
Group Kredit Mania
Chika : "Hai, Ratu Kredit."
Vania : "Tumben grup sepi."
Mike : "Juragan lagi badmood."
Icha : "Kenapa Zee, Say?."
Mike : "Hello, Zeevana Auliya. Where are you??."
Vera : "Benaran Zee sakit hati sama bos kita."
Icha : "Kenapa dengan Pak By yang ganteng dan baik hati?. Ada masalah apa?. Kepo, nih."
Mike : "Hey, ini grup kredit barang bukan gosip mania."
Chika : "Sekali-sekali nggak apalah, Ke."
Vemy : "Kena semprot lagi."
Vania :"Ya, ampun. Bos kalian galak banget, ya."
Zeevana dari tadi senyum-senyum membaca chat di grup yang dia buat. Selesai sholat subuh, Zeevana tiduran tengkurap sambil membalas chat dari teman-temannya. Sementara suaminya sedang mandi. Zeevana lupa kalau dia tinggal di rumah mertuanya. Seperti kebiasaannya di rumah sendiri, setelah selesai sholat subuh, dia langsung mengecek ponselnya.
Zeevana : "Kalian ngomongin aku, ya??. Jualan tetap lanjut. Sebentar lagi banyak produk baru datang. Pantengin, ya."
Mike: "Nah, akhirnya nongol juga nih anak."
Icha : "Apa saja, Zee?."
Zeevana : "Ada jam branded, Cha. Kemarin kamu mencari jam, kan?. Pas sekali, Cha. Jamnya kece badai."
Vera : "Sekalian saja Zee, ada jam anti badai nggak?."
Zeevana: "Hihihi. Kalau untuk Mba Ve bukan anti badai, tapi anti duda."
Vemy : "Jiaah!!. Zeevana bisa saja. Hahaha."
Vania : "Mba Ve didoain tuh biar dapet brondong."
Zeevana : "Udah grup bubar. Silahkan mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja."
Mike : "Cie, Zee berasa seperti bini Bos saja.
Zeevana : "Mike apaan sih kamu!!!." (Sambil senyum-senyum)
***
Byakta keluar dari kamar mandi. Zeevana pasti sudah lama menunggu antrian. Dia melihat Zeevana tidur tengkurap sambil senyum-senyum membalas chat di ponselnya.
'Pagi-pagi begini, dia chatting dengan siapa?,' batin Byakta.
"Ehem." Zeevana spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Aaaaa!!," jerit Zeevana sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Byakta keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Masa sampai histeris begitu.
"Kenapa?. Ada yang aneh?," tanya Byakta sambil berjalan mendekatinya.
Jantung Zeevana berdetak kencang. Dia belum pernah melihat laki-laki bertelanjang dada di depannya secara langsung.
"Ngapain keluar kamar mandi seperti itu. Nggak malu apa?," gerutu Zeevana masih menutup matanya.
"Tidak berdosa bagi istri untuk melihat aurat suaminya. Begitu juga sebaliknya," balas Byakta sambil menarik kedua tangan Zeevana dari wajahnya. Zeevana tampak bengong melihat wajah suaminya.
Kemudian Byakta menjauh dari istrinya itu menuju ke lemari pakaian. Byakta melirik Zeevana yang bergegas turun dari ranjang kemudian langsung ke kamar mandi. Laki-laki berpostur tinggi itu tersenyum kecil melihatnya.
***
Di kantor.
Bayangan badan atletis Byakta yang bertelanjang dada pagi tadi, menari-nari di kepala Zeevana. Apalagi dengan rambutnya yang masih basah, Byakta terlihat sangat menawan. Zeevana menggelengkan kepalanya agar bayangan Byakta segera enyah dari kepalanya.
'Ya Tuhan. Masa sih dengan melihat dia seperti itu saja, aku jadi kepikiran terus,' batin Zeevana tidak percaya dengan dirinya sampai bisa begitu.
"Zee kenapa kamu?. Dari tadi pegangin kepala melulu," tanya Vera.
"Ah nggak, Mba," jawab Zeevana.
"Kalau sakit kepala, Mba bawa obatnya," tawar Vera.
"Nggak usah, Mba. Aku alergi obat kimia," tolak Zeevana tidak enak.
"Waktunya makan siang. Yuk kita ke kantin," ajak Mike memunculkan kepalanya dari kubikel.
"Hm nggak ada yang mau mentraktir lagi, nih," celetuk Vemy.
"Yeay, ngarep banget kamu, Vem," ujar Mike.
"Eh, ada Bos kita. Sudah duluan saja di kantin," bisik Vera menoleh ke arah meja yang tidak jauh dari mereka.
Zeevana pun ikut melirik sekilas ke arah yang dimaksud oleh Vera. Kemudian benar-benar melihat ke meja di mana Byakta duduk. Zeevana menatap tidak percaya, di hadapan suaminya duduk seorang wanita cantik. Sepertinya sesama Manajer kalau dilihat dari penampilannya. Memang Byakta tidak duduk berdua saja, ada Arie Manajer HRD dan Galih Manajer Pemasaran di sana.
Makanan yang mereka pesan pun sudah datang. "Hey, cewek itu bukannya sekretaris Pak Arie, ya?," bisik Vera.
"Iya. Kayaknya dia mengincar Bos kita, deh. Coba lihat matanya nggak berhenti melihat Bos kita," balas Vemy kesal.
"Dasar!!. Sok kecantikan. Dia belum tahu Bos kita seperti apa," timpal Mike.
Zeevana pun ikut melirik lagi ke arah meja Byakta. Tangan wanita itu menyentuh tangan Byakta. Sontak saja Zeevana mengiris-iris lauk makannya dengan kesal dan mengaduk-aduk makanannya tidak karuan.
"Zee, kenapa kamu?," tatap Vera heran melihat tingkah Zeevana.
"Makanannya tidak enak!," ucap Zeevana lalu berdiri meninggalkan teman-temannya.
"Zee!!," teriak Mike.
"Kenapa dia?," Vemy juga ikut bertanya.
"Dari tadi kita bicara tentang Pak Byakta, mungkin Zee tidak suka. Tahu sendiri kan kalau dia sering kena semprot Bos," tebak Mike.
Byakta baru menyadari bahwa di kantin ada karyawannya juga yang sedang makan. Byakta menatap punggung Zeevana yang menghilang di balik pintu masuk kantin.
__ADS_1
'Kenapa dia meninggalkan teman-temannya?,' tanya hati Byakta
***
Zeevana tidak kembali ke dalam ruangannya, tapi dia pergi ke rooftop, lantai paling atas di gedung D'Family Group.
"Bram!!." Zeevana terkejut ternyata ada orang lain selain dirinya yang berada di rooftop.
"Zee!!. Ngapain kamu ke sini?," tanya Bram heran.
"Kamu sendiri ngapain?," Zeevana balik bertanya.
"Aku sedang mencari angin. Di sini juga tempat yang paling pas untuk menenangkan diri," jawab Bram sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku juga sama kayak kamu," jawab Zeevana.
"Okelah. Aku mau turun. Jangan terlalu lama, anginnya cukup kencang di atas sini," pesan Bram lalu meninggalkan Zeevana.
Zeevana duduk di kursi kayu panjang yang bisa diduduki untuk dua orang.
Zeevana enggan kembali ke ruangannya. Sudah hampir jam pulang kerja, dia pun bergeming dari rooftop.
"Ya, ampun jangan-jangan Zee sudah pulang duluan. Masa sejak dari kantin, dia belum masuk ke ruangan juga," oceh Mike.
"Iya nih, Ke. Ke mana tuh anak. Kok, tiba-tiba menghilang," timpal Vera.
Byakta keluar dari ruangan. Dia melihat Vera dan kawan-kawannya belum pulang. Namun dia tidak melihat sosok Zeevana ada di antara mereka.
"Kenapa kalian belum pulang?," tanya Byakta heran.
"Mmm. Kami bingung, Pak. Sejak dari kantin, Zeevana belum masuk ke kantor lagi," jawab Mike.
'Ke mana dia pergi?. Atau dia pulang duluan?,' batin Byakta.
"Apa Zee izin dengan Bapak kalau dia pulang duluan," selidik Vera.
"Tidak," jawab Byakta dengan hati cemas.
"Ya sudah, Pak. Kami pulang dulu," pamit mereka.
Byakta segera turun menuju ke parkiran sambil menelpon Zeevana. Ternyata ponselnya tidak aktif.
Dia juga melihat mobilio marun milik Zeevana masih terparkir rapi di sana.
"Lalu ke mana dia pergi?," gumam Byakta heran.
"Mas By, ada apa?," tegur Bram yang juga baru mau pulang.
"Sejak dari istirahat makan siang, Zeevana nggak kelihatan di kantor," jawab Byakta gusar.
"Yah, tuh anak sudah dibilangin tadi jangan lama-lama di sana," gumam Bram tersenyum.
"Bram. Kamu tahu di mana, Zee?," tanya Byakta.
" Iya, Mas. Berarti dia belum turun dari rooftop," jawab Bram.
Byakta segera kembali ke kantor dan langsung naik lift menuju ke rooftop.
__ADS_1