
Pulang kerja Byakta tidak langsung ke rumah tapi dia mampir ke rumah Bram. Byakta ingin meminta penjelasan dari Bram kenapa dia sampai menerima Shindi. Ternyata Bram tadi sudah pulang lebih dulu, sudah dipastikan Bram sudah sampai ke rumahnya. Byakta memarkir mobilnya di halaman rumah Bram yang cukup luas. Bram tidak tinggal bersama orang tuanya lagi. Dia sudah tinggal di rumah sendiri bersama istri dan anak-anaknya.
Tok.Tok.Tok
"Bik Ita tolong buka pintunya," teriak Bella memanggil maid yang membantu pekerjaannya di rumah.
"Eh, Mas By. Masuk Mas," ujar Bik Ita setelah melihat tamu yang datang.
"Bram ada, Bik?," tanya Byakta.
"Ada Mas. Mas Bram ada di teras belakang," jawab Bik Ita.
Byakta langsung masuk ke ruang keluarga. Bram segera menemuinya setelah diberitahu Bik Ita.
"Wah ada, Mas By. Sekalian saja aku telpon Zee supaya juga mampir ke sini untuk makan malam bersama," gumam Bella pelan melihat suaminya menemui suami Zeevana.
"Ada apa Mas sampai menyusulku ke rumah segala?," tanya Bram mengajak Byakta duduk di sofa ruang keluarga.
Byakta pun duduk di hadapannya, membelakangi posisi ruang tamu.
"Bram, kenapa kamu menerima Shindi di perusahaan?," tanya Byakta kesal.
"Mas, kita memang lagi membutuhkan karyawan di posisi itu kan?," ujar Bram balik bertanya.
"Iya, tapi kan tidak harus dia," balas Byakta tidak setuju dengan pilihan Bram.
"Mas By ngapain takut. Toh, aku juga sudah membantu Mas untuk mendapatkan sepupu istriku. Coba kalau aku tidak mengambil foto kalian berdua di mall, mana mungkin Zee mau sama Mas apalagi sampai menikah. Karena Mas itu bukan suami idaman dia," jelas Bram dengan jujur.
Zeevana yang memang sudah di tengah jalan mendapat telpon dari Bella agar mampir ke rumahnya karena ada Byakta juga di sana. Tidak memakan waktu yang lama dia sampai di rumah Bram.
Zeevana yang baru saja tiba di rumah Bram segera masuk. Karena melihat pintu ruang tamu terbuka jadi dia langsung masuk saja. Tidak disangka dia akan mendengarkan ucapan Bram yang sangat mengagetkannya.
'Jadi...yang mengambil foto-foto itu ternyata Bram. Mereka telah bersekutu merencanakan pernikahan itu.' Zeevana terpaku menatap Bram dengan wajah marah.
__ADS_1
Bram begitu terkejut ketika menyadari ada sosok Zeevana sedang berdiri terpaku menatapnya dengan wajah penuh amarah.
"Kenapa kamu, Bram kok mendadak bisu?," tanya Byakta heran melihat wajah Bram begitu tegang melihat ke arahnya.
"Mas, itu...," ucap Bram dengan suara pelan sambil menunjuk tangannya ke arah belakang Byakta.
Byakta kemudian menoleh ke belakang. Dia melihat sosok Zeevana sedang berdiri mematung di sana. 'Ya Tuhan. Apa dia mendengarkan semua ucapan Bram tadi,' batin Byakta ikut kaget. Hati Byakta pun mendadak cemas.
"Kamu benar-benar jahat, Bram. Jahat kamu, Bram!!," teriak Zeevana marah, kemudian dia berlari keluar meninggalkan rumah Bram.
Zeevana masuk ke dalam mobilnya dan cepat-cepat meninggalkan rumah Bram.
"Bram!," teriak Byakta ikut kesal kenapa sepupunya itu tidak berhati-hati kalau bicara.
"Mas, aku juga kaget. Tiba-tiba Zee sudah ada di sana," elak Bram.
Dia sendiri heran bagaimana bisa Zeevana juga datang ke rumahnya. Tidak mungkin kan Byakta yang menyuruhnya datang ke rumahnya. Kepala Bram mendadak pusing. Pasangan itu pasti akan ribut sampai di rumah mereka nanti.
Tiba di rumah, Zeevana bergegas masuk ke dalam kamar. Byakta pun segera menyusulnya.
"Zee. Dengarkan aku," kata Byakta mendekatinya yang berdiri di samping ranjang.
"Aku tidak menyangka. Ternyata kalian sudah bersekongkol." Zeevana terisak tanpa menghadap Byakta.
"Zee, aku benar-benar tidak tahu rencana Bram yang mengikuti kita ke mall waktu itu," jelas Byakta.
"Bohong!!. Kalau Mas tidak tahu, kenapa Mas mau menikah denganku. Bukankah sejak awal Mas sudah tidak suka denganku," teriak Zeevana marah.
"Zee, aku tidak pernah bohong. Aku juga kaget tiba-tiba Abahmu menemui papaku. Setelah itu papa memberitahuku bahwa aku harus menikah denganmu," jelas Byakta jujur. Dia mendengar Zeevana semakin terisak.
"Kamu merasa kecewa tahu ini semua karena kamu tidak bisa menikah dengan laki-laki idamanmu, kan?," tuduh Byakta. Zeevana diam dalam tangisnya. Untuk apa lagi dia berdebat. Semuanya sudah terjadi.
"Baiklah. Kita introspeksi diri. Apakah yang kamu lakukan belakangan ini hanya sekedar menjalankan kewajibanmu saja sebagai istri dan bukan karena kamu mencintaiku. Beritahu aku. Aku tidak akan menghalangimu untuk mendapatkan imam impianmu itu," tegas Byakta menyindir Zeevana.
__ADS_1
"Oya, kamu tidak perlu pergi dari rumah ini. Aku akan tinggal di apartemen. Satu minggu aku rasa cukup untuk kita saling introspeksi diri," sambung Byakta.
Dia kemudian mengambil beberapa pakaiannya dan memberitahu tentang kepergiannya kepada mama dan papanya. Byakta juga berpesan kepada mama dan papanya agar masalah rumah tangganya dengan Zeevana agar jangan sampai ke telinga Abah.
Tiba di apartemennya, ByaktaΒ menghempaskan badannya ke atas ranjang.
Dia teringat akan ucapan Zeevana dulu sewaktu dia meminta Zeevana untuk menemaninya ke mall.
"Apa kamu harus menjadi istri saya dulu, baru saya bisa meminta pendapat kamu?,β tanya Byakta melihat Zeevana. Zeevana pun menoleh ke arah Byakta dengan kaget.
βOh.. makasih, Pak. Kalau pun Bapak buka pendaftaran mencari calon istri. Saya orang pertama yang akan menolak untuk ikutan,β jawabnya.
Byakta mengusap rambutnya dengan frustasi. 'Begitu kecewanya dia mengetahui rencana Bram agar aku bisa menikah dengannya,' batin Byakta.
πππ
Setelah kejadian itu, Bella mencoba menelpon Zeevana. Dia tahu cerita yang srbenarnya dari suaminya, Bram.
[Bel, aku sedang tidak ingin membahas masalah itu]
[Zee, suamiku tidak sejahat itu. Mas By menyukai kamu makanya Mas Bram mau membantunya]
[Tapi tidak seperti itu caranya, Bel. Kamu tidak tahu kalau kakak iparku, Bang Faruq mau mengenalkan aku dengan ustadz Ahmad, temannya]
[Ya Allah, Zee. Kalau memang kamu jodohnya ustadz Ahmad. Pernikahan kamu dengan Mas By tidak akan terjadi, Zee. Kalau pun kamu jadi menikah dengan ustadz itu, belum tentu juga kamu diizinkannya bekerja di perusahaan]
Zeevana membisu mendengarkan ucapan Bella.
[Tanyakan hatimu, Zee. Jangan sampai kamu salah dalam mengambil keputusan dan akan menjadi penyesalan yang tidak berguna nantinya]
Bella mengakhiri telponnya karena Zeevana sudah tidak merespon lagi ucapannya.
Butiran bening jatuh di pipi Zeevana. Dia teringat kembali hari-hari sebelum dia menjadi istri Byakta. Begitu menyebalkan. Makanya dia juga heran kenapa Abahnya sampai ngotot mau menjodohkannya dengan Byakta. Dan karena foto yang diambil oleh Bram itulah, dia kini menjadi istri Byakta.
__ADS_1