
Di ruang divisi keuangan, para karyawan sudah kasak-kusuk membicarakan Zeevana sementara orang yang sedang dibicarakan berjalan santai memasuki ruangan.
"Assalamualaikum semuanya," sapa Zeevana menuju kubikelnya.
"Waalaikumsalam. Zee muka kamu kok pucat sekali?," tanya Mike curiga, jangan-jangan gosip itu memang benar.
"Keliatan sekali, ya?." Zeevana mengeluarkan kaca mini dari dalam tasnya.
"Kamu sakit, ya?," tanya Vera.
"Nggak Mba, tapi akhir-akhir ini aku memang sering mual kalau habis sarapan," jawab Zeevana.
Mike dan Vera saling pandang, mengisyaratkan kalau gosip itu tidak salah.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Zeevana cepat-cepat ke toilet karena merasa perutnya mual lagi.
"Ke, kayaknya memang benar kalau Zee sedang hamil," bisik Vera setelah Zeevana pergi.
"Iya, Mba, tapi kayaknya Zeevana nggak sadar tuh kalau dia sedang hamil," balas Mike.
"Berarti, itu anaknya Pak By, dong," ujar Vemy ikut nimbrung. Vera dan Mike mengangguk setuju.
"Ya Tuhan. Kenapa hubungan mereka sudah sejauh itu?. Aku tidak menyangka Zee bisa melakukan hal itu dengan Pak By," sambung Vemy sedih.
"Hey, Vem. Kamu saja kalau diajak Pak By apa akan menolak?," tanya Vera.
"Iya, siapa yang bisa menolak pesona ketampanan Pak By. Bu Shindi saja terpikat juga dengan ketampanan Pak By," timpal Mike.
"Nggak tau juga, sih. Hihihi," jawab Vemy sambil menutup mulutnya karena tertawa malu.
"Woi, sadar nggak malu apa sama jilbab yang kalian pakai meskipun mini begitu," sindir Onni yang ikut menguping pembicaraan mereka.
Mike, Vera dan Vemy mengerucutkan bibirnya setelah mendengarkan sindiran dari Onni.
"Assalamualaikum semuanya," sapa Byakta menyusul masuk ke ruangan.
"Waalaikumsalam, Pak," jawab mereka serempak.
Byakta melirik kubikel Zeevana yang tampak kosong. "Belum datang?," tunjuk Byakta ke arah kubikel Zeevana.
"Sudah Pak, tapi sedang ke toilet," jawab Mike lalu melirik Vera.
"Nanti suruh Zeevana ke ruangan saya," ujar Byakta lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Hmm, pagi-pagi sudah dipanggil aja," gumam Vera melirik teman-temannya.
"Kangen mungkin," ledek Mike.
__ADS_1
Tak lama Zeevana sudah kembali lagi ke kubikelnya. "Zee, kamu dipanggil Pak By," ujar Vera memberitahu Zeevana.
"Iya, Mba," sahut Zeevana kemudian dia segera menuju pintu ruangan Byakta.
Tok.Tok.Tok.
"Masuk!!," perintah Byakta dari dalam.
Zeevana memasuki ruangan suaminya, tak lupa dia mengunci pintunya.
"Ada apa, Mas?," tanya Zeevana.
Byakta berdiri dari kursinya lalu mendekati Zeevana. Wajah istrinya itu memang tampak pucat sekali.
"Kamu sakit?," tanya Byakta sambil menyentuh pipi Zeevana.
"Sedikit mual aja, Mas. Aku lupa bawa es krim untuk menghilangkan rasa mualnya," jawab Zeevana.
"Kamu nggak pernah telat makan, kan? Kok, maag kamu bisa kambuh?," tanya Byakta heran.
"Nggak tahu, Mas," jawab Zeevana acuh.
Zeevana hendak berjalan menuju sofa namun badannya terasa lemas tak bertenaga lalu limbung. Byakta sigap menangkap badan Zeevana yang hampir jatuh itu.
Byakta kemudian menggendong badan Zeevana dan membawanya berbaring di atas sofa.
"Dari rumah tadi nggak apa-apa, kok," elak Zeevana.
"Sayang, kamu istirahat saja di sini. Kalau sudah agak baikan baru kamu keluar," perintah Byakta. Zeevana hanya mengangguk.
"Ssst. Mba Ve," panggil Mike dengan suara berbisik.
"Apa?," balas Vera mendorong kursinya agar mendekati Mike.
"Zee di dalam sana ngapain?. Sudah hampir satu jam lebih," ujar Mike sbil melihat pintu ruangan Byakta yang belum ada tanda-tanda terbuka.
"Mana aku tahu, Mike!," sungut Vera, memangnya dia cenayang.
"Kepo banget sih sama urusan orang," omel Onni.
"Iya, dong. Kita tuh curiga saja melihat teman kita sudah hampir satu jam lebih di ruangan bos, jangan...jangan." Mike melirik Vera.
"Astaghfirullah, Mike!!. Nggak mungkin mereka melakukan yang tidak-tidak di dalam kantor," seru Vera histeris membayangkan hal itu sampai terjadi di kantor mereka.
Vera berdiri dari kursinya lalu menuju ke ruangan Byakta. Dia mengetuk pintu ruangan Manajer Keuangan itu dengan raut wajah emosi.
"Cinta sih cinta, tapi jangan sampai buta," sungut Vera sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Byakta memutar kunci dan membuka pintu.
"Vera. Ada apa?," tanya Byakta belum mempersilahkan Vera masuk. Namun Vera langsung menerobos masuk mencari Zeevana. Vera sangat terkejut melihat Zeevana berbaring di atas sofa dengan mata terpejam.
Vera menutup mulutnya dengan tangan.
"Pak By, apa yang kalian lakukan berdua?," tanya Vera curiga melihat kondisi Zeevana seperti itu.
"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku duduk di kursi kerja, Zeevana tiduran di sana karena kepalanya pusing," jawab Byakta jujur.
"Saya kira..." Vera tidak melanjutkan ucapannya karena malu.
"Kamu kira apa?. Kami sedang berbuat mesum?," jawab Byakta sendiri.
Vera tersenyum tidak enak. "Maaf, Pak. Soalnya sudah satu jam Zee tidak keluar dari ruangan Bapak," ujar Vera .
"Kamu lihat sendiri wajahnya pucat begitu. Apa bisa kerja?," tunjuk Byakta ke arah Zeevana.
Vera menoleh melihat ke arah Zeevana. Vera pun mengangguk setuju.
"Maaf, Pak. Kalau boleh saya tahu. Bapak dan Zee ada hubungan apa?," tanya Vera memberanikan diri.
Byakta menatap tajam Vera. "Kenapa kamu ingin tahu soal itu?," tanya Byakta.
"Akhir-akhir ini saya perhatikan pagi-pagi Zee sering mual seperti tanda-tanda hamil muda saja. Maaf, Pak," jawab Vera menunduk.
"Apa benar itu tanda-tanda hamil muda?," tanya Byakta. Dia malah penasaran ingin tahu dari Vera karena Vera sudah pernah menikah kan.
"Iya, Pak," jawab Vera.
Byakta tersenyum bahagia. Benarkah Zeevana hamil?. Vera tampak kaget melihat bosnya tersenyum bahagia.
"Kok, Bapak malah bahagia kalau Zee memang hamil?," tanya Vera heran.
"Tentu saja saya bahagia, kalau istri saya hamil. Masa saya malah menangis," jawab Byakta serius.
"Apa, Pak?. ISTRI?," tanya Vera kurang yakin mendengarkan ucapan bosnya barusan.
"Iya, Zeevana itu istri saya, Vera!. Makanya saya membiarkan dia berada di ruangan saya. Kalau bukan istri, mana mau saya," jelas Byakta agar tidak ada kecurigaan lagi antara teman-teman Zeevana dengannya.
"Be...benaran, Bapak dan Zee sudah menikah?. Kapan?. Kok, kami temannya nggak ada yang tahu. Bahkan semua karyawan di perusahaan ini juga tidak ada yang tahu," tanya Vera masih belum percaya. Harusnya Zeevana mengundang mereka karena selain sebagai teman, mereka juga rekan kerja dalam satu team.
"Akad nikah kami memang tertutup itu karena saya dan Zee satu divisi. Sementara Zee tetap mau bekerja," jawab Byakta.
"Tolong rahasiakan dulu hal ini, Ve. Tidak lama lagi saya akan mengumumkan pernikahan kami," pinta Byakta.
"Hm. Baiklah, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Vera meninggalkan ruangan Byakta.
__ADS_1
Hati Vera menjadi lega setelah tahu kebenarannya. Seharusnya dia tidak meragukan Zeevana. Zeevana tidak mungkin serendah itu, melakukan hubungan suami istri tanpa adanya ikatan pernikahan.