu Maura geonino."
"Apa kamu sudah mencari tau latar belakang ketiga orang itu?"
"Sudah tuan, Ririn Kin selaku ketua dari grup kin, Nina Wenwen sepertinya hanya orang biasa yang di bantu oleh Ririn dan rose hingga menjadi pengikut nya. Dan rosean Chen dari grup Chen."
"Saya mau kamu hancurkan keluarga rose Dan ririn. Jangan lupa bawa mereka ke hadapan saya secepatnya!"
"Baik tuan"
"Maura aku bakal kasi ke Adilan buat kamu! Dan memperbaiki kesalahan aku diasa lalu!"
"Permisi tuan anda belum makan sejak siang tadi, apa anda ingin saya pesan kan sesuatu?"ucap sekertaris Ansel.
"Pesan kan aku kopi hidam saja"
"Baik tuan."
Sekertaris cantik itu pun pergi meninggalkan ruangan ansel. Kini hanya Ansel yang termenung memandangi pemandangan kota Jakarta yang penuh gemerlap lampu.
__ADS_1
"Maura? Mau sampai kapan kamu siksa aku?"lirih Ansel. Rasanya sudah tidak kuat harus menahan sakit ini terus menerus.
Bersambung........