
Ruang divisi keuangan.
"Zee, kamu dipanggil bos," ujar Anita.
"Kenapa?," tanya Zeevana menatap Anita.
"Mana aku tahu, Zee. Langsung temui saja biar kamu tahu," jawab Anita meninggalkan kubikel Zeevana.
"Dasar!!. Jadi sekretaris kok nggak dapat informasi apa-apa, sih," gerutu Zeevana.
Tok.Tok.Tok
"Masuk," perintah Byakta dari dalam.
"Ada apa, Pak?," tanya Zeevana.
"Duduk!," perintah Byakta.
"Kayaknya lama nih kalau disuruh duduk," gumam Zeevana.
"Salah sendiri setiap masuk ke sini nggak mau duduk. Kamu mau meninggikan badan?," sahut Byakta melirik Zeevana yang spontan langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Byakta mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna merah sejumlah harga sepatu yang telah dia beli dari Zeevana tempo hari dari dompet. Dia sodorkan uang itu di atas meja ke arah gadis berjilbab panjang itu.

"P...Pak, ucapan Mike tadi nggak bermaksud..." Zeevana memotong kalimat Byakta tergagap, dia jadi merasa tidak enak atas ucapan Mike tadi.
"Mau menagih," sambung Byakta. Zeevana menunduk, mengiyakan.
"Sudah, ambil saja. Saya mau membayar tapi tidak sempat terus," ujar Byakta santai.
"Oh...iya makasih deh, Pak." Zeevana mengambil uang yang ada di atas meja, "Kalau begitu saya permisi," pamitnya hendak berdiri dari kursi.
"Zee, tunggu dulu," panggil Byakta.
"Apa lagi, Pak?," sahut Zeevana malas.
"Tolong carikan saya pakaian bayi cewek sekitar umur dua bulan," ujar Byakta.
"Untuk anak, Bapak?," tanya Zeevana heran.
__ADS_1
"Anak darimana?. Ibunya saja belum ada" jawab Byakta kesal.
'Memang dia nggak tahu apa kalau bosnya ini masih jomblo,' omel Byakta dalam hatinya.
"Tidak pakai lama, ya. Besok sudah ada di atas meja saya," tegas Byakta.
"Ya Allah, Pak. Pulang juga udah sore, kapan saya belinya. Kenapa Bapak nggak beli sendiri aja?," ujar Zeevana protes.
"Saya nggak ngerti urusan begitu, Zeevana!!," teriak Byakta jengkel. "Udah sana kerja. Oya, belikan yang bagus dan berkualitas," pesan Byakta.
"Iya...Iya." Zeevana lalu keluar dari ruangan Byakta.
"Untuk anak siapa, sih?," gumam Zeevana. Gumaman gadis itu masih bisa terdengar oleh Byakta. Laki-laki tampan itu hanya tersenyum kecil.
***
Malam ini Byakta bersama mama dan papanya bersiap-siap akan berangkat ke acara aqiqah anak Bram dan Bella. Acara keluarga biasa, yang kumpul juga keluarga besar dan tetangga di sekitar rumah Bram.
Tiba di kediaman Bram, Satrio papa Bram sudah berdiri di teras rumah menyambut kedatangan papa Byakta sebagai anak tertua.
"Ayo Mas, silahkan masuk. Sudah ditunggu dari tadi," ujar Satrio tersenyum menyambut tangan papa Byakta lalu memeluknya erat.
"Sudah datang semua, Ri?" tanya Arya, papa Byakta.
Byakta mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Bram yang cukup luas, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Ruang itu akan disekat dengan sekat jati yang bisa dilipat jika tidak ada acara. Pandangan Byakta berhenti ketika melihat sosok gadis yang tidak asing lagi di matanya sedang menggendong seorang bayi.
'Ku rasa dia sudah pantas untuk menimang bayi,' ucap Byakta di dalam hati sambil tersenyum sendiri .
"Mas, dia belum tahu lho," bisik Bram.
"Pasti kaget," balas Byakta berbisik.
"Tapi nggak bisa nolak lagi," lanjut Bram tertawa kecil.
Byakta pun tersenyum kecil, dia masih mengamati gadis itu yang tak lain adalah Zeevana.
Tidak panjang lebar,acara aqiqah pun selesai. Semua tetangga dan teman-teman Bram dan Bella pun berangsur-angsur pamit pulang. Tinggallah keluarga besar Byakta dan Bella yang masih berada di ruang keluarga. Tidak dia lihat lagi sosok Zeevana ada di antara mereka.
***
Umi Zeevana mencari anaknya di mana. Tiba-tiba tidak ada lagi di ruang keluarga. Fatimah tidak mau Zeevana sampai mempermalukan suaminya karena sikap putrinya yang akan menolak perjodohan itu. Fatimah coba mengecek kamar Bella karena Zeevana tadi menggendong anak Bella.
__ADS_1
"Zee, ngapain kamu di kamar Bella?," tanya Fatimah ketika membuka kamar Bella. Benar saja dugaannya. Zeevana bersembunyi di sana.
"Ssst. Kayla sedang tidur, Umi," jawab Zeevana pelan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Cepat ke ruang keluarga. Abah sudah nungguin kamu dan akan mengumumkan calon suami kamu," ujar Fatimah tersenyum.
"Haduh, Abah benar-benar tega sama aku," rengek Zeevana.
"Tidak usah seperti anak kecil, Zee. Kamu juga sudah pantas menikah,"ucap Fatimah.
Zeevana terpaksa keluar dari kamar. Kakinya terasa berat melangkah ke ruang keluarga. Dengan enggan Zeevana berjalan menuju ruang keluarga itu pun diiringi oleh Fatimah agar dia bisa berjalan cepat ke sana.
"Ya Allah. Kok ramai sekali Umi," bisik Zeevana.
"Ya, iyalah bisa ramai begini. Calon kamu kan masih keluarga Bram," balas Fatimah.
'Oh My God, siapa?,' batin Zeevana dag dig dug.
Matanya mencari sosok pemuda yang berada di antara bapak-bapak paruh baya di ruang keluarga.
Zeevana menutup mulutnya ketika pandangannya berhenti pada sosok laki-laki yang tidak asing lagi baginya. Tidak ada laki-laki lain yang masih single di antara mereka selain dia.
'Ya Tuhan, jangan bilang kalau itu dia,' batin Zeevana tidak percaya.
"Zee, ayo sini, Nak," panggil tante Soraya, yang tak lain mama Bella. Zeevana pun duduk di dekat Soraya.
"Saya pikir Mas Sa'id bercanda mau menerima Byakta menjadi menantu, padahal seleksinya pasti ketat untuk setiap calon mantu Mas," ujar Arya.
"Ini hanya kebetulan dan keberuntungan anakmu, Arya," lirik Abah Sa'id ke arah Zeevana.
"Abah, maksudnya apa ini?. Zee, kok tidak tahu dan Abah tidak meminta pendapat Zee dulu," sela Zeevana ingin protes. Siapa tahu Abahnya berubah pikiran.
"Abah tidak butuh pendapat kamu lagi, Zee. Lihat foto-foto ini," ujar Abah Sa'id.
Abah Sa'id menunjukkan foto-foto ketika dia dan Byakta sedang berada di mall sedang mencari sepatu.
Zeevana menutup mulutnya dengan tangan. Siapa yang sengaja telah membuntutinya dan mengambil foto-foto itu. Zeevana hampir saja menangis melihatnya namun masih dapat ditahannya.
"Masih ingat dengan komitmen kamu, Zee?," tanya Abah Sa'id.
Zeevana hanya mengangguk lemah. Dia sudah mati kutu.
__ADS_1
'Mimpi apa aku semalam sampe ketiban bom begini. Menikah dengan Byakta Aryasatya, si bos kulkas yang membuatku kesal setiap hari. Bagaimana bisa??.Apa kata teman-teman di divisi nanti, dikira mereka nanti aku menikah dengannya karena ada affair lagi,' jerit hati Zeevana.
Zeevana memang tidak sama seperti kakak-kakaknya yang penurut dan pendiam. Zeevana sejak kecil tidak suka dilarang. Namun abah Sa'id tetap mengikuti alur anak gadisnya yang satu itu agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dengan membuat komitmen-komitmen yang harus disepakati jika semua keinginannya dituruti.