
Badan Zeevana terasa capek sekali. Setelah sholat Isya, dia melanjutkan aktivitasnya membaca buku religius yang sempat tertunda sambil berbaring.
"Mas, kenapa tidak memberitahuku soal perjalanan kamu ke Lombok?," tanya Zeevana.
"Untuk apa memberitahumu. Toh kamu juga tidak akan peduli," jawab Byakta sambil mengemasi pakaiannya.
"Kau mau ikut?," tawar Byakta menoleh ke arah Zeevana.
"Nggak!!," ketus Zeevana.
"Baiklah. Jaga dirimu. Aku mencintaimu, Zee," ujar Byakta memberanikan diri mencium kening Zeevana. Zeevana membeku. Jantungnya berdetak kencang menatap punggung Byakta yang telah menghilang di balik pintu kamar.
Setelah kepergian suaminya, sambil mencatat orderan, Zeevana melihat ponselnya yang tidak berhenti berbunyi.
"Ada apa, sih?," gumamnya sambil membuka beberapa chatting whatsapp yang masuk. Terutama dari grup kredit mania yang sudah sampai ratusan chat ketika dibukanya.
Mike : "Ya Allah, bos kita kan ada dalam pesawat itu. Kenapa tragis banget kematiannya?. Hikss."
Tangan Zeevana gemetar ketika membaca sebagian chat di grup. Di scroll-nya lagi ke atas untuk mencari informasi yang pasti.
Vera : "Padahal masih jomblo. Ya Allah, nggak nyangka banget. Huhuhu."
Vemy : "Berita di tivi, kalau penumpang pesawat yang ke Lombok nggak ada yang selamat satu pun. Pak By..."
Airmata Zeevana tak terbendung lagi membaca chat berduka tentang kecelakaan pesawat yang ditumpangi Byakta, suaminya. Dia terduduk lemas tak berdaya. Zeevana terisak membayangkan suaminya tewas dalam kecelakaan tersebut.
"Tidak!!!," teriak Zeevana histeris.
💞💞💞
"Zee!!," panggil Byakta yang berada di samping Zeevana.
Karena dia melihat istrinya itu sedang tidur tapi seperti sedang terisak menangis dengan matanya terpejam. Byakta juga melihat di samping Zeevana tergeletak buku bacaannya.
"Zee!!. Bangun!!." Byakta langsung menggoncang kuat badan istrinya itu karena makin lama suara isak tangis Zeevana semakin kencang dan terdengar sangat sedih sekali.
"Astaghfirullah!!," gumam Zeevana membuka matanya. Dia lalu duduk.
Byakta masih memperhatikan Zeevana dari sampingnya. Zeevana tampak meletakkan sebelah telapak tangannya ke dada.
"Tenyata hanya mimpi buruk. Ya Allah, semoga tidak menjadi kenyataan," gumamnya pelan sambil menghapus airmata di sudut matanya. Mimpinya sangat nyata. Sampai dia benar-benar menangis.
"Kamu mimpi apa sampai menangis sungguhan seperti itu?. Seperti ditinggal orang mati aja," tanya Byakta heran.
__ADS_1
Zeevana menghapus lagi sisa airmata di sudut matanya. Zeevana hanya menggelengkan kepalanya.
Byakta tahu Zeevana pasti tidak akan menjawab. Laki-laki itu kemudian berbaring lagi ingin melanjutkan tidurnya.
"Mas," panggil Zeevana tanpa menoleh ke arah Byakta.
Byakta cukup kaget mendengarkan Zeevana memanggilnya tanpa embel-embel Bapak seperti di kantor.
"Aku boleh ikut ke...," ucap Zeevana tapi dia tidak melanjutkan lagi ucapannya.
Byakta bangun lagi untuk mendengarkan kalimat Zeevana yang terpotong.
"Ikut ke... ?," tanya Byakta.
"Ke Lombok," jawab Zeevana pelan sambil menunduk.
Byakta tersenyum bahagia mendengarnya. "Benarkah?. Kamu mau ikut?," tanya Byakta tidak percaya.
"Boleh atau tidak. Pokoknya aku mau ikut," jawab Zeevana merajuk.
"Oke. Nanti aku atur supaya kamu bisa ikut. Sekarang kita tidur lagi, ya," ajak Byakta
Zeevana pun menurut kemudian ikut membaringkan badannya di samping suaminya itu.
💞💞💞
"Nanti aku balas semprot, Mba," jawab Zeevana asal.
"Siapa yang akan kamu balas semprot, Zee?," tanya Byakta yang tiba-tiba muncul di depan kubikelnya.
"Eh..i..itu. E..e Mike, Pak," jawab Zeevana asal. Dia seperti maling yang kepergok hansip di depan bosnya.
'Kapan dia ada di sana, sih?,' tanya batin Zeevana.
"Lho, apa hubungannya dengan ku Zee?," protes Mike tidak terima.
'Aduh, Mike. Diam aja bisa nggak, sih,' batin Zeevana lagi.
"Hm, hari ini saya pulang agak cepat untuk persiapan berangkat nanti malam. Kamu juga Zee, sudah makan siang bisa langsung pulang," ujar Byakta.
"Baik, Pak," sahut Zeevana.
Byakta segera masuk lagi ke dalam ruangannya untuk menyiapkan beberapa file yang akan dia bawa.
__ADS_1
"Nit, kok bukan kamu yang berangkat dengan Pak By?," tanya Mike heran.
"Ya elah, aku mah bersyukur banget Zee yang diajak. Kalau aku yang diajak bisa rempong. Suamiku pasti kualahan dititipkan dua bocah aktif," jawab Anita.
"Benar, lagian Pak By lebih aman pergi dengan Zee. Iya nggak?," lirik Vera.
'Hm, belum tahu mereka,' batin Zeevana tersenyum.
💞💞💞
"Kalian di Lombok sekalian Honeymoon saja" goda Dwina.
"Kita di sana mau bekerja, Ma," elak Byakta sambil melirik Zeevana. Dia melihat Zeevana sedikit salah tingkah.
"Yah, terserah kalian deh mau ngapain," ujar Dwina menyerah melihat respon anak dan menantunya biasa saja.
Byakta dan Zeevana segera pamit agar mereka tidak ketinggalan pesawat. Sebenarnya tugas Byakta ke Lombok karena mewakili Bram yang tidak bisa menghadiri meeting antara pengusaha untuk menjalin kerja sama.
"Zee, bisa cepat tidak jalannya," protes Byakta karena istrinya itu berjalan terus mengekor di belakangnya.
Byakta kemudian menghentikan langkahnya lalu menggandeng tangan Zeevana agar berjalan beriringan dengannya masuk ke dalam pesawat.
Setengah jam setelah lepas landas, tiba-tiba badan pesawat bergetar.
Zeevana langsung meraih tangan Byakta. Dia tampak begitu ketakutan sekali. Terbayang akan mimpinya itu.
"Ya Allah, apa yang terjadi?," gumam Zeevana hampir menangis. Goncangan pesawat semakin terasa, banyak penumpang yang mulai panik.
"Tenanglah, Zee," ujar Byakta sambik mengelus punggung tangan istrinya agar dia tenang.
"Mas, jika aku mati tolong Mas ridho dengan semua sikapku selama ini. Aku mohon, Mas," oceh Zeevana dengan air mata.
"Iya, aku ridho," ujar Byakta sembari berdoa di dalam hati, semoga mereka semua selamat sampai ke tujuan.
Zeevana memejamkan matanya, Byakta melihat bibirnya terus bergerak melafazkan doa-doa. Lama kelamaan suasana di dalam pesawat mulai tenang.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan perjalanan Anda. Semoga kita diberi keselamatan sampai ke tujuan," suara pramugari terdengar di dalam pesawat.
'Ya Allah. Kenapa mimpiku hampir menjadi kenyataan?. Kalau pun nanti terjadi sesuatu dengan pesawat ini, aku tidak akan menjadi janda karena telah ikut bersamanya,' batin Zeevana.
Keluar dari pesawat dan sepanjang menyusuri jalan hingga keluar dari bandara, Byakta tidak melepaskan tangannya yang terus menggenggam tangan Zeevana. Sementara tangan satunya membawa koper.
Zeevana menahan senyumnya dengan detak jantung yang semakin kuat karena sentuhan tangan Byakta dan juga karena mengiringi langkah kaki suaminya yang lebar.
__ADS_1
Tiba di hotel, Zeevana langsung menghempaskan badannya di atas ranjang. Sementara Byakta menerima panggilan telpon di ponselnya. Beberapa temannya sesama pengusaha sudah datang. Salah satu dari mereka ada teman lamanya. Byakta melihat Zeevana sepertinya sudah terlelap tidur, tapi masih belum berganti pakaian.