Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 23 Masa Intropeksi Berakhir


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu, Zeevana sudah tidak tahan lagi melihat sikap Shindi yang berusaha terus mendekati Byakta. Makan siang delivery selalu mampir ke ruangan Byakta. Beberapa bingkisan, mungkin sepatu atau baju dan sebagainya selalu ada yang mengantarkannya atas nama Shindi ke ruangan Byakta.


Zeevana tidak pernah masuk ke ruangan Byakta selama masa introspeksi diri. Zeevana juga malas untuk makan di kantin. Dia lebih suka makan di ruangannya karena membawa sendiri cemilan dan buah dari rumah untuk mengganjal perutnya.


"Zee, kamu kenapa?. Sudah tiga hari ini tidak mau makan di kantin?," tanya Mike heran. Biasanya dia semangat kalau diajak makan di kantin.


"Bosan saja menunya yang itu-itu saja," jawab Zeevana asal.


"Benar juga, sih. Sekali-sekali kita makan ke tempat Mang Etan lagi, yuk," ajak Mike bersemangat.


"Setujuuu. Kapan?," sosor Vera ikutan semangat.


"Yeay, Mba Ve rupanya menguping juga," ujar Mike terkekeh.


"Kapan-kapan lah. Kita cari hari yang tepat," balas Zeevana tersenyum.


"Eh, gila banget ya. Bu Shindi kok agresif banget. Pak By banyak banget dapet kado dari Bu Shindi," celetuk Vemy tiba-tiba membahas manajer Humas itu.


"Kira-kira Pak By masih suka dengan Bu Shindi nggak, ya?," tanya Mike tampak sambil berpikir.


"Kayaknya masih suka, deh. Buktinya kado-kado itu diterima oleh Pak By. Iya nggak," sela Vera.


Hati Zeevana mulai memanas ketika mendengarkan ucapan teman-temannya.


'Mungkinkah Mas By masih menyukai Bu Shindi?. Terus bagaimana dengan perasaanku?,' jerit hati Zeevana.


💞💞💞


"Zee," panggil Bram ketika berpapasan dengan Zeevana ketika keluar dari pintu lift. Bram mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift.


"Mau apa?," tanya Zeevana malas bertemu muka dengan Bram.


"Kita bicara sebentar, bisa?," tanya Bram memelas.

__ADS_1


"Di mana?," tanya Zeevana.


"Kita ke kantin saja, sekalian aku mau ngopi," ajak Bram. Zeevana setuju dengan ajakan Bram kemudian dia mengiringi langkah kaki Bram menuju ke kantin.


"Ini semua salahku, Zee. Mas By benar-benar tidak tahu soal foto-foto itu. Waktu itu aku tidak sengaja melihat kalian berdua berada di parkiran. Aku lalu berinisiatif mengikuti kalian untuk mengetahui  sebenarnya kalian mau pergi ke mana. Lalu aku punya ide untuk mengambil foto kalian berdua," jelas Bram jujur.


"Dasar!!. Kamu itu suka kepo urusan orang," omel Zeevana membuang muka.


"Mas By cerita kepadaku kalau dia mulai menyukaimu. Namun dia tidak bisa bersikap manis dengan kamu, Zee. Karena dia sudah terlanjur bersikap galak sama kamu sejak awal kalian bertemu. Jadinya dia jaim banget. Namun dia sempat kecewa pernah mendengar dari mulut kamu langsung kalau kamu tidak tertarik untuk mendaftar menjadi istrinya jika Mas By buka pendaftaran untuk mencari istri," lanjut Bram menceritakan curhat dari Byakta dulu.


Zeevana menahan senyumnya. Dia ingat dengan ucapannya itu.


"Memang. Dari awal bertemu, dia memang sudah menyebalkan," ujar Zeevana sebal.


"Dia masih suka sama Bu Shindi, kan?. Cinta lama yang sempat tertolak," sindir Zeevana melanjutkan kalimatnya.


"Kamu tahu juga soal itu?," tanya Bram tidak percaya.


"Bukan rahasia umum. Seantero perusahaan ini mungkin sudah tahu," jawab Zeevana datar.


Zeevana terperangah. Dia sama sekali tidak tahu akan hal itu.


"Kami tidak satu rumah untuk sementara ini. Jadi aku nggak tahu apa aktivitasnya di luar rumah," sanggah Zeevana.


"Dia sedang berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk kamu, Zee. Mas By tidak mau mengecewakan Abah. Meskipun dia telah berusaha, Mas By hanya manusia biasa yang tentunya masih punya banyak kekurangan. Tapi terserah kamu, Zee. Yang penting aku sudah memberitahu kamu tentang hal yang sebenarnya," jelas Bram lagi menyerah semua keputusan kepada Zeevana. Dia tahu kalau Byakta sekarang tinggal di apartemennya.


"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku mau kembali ke kantor," ucap Zeevana berdiri dari kursi. Bram hanya mengangguk. Dia masih duduk di kantin untuk menghabiskan kopinya yang masih separuh itu.


💞💞💞


Rencananya malam ini Byakta mau mencari makan di luar. Setiap hari, dia makan sendirian, nafsu makannya jadi berkurang. Dia benar-benar merindukan kehadiran Zeevana di sisinya.


"Zeevana tidak akan memikirkan aku. Dia pasti sedang sibuk mencatat orderan dan tagihan utangnya," gumam Byakta tersenyum miris.

__ADS_1


Si Ratu Kredit. Byakta ingat pertama kali melihat suasana kantor yang ramai seperti pasar karena ulah Zeevana. Byakta tersenyum membayangkan wajah tidak suka Zeevana ketika dia memarahi istrinya itu.


Byakta kemudian mengambil kunci mobil dan siap-siap berangkat untuk mengisi perut.


Ketika membuka pintu apartemennya, dia begitu kaget melihat ada sosok wanita berdiri di hadapannya. Mereka bertemu pandang. Byakta pun terpenjara dalam tatapan matanya.


'Apakah dia sudah tidak sabar lagi ingin memberitahukan keputusannya hingga dia datang menemui ku langsung. Apakah cintaku akan berakhir di sini?,' tanya batin Byakta penasaran sambil menatap wanita berjilbab yang berdiri di hadapannya.


"Zee!," lidah Byakta keluh masih menatap wanita yang begitu dia cintai.


"Mas!!." Zeevana tiba-tiba langsung memeluk erat Byakta. Laki-laki tampan itu terpaku sejenak membiarkan badannya dipeluk Zeevana.


'Kenapa dia memelukku?. Apakah ini pelukan perpisahan?. Ah, lupakan.' Byakta lalu membalas pelukan Zeevana.


"Mas, aku mencintaimu," ucap Zeevana pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Byakta. Kalimat Zeevana itu pun membuat hati Byakta bergetar. Semburat senyum terlihat di bibirnya.


"Zee, aku juga mencintaimu. Jangan pernah meragukan cintaku," balas Byakta sambil mengecup puncak kepala istrinya itu.


Byakta kemudian menutup pintu dengan posisi masih memeluk erat Zeevana.


"Tapi kenapa Mas menerima semua hadiah dari Bu Shindi, gebetan Mas dulu," ujar Zeevana merajuk.


"Zee, Mas tidak pernah menerimanya. Kado-kado darinya masih terbungkus rapi di dalam kantor Mas. Itu masa lalu, Sayang. Masa depan Mas itu kamu," ujar Byakta mengurai pelukannya sambil menatap Zeevana mesra. Zeevana tersenyum malu.


"Hmm. Mas mau ke mana udah rapi begini?," tanya Zeevana melihat Byakta yang memakai kaos lengan panjang dan celana jeans denim.


"Mau cari makan di luar karena istrinya nggak sempat masak," sindir Byakta.


"Aww," teriak Byakta sambil meringis karena Zeevana sudah mencubit dadanya.


"Tapi sebelum cari makan, menu pembuka di depan mata ini sayang untuk dilewatkan," goda Byakta mendekatkan wajahnya lalu memagut bibir Zeevana.


Rindu yang masing-masing menggebu di antara dia dan Zeevana terlampiaskan malam ini. Makan malam menjadi tertunda karena menikmati kehangatan cinta yang mulai menyala kembali.

__ADS_1


"Pakai jaketnya," ujar Byakta sambil  memberikan jaketnya kepada Zeevana.


Hmm, mandi malam telah membuat Zeevana kedinginan. Byakta dan Zeevana kemudian berburu kuliner malam untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.


__ADS_2