Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 16 Debar-debar Cinta


__ADS_3

Byakta menatap Zeevana yang masih tertidur pulas. Perjalanan yang cukup lama menuju Lombok membuatnya lelah. Sebelum menikah dengannya, Zeevana selalu saja menjawab apa yang dia ucapkan. Tapi setelah menikah istrinya itu mendadak irit bicara dengannya.


"Lebih baik aku mandi duluan sambil menunggunya bangun," gumam Byakta.


Laki-laki itu mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi tanpa menguncinya.


Tak lama Zeevana mengucek matanya, dia masih duduk di atas ranjang. Karena belum loading, dalam bayangan Zeevana dia sedang berada di kamar pribadinya. Zeevana kemudian membuka jilbabnya lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


"Aaaaaa!!!," teriak Zeevana histeris melihat punggung laki-laki polos sampai ke kaki ketika membuka pintu kamar mandi.


Zeevana menutup kembali pintu kamar sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang, merasakan jantungnya itu seperti habis dari olah raga pagi.


Byakta yang mendengar pintu kamar mandi terbuka dan suara teriakan Zeevana, segera meraih handuknya. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat Zeevana masih berdiri tiga langkah di depan kamar mandi. Rambut hitamnya tergerai sebatas pundak. 'Ya Tuhan, Zeevana membuka jilbabnya.' Byakta baru menyadarinya.


"Aku harap jeritan kamu tadi tidak didengar oleh tamu hotel lainnya," ucap Byakta tersenyum geli.


"Maaf, Mas. A...aku tidak sengaja. Lagian juga, kenapa nggak dikunci, sih?," balas Zeevana masih membelakangi Byakta.


Byakta memutar badan Zeevana agar menghadap ke arahnya. "Disengaja juga tidak apa. Toh, kita juga sudah halal," ucap Byakta pelan sambil menatap mata Zeevana.


"Permisi aku mau mandi." Zeevana melewati Byakta. Dia berjalan ke kamar mandi.


'Rupanya mau menghindari ku. Wajahnya sudah bersemu merah begitu,' batin Byakta tersenyum simpul.


Zeevana begitu lama keluar dari kamar mandi. Byakta tahu dia sudah lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


"Maaf saja, aku tidak akan mengantarkannya," gumam Byakta tersenyum geli.


Tok.Tok.Tok.


Byakta mengetuk pintu kamar mandi. Sudah hampir dua puluh menit Zeevana di dalam kamar mandi.


"Zee, kamu tidur ya di sana?," tanya Byakta.


"Mas, aku lupa bawa baju ganti," sahut Zeevana dari dalam.


"Kan ada handuk," jawab Byakta tersenyum sambil membayangkan jika Zeevana keluar hanya berbalut handuk saja.

__ADS_1


'Ya Tuhan. Zeevana bagaimana bisa kamu ngeloyor aja langsung ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti,' gerutu Zeevana di dalam hatinya. Dia berada di balik pintu kamar mandi hanya berbalut handuk.


"Oke, aku keluar. Tapi kamu jangan lama-lama," kata Byakta menyerah juga. Dia takut Zeevana kedinginan di dalam sana.


Byakta lantas keluar kamar dan menunggu tidak jauh dari muka pintu. Dia membaca chat dari Bram yang barusan masuk. Dasar, tuh anak kepo banget masih pagi juga.


Bram: "Gunakan waktu di Lombok untuk Malam Pertama yang tertunda."


'Sialan tuh anak,' batin Byakta.


Aku : "Cuma semalam menginap, mana bisa Mr. Kepo!!!."


Bram: "Nggak apa, deh. Aku sebagai bos yang baik hati akan memberi jatah semalam lagi untuk Mas By di sana. Bagaimana?."


Aku : "Nggak deh, makasih. Aku nggak bisa memaksanya."


Bram: "Yah, bukannya Mas By ini orangnya pemaksa banget, ya. Kok, dengan dia jadi gimana gitu."


Aku: "Hei Bramantio, dia itu anak orang yang segelnya masih original. Harus hati-hati tahu nggak. Udah anak dua bilangnya sudah pengalaman tapi..."


Byakta tidak membalas chat Bram lagi. Sudah sepuluh menit dia menunggu di luar. Kayaknya nggak mungkin Zeevana belum kelar berpakaian dan sholat subuh.


Benar saja ketika dia masuk Zeevana sedang melipat mukenanya dengan posisi masih duduk di atas sajadah. Byakta perhatikan Zeevana sedang mengurut-urut pergelangan kaki kanannya.


"Kenapa kakinya?," tanya Byakta.


"Hmm, aku menabrak kaki kursi," jawab Zeevana sambil menahan sakit.


"Kok bisa?," tanya Byakta heran.


"Kalau mau celaka apa harus direncanakan?," ketus Zeevana.


Kursi itu kan benda mati, kita sebagai makhluk hiduplah kalau berjalan itu lihat-lihat. Byakta tersenyum sendiri lalu mendekatinya.


"Mau aku bantu?," tanya Byakta bercanda.


"Asal ikhlas," jawab Zeevana.

__ADS_1


Byakta lalu mengangkat badan istrinya, Zeevana spontan mengalungkan kedua tangannya di leher Byakta sambil memandang wajah tampan suaminya. Byakta membiarkan saja Zeevana menikmati wajah tampannya sepuas hati.


"Kamu nanti tunggu di kamar saja selama aku meeting," ujar Byakta sambil membaringkan Zeevana di atas tempat tidur.


"Kalau kaki kamu masih sakit nanti telpon saja, aku akan meninggalkan meeting," lanjut Byakta.


Zeevana hanya mengangguk kecil. Dari tempat tidur dia memperhatikan Byakta berganti pakaian formal untuk pertemuan nanti. Setelah mereka selesai sarapan di dalam kamar, Byakta pun pergi ke acara meeting.


💞💞💞


'Ya Tuhan. Aku harus bagaimana?. Sikap Mas By semakin lama semakin lembut saja denganku. Aku takut sekali jatuh cinta dengannya. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan lagi perasaanku kepadanya,' batin Zeevana.


Zeevana teringat kembali ucapan kakaknya Zelva. "Zee punya suami tajir nggak masalah. Kamu atau dia bisa memanfaatkan harta itu untuk kebaikan seperti menjadi donatur pesantren, panti asuhan dan sebagainya. Itu akan menjadi ladang pahala untuk suamimu. Kamu kan suka sekali tuh membantu orang, mungkin dari itu Allah memberi kamu jodoh seperti Byakta. Syukuri saja, jangan membandingkan pasanganmu dengan pasangan orang lain. Tentu tidak akan sama."


"Benar juga apa yang diucapkan Mba Zelva. Apalagi setelah aku mimpi mengerikan itu. Aku takut sekali kehilangan dia," gumam Zeevana.


Zeevana kemudian meraih ponselnya. Cukup lama dia menunggu Byakta selesai meeting. Dia hanya berada di dalam kamar hingga rasa bosan itu datang juga.


Zeevana: "Mas, masih lama meetingnya??."


Zeevana memanyunkan bibirnya melihat chat darinya belum dibaca oleh Byakta. Tak lama Bibir Zeevana tersenyum kecil melihat chat darinya sudah dibaca Byakta. Dia menunggu balasan dari Byakta, terlihat di layar ponsel Zeevana bahwa Byakta sedang mengetik balasan.


Byakta: "Sebelum makan siang kayaknya udah selesai. Kenapa?. Kaki kamu masih sakit?."


(Tersenyum karena tumben Zeevana mau chat dengannya lebih dulu).


Zeevana menggerakkan jari-jemarinya membalas chat dari Byakta.


"Aduh balas chat kayak gini aja kok bisa deg-degan, sih," gumam Zeevana heran.


Zeevana: "Udah nggak sakit lagi, kok. Aku bosan di dalam kamar terus. Boleh keluar nggak? "


Byakta: "Nggak!. Tunggu Mas selesai meeting. Nanti kita jalan-jalan keluar hotel bersama."


Zeevana: "Iya aku setia di kamar, deh."


Zeevana tersenyum geli. Lagian mana berani dia jalan-jalan sendiri di luar hotel. Byakta mewujudkan keinginan Zeevana untuk jalan-jalan. Sekalian melihat-lihat kalau ada barang yang bagus untuk dijual oleh Zeevana. Emang dasar Ratu Kredit. Di mana saja otak jualannya selalu connect.

__ADS_1


__ADS_2