
Pagi ini, Zeevana akan berangkat kerja satu mobil bersama Byakta. Laki-laki yang selalu tampil rapi itu sedang memakai jasnya yang berwarna hitam. Kemeja berwarna navy di dalamnya dengan dasi warna senada.
"Mas sini dulu, deh," ujar Zeevana memanggil Byakta.
Byakta pun berjalan mendekati istrinya yang juga sudah rapi, siap berangkat ke kantor. Zeevana lalu meraih dasi Byakta dan merapikannya karena tampak tidak rapi di mata wanita itu.
Byakta tersenyum sambil memandang wajah Zeevana.
"Coba dari kemarin kamu seperti ini," ujar Byakta. Zeevana memanyunkan bibirnya.
"Kenapa tuh bibir mau minta dicium," sambung Byakta geli melihat ekspresi Zeevana.
"Iih, Mas ini apaan, sih." Zeevana menurunkan tangannya setelah merapikan dasi Byakta.
"Morning kiss," bisik Byakta.
Dia kemudian meraih pinggang Zeevana agar tidak kabur dari hadapannya. Zeevana pun tersenyum malu menatap wajah tampan suaminya itu.
"Mas," panggil Zeevana mesra.
"Hmm, apa?," tanya Byakta.
"Awal menikah denganmu, aku takut jatuh cinta denganmu, Mas," cerita Zeevana sambil menatap dalam manik suaminya.
Byakta lantas tertawa kecil. Kenapa Zeevana sampai takut jatuh cinta dengannya?.
"Kenapa?," tanya Byakta.
"Karena Mas itu punya pesona yang bisa membuat setiap wanita tidak berhenti untuk menatap wajah tampan Mas," jawab Zeebana tersenyum malu.
"Kok, kamu tidak?," tanya Byakta sambik memegang dagu Zeevana.
"Mas itu menyebalkan!. Jadi aku malas lihat wajah Mas" jawab Zeevana asal.
"Jangan-jangan kamu memang sudah ngefans dengan Mas, ya?," goda Byakta.
"Enak saja!. Gede rasa amat jadi orang," sungut Zeevana.
Byakta terkekeh kalau mengingat awal mereka bertemu di kantor.
"Sekarang tidak takut lagi, kan?," tanya Byakta. Zeevana diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Kamu nggak perlu takut, Sayang. Hatiku, Insya Allah hanya untuk kamu."Β Byakta kemudian meraih tengkuk Zeevana lalu mencium lembut bibir istrinya itu.
πππ
Tiba di parkiran, setelah keluar dari mobil, Zeevana menggamit tangan Byakta. Zeevana berpikir bahwa di parkiran sedang sepi, tidak ada orang lain yang akan melihat kemesraan mereka.
Ternyata dari dalam mobilnya, Shindi menyaksikan sikap manja Zeevana yang bergelayutan memegang tangan Byakta.
"Tidak tahu malu!!. Gadis itu benar-benar munafik, yah. Di hadapan orang, dia benar-benar lugu dan sok alim. Tapi di belakang, tingkahnya nggak beda dengan seorang *******!!," umpat Shindi mendengus kesal.
Shindi turun dari mobilnya dan menghempas pintu mobil dengan kencang. Pagi-pagi dia sudah melihat pemandangan yang membuat hatinya jengkel. Sementara Zeevana dan Byakta sudah tidak terlihat lagi di area parkir.
"Assalamualaikum," sapa Byakta dan Zeevana masuk ke ruangan secara bersamaan. Rupanya rekan kerja Zeevana sudah datang semua.
'Ya Tuhan. Mereka sekarang sudah berani terang-terangan menunjukkan hubungannya,' gumam batin Mike. Dia melongo melihat Zeevana merangkul tangan Byakta.
"Waalaikumsalam, Pak By dan Zee," balas Vera yang sudah tahu tentang status mereka berdua. Sementara yang lain pada bengong melihat Byakta dan Zeevana begitu mesra.
__ADS_1
"Sayang, kayaknya teman kamu selain Vera masih ada yang belum tahu tentang hubungan kita. Kamu beritahu, ya," bisik Byakta.
Zeevana melepaskan pegangan tangannya di tangan Byakta. Dia mengangguk lalu menuju ke kubikelnya. Sementara Byakta masuk ke dalam ruangannya.
"Nggak usah bengong kayak sapi ompong begitu," ujar Zeevana melintasi kubikel Mike.
"Mba Ve, bisa jelaskan kepada mereka," lanjut Zeevana sambil melirik Vera.
"Teman-teman sebenarnya Zee dan Pak By memang udah halal, kok. Mereka sudah menikah tiga bulan yang lalu," jelas Vera.
"Hah!!. Berarti waktu kita ditraktir Pak By makan, kamu..." tunjuk Mike ke arah Zeevana.
"Udah dilamarnya," sambung Zeevana. Mike dan Vemy beserta Onni tercengang tidak percaya.
"Kok bisa, Zee?," tanya Vemy tidak percaya.
Padahal sehari-hari, Pak By sering memarahi Zeevana. Zeevana juga tidak menyukai Byakta. Pikir Vemy heran.
"Ya bisa, Mba. Orang dia yang suka duluan denganku," jawab Zeevana percaya diri sambil tersenyum.
"Oh, God. Kamu keterlaluan sekali sih, Zee. Kita berdua ternyata mengagumi suami orang," sela Mike sambil meringis menatap Zeevana.
"Sekarang Mas By mau mengumumkan status kita di perusahaan," kata Zeevana memberitahu teman-temannya.
"Iya. Jam 10 nanti akan ada rapat direksi. Sekaligus serah terima jabatan CEO," sambung Anita.
"Lho, memangnya Pak Bram mau diganti sama siapa, Mba Nit?," tanya Mike penasaran.
"Hmm. Sama Pak Byakta," jawab Anita melirik Zeevana.
"Iya, Mas By itu sepupunya Bram, dan Bram itu suami dari sepupuku. Perusahaan ini kan milik keluarga mertuaku," tambah Zeevana.
"Kamu, istri bos besar, dong," sambung Mike.
"Biasa aja lagi. Zeevana tetap seperti yang sekarang," ujar Zeevana merendah. "Tetap mengkreditkan barang buat kalian semua," lanjut Zeevana tersenyum.
"Hah!. Kalau ratu kredit mah tetap aja ratu kredit," sungut Onni.
Vera, Vemy dan Mike terkekeh mendengar ucapan Onni yang ada benarnya itu.
"Udah, kerja lagi. Kok jadi malah ngerumpi, sih," ujar Zeevana mengingatkan teman-temannya.
"Iya, Bu Boss," balas mereka serempak. Zeevana tersenyum, dia jadi malu sendiri.
πππ
Rapat direksi sebentar lagi akan dimulai. Byakta mengaitkan kancing jasnya kemudian keluar dari ruangannya. Dia menghampiri kubikel Zeevana.
"Ehem." Zeevana melihat ke arah Byakta yang sudah berdiri di depan kubikelnya.
"Ayo, ikut ke ruang direksi," ajak Byakta.
"Sekarang, Mas?," tanya Zeevana.
"Nggak tahun depan," jawab Byakta asal. Kadang sikap istrinya itu membuatnya geram.
"Ihh, Pak By. Jangan galak, dong. Yang mesra kenapa," ledek Mike. Zeevana tersenyum geli sambil melihat ke arah Byakta.
"Ayo Sayang, kita sudah ditunggu di ruang rapat," ulang Byakta mengajak Zeevana.
__ADS_1
"Cie..cie ayang Zee," goda Vemy.
"Kalian apaan, sih. Iri ke laut saja, ya," balas Zeevana berdiri lalu mendekati suaminya. Byakta hanya tersenyum kecil melihat keakraban mereka.
"Ayang kalau ada snack sisa bawain bebeb, ya," teriak Mike sembari tertawa kecil.
Byakta dan Zeevana sudah keluar dari ruang divisi keuangan. Mereka berdua tersenyum kecil mendengarkan ucapan Mike.
Di ruang direksi
"Mas, ada papa juga," bisik Zeevana ketika mereka memasuki ruangan.
Jajaran para manager dan orang-orang penting perusahaan sudah berkumpul di ruangan. Termasuklah Shindi yang sedang menatap Zeevana heran.
'Kenapa gadis itu bisa ada di ruangan ini?. Ngapain juga dia nempel terus dengan Byakta. Nggak tahu malu!!,' umpat Shindi dalam hatinya.
Acara pun dimulai. Hingga sampailah pada acara penting yaitu serah terima jabatan CEO.
"Karena Bram harus menghandel usaha yang dia miliki sendiri, maka jabatan CEO D'Family Group akan diserahkan kepada Byakta Aryasatya anak saya," ujar Pak Arya, papa Byakta.
Shindi yang mendengar berita barusan begitu tercengang, laki-laki yang cintanya pernah dia tolak, kini menduduki posisi penting di perusahaan tempat dia bekerja.
Tepuk tangan bergema menyambut pimpinan baru di perusahaan D'Family Group.
"Terima kasih atas kepercayaan Pak Arya yang tidak lain adalah papa saya. Saya juga sekaligus ingin memberitahu perihal status saya agar tidak menjadi fitnah bagi orang-orang yang tidak menyukai saya," lirik Byakta ke arah Shindi. Shindi merasakan ucapan Byakta itu tertuju kepadanya.
"Sudah lama saya mendengarkan cerita yang tidak benar tentang Zeevana yang merupakan karyawan saya di divisi keuangan. Semua cerita yang entah dari siapa sumbernya itu adalah tidak benar. Saya dan Zeevana sebenarnya sudah berstatus suami istri sejak tiga bulan yang lalu. Perusahaan melarang suami istri bekerja dalam satu divisi. Oleh karena itu kami menikah secara tertutup karena istri saya masih mau bekerja," lanjut Byakta sambil memandang Zeevana.
"Kalau begitu kapan acara resepsinya, Pak?," tanya Arie.
"Insya Allah tidak lama lagi. Karena menantu saya juga sedang hamil," jawab Arya tersenyum.
"Wah, selamat ya Pak Arya. Nggak lama lagi bakal gendong cucu," ucap Galih.
"Terima kasih semuanya. Oya, posisi manager keuangan untuk sementara akan diberikan kepada menantu saya, Zeevana," ujar Arya.
"Mas, kok aku sih," bisik Zeevana kaget.
"Untuk sementara, Sayang," balas Byakta berbisik.
πππ
Setelah acara selesai semua manager mengucapkan selamat kepada Byakta termasuk Shindi meskipun dengan wajah pura-pura tersenyum. Namun dia menatap Zeevana dengan tatapan tidak suka.
Shindi kembali ke ruangannya dengan hati yang bercampur aduk setelah mengetahui bahwa ByaktaΒ telah menikah dengan Zeevana.
"Aargh!!. Seharusnya aku dulu tidak menolak Byakta," gumam Shindi menyesal.
Penampilan Byakta ketika kuliah dulu biasa-biasa saja tidak seperti anak orang tajir. Beda dengan Charles, kakak tingkat mereka yang kelihatan tajir pergi kuliah naik mobil mewah. Charles pun menyukai Shindi dan menembak Shindi disaat yang sama ketika Byakta menyatakan cintanya. Shindi menolak cinta Byakta dan menerima cinta Charles meskipun Byakta jauh lebih tampan dibandingkan Charles. Hingga akhirnya mereka menikah setelah tamat kuliah. Sementara Byakta melanjutkan kuliah lagi setelah selesai S1 nya.
"Kalau saja dulu aku menerima cintamu, By. Aku tidak akan menjadi jandanya Charles," isak Shindi.
'Aku tidak bisa melihat Zeevana tersenyum bahagia bersamamu. Aku benar-benar iri kepadanya. Harusnya aku yang merasakan kebahagiaan itu,' gumam Shindi penuh kebencian.
Shindi menghapus air matanya lalu merapikan meja kerjanya yang berantakan akibat ulahnya sendiri.
πππ
Hati Shindi pun semakin teriris ketika melihat Zeevana bersanding dengan Byakta di pelaminan. Acara resepsi yang mereka adakan seminggu setelah acara serah terima jabatan. Pesta pernikahan itu diadakan di hotel mewah yang dihadiri banyak tamu undangan dari kedua belah pihak.
__ADS_1
Shindi pun meninggalkan pesta tanpa berpamitan kepada Byakta dan Zeevana di pelaminan dan kepergiannya pun tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.