
"Selamat pagi," sapa Byakta memasuki ruang divisi keuangan.
Seperti biasa mereka semua membalas sapaannya. Byakta masuk ke dalam ruangannya tanpa melihat ke arah kubikel Zeevana.
"Masih dingin saja nih, Bos kita," omel Mike.
"He-eh. Padahal waktu itu kita sudah diajaknya makan-makan. Pelit sekali cuma senyum doang," tambah Vemy.
"Onni, kamu dipanggil oleh Pak Byakta," ujar Anita menghampiri kubikel Onni.
Seperti ada aura tidak sedap. Onni masuk ke ruangan Byakta dengan jantung berdebar.
"Perbaiki laporan ini. Sakit mata saya membacanya," ujar Byakta ketus sambil melempar laporan yang dibuat Onni di atas meja.
"Baik, Pak. Hari ini juga ya, Pak?," tanya Onni pelan.
"Tahun depan. Cepat kerjakan!!," teriak Byakta kesal. Pakai nanya lagi. Byakta memegang pelipisnya sambil menghembuskan napas kasar.
Onni sudah bergegas keluar dari ruangan Byakta.
Semua karyawan mendengarkan teriakan bos mereka. Mereka pun sangat kaget.
"Apes banget Onni," gumam Mike.
"Pagi-pagi udah kena semprot," timpal Vera. Zeevana yang mendengarkan ucapan teman-temannya hanya membisu.
"Kenapa, On?. Bos kok marah-marah sama kamu?," tanya Vemy iba sambil berjalan mendekati kubikel Onni.
"Laporan yang ku buat salah. Kan yang biasa buat kamu, Zee," ujar Onni ke arah Zeevana.
Karena mempersiapkan pernikahannya kemarin, tugas yang biasa Zeevana lakukan dialihkan oleh bosnya kepada Onni.
"Ya sudah, sini laporannya biar aku yang memperbaiki," ujar Zeevana membuka suara.
"Ya Tuhan, Zeevana penyelamatku. Terima kasih banyak. Aku akan traktir kamu deh asalkan aku nggak disemprot bos lagi," ucap Onni bahagia.
"Nggak perlu, tabung aja uangnya untuk biaya kamu nikah," tolak Zeevana tersenyum geli.
"Yah Zee, kok ditolak. Kan jarang-jarang tuh Onni mau traktir," ujar Mike sewot.
"Nggak apa, Ke. Lagian kan emang aku yang biasa buat. Nggak tahu kenapa tiba-tiba dialihkan ke Onni," balas Zeevana pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Zeevana segera memperbaiki laporan keuangan yang dibuat Onni. Memang salah angka satu aja bisa fatal akibatnya. Setelah selesai Zeevana siap mengantarkan laporan tersebut ke ruangan Manajer.
***
Tok.Tok.Tok
"Masuk," perintah Byakta. Byakta melihat Zeevana membawa map di tangannya.
"Ada apa?," tanya Byakta datar melihatnya.
"Ini laporannya sudah diperbaiki," jawab Zeevana sambil menyodorkan map yang berisi laporan ke atas meja kerja Byakta.
"Yang aku suruh Onni, bukan kamu," ketus Byakta sambil meraih map tersebut.
"Tapi sebelumnya memang tugas ini aku yang melakukannya," protes Zeevana pelan.
"Onni harus belajar. Semuanya juga harus belajar. Bukan hanya kamu saja yang bisa membuatnya," sanggah Byakta.
"Kamu marah-marah begini karena soal semalam?," tanya Zeevana berani menatap mata Byakta. Mata mereka pun bertemu.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pribadi. Di kantor kita tidak perlu membahas urusan pribadi," jawab Byakta dingin, membuang muka.
Laki-laki itu mengusap wajah dengan kedua tangannya, "Ya Tuhan, ada apa denganku?."
"Zee, kamu disembur Bos juga?," tanya Mike setelah melihat Zeevana keluar dari ruangan Manajer Keuangan dengan wajah ditekuk.
"Aku mau ke toilet sebentar," ujar Zeevana tidak menjawab pertanyaan Mike.
Zeevana meninggalkan ruang divisi keuangan. Tangisnya tumpah di dalam toilet.
***
Pulang dari kantor Zeevana ketiduran di kamarnya. Mandi saja belum bahkan pakaian kerjanya saja masih melekat di badan.
"Astaghfirullah, Zee. Kok, belum ganti pakaian udah molor aja nih anak," gerutu uminya membuka pintu kamar Zeevana.
"Zee, bangun Nak. Suami kamu sudah menjemput, tuh." Umi Fatimah menggoyang tubuh Zeevana.
"Astaghfirullah." Zeevana mengucek matanya, "Jam berapa ini,Mi?."
"Udah maghrib, Zee. Buruan mandi terus sholat. Pakaian kamu yang mau dibawa ke rumah mertuamu sudah disiapkan belum?," ujar Fatimah mengingatkan anaknya.
__ADS_1
Zeevana menepuk jidatnya, "Belum, Umi."
"Masya Allah, anak ini. Sudah menikah kelakuannya nggak berubah juga." Umi Fatimah geleng-geleng kepala.
Setelah sholat maghrib Zeevana mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper marun miliknya. Tidak semua pakaian akan dia bawa karena jika dia ingin menginap di rumah orang tuanya, dia tidak perlu lagi membawa pakaian ke sana.
Zeevana keluar dari kamar sambil menyeret travel bagnya. Abah dan suaminya yang duduk di ruang keluarga melihat Zeevana.
"Kita makan malam dulu, setelah itu Byakta boleh membawa anak Abah pergi," ujar abah Sa'id tersenyum. Zeevana hanya mengangguk.
***
Tak lama dari selesai makan malam Byakta dan Zeevana pamit pergi kepada Abah dan Umi.
"Maaf atas sikapku di kantor tadi," ujar Byakta membuka pembicaraan ketika di dalam mobil.
"Bersikap profesional itu bagus. Kenapa harus minta maaf?," balas Zeevana datar.
'Ah, sepertinya dia sangat tersinggung dengan sikapku di kantor tadi,' batin Byakta.
"Hm, nanti mobil kamu diambil oleh Pak Joni, sopir papa," toleh Byakta.
Meskipun mereka tinggal serumah, tentu saja pergi ke kantor dengan mobil sendiri-sendiri.
Zeevana tidak menggubris ucapan Byakta. Pandangannya menatap ke samping mobil. Byakta menarik nafas dalam. Akhirnya hingga sampai ke rumah tidak ada komunikasi lagi di dalam mobil antara dia dan Zeevana.
***
"Zee, jangan sungkan-sungkan, ya. Anggap saja rumah ini seperti rumah kamu sendiri," ujar Dwina, mertua Zeevana menyambut kedatangannya.
"Iya, Ma." Zeevana tersenyum sambil mengamati isi rumah mertuanya.
Zeevana melewat sofa jati yang sangat mewah, lukisan dinding bernuansa alam menghiasi ruang tamu. Guci-guci antik juga tersusun rapi di ruang tamu yang cukup luas itu.
"Kalian sudah makan malam belum?," tanya Dwina.
"Udah, Ma," jawab Byakta dan Zeevana serempak.
"Wuih, jawabnya saja sudah kompak banget, nih," goda Dwina tersenyum lebar. Byakta melirik Zeevana, dia melihat Zeevana tersenyum kecil.
"Kami ke kamar dulu, Ma. Ayo, Zee," ajak Byakta berjalan menuju ke kamarnya sambil membawa koper marun milik Zeevana.
__ADS_1