
Byakta kini baru menyadari betapa berat tugas Zeevana sebagai seorang istri. Dia telah mengasuh baby Am seharian. Baru semalam saja Byakta menjaga baby Am, dia sudah kurang tidur. Akibatnya ketika berada di kantor, kepalanya terasa pusing sekali. Wajar saja jika Zeevana emosinya sangat labil karena dia mengalami hal itu setiap hari.
Huft. Byakta menyandarkan badannya ke kursi. Rasa kantuk menyerangnya. Tak lama matanya terpejam efek dari bergadang menjaga baby Am. Byakta tertidur di kursi kerjanya.
Bayu, sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
"Pak By, ada berkas yang perlu...," panggilan Bayu terpotong ketika melihat atasannya.
Bayu yang masuk ke ruangan CEO begitu kaget melihat atasannya itu sudah tertidur, padahal masih pagi.
"Aku bangunkan tidak, ya?," pikir Bayu sambil meletakkan berkas yang harus ditandatangani oleh Byakta di atas meja kerjanya.
"Ah, tidak usahlah. Kasihan Pak By. Sepertinya dia mengantuk sekali sampai ketiduran begitu," gumam Bayu sambil melihat atasannya begitu nyenyak walau hanya bersandar di kursi kerjanya.
Bayu memutuskan untuk keluar dari ruangan Byakta, yang penting berkas tadi sudah dia letakkan di atas meja Byakta.
Hampir satu jam Byakta terlelap tidur di ruangannya.
"Astaghfirullah!."
Byakta mengusap wajahnya lalu meraih ponselnya dan membaca pesan dari Bayu bahwa ada berkas yang harus dia tanda tangani di atas meja.
Byakta meraih map yang ada di atas meja kerjanya. Setelah selesai menandatangani berkas tersebut, Byakta keluar dari ruangannya menuju ke kantin. Mungkin secangkir kopi hangat bisa menghilangkan rasa kantuknya yang bisa saja akan menyerangnya kembali.
"Mas Bayu, Pak By ke mana?," tanya Mike ke ruangan CEO tapi yang ditemuinya hanya sekretaris Byakta.
"Lagi di kantin ngopi," jawab Bayu.
"Lho, tumben Bos sudah ngopi," ujar Mike tidak percaya. Setahu dia selama menjadi manajer keuangan, Byakta jarang sekali ngopi.
"Kayaknya semalam bergadang menjaga baby Am," jelas Bayu. Mulut Mike hanya membentuk huruf O.
"Aku titip Mas Bayu aja, yah," ujar Mike sambil mengeluarkan amplop putih di saku blezernya.
"Apa itu?," tanya Bayu.
"Uang angsuran hutang dari teman-teman Bu Zee untuk bulan ini, Mas. Bu Bos kan masih cuti, jadi kita titip sama Pak Bos aja, yah," jawab Mike sambil menyodorkan amplop tadi kepada Bayu.
__ADS_1
"Oke, nanti saya sampaikan," ucap Bayu menerima amplop pemberian dari Mike.
"Makasih ya, Mas." Mike berlalu dari ruangan CEO dan kembali lagi ke ruangannya.
"Walaupun sedang cuti bisnisnya tetap jalan. Hmm. Salut saya dengan istri Pak By," gumam Bayu tersenyum kemudian menyimpan amplop titipan dari Mike.
💞💞💞
Byakta pulang lebih awal dari biasanya. Tiba-tiba dia merasa kangen dengan anak dan istrinya.
"Lho, Mas kok pulang cepat?," tanya Zeevana.
Zeevana heran melihat suaminya langsung membuka kemeja dan kaos dalamnya sehingga menampakkan perut ratanya. Di ruang tengah tadi Byakta sudah mencium pipi tembam baby Am yang sedang di gendong mamanya.
"Kangen sama baby Am," jawab Byakta mendekati Zeevana yang baru keluar dari kamar mandi dan masih berbalut handuk saja.
"Kata mama bukannya kamu lagi tidur," ujar Byakta menatap Zeevana yang tampak menggoda matanya.
"Ya udah bangunlah, Mas. Pakaianku tadi terkena pipis baby Am jadi sekalian saja mandi," jelas Zeevana.
"Anaknya sudah dicium. Sekarang giliran uminya, nih," tatap Byakta kemudian menarik pinggang Zeevana ke pelukannya.
"Mas, jangan tidur dulu. Tanggung, sebentar lagi Ashar, lho," ujar Zeevana menggelung rambutnya dengan handuk. Dia sudah mandi untuk yang kedua kalinya. Sementara Byakta masih berbaring di balik selimut.
"Iya, Sayang," sahut Byakta tersenyum sambil memandang wajah putih istrinya.
"Kenapa?. Kok, Mas senyum-senyum begitu?," tanya Zeevana.
"Yang, ambilkan handuk dulu," pinta Byakta.
Zeevana kemudian menyerahkan handuk yang barusan dipakainya kepada Byakta. Laki-laki dengan tubuh atletis itu lantas bangun dari ranjang dan berdiri tepat di hadapan Zeevana.
"Maaf ya, Sayang. Mas sudah membuatmu harus mandi dua kali," bisik Byakta tersenyum geli.
Zeevana tertawa kecil melihat suaminya berlalu ke kamar mandi. Adzan sholat Ashar sudah berkumandang. Zeevana keluar dari kamar untuk mengambil anak mereka yang sudah lama diasuh oleh mama mertuanya.
💞💞💞
__ADS_1
Sambil santai di sofa kamar, Byakta menyempatkan diri untuk membaca buku sebelum tidur. Sekalian juga dia menemani istrinya yang sedang menidurkan baby Am. Zeevana berbaring menyamping sambil menyusui baby Am.
"Oh iya, Yang. Hampir saja Mas lupa. Ada titipan dari Mike," ujar Byakta berdiri lalu mengambil amplop putih dari dalam tas kerjanya.
"Apa itu, Mas?," tanya Zeevana heran.
Zeevana memang belum sempat membuka ponselnya. Pasti Mike sudah mengirim chat perihal titipan itu.
"Buka saja sendiri," ujar Byakta sambil menyerahkan amplop itu.
"Mas aja, tolong bukakan. Apa sih isinya?," pinta Zeevana.
Byakta pun menuruti permintaan istrinya untuk membuka amplop titipan dari Mike tadi.
"Isinya uang, Yang," ucap Byakta memberi tahu Zeevana.
"Hmm, pasti ini uang angsuran kredit, kan?," sambung Byakta tersenyum sambil menatap istrinya.
"Iya, Mas." Zeevana tertawa kecil.
"Ternyata mereka tetap membayar meskipun aku sedang cuti," sambung Zeevana.
"Istriku ini benar-benar si Ratu Kredit, ya," ujar Byakta gemas kemudian mencubit pipi tembam Zeevana.
Ya, tubuh Zeevana memang sedikit melar sehabis melahirkan. Itu juga karena Byakta memaksa istrinya itu untuk makan banyak agar ASI-nya lancar dan banyak untuk baby Am. Tapi kenyataannya ASI Zeevana tetap kurang untuk baby Am.
"Aww!!. Sakit, Mas!!," teriak Zeevana lalu dia pun nyengir kuda memandang Byakta.
"Kamu tetap akan mengkreditkan barang walaupun sudah punya suami seorang CEO?," tanya Byakta ingin tahu.
Dia penasaran apakah istrinya itu tetap akan menjalankan hobinya untuk membeli barang-barang kemudian menjualnya kembali kepada teman-temannya dengan cara dikreditkan.
"Iya, dong. Itu kan hobi umi Amzari," ujar Zeevana tersenyum.
Byakta pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia akan mendukung hobi Zeevana itu. Bukankah itu hobi yang positif. Asalkan tidak mengganggu tugasnya sebagai ibu untuk mengasuh baby Am dan sebagai seorang istri.
Dulu Byakta sangat risih dengan aktivitas istrinya yang suka berjualan di kantor. Hingga sikapnya yang tidak bersahabat dengan Zeevana, membuat istrinya itu tidak menyukainya. Kini dia telah berdamai dengan Zeevana, si Ratu Kredit. Karena sekarang, wanita itu telah menjadi ratu di hatinya.
__ADS_1
END