
Zeevana duduk di depan meja rias di dalam kamarnya dengan hati galau. Tidak ada senyuman di wajahnya. Padahal acara sakral yang akan dilaksanakan sebentar lagi itu sangat dinantikan para jomblo kapan mereka akan merasakan jantung berdebar ketika ijab Qabul diucapkan oleh pasangannya.
Nuansa biru muda menghiasi ranjangnya yang sudah disulap menjadi ranjang pengantin. Warna biru memang warna kesukaannya. Gaun pengantin yang dipakainya untuk akad nikah pun berwarna biru muda. Begitu juga pakaian yang akan dikenakan oleh Byakta berwarna biru muda.
“Adek Mba cantik banget,” puji Zelva menyemat bros di atas pundak Zeevana. Rangkaian melati segar menjuntai ke samping dari atas kepala hingga ke sikunya.
“Zee, senyum dong. Masa pengantin cemberut aja,” goda Zainab sambil menjawil dagu Zeevana.
“Insya Allah, ini yang terbaik. Ada abang-abang ipar kamu yang akan mengajari dia menjadi imam yang baik,” hibur Zelva seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya itu.
Zelva tahu isi hati adiknya yang kurang sreg dengan pernikahan ini.
Zeevana akhirnya memaksakan dirinya untuk tersenyum padahal hatinya begitu galau.
‘Aku hanya takut punya suami yang kehidupannya jauh dari yang aku bayangkan. Dia tidak sama dengan bang Faruq dan bang Qomar’ batin Zeevana sambil menautkan jari-jemarinya.
Pernikahan tertutup itu dilaksanakan di kediaman abah Sa’id sehingga tidak memancing kecurigaan dari pihak Arya, papa Byakta.
Setelah Byakta mengucapkan ijab qabul dengan lantang dan tegas. Semua saksi dan keluarga pun mendoakan pasangan pengantin baru itu.
Zeevana kemudian keluar dari kamar diapit oleh kedua kakaknya, Zelva dan Zainab. Byakta berdiri diiringi keluarga lainnya sambil melihat Zeevana berjalan menghampirinya.
'Kamu ternyata cantik sekali jika dirias. Ratu Kredit,' batin Byakta memandang wajah Zeevana.
Zeevana menunduk tidak berani menatap Byakta yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Zelva mengangkat tangan kiri Zeevana agar Byakta dapat menyematkan cincin berlian yang menjadi mas kawinnya.
Jantung Zeevana berdebar tak karuan ketika Byakta meraih tangannya, merasakan sentuhan laki-laki itu seperti mendapatkan sengatan listrik. Byakta kemudian menyematkan cincin pemberiannya ke jari manis Zeevana.
“Zee, cium punggung tangannya,” bisik Zelva.
__ADS_1
Zeevana mengikuti arahan kakaknya mencium punggung tangan Byakta. Otaknya benar-benar nge-blank.
Pernikahan macam apa ini. Acara akad nikah yang seharusnya dihadiri teman-teman dekatnya tidak bisa diwujudkan karena tertutup.
***
“Zeevana, Abah serahkan kepadamu, By. Tanggung jawab Abah sebagai orang tuanya sudah selesai. Sekarang tingkah laku dan perbuatan yang menyimpang dari agama yang Zeevana lakukan sudah menjadi tanggung jawab kamu sebagai suaminya. Satu lagi pesan Abah, jika kamu emosi jangan sekali-kali main tangan untuk melukai fisiknya. Karena sejak kecil, Zeevana tidak pernah dipukul oleh abah dan uminya,” ujar Abah Sa’id memberi wejangan di ruang tengah.
“Iya, Abah. Insya Allah, itu tidak akan terjadi,” balas Byakta sambil melirik Zeevana yang duduk di samping abah.
Kedua orang tua Byakta sudah pulang. Sekarang yang ada di rumah Abah tinggal Zelva dan suaminya. Sementara Zainab dan Qomar sudah pulang ke rumah mereka selepas sholat Isya berjama’ah tadi di masjid.
“Kalian rencananya akan tinggal di mana?,” tanya Abah. Mengingat besok Byakta dan Zeevana akan masuk kerja kembali.
“Sepertinya kami akan tinggal di rumah papa dan mama. Karena di sana juga sepi, hanya tinggal mereka berdua,” jawab Byakta.
Adiknya, Berliany yang sudah menikah terlebih dahulu ikut suaminya di Makassar. Abah hanya manggut-manggut setuju.
***
Byakta dan Zeevana kini berada di kamarnya yang masih bernuansa biru muda.
“Zee,” panggil Byakta melihat Zeevana yang berdiri di depannya. Pakaiannya masih lengkap. Memakai gamis dan jilbab panjang.
'Apa aku yang harus membukakannya. Ehem,' Byakta jadi serba salah.
“Pak, aku minta maaf. Aku belum bisa melakukannya malam ini,” ucap Zeevana.
“Kenapa masih memanggilku dengan sebutan itu?,” gumam Byakta tidak suka.
'Bahkan dia masih bersikap formal denganku,' batin Byakta.
__ADS_1
Zeevana hanya membisu. Byakta mengerti mengapa Zeevana bersikap begitu, mengingat sikapnya selama di kantor tidak bersahabat dengan istrinya itu.
“Oke. Tidak usah terburu-buru. Masih banyak waktu,” lanjut Byakta.
Byakta melewati istrinya itu menuju ke atas ranjang untuk tidur.
Zeevana kemudian menyusulnya ke atas ranjang. Mereka tidur saling memunggungi. Tidak terjadi apa pun hingga pagi menjelang.
Di meja makan
“Zee, kenapa kamu nggak ikut sekalian dengan Byakta ke rumah orang tuanya?,” tanya Zelva.
Zeevana sendiri heran. Ketika bangun tidur, sosok suaminya sudah tidak ada lagi di kamar.
“Nanti ketahuanlah Mba kalau aku pergi bareng dia,” jawab Zeevana sambil menyuap sarapan paginya.
“Selesai sholat subuh, By pamit pulang. Perlengkapan kerjanya lupa dia dibawa. Katanya udah bilang sama kamu, Zee,” ujar Fatimah memberitahu.
Zeevana termangu. Dia sama sekali tidak tahu soal itu. ‘Apa dia marah ya tentang semalam?,’ batin Zeevana.
Selesai sarapan Zeevana kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja. Travel bag suaminya pun sudah tidak ada lagi di kamar.
‘Masa pulang kerja nanti aku datang sendirian ke rumah mertuaku,’ gumam Zeevana.
‘Maafkan aku. Aku takut jatuh cinta dengan laki-laki sepertimu.’ Kristal bening itu meluncur di pipi Zeevana.
Sudah keputusan Zeevana, sejak tamat SMP untuk keluar dari lingkungan pesantren. Dia ingin bebas dan melihat dunia luar, tapi tetap dalam koridor Islam. Abah Sa’id yang memiliki pesantren Al Madinah sangat kecewa dengan keputusan putri bungsunya. Apalagi Zeevana gadis yang pintar. Abah Sa’id takut putrinya terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak benar jika berada di luar pesantren. Namun Zeevana memiliki sifat keras kepala, dia tidak mau menuruti kemauan abahnya. Dia ingin berbeda dengan kedua kakaknya. Zeevana akan bosan tinggal di lingkungan pesantren. Zeevana ingin mandiri, tidak mau bergantung dengan kedua orang tuanya. Karena hasil ijazah S1 Zeevana sangat memuaskan, dia langsung diterima bekerja di perusahaan besar seperti D’Family Group.
Namun bekerja di lingkungan masyarakat awam membuatnya sedikit berhati-hati. Interaksi antar lawan jenis sering terjadi di lingkungan kantor. Mau tidak mau Zeevana harus membentengi dirinya. Tapi selama dia bekerja di perusahaan itu tidak ada laki-laki yang berani menggodanya. Pikir laki-laki penggoda, Zeevana tidak menarik untuk dijadikan kekasih.
Di dalam pikiran Zeevana, bos-bos seperti Byakta akan sering berinteraksi dengan wanita-wanita di perusahaan apalagi dengan wajah tampannya itu. Zeevana takut dengan perasaannya sendiri. Suami yang selingkuh karena istrinya sudah tidak menarik lagi atau karena digoda oleh wanita yang haus akan belaian laki-laki. Zeevana takut membayangkan itu semua.
__ADS_1