
Benar apa yang dikatakan Bram. Byakta melihat Zeevana sedang duduk bersandar di kursi. Dia kemudian berjalan mendekati Zeevana ke arah depannya. Mata perempuan berjilbab itu terpejam dengan tangan sambil memegang ponsel yang tersambung kabel earphone.
"Sepertinya dia tertidur di sini sampai lupa waktu." Byakta menggelengkan kepalanya.
Byakta kemudian mengambil ponsel Zeevana dan melepaskan earphone dari telinganya dengan pelan. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Quran dari earphone. Dia melepaskan jas yang dipakainya dan menutupkan jasnya ke badan Zeevana agar istrinya itu tidak kedinginan. Kemudian baru Byakta menggendong Zeevana meninggalkan rooftop.
Dia membawa Zeevana ke mobilnya dan menelpon sopir di rumah untuk mengambil mobil istrinya itu di perusahaan. Zeevana tampaknya tertidur nyenyak sekali hingga badannya sudah bersandar di jok mobil pun dia bergeming. Byakta menjalankan mobilnya tidak terlalu cepat agar tidak mengganggu tidur istrinya itu.
Tiba di rumah, Byakta belum turun dari mobilnya. Dia ingin menikmati sejenak wajah cantik istrinya itu dari dekat. Byakta mendekatkan wajahnya sambil tangannya membuka safety belt Zeevana. Laki-laki mana yang tidak tergoda melihat wajah itu dari dekat dengan bibir yang indah. Tanpa sadar Byakta menyatukan bibirnya ke bibir Zeevana dengan pelan. Tidak ada reaksi dari wanita itu ketika Byakta menciumnya. Tidurnya sudah seperti tidak bernyawa saja.
Byakta tersenyum geli sambil memandangi wajah polos istrinya. "Tidur kamu sangat membahayakan, Sayang. Dicium saja kamu masih tidak bangun," gumam Byakta mengelap bibirnya dengan jarinya. Dia tersenyum kemudian turun dan membuka pintu di samping Zeevana duduk. Badan wanita itu sudah dalam gendongannya dan dia membawa istrinya ke kamar.
***
Di kamar
Zeevana menggeliat dengan pakaian masih lengkap seperti dia pergi pagi tadi.
"Astaghfirullah!. Kok, aku bisa ada di kamar?," gumamnya kaget.
Zeevana melihat jam di dinding. Waktu maghrib belum masuk. Zeevana bergegas membersihkan diri ke kamar mandi.
'Ya Tuhan, berarti dia yang sudah membawaku ke kamar. Oh My God, dia sudah menggendongku.' Zeevana menutup mulutnya tidak percaya. Dia cepat-cepat mandi.
Zeevana keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan jilbabnya. Dia kaget setengah mati melihat sosok Byakta sedang berdiri melihat ke arahnya.
"Ngapain kamu menghabiskan waktu di rooftop?," tanya Byakta melihat Zeevana yang tampak kaget dengan kehadirannya di kamar. 'Sepertinya dia sudah mandi.'
Zeevana membisu, menatap Byakta namun pikirannya entah ke mana.
"Apa ada sikapku yang tidak kamu sukai sampai harus bertindak seperti itu?," tanya Byakta dengan nada tegas. "Bicaralah!."
Lagi-lagi Zeevana tidak menggubris apa yang Byakta ucapkan. Lama-lama sikapnya membuat laki-laki itu hilang kesabaran.
"Ah, sudahlah." Byakta kemudian hendak berjalan keluar dari kamar.
"Aku hanya takut," jawab Zeevana pelan. Namun Byakta masih bisa mendengarkannya. Dia lalu berbalik menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku tidak akan memaksa. Jika pernikahan ini membuatmu tersiksa. Bicaralah. Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Bicaralah denganku jika kamu sudah tidak tahan lagi. Aku akan mengembalikanmu kepada abah dengan cara yang baik," ucap Byakta pelan namun tegas.
Zeevana menatap Byakta tidak percaya. Byakta kemudian keluar dari kamar dengan hati yang terluka.
πππ
"Zee!!," panggil Mike menghampiri kubikel Zeevana. Dia penasaran ke mana Zeevana yang tiba-tiba menghilang.
"Apa?," sahut Zeevana.
"Kamu ke mana kemarin?. Menghilang begitu saja," tanya Mike.
"Aku ketiduran di rooftop," jawab Zeevana cuek.
"Astaga, nih anak. Kok bisa, sih," ujar Vera tidak percaya menguping pembicaraan mereka dan akhirnya ikutan nimbrung.
"Pagi semuanya," sapa Byakta memasuki ruang divisi keuangan.
"Pagi juga Bapak ganteng," balas Vemy. Byakta tersenyum mendengarkan ucapan Vemy yang memujinya.
"Pagi, Pak," balas yang lainnya termasuk Zeevana.
"Iya, Pak," sahut Anita keluar dari kubikelnya.
"Tolong buatkan surat izin untuk perjalanan saya ke Lombok dan serahkan kepada atasan saya langsung," perintah Byakta.
"Siap, Pak," ucap Anita.
Byakta kemudian masuk ke ruangannya sambil melirik ke arah kubikel Zeevana. Zeevana pun menunduk. Dia memang tidak membicarakan tentang keberangkatannya ke Lombok dengan Zeevana. Dia pikir juga untuk apa. Toh, istrinya itu tidak akan peduli.
"Ya Allah. Mimpi apa aku semalam. Pagi ini, Pak By tersenyum denganku," ujar Vemy bahagia.
"Benar. Baru kali ini kita melihat Bos tersenyum. Kan makin ganteng saja tuh mukanya," tambah Mike.
Zeevana tersenyum kecil. Dia tidak bisa membayangkan ketika teman-temannya yang mengagumi Byakta tahu bahwa Bos merekaΒ adalah suaminya.
"Aku heran, cowok seganteng Pak By kok masih jomblo, ya?. Kalau aku nggak percaya," ujar Vera mengeser kursinya.
__ADS_1
"He-eh. Udah ganteng, kaya, tajir melintir masa nggak punya cewek. Atau jangan-jangan dia memang nggak suka cewek," tambah Mike.
Zeevana tersentak kaget mendengarkan praduga dari Mike terhadap bos mereka. 'Sembarangan saja kalau ngomong. Dia laki-laki normal, kok,' batin Zeevana tidak terima.
"Hush!!. Jangan sembarangan kamu, Ke," ujar Onni yang ternyata ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Yang jelas, cewek yang Bos sukai bukan kayak kita-kita," sela Vemy sadar diri.
Sontak Mike dan Vera terbahak-bahak mendengar ucapan Vemy yang menyindir mereka.
πππ
"Mba Zee!," panggil seseorang di parkiran ketika dia hendak menuju mobilnya.
"Beni!!. Ada apa, Ben?," toleh Zeevana kaget.
"Mba Zee, saya minta maaf belum bisa membayar kreditan bulan ini karena istri saya mau melahirkan," jawab Beni dengan wajah sendu. Sebenarnya dia juga kekurangan uang untuk biaya persalinan istrinya.
"Oh, itu. Nggak apa-apa kok, Ben," ujar Zeevana sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang kertas berwarna merah.
"Ini saya bantu. Bukan pinjaman, lho," sambung Zeevana nanti dikira Beni dia meminjamkan uang juga.
"Benaran ini, Mba?," tanya Beni tidak percaya. Zeevana hanya mengangguk.
"Ya Allah, semoga Mba Zee mendapatkan jodoh yang sholeh dan kaya raya supaya bisa membantu orang-orang susah seperti saya." Beni menengadahkan ke dua tangannya.
"Aamin," ucap Zeevana tersenyum.
"Makasih Mba, ya," ujar Beni sangat senang.
Beni segera pamit pulang dengan wajah sumringah karena uang biaya persalinan untuk istri sudah cukup.
"Andai kamu juga bisa tersenyum seperti itu denganku," gumam Byakta.
Laki-laki tampan itu melihat Beni sedang berbicara dengan Zeevana di parkiran. Dia terus memperhatikan mereka dari jauh. Setelah Beni pergi, dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya yang memang parkir agak jauh dari mobil Zeevana. Byakta kemudian melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
'Apakah sesakit ini mencintai seseorang yang sedikit pun tidak mencintaimu?." Byakta memegang dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Jika saja dia tidak mencoba untuk mengenal Zeevana lebih dekat dan menerima tawaran Bram, perasaan itu tidak akan tumbuh menjadi sebesar ini.