
Byakta melihat wajah Zeevana yang sangat terkejut ketika melihatnya. Ya, Byakta lah laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Awalnya dia menolak ketika mendapat tawaran dari Bram untuk dijodohkan dengan sepupu Bella. Ini bukan zaman Siti Nurbaya Bung, laki-laki kok mau dijodohkan segala. Apalagi untuk laki-laki sekelas Byakta, dia tinggal tunjuk saja, pasti gadis-gadis yang melihatnya tidak akan menolak. Namun setelah melihat foto gadis itu di ponsel Bram, Byakta kaget, ternyata sepupu Bella itu adalah si Ratu Kredit. Dia akan berpikir ulang lagi untuk menerima tawaran Bram. Semakin Zeevana tidak menyukainya semakin dia penasaran dengan si Ratu Kredit itu.
"Karena kedua calon sudah saling setuju. Bagaimana rencana ke depannya, kita langsung bahas di sini saja" ujar Abah Sa'id sambil melihat keluarga yang lainnya.
"Bagaimana baiknya saja, Mas. Kami sekeluarga manut saja," balas papa Byakta. Dia percaya dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya itu sudah memikirkan hal yang terbaik untuk putrinya.
"Baiklah. Saya tidak ingin lama-lama prosesnya nanti malah menjadi fitnah, mengingat mereka satu kantor pula," lirik Abah Sa'id ke arah Zeevana yang masih tertunduk.
"Iya, Mas. Saya juga setuju prosesnya dipercepat saja," sela Satrio, papa Bram.
"Boleh saya bicara," ujar Byakta meminta izin. Tiba-tiba semua mata menatap ke arahnya kecuali Zeevana.
"Silahkan," ujar Abah Sa'id tersenyum.
"Di perusahaan, ada peraturan yang melarang suami istri untuk berkerja dalam satu divisi. Bagaimana?. Khususnya pendapat dari Zee sendiri," toleh Byakta ke arah Zeevana. Dia ingin tahu apa pendapat dari gadis itu jika mereka jadi menikah.
"Iya, benar. Karena itu salah satunya harus mengundurkan diri jika sampai menikah," ujar Satrio menegaskan.
"Sebagai istri yang baik, ya harusnya di rumah saja," timpal abah Sa'id cuek. Dia tidak mau mendengarkan alasan apapun juga.
"Abah, tapi Zee masih ingin bekerja." Akhirnya Zeevana buka suara juga. Percuma saja dia sekolah tinggi-tinggi kalau harus berdiam diri di dalam rumah.
"Begini saja, biar Zee tetap bisa bekerja dalam satu divisi hingga kontrak kerjanya selesai. Pernikahan mereka kita adakan secara tertutup saja," bela Arya memberi usul.
"Benar, karena ada kemungkinan Bram akan melepas jabatannya dan akan digantikan oleh Byakta. Setelah itu baru kita adakan acara resepsi pernikahannya," tambah Satrio.
"Ya, baiklah. Mungkin memang sudah jodoh anakku berada di lingkungan orang bisnis dan dia menjadi wanita karier," ucap Abah Sa'id menyerah. "Bulan depan akad nikahnya akan kita langsungkan," lanjut Abah memutuskan.
Zeevana begitu kaget mendengarkan ucapan abahnya. 'Bulan depan??. Itukan dua minggu lagi abah!!,' jerit hati Zeevana.
***
Di dalam kamarnya yang tenang, Zeevana menutup wajahnya dengan bantal. Namun hatinya tetap saja tidak bisa tenang.
'Ya Allah. Apakah memang dia cerminan jodoh hamba?,' gumam Zeevana.
Kakaknya, Zelva menikah dengan Faruq, kepala pondok pesantren Al Mutaqien sedangkan Zainab menikah dengan Qomar, tenaga pengajar di pesantren Al Madinah.
__ADS_1
'Kenapa abah mau menikahkan aku dengan laki-laki yang minim pemahaman tentang agama?. Bagaimana dia bisa menjadi imamku?. Aku ingin memiliki suami yang pemahaman agamanya baik. Walaupun aku bekerja di perusahaan besar, aku tetap bisa menjaga pergaulanku dengan lawan jenis. Tapi kenapa aku kok tiba-tiba mau saja ikut dengan si kulkas itu ke mall. Aaargh.'
Zeevana duduk dan melemparkan bantalnya ke sembarang tempat. Dia benar-benar kesal karena Abahnya tidak mau mendengarkan penjelasannya.
"Ini semua gara-gara Byakta menyebalkan itu!!!. Kalau aku tidak mengikuti perintahnya, semua ini tidak akan terjadi" gumam Zeevana geram.
"Zeevana ... Zeevana, kamu juga kenapa **** sekali. Mau saja menemaninya ke mall. Kamu tidak ingat dengan komitmenmu dengan Abah. Jangan-jangan kamu malah menyukainya. Tidak ... tidak!!!" dialog Zeevana kepada dirinya sendiri.
Pagi yang cerah
Fatimah mengeryitkan dahinya melihat Zeevana belum keluar juga dari kamarnya. "Sudah siang. Apa tidak kerja,?" gumam Fatimah. Akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan putri bungsunya itu.
Tok.Tok.Tok.
"Zee!!," panggil Fatimah sembari mengetuk pintu kamar Zeevana.
Setelah tiga kali tidak ada sahutan dari dalam. Fatimah pun langsung membuka knop pintu yang tidak dikunci oleh anaknya.
"Masya Allah, Zee!!. Kok, masih tiduran" Fatimah membuka gorden kamar sehingga membuat mata Zeevana menjadi silau. Zeevana menggeliat di tempat tidurnya.
"Apaan sih, umi. Kayaknya bahagia sekali punya calon menantu tajir." Zeevana bangun dari ranjang dan melihat ke arah jam di dinding.
"Astaghfirullah!!! Aku bisa terlambat ini," jerit Zeevana turun dari ranjang. Dia pun bergegas mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ritual mandinya dilakukan sangat ekspress. Belum lagi harus menata jilbab segi empat yang selalu dia kenakan ketika bekerja, juga membutuhkan waktu. Zeevana meraih tas dan kunci mobilnya. Dia pun segera meluncur ke kantor tanpa sarapan.
***
"Pagi semuanya," sapa Byakta ketika memasuki ruangan divisi keuangan. Dia melirik kubikel Zeevana yang masih kosong.
"Pagi juga, Pak," balas semuanya.
Byakta melirik jam di tangannya, waktu menunjukkan jam delapan tepat.
Vera dan Mike sudah saling lirik melihat Byakta berdiri tepat di depan kubikel Zeevana.
"Ke toilet lagi," ujar Byakta dengan tatap mengarah ke kubikel Zeevana. Laki-laki tampan itu kemudian masuk ke dalam ruangnya tanpa ekspresi.
"Ke, Zeevana ke mana?. Tumben sudah jam delapan lewat, kok dia belum nonggol, buruan chat. Bisa disembur habis dia oleh Bos kutub," bisik Vera kepada Mike.
__ADS_1
"Iya..iya sabar, Say." Mike gelagapan meraih ponselnya.
"Apa balasannya?," tanya Vera tidak sabaran.
"Dia bangun kesiangan, tapi sekarang sudah ada di parkiran," jawab Mike.
"Eh, nggak biasanya tuh anak kesiangan," pikir Vera heran.
Tak lama Zeevana muncul dari balik pintu dengan napas ngos-ngosan.
"Assalamualaikum," sapa Zeevana lalu mengatur napas kembali.
"Waalaikumsalam. Kok, tumben kamu kesiangan?," tanya Mike pelan sembari Zeevana menuju kubikelnya.
"Ya, kesiangan saja. Apa harus pakai alasan?," jawab Zeevana cuek.
"Sebentar lagi kamu dipanggil bos, tuh. Diintrogasi kenapa sampai datang terlambat," ujar Vera menakuti Zeevana.
Satu jam. Dua jam. Mereka semua menanti panggilan terhadap Zeevana. Tapi tak kunjung datang juga.
"Wah, kamu kayaknya selamat hari ini, Zee. Mungkin bos lagi sibuk. Buktinya dia nggak keluar-keluar dari ruangannya," ujar Mike.
'Alhamdulillah, dia nggak memanggilku,' batin Zeevana. Dia menarik napas lega.
***
"Aku harus bersikap bagaimana dengannya selama menunggu hari-H tiba?," tanya Byakta di balik ponsel. Dia sedang menelpon Bram.
"Mas usahakan jangan terlalu sering berinteraksi dengannya. Supaya karyawan lain nggak curiga," jawab Bram memberi saran.
"Oke. Hari ini dia datang terlambat. Apa aku harus memarahinya?," tanya Byakta lagi meminta pendapat Bram.
"Nggak usah, nanti dia tambah ilfiil dengan Mas. Udah calon istri juga, mau dimarah segala," goda Bram sambil tersenyum geli.
"Oke," Byakta akhirnya menyetujui semua saran dari Bram agar Zeevana tambah penasaran dengannya.
Makanya Byakta tidak memanggil Zeevana untuk menanyakan alasan mengapa dia sampai datang terlambat.
__ADS_1