Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 32 Mantan Shindi


__ADS_3

Pulang dari kerja Byakta langsung menjemput istrinya di rumah Abah.


"Nggak makan malam di sini saja," tawar Umi Fatimah.


"Nggak usah, Mi. Kami makan di rumah aja," tolak Zeevana.


"Abah ke mana, Mi?," tanya Byakta yang tidak melihat sosok Abah Sa'id di rumah.


"Abah lagi di pondok sedang mengawasi pembuatan hidroponik," jawab umi Fatimah.


Mereka berdua akhirnya pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Zeevana tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Byakta. Laki-laki berparas tampan itu yang merasa sedang diperhatikan Zeevana dari ekor matanya, hanya tersenyum.


"Kenapa, Sayang?. Kok, kayak baru kenalan saja, melihat Mas kayak gitu," ujar Byakta melirik Zeevana.


"Nggak, kok," elak Zeevana malu kemudian membuang muka ke samping.


Byakta menyunggingkan senyuman lagi. "Mau makan nasi Padang nggak?," tawar Byakta.


"Nggak, ah. Sebentar lagi maghrib. Mas juga baru pulang. Pasti udah gerah, kan?," tolak Zeevana mengerti dengan kondisi suaminya yang baru pulang bekerja.


"Hmm, kalau begitu sudah maghrib kita makan di luar, gimana?," tawar Byakta lagi.


"Boleh, kalau Mas nggak capek," ujar Zeevana menerima tawaran suaminya.


"Apa sih yang nggak buat kamu," ujar Byakta sambil mengusap kepala Zeevana.


Seperti janjinya, setelah sholat maghrib Byakta akan mengajak Zeevana ke rumah makan Padang.


"Ma, aku dan Mas By mau makan di luar, ya," ujar Zeevana setelah selesai membantu menyiapkan makan malam untuk mertuanya.


"Masih ngidam nasi Padang?," tanya Dwina.


"Iya, Ma," jawab Zeevana tersenyum.


"Ya udah, nggak apa," ujar Dwina mengerti.


Zeevana kemudian kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Byakta sudah berpakaian rapi tapi santai. Tapi dia belum menyadari kehadiran Zeevana di kamar karena dia berdiri membelakangi pintu kamar sambil membalas chat di ponselnya.


Zeevana kemudian mendekati Byakta lalu memeluknya dari belakang. Kepala Zeevana bersandar di punggung Byakta.


'Sungguh aku tidak tahu engkau sudah berusaha sejauh itu untuk mewujudkan impianku, Mas,' batin Zeevana terharu.


Byakta yang mendapatkan perlakuan Zeevana yang tiba-tiba memeluknya itu, begitu terkejut. Dia kemudian memegang tangan Zeevana yang masih menempel di dadanya.


"Zee," panggil Byakta. Namun Zeevana tidak menyahut panggilan darinya. Wanita itu menikmati kehangatan dari tubuh suaminya.


"Sayang, kamu kenapa?," tanya Byakta lembut lalu membalikkan badannya agar bisa menghadap Zeevana. Byakta tersenyum menatap wajah cantik istrinya.

__ADS_1


"Lho, kok menangis?." Byakta menghapus airmata Zeevana yang keluar dari sudut matanya.


"Mas. Mas nggak menyesal kan menikah denganku?," tanya Zeevana.


"Kok, kamu bertanya begitu?. Bagaimana mau menyesal, orangnya sudah melendung begini," jawab Byakta bercanda sambil mengelus perut Zeevana.


"Mas!!. Aku serius!," rengek Zeevana manja. Dia tidak mau menatap wajah tampan suaminya itu.


"Zee." Byakta kemudian memegang wajah Zeevana dengan kedua tangannya agar Zeevana melihat matanya.


"Justru aku yang takut kalau kamu menyesal punya suami sepertiku, yang minim ilmu agama dan aku juga bukan suami idaman kamu," tatap Byakta.


Mata Zeevana berkaca membalas tatapan mata suaminya. Dia kemudian langsung memeluk erat badan Byakta.


"Nggak, Mas. Demi Allah, aku nggak menyesal menjadi istri kamu, Mas," ucap Zeevana.


"Terima kasih, Sayang." Byakta mengecup puncak kepala Zeevana.


"Hmm. Makan malamnya jadi nggak, ya?," tanya Byakta sambil mengurai pelukan Zeevana.


"Kalau begini terus, bisa lain ceritanya nanti. Kamu yang akan menjadi menu pembukanya," lanjut Byakta sambil mencubit gemas pipi Zeevana.


Mata Zeevana melebar mendengarkan ucapan suaminya. "Ihh, Mas ini genit, deh," ucap Zeevana tersipu malu.


"Kalau begitu cepatlah berganti pakaian. Mas tunggu di mobil, ya," ujar Byakta.


💞💞💞


Ketika sedang asik menikmati makanan di rumah makan padang Selero Minang, yang cukup terkenal itu, seorang laki-laki menghampiri meja mereka.


"Byakta!," tegur laki-laki itu. Byakta dan Zeevana serempak menoleh ke arah sumber suara.


"Bang Charles!," seru Byakta.


Dia sangat terkejut melihat sosok laki-laki yang pernah menjadi saingannya dulu untuk mendapatkan cinta Shindi. Byakta berdiri lalu menjabat tangan Charles. Laki-laki itu kemudian melirik ke arah Zeevana.


"Istriku," ujar Byakta memperkenalkan Zeevana kepada Charles. Zeevana tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Zeevana," ujar Zeevana memperkenalkan diri. Charles tersenyum ikut menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Sudah lama kita tidak bertemu, ya," ucap Charles.


"Duduk dulu, Bang" tawar Byakta. Charles kemudian duduk di samping Byakta.


"Ku dengar, Shindi bekerja di perusahaanmu," ujar Charles.


"Tidak lagi, Bang. Dia kabur setelah mencelakakan istriku," jelas Byakta. Jika mengingat perbuatan Shindi, emosinya muncul ke permukaan lagi.

__ADS_1


"Hm. Rupanya dia belum berubah juga," gumam Charles.


"Kenapa Abang dan Shindi sampai bercerai?. Bukannya Abang dan Shindi saling mencintai," tanya Byakta heran.


"Kamu tidak percaya kalau Shindi itu matrealistis. Aku memang mencintainya tapi dia sebenarnya tidak mencintaiku. Dia hanya menghabiskan uangku saja. Aku menceraikannya karena dia sering menghabiskan waktu dengan teman laki-lakinya," jawab Charles sendu.


Zeevana menghentikan suapannya ketika mendengarkan fakta tentang Shindi, wanita berhijab modis itu.


"Kalau bukan Bang Charles yang dicintainya, lantas siapa?," tanya Zeevana yang penasaran setelah mendengarkan cerita Charles.


"Byakta!," jawab Charles menatap Byakta.


"Aku tidak tahu kalau dulu kamu mencintai Shindi. Dengan egoisnya, aku sudah merebut Shindi dengan cara memberikan semua yang dia inginkan," lanjut Charles menyesal dan merasa tidak enak dengan Byakta.


Byakta dan Zeevana saling pandang. Zeevana kemudian menatap Byakta tanpa senyuman sedikit pun.


'Ternyata cinta Mas By tidak bertepuk sebelah tangan,' batin Zeevana kecewa.


"Itu masa lalu, Bang," ujar Byakta tertawa kecil.


'Kenapa disaat begini, Charles muncul di hadapanku. Dia merusak suasana saja,' batin Byakta sambil melihat raut wajah istrinya yang mendadak berubah.


"Ah, ya sudah. Aku tidak mau mengganggu makan malam romantis kalian. Sampai bertemu lagi, By," ujar Charles kemudian meninggalkan meja mereka.


"Iya, Bang. Sampai jumpa lagi," balas Byakta.


Zeevana melanjutkan makannya dalam diam. Sepertinya suasana hatinya benar-benar tidak enak.


"Sayang, Bang Charles itu kakak tingkat Mas sewaktu kuliah," jelas Byakta tersenyum.


"Nggak nanya!," ketus Zeevana.


Senyum Byakta langsung menghilang di wajah tampannya. Byakta pun merasa tidak enak hati. Charles tadi bercerita tentang Shindi tidak memikirkan perasaan istrinya yang ikut mendengarkan juga.


"Aku mau pulang," ujar Zeevana tanpa menyelesaikan makannya. Padahal kalau makan nasi Padang, Zeevana sangat lahap sekali.


"Oke. Mas bayar dulu, ya," ujar Byakta.


Byakta menuruti keinginan istrinya yang mendadak badmood itu.


Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada celoteh dari mulut Zeevana. Byakta pun menjadi bingsal dengan sikap istrinya itu.


"Zee, ngomong dong. Jangan diam saja. Nanti Mas mengantuk, lho," ujar Byakta dengan suara lembut.


"Lagi nggak mau ngomong!," ketus Zeevana lagi.


Byakta tersenyum kecil. Sedikit pun dia tidak tersinggung dengan sikap ketus istrinya itu. Maklum, ibu hamil selalu benar. Dia sangat menjaga perasaan Zeevana agar tetap happy karena emosinya akan berpengaruh juga kepada janin yang sedang dikandungnya.

__ADS_1


__ADS_2