Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 6 Kena Sembur Lagi


__ADS_3

"Ugh, siapa lagi yang memberikan katalogku kepada Pak Byakta. Benar-benar ngeselin nih orang," omel Zeevana sambil menulis orderan.


"Astaghfirullah!!," Zeevana menepuk jidatnya. "Pesanan dia belum aku kirim. Bagaimana ini?. Mana sempat lagi kalau pesan sekarang. Barang sampai bakalan lewat hari minggu ini," Zeevana menggigit bibirnya. Bisa kena sembur, nih.


Keesokan paginya.


Zeevana memarkirkan mobilnya dengan pelan. Seakan tidak ada tenaga dia membuka pintu mobilnya.


"Woi, kenapa?. Kayak kurang gizi aja," senggol Mike menghampiri Zeevana.


"Rasanya aku malas sekali ke kantor hari ini," ujar Zeevana tidak bersemangat.


"Lagi dapet?," tanya Mike.


"Nggak, Ke. Males ketemu Bos tahu nggak," jawab Zeevana asal.


"Yaelah, kalau aku mah malah semangat mau ketemu bos setiap hari. Bos ganteng idaman kaum hawa siapa tau dia kepincut denganku," ujar Mike ganjen.


Zeevana memonyongkan bibirnya. "Kepedean kamu."


"Berharapkan boleh, Say. Apalagi dia masih jomblowan," ujar Mike.


"Terserah kamu, Ke," ujar Zeevana menyerah.


"By the way kamu nggak bawa jualan?," tanya Mike. "Yang katanya mau obral barang kemarin mana?."


"Kamu nggak baca grup, ya?. Udah aku upload semalam. Dan udah ludes tahu nggak," jelas Zeevana


"Yah, jadi aku ketinggalan, nih. Gara-gara ketiduran ini," ujar Mike sedih.


"Tumben kamu, Ke. Biasanya juga paling cepet komen di grup," ucap Zeevana heran.


Zeevana berjalan meninggalkan parkiran, pikirannya kacau bagaimana dia harus menghadapi bosnya nanti.


***


"Pagi, semuanya," sapa Byakta sambil memasuki kantor divisi keuangan.


"Pagi, Pak," balas mereka serempak.


Byakta mengamati mereka semua, pandangannya berhenti tepat di kubikel Zeevana yang masih kosong.


"Em.. Zeevana lagi ke toilet, Pak. Katanya mules tadi," ujar Vera seakan tahu arti tatapan Byakta. Laki-laki berpenampilan rapi itu hanya mengangguk sedikit lalu masuk ke ruangannya.


"Oya, kalau Zeevana sudah kembali, suruh langsung ke ruangan saya," tolehnya sebelum menghilang di balik pintu.


"Siap, Pak," sahut Mike.


Mike melihat Zeevana berjalan pelan menuju kubikelnya. "Eh Zee, kamu dipanggil Pak By," ujar Mike memberitahu.


"Langganan banget kamu Zee dipanggil Bos," sela Onni.


"Nggak apa Mas Onni, yang penting aku dipanggil bukan karena ada masalah. Tapi mau dapet orderan," balas Zeevana tersenyum.


"Dasar ratu kredit!," celetuk Onni.


"Biarin wee,"

__ADS_1


Zeevana mengetuk pintu ruangan Byakta. Setelah ada perintah masuk Zeevana membuka knop pintu.


"Ada apa, Pak?. Katanya Bapak mamanggil saya," tanya Zeevana setelah berada di hadapan Byakta.


"Sepatu saya sudah datang?," tanya Byakta.


'Kenapa wajahnya tidak ceria begitu. Apa dia sakit?,' batin Byakta sambil memperhatikan wajah Zeevana.


"Emm. Maaf, Pak. Sepatu pesanan Bapak belum saya pesankan," jawab Zeevana pelan tidak berani menatap atasannya.


Rasanya Byakta mau marah, tapi dia ingin mendengarkan alasan Zeevana  terlebih dulu setelah itu baru dia akan meluapkan amarahnya.


"Maksudnya?. Bisa diperjelas lagi, kenapa itu bisa terjadi?" ujar Byakta penuh penekanan dengan mimik wajah, tentu saja menahan marah.


"Beneran Pak, saya minta maaf. Di katalog sepatu yang bapak pesan, tidak tertulis nomor sepatu Bapak. Jadi saya cancel dulu," jawab Zeevana sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Kamu kan bisa telpon saya untuk menanyakan itu?," ujar Byakta kesal mendengarkan alasan Zeevana.


"Saya tidak tahu nomor telpon Bapak," balasnya.


"Catat nomor saya!!," teriak Byakta.


"Cepat!!"


'Buat emosi saja. Jangan-jangan hanya alasan dia saja. Masa nggak tahu nomor telpon bos sendiri,' gerutu Byakta di dalam hatinya.


"I...iya, Pak," Zeevana dengan cepat mengeluarkan ponselnya lalu mencatat nomor telpon yang Byakta sebutkan.


"Kamu tahu?. Sepatu itu mau saya pakai lusa nanti," ucap Byakta.


"Tapi Bapak kan bisa pakai sepatu lain dulu," ujar Zeevana tidak mau disalahkan.


"Ke mana, Pak?," tanya Zeevana.


"Cari sepatu!," jawab Byakta.


"Berdua saja, Pak?," tanyanya lagi.


"Ya iyalah. Lagian ngapain juga mau ngajak temen-temen bawel kamu segala," jawab Byakta asal.


Byakta melihat wajah Zeevana hanya ditekuk. Gadis itu kemudian permisi kembali ke kubikelnya.


'Belum tahu dia siapa Byakta,' Byakta tersenyum melihat punggung Zeevana menghilang di balik pintu.


***


Selesai meeting Byakta melewati kubikel Zeevana. Mampir ke ruangannya sebentar untuk mengambil kunci mobil.


"Ayo, buruan nggak pakai lelet," ujar Byakta melewati lagi kubikel Zeevana.


"Iya Pak, sabar," sahut Zeevana.


"Zee mau ke mana kamu sama bos?," bisik Vera.


"Nanti saja aku kasih tahu nanti dia ngomel lagi," balas Zeevana berbisik.


"Zeevana!!," teriak Byakta memanggil Zeevana untuk segera meninggalkan kubikelnya.

__ADS_1


"Iya, Pak!!," Zeevana pun balas berteriak sambil mengejar langkah Byakta.


'Ini akibatnya jika kamu meremehkan orderan Byakta Aryasatya. Bukan alasan kalau hanya tidak tahu nomor telpon bos sendiri,' omel Byakta dalam hati.


"Duduk di depan, Zeevana!," teriak Byakta ketika melihat gadis itu hendak membuka pintu mobil bagian belakang.


"Saya nggak enak, Pak," tolaknya.


"Ini perintah, cepat!," pelotot Byakta.


Zeevana mengerucutkan bibirnya tidak suka dengan ucapan Byakta. 'Mau minta dicium apa tuh bibir, bikin gemas saja,' batin Byakta.


Dengan enggan Zeevana membuka pintu depan dan duduk di samping Byakta.


"Bapak kan bisa beli sendiri," gumam Zeevana pelan namun Byakta masih bisa mendengarkannya.


"Semua ini kan gara-gara kamu juga," ujar Byakta mencari alasan.


"Iya. Semuanya saya yang salah. Bawahan mah nggak ada yang benar di mata bos," balas Zeevana manyun.


"Kamu itu cuma diminta menemani bukan bayarin. Kok, ngomel saja," toleh Byakta namun tetap fokus menyetir mobil.


Zeevana pun langsung menutup mulutnya dengan tangan.


Setelah mengajaknya berkeliling di mall dan mencoba beberapa sepatu di toko langganannya. Byakta mengajak Zeevana ke bagian kemeja pria. Sejak masuk ke dalam mall, Zeevana berjalan mengekor di belakang Byakta, kadang dengan jarak yang jauh sampai ketika Byakta menoleh ingin mengajaknya bicara eh tahunya orang lain. Bikin malu aja.


"Pak, kok ke sini juga. Kan kata Bapak cuma mau beli sepatu," protes Zeevana.


"Sekalian, mumpung di sini. Nggak usah protes!," ujar Byakta galak sambil memegang kemeja bergaris-garis berwarna navy dan marun.


"Bagus yang mana?," tanya Byakta  meminta pendapatnya.


"Bapak nanya saya?," tunjuk Zeevana ke arah dirinya sendiri.


"Nggak, saya lagi nanyain mannequinnya," jawab Byakta asal.


'Eh, dia malah melonggo. Dikiranya aku beneran ngomong sama mannequin dan tatapannya seolah mengatakan bahwa aku tidak waras,' batin Byakta dongkol.


"Bapak kok aneh?," ujarnya dengan wajah tanpa dosa.


"Zee, otak kamu pentium berapa, sih?," balas Byakta sambil menunjuk pelipis Zeevana dengan jari telunjuknya.


"Hah," Zeevana kaget. Dia belum nyambung juga.


"Lemot!!," ujar Byakta kesal.


"Begini-begini saya bawahan Bapak, lho," balas Zeevana tidak terima.


"Iya, tapi lemotnya jangan kebangetan. Malu saya punya bawahan kayak kamu," ujar Byakta.


"Terserah!!. Lagian ngapain juga Bapak minta pendapat saya," balas Zeevana lagi.


"Apa kamu harus menjadi istri saya dulu, baru bisa meminta pendapat kamu?," tanya Byakta melihat Zeevana. Gadis itu pun menoleh ke arah Byakta  dengan kaget.


"Oh.. makasih, Pak. Kalau pun Bapak buka pendaftaran mencari calon istri. Saya orang pertama yang akan menolak untuk ikutan," jawab Zeevana.


Byakta tidak percaya mendengar jawabannya. 'Secara tidak langsung dia menyatakan dirinya tidak tertarik denganku. Hm, kita lihat saja nanti Zeevana,' batin Byakta kesal.

__ADS_1


"Oke. Saya juga tidak butuh pendapat kamu," ujar Byakta sambil mengambil kemeja marun kemudian berjalan meninggalkan Zeevana yang masih bengong mendengarkan ucapan Byakta barusan.


__ADS_2