
Zeevana masih berada di dalam kamarnya. Dia belum berangkat bekerja juga, sementara Byakta sudah pergi lebih dulu. Mereka berdua masih pergi ke kantor menggunakan mobil sendiri-sendiri.
'Aduh bagaimana ini, ya?. Kok kalau mau berjalan agak sedikit sakit. Teman-temanku nanti curiga nggak, ya,' batin Zeevana mengingat semalam dia sudah menjadi istri Byakta seutuhnya. Apalagi hal itu baru pertama kali dia lakukan. Sakitnya masih terasa meskipun Byakta sudah memperlakukannya dengan lembut.
Zeevana kemudian coba menghubungi Bella. Sepupunya itu kan sudah menikah duluan dan sudah berpengalaman soal begitu. Jadi tidak tabu jika berbicara tentang hal itu kepadanya.
[Bel, bagaimana?. Kamu dulu memang seperti itu juga, ya?]
Zeevana menelpon Bella dan menceritakan keluhannya setelah bermalam dengan Byakta.
[Astaga, Zee. Jadi, kamu baru bercinta sama Byakta. Oh My God, Zeevana!!. Kasihan sekali suami kamu sudah menunggu sebulan lebih]
[Diam saja, bawel]
Terdengar suara tawa Bella di seberang sana.
[Iya, Zee. Memang kayak gitu, kok. Kamu baru sekali melakukannya, tapi kalau sudah berkali-kali nggak sakit lagi, deh. Malah bikin ketagihan, tahu nggak. Hahaha]
Zeevana senyum-senyum saja mendengarkan suara Bella tertawa geli.
[Wajar saja anak kamu rapat sekali jarak lahirnya. Ternyata kamu yang genit, Bel]
[Ihh, pake ngeledek segala. Belum ngerasain kamu Zee, punya suami ganteng, CEO pula. Pasti banyak yang melirik. Nah, aku nggak mau Bram berpaling ke lain hati. Jadi aku membuatnya selalu membayangkan ku dan ingin cepat pulang. Hihihi]
[Ya Allah, Bella!!]
Zeevana berteriak histeris membayangkan bagaimana Bella merayu Bram.
[Kamu tuh harus hati-hati, secara Byakta ganteng begitu. Apalagi kalau dia sudah mengantikan Bram menjadi CEO. Wah, jangan kelamaan, deh. Semua karyawan harus tahu kalau dia itu suami kamu, Zee]
[Udah dong, Bel. Jangan menakut-nakuti aku]
Bella tertawa cekikikan mendengar suara Zeevana yang tampak cemas dan takut.
[Zee, jangan bilang kalau kamu sudah jatuh cinta dengan dia?]
[Nggak tau!!]
Zeevana masih mengelak. Dia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang terhadap Byakta.
Zeevana kemudian mengakhiri telponnya dengan Bella karena ada panggilan masuk lainnya. Dia terkejut melihat nama yang ada di layar ponselnya.
"Mas, By!."
Zeevana menggigit bibirnya. Dilihatnya waktu sudah hampir jam 9 dan dia masih berada di kamar.
[Assalamualaikum, Mas] sapa Zeevana gugup.
[Waalaikumsalam. Zee, kamu ada di mana?. Kok, belum kelihatan di kantor?]
__ADS_1
[A...aku masih di kamar, Mas] jawab Zeevana pelan.
[Apa!. Kamu mau bolos?]
Byakta tampak terkejut mendengarkan jawaban istrinya itu.
[Mas...aku. Aduh, bagaimana ya bilangnya]
Zeevana salah tingkah sendiri. Dia masih malu dengan Byakta.
[Kamu kenapa?. Tinggal bilang saja.]
[Hmm. Kalau mau jalan, aku kurang nyaman, Mas. Masih sakit karena semalam kita sudah...]
Byakta sudah senyam-senyum sendiri mendengarkan alasan istrinya itu.
[Oh, ya sudah. Kamu istirahat saja di rumah. Nanti aku akan mencari alasan kenapa kamu sampai nggak masuk]
[Iya, Mas terima kasih]
[Zee]
[Ada apa?]
[Jadi kangen tidak melihat kamu di kantor]
[Apa, Mas??]
Byakta meletakkan ponselnya di atas meja ketika Anita masuk ke ruangannya.
Zeevana pun melihat sambungan telpon dari Byakta sudah terputus.
'Apa dia bilang tadi?. Kangen?,' gumam Zeevana lalu tersenyum melihat layar ponselnya. Wajahnya tiba-tiba terasa menghangat.
💞💞💞
Di kantor
Mike melirik kursi kerja di kubikel Zeevana tampak kosong tidak ada penghuninya.
"Ke mana nih anak, tumben nggak masuk," ujar Mike.
"Apa Zeevana tidak jadi mentraktir Bos ke restoran mewah, ya?," tanya Vemy penasaran. Zeevana itu karyawan yang sangat rajin. Makanya kalau dia bolos atau datang terlambat menjadi pertanyaan bagi teman-temannya.
"Kalau feeling aku, nih. Zee tidak jadi mentraktir Bos. Makanya dia takut datang ke kantor. Takut kena semprot Pak By," tebak Vera berasumsi.
"Bisa jadi, sih." Mike ikut mengiyakan.
Byakta keluar dari ruangannya ketika mendengar ada suara-suara obrolan di luar ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa ini?. Kenapa kalian berisik sekali?," tanya Byakta menatap tajam mereka.
"Maaf, Pak," jawab Vera menunduk.
Karyawan yang lainnya pun ikut menunduk. Mereka tidak berani membalas tatapan tajam Byakta. Byakta menyunggingkan senyum melihat mereka.
"Ke mana teman kalian yang satu itu?," tanya Byakta pura-pura tidak tahu.
"Nggak tahu, Pak. Memangnya Zee nggak izin dengan Bapak?," ujar Mike memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak. Berani sekali teman kalian yang satu itu. Apa mau minta dipecat?," kata Byakta sedikit tegas di hadapan mereka. Mike dan yang lainnya tidak bersuara. Suasana ruangan menjadi sunyi. Byakta kemudian meninggalkan ruang divisi keuangan. Dia ingin menemui Bram di ruangannya.
"Zee benar-benar cari gara-gara dengan Bos. Pakai acara nggak izin lagi," oceh Vera.
"Sebal sih sebal. Tapi jangan berani menantang Bos, dong. Kita mah apa, hanya karyawan biasa," tambah Mike sewot.
"Itu nasib Zeevana, Mba. Kalau dia nanti sampai dipecat karena kecerobohannya sendiri," sela Vemy tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kalian berdoa saja agar Zee tidak dipecat oleh Pak By," ujar Onni ikutan nimbrung.
"Benar. Aku tidak sanggup kehilangan rekan kerja seperti Zee," sela Mike. Meskipun kadang mereka sering beradu mulut tapi tidak membuat mereka berdua menjadi musuh.
"Iya. Kalau Zee sampai dipecat. Tidak ada tempat untuk kita bisa membeli barang branded dengan harga kredit," timpal Vera.
Belum juga tahu informasi yang sebenarnya, khayalan teman-teman Zeevana sudah ke mana-mana.
💞💞💞
"Zee, kamu nggak ke kantor?," tanya Dwina mengecek ke kamar, kenapa menantunya kok belum berangkat bekerja juga.
"Mm nggak, Ma. Aku kurang enak badan," jawab Zeevana duduk di tepi ranjang.
"Ohh, jadi kalian semalam menginap di hotel dan...," selidik Dwina.
Zeevana tersenyum tidak enak dengan mertuanya, "Iya, Ma."
Dwina tersenyum melihat menantunya salah tingkah. "Biar nggak tambah sakit, kamu berendam air hangat sana. Mama juga pernah mengalaminya, kok."
"Mama!," seru Zeevana kaget.
Zeevana malu sekali sampai-sampai mertuanya tahu kalau dia baru saja menjadi istri Byakta seutuhnya.
"Mama mengerti kok, Zee. Kamu menikah dengan anak mama bukan karena pilihan kamu, kan. Tapi mama perhatikan Byakta sedikit berubah. Namanya juga belajar kan nggak bisa instan," ucap Dwina sambil menyentuh pundak Zeevana.
Zeevana mengangguk mendengarkan penjelasan mertuanya. 'Ya Allah, ternyata mama tahu atas sikapku selama ini dengan Mas By,' jerit hati Zeevana. Dia benar-benar merasa sangat malu.
"Ya sudah. Mama mau pergi arisan dulu. Kamu istirahat, ya," ujar Dwina mengusap pundak Zeevana.
Setelah Dwina menutup pintu kamar, Zeevana menelungkupkan badannya.
__ADS_1
'Ugh, bikin malu saja,' omel Zeevana kepada dirinya sendiri sambil memukul bantal.