Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 18 Dinner in Hotel


__ADS_3

Zeevana kembali ke kubikelnya. Wajahnya ditelungkupkan di atas meja kerjanya.


'Ya Tuhan, dadaku hampir meledak hari ini. Kenapa harus di kantor, sih?,' batin Zeevana menahan debaran jantungnya yang semakin menggila.


Diam-diam Vera mendekati Zeevana. Zeevana pasti sudah dimarahi habis-habisan oleh Bos mereka. Pikir Vera melihat sikap Zeevana setelah keluar dari ruangan bos.


"Zee, kamu yang sabar, ya," ujar Vera memegang pundak Zeevana.


"Bos marah besar, ya?," tanya Mike ikut iba mendekati. Zeevana hanya mengangguk.


"Terus bagaimana?," tanya Vera.


Zeevana mengangkat badannya lalu menghadap ke teman-temannya.


"Pak By mau memaafkan aku. Asalkan aku mau mentraktirnya makan malam di restoran mewah," ucap Zeevana dengan wajah sendu. Sebenarnya Zeevana hanya mau mengerjai teman-temannya saja.


"Ya Allah. Dasar!!!. Bos nggak ada perasaan. Orang nggak sengaja juga tapi sanksinya kebangetan," umpat Vera kesal.


"Udah Mba, nggak apa. Nanti aku buka celengan saja agar aku nggak dipecat," canda Zeevana sambil tertawa.


"Ya Allah. Kenapa bos kita ganteng-ganteng sadis, sih," sela Vemy kecewa.


"Zee, kami semua cuma bisa bantu doa. Kamu tau sendiri kan kalau kita semua banyak utang sama kamu," ujar Mike sedih karena tidak bisa membantu.


Zeevana tersenyum. "Terima kasih. Kalian emang paling top, deh," puji Zeevana bahagia mempunyai rekan kerja yang begitu peduli dengannya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Di rumah


"Zee, mama perhatikan kamu suka shopping untuk dijual kembali, ya?," tanya Dwina sembari mempersiapkan makan malam di rumah.


"Iya, Ma. Bisnis kecil-kecil sekaligus hobi," jawab Zeevana tertawa kecil.


"Mama punya teman. Dia punya toko menjual barang-barang branded. Kamu bisa mengambil barang di tempat dia saja daripada kamu beli online," tawar mertuanya.


"Benaran, Ma?. Kapan-kapan ajak Zee ke sana, Ma," ujar Zeevana antusias.


"Boleh-boleh. Weekend nanti kita main ke sana," balas Dwina.


Zeevana mengatur lauk-pauk di atas meja makan. Makan malam sudah siap. Dia pun bergegas ke kamar untuk memanggil suaminya.


"Mas, makan malamnya..."


Zeevana tidak melanjutkan kalimatnya. Dia begitu terpana melihat Byakta sudah berpakaian rapi seperti mau pergi. Suaminya terlihat sangat tampan dan menawan.


"Kenapa?. Kok, malah bengong," ujar Byakta melihat Zeevana terpaku memandangnya.


"Mas, mau ke mana?," tanya Zeevana heran.


"Zee, cepat kamu ganti baju. Kita mau keluar," jawab Byakta tersenyum misterius.


"Iya, Mas." Zeevana menurut saja. Entah mau diajak ke mana dirinya.


"Aku tunggu di luar sekalian pamit dengan mama dan papa," ujar Byakta keluar lalu menutup pintu kamar.

__ADS_1


"By, mau ke mana kamu?. Mama dan Zee sudah menyiapkan makan malam, lho?," tanya Dwina heran melihat Byakta berpakaian rapi.


"Dinner romantis, Ma," kedip Byakta.


"Hmm. Mau dinner, anak kamu nggak bilang-bilang, Pa. Padahal mama sudah masak banyak begini," ujar Dwina kecewa.


"I'm sorry, Ma," tatap Byakta menyesal.


"Nggak apa. Mama hanya bercanda, kok," ucap Dwina tersenyum.


"By, itu Zee udah siap," tunjuk Arya, papanya.


Dwina dan Byakta menoleh ke arah Zeevana. Byakta mengulurkan tangannya dan disambut oleh Zeevana.


"Kami pergi dulu, Ma. Assalamualaikum," pamit Byakta dan Zeevana.


"Waalaikumsalam," balas kedua orang tua Byakta.


"Mereka serasi banget ya, Pa," ujar Dwina merangkul tangan suaminya mengajak makan malam. Kini tinggal mereka berdua saja di rumah.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


"Sebenarnya kita mau makan di mana, Mas?," tanya Zeevana heran.


"Bukannya ada yang mau mentraktir bosnya makan di restoran mewah," sindir Byakta sambil menyetir mobil.


Zeevana kaget lalu menoleh ke arah suaminya. Zeevana tidak tahu kalau Byakta mendengarkan pembicaraannya dengan Vera dan Mike ketika dia melintasi kubikel Zeevana hendak keluar sebentar.


"Ya Allah, Mas. Aku tuh hanya bercanda dengan mereka, memberikan alasan agar mereka nggak curiga," elak Zeevana tersipu.


Mereka pun tiba di pelataran parkir hotel yang cukup terkenal. "Ayo, turun," ajak Byakta.


"Selamat datang," sapa petugas hotel.


"Kamar pesanan atas nama Byakta Aryasatya sudah siap?," tanya Byakta.


"Oh, Pak Byakta. Sudah, Pak. Mari ikut saya," ajak petugas lainnya.


Byakta dan Zeevana diantar sampai di depan pintu kamar yang sudah dia pesan.


"Silahkan masuk. Ini kuncinya dan selamat menikmati hidangan yang sudah kami sajikan," ucap waiters hotel sambil menyerahkan kunci kamar mewah yang Byakta pesan.


"Ayo, kita masuk," ajak Byakta tersenyum sambil membuka pintu kamar.


Zeevana tampak terpukau melihat isi kamar dengan ranjang king size, sofa yang tidak jauh dari pintu balkon, dan meja makan untuk dua orang yang sudah penuh dengan menu pilihan suaminya.


"Makan malam di kamar?," tanya Zeevana heran.


"Iya, kalau di tempat umum nanti ada yang melihat kita bagaimana. Bisa heboh nanti," jawab Byakta memberi alasan. Dia kemudian menarik kursi makan agar Zeevana duduk.


'Ya Allah, ternyata Mas By bisa romantis juga,' batin Zeevana tersenyum.


"Kayaknya steak ini enak sekali," ujar Byakta mencium aroma menu makan malam yang begitu menggoda.


"Kolesterol semua itu, Mas," gerutu Zeevana.

__ADS_1


"Besok diganti dengan olahraga, dong," balas Byakta.


Zeevana memanyunkan bibirnya. Istrinya itu mungkin tidak hobi olah raga. Sudah menjadi kebiasaan Byakta kalau sudah makan makanan yang berlemak, dia akan berolahraga. Hal itu jangan sampai ketinggalan.


"Enak sekali yah jadi orang kaya seperti Mas," ucap Zeevana sembari mengambil steak lada hitam.


"Maksud kamu?," tanya Byakta memandang Zeevana.


"Mau ini, mau itu gampang. Tinggal menjentikkan jari saja. Kalau orang susah, mau makan saja harus banting tulang dulu meskipun hanya lauk ikan saja," jawab Zeevana.


'Apa jawabannya bermaksud menyindirku. Aku juga bukan tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Tapi kalau aku mau sesuatu, aku tidak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan uang,' batin Byakta.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Byakta menggulung lengan kemeja yang dia pakai sebatas siku. Selesai makan, Zeevana ke kamar mandi. Sementara Byakta membalas beberapa email yang masuk.


"Mas, sekarang kita mau ngapain?," tanya Zeevana polos sudah berdiri di depan Byakta tanpa mengenakan hijabnya. Wajahnya tampak basah seperti habis berbasuh.


Byakta mendongakkan wajahnya melihat Zeevana. 'Sejak kapan dia sudah ada di sana?,' batin Byakta tidak menyadarinya.


Byakta meletakkan Ipad-nya lalu berdiri dari sofa tepat di hadapan Zeevana. Byakta tersenyum lalu menarik pinggang Zeevana merapat ke tubuhnya. Kedua tangan Zeevana menahan dadanya.


"Kalau malu melakukannya di kantor, di sini kamu tidak malu kan?," tanya Byakta menatap Zeevana meminta persetujuan.


"A...aku ingin melihat luka Mas dulu," ujar Zeevana menunduk.


"Bukalah sendiri," ujar Byakta pelan.


Laki-laki tampan itu tersenyum melihat Zeevana begitu gugup. Tangan Zeevana yang memang sudah berada di dadanya kini membuka kancing kemeja Byakta satu persatu.


Accident karena ulah Zeevana telah menyisakan bercak merah muda di dadanya.


"Masih sakit?," tanya Zeevana menatap suaminya.


"Nggak lagi jika obatnya kamu," goda Byakta. Zeevana tersenyum malu melihat suaminya.


"Zee," panggil Byakta.


Manik mereka bertemu. Saling menatap lebih lama. Terpaku dalam kebisuan, tanpa Zeevana sadari Byakta telah menciumnya.


Byakta menginginkan lebih dari itu dan Zeevana telah memberi sinyal dengan membalas ciumannya.


Malam pertama mereka yang telah lama tertunda akhirnya terlaksana juga penuh dengan kehangatan.


"Mas," panggil Zeevana masih dalam pelukan Byakta di balik selimut.


"Hmm. Kenapa?," tanya Byakta menoleh ke arah Zeevana.


"Kita mau menginap di sini?," tanya Zeevana polos.


"Mau kamu?." Byakta balik bertanya.


"Kalau mau menginap kan kita nggak bawa baju," ujar Zeevana.


"Tapi kalau mau pulang, Mas sudah ngantuk ini," sambung Byakta dengan mata sudah lima watt.

__ADS_1


Tenaganya sudah banyak terkuras tadi,Β tinggal lelah yang kini melanda.


Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di hotel. Setelah subuh, baru mereka check out dari hotel. Mereka langsung ke rumah untuk berganti pakaian dan pergi bekerja.


__ADS_2