Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 35 Because Baby Am


__ADS_3

Zeevana duduk di ranjang sambil menatap baby Am yang sedang tertidur pulas.


'Baby Am kalau pagi begini kok malah tidur terus. Kenapa kalau malam malah susah bobo, sih!. Abi jadi kecewa terus karena menunggu umi menidurkan dedek,' gumam Zeevana.


Sudah berapa hari niat Zeevana untuk memberikan hak suaminya selalu saja gagal total karena baby Am selalu terjaga di malam hari. Kalau pun baby Am sudah tidur, justru dia yang malah kebablasan ikut tertidur. Alhasil pagi-pagi Zeevana tidak akan melihat senyuman suaminya di meja makan hingga pulang kerja.


Huft. Zeevana menarik napas dalam. Wajah tanpa dosa itu selalu saja tidak nyenyak tidurnya jika Zeevana jauh darinya. Makanya Zeevana tidak bisa jauh-jauh dari kamar jika baby Am sedang tidur. Mertuanya pun tahu dan memaklumi akan hal itu.


Tring.Tring.Tring.


Beberapa notif chat masuk ke ponsel Zeevana. Dari tadi ponselnya tidak berhenti berbunyi.


Grup Kredit Mania.


Mike: "Zee, serius nggak kerja lagi?."


Icha: "Ke, aku ketemu Pak By berapa hari ini wajahnya jutek banget, ya."


Vania: "Iya, aku tadi juga lihat ada karyawan yang datang terlambat langsung kena semprot Pak By."


Vera: "Efek Zeevana belum masuk kerja, nih."


Anita: "Kayaknya Zee lagi sibuk sama baby Am."


Vemy: "Iya, kok Bos besar balik cool lagi, ya?."


Mike: "Ke mana nih, Zee?. Kok nggak komen juga."


Zeevana hanya membaca saja chat dari teman-temannya tanpa komentar. Dia lalu mengirim chat pribadi kepada Vera.


Zeevana: "Bukan kalian saja yang mendapat sikap dingin darinya, aku di rumah pun sama saja."


Vera: "Kenapa bisa begitu, Zee?."


Zeevana: "Nggak tahu, Mba." (pura-pura tidak tahu penyebabnya).


Vera: "Kalau laki-laki seperti itu, biasanya karena faktor hasratnya tidak tersalurkan, Zee."


Zeevana menggigit bibirnya. Memang kesempatannya untuk menunaikan tugasnya sebagai istri gagal terlaksana karena tiba-tiba baby Am menangis sehingga Byakta pun tidak mau lagi melanjutkan aktivitas intim mereka.


Zeevana: "Mungkin juga, Mba." (sambil membayangkan).


Vera: "Harus ada komunikasi, Zee."

__ADS_1


Zeevana: "Iya, Mba Ve. Terima kasih atas masukannya."


Vera: "Sama-sama, Zee. Mba juga dulu pernah mengalaminya, kok."


Zeevana meletakkan ponselnya di atas nakas. Pikirannya pun jadi tidak tenang lalu mengambil ponsel lagi. Zeevana mencoba menghubungi suaminya.


Byakta melihat ponselnya bergerak di atas meja kerjanya, tanda ada yang menelponnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat di layar ponsel tertera tulisan 'My Lovely Wife'.


[Assalamualaikum, Mas]


[Waalaikumsalam]


[Mas lagi sibuk, ya?]


[Lumayan]


Datar sekali menjawabnya. Zeevana menggigit bibirnya.


[Oh, berarti aku menganggu, dong]


Zeevana lalu mencoba mencairkan suasana percakapannya yang terasa datar menurutnya. Tidak ada feedback dari Byakta.


[Menurut kamu?]


[Ya sudah, Mas. Kalau aku mengganggu, aku tutup ya]


[Assalamualaikum]


Zeevana menyerah dan mengakhiri percakapan mereka.


[Waalaikumsalam]


"Aaagrh. Kenapa dia menjadi dingin begitu?. Kok, auranya nggak enak banget, sih," omel Zeevana kesal sambil menaruh ponselnya.


Zeevana tidak habis pikir. Memang apa salah dirinya sampai suaminya harus bersikap dingin seperti itu dengannya.


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Malam ini, Zeevana berusaha menidurkan baby Am lebih awal. Sejak Byakta pulang kerja, dia belum bertegur sapa dengan suaminya ituย karena dia sudah sibuk memandikan baby Am. Sementara mama mertuanya sedang membuat menu makan malam bersama bibik di dapur.


Byakta sibuk membalas beberapa email yang masuk sambil melirik Zeevana yang sedang berbaring di ranjang. Baby Am ternyata sudah berada di boxnya. Sayup-sayup dia seperti mendengar suara isakan tangis.


Siapa yang menangis malam-malam begini?. Byakta berdiri dari sofa dan mendekati Zeevana. Mungkinkah dia yang menangis?.

__ADS_1


Ternyata benar. Byakta melihat bahu istrinya berguncang menahan agar tangis tidak pecah keluar.


"Zee!!," panggil Byakta sambil duduk di sisi ranjang. Namun Zeevana bergeming. Byakta mulai cemas.


"Zee, kamu kenapa?," tanya Byakta pelan lalu membangunkan Zeevana agar duduk. Wajah istrinya itu sudah banjir oleh airmata.


"Kamu kenapa?," tanya Byakta lagi.


"Mas yang kenapa?." Zeevana balik bertanya sambil terisak.


Byakta menarik napas dalam. Kenapa malah dia yang ditanya, padahal istrinya yang menangis.


"Mas sudah mendiamkan aku dan bersikap dingin. Memangnya salah aku apa, Mas?. Aku capek mengurus baby Am. Kalau malam aku selalu terjaga. Kadang dia menangis karena pipis atau pup. Apa pernah aku membangunkan, Mas?," ujar Zeevana sambil menangis, mengungkapkan isi hatinya.


Byakta tersentak kaget mendengarkan ucapan Zeevana kemudian dia pun terdiam. Tidurnya memang selalu nyenyak meskipun sebelumnya harus kecewa karena aktivitas intim mereka selalu gagal karena baby Am.


"Aku juga butuh perhatian kamu, Mas. Aku juga rindu ingin bermanja denganmu. Tapi apa aku harus mengabaikan anakmu demi egoku?. Tidak Mas, aku tidak bisa!!," isak Zeevana menunduk.


"Sudah, Sayang. Cukup!!. Maafkan, Mas," ujar Byakta kemudian menarik Zeevana ke dalam kepelukannya.


Zeevana sesegukan di dadanya. Byakta tidak tahu kalau ternyata istrinya itu kurang tidur karena selalu terjaga setiap baby Am bangun tengah malam. Dia pun menjadi merasa sangat bersalah. Byakta selalu merasa tidak diperhatikan lagi oleh Zeevana sejak kehadiran baby Am. Padahal justru Zeevana lah yang butuh perhatian dan kasih sayang darinya.


"Mas minta maaf," ucap Byakta sambil mengusap punggung Zeevana.


"Udah, Sayang. Nanti baby Am bangun mendengar uminya menangis," lanjut Byakta.


Tangis Zeevana pun mereda. "Tidurlah." Byakta kemudian membaringkan badan Zeevana kembali.


Byakta kemudian ikut berbaring sambil memeluk Zeevana dari belakang.


Ketika tengah malam, baby Am bangun. Benar seperti yang Zeevana ucapkan. Baby Am bangun kalau tidak pipis, ya dia pup. Byakta kemudian mengganti popok baby Am tanpa membangunkan Zeevana. Setelah berganti popok, baby Am menangis lagi.


'Oh, mungkin dia lapar,' pikir Byakta.


Dia pun membuatkan susu untuk anaknya. Selain ASI, baby Am juga minum susu formula karena menyusunya sangat kuat, sementara ASI Zeevana tidak banyak.


Setelah minum susu, bukannya tidur, baby Am malah terlihat gagah.


"Ya Tuhan, padahal mataku sudah mengantuk sekali," gumam Byakta mengusap wajahnya.


"Anak Abi, sekarang bobo ya. Besok Abi mau bekerja. Nanti Abi bisa kesiangan," ucap Byakta sambil menggendong baby Am.


Baby Am melihat Byakta seolah-olah mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh abinya. Sudah hampir satu jam, Byakta belum juga berhasil menidurkan baby Am. Terpaksa dia membangunkan Zeevana, matanya sudah tidak tahan lagi ingin tidur.

__ADS_1


"Yang, tidurkan baby Am. Tadi pipis dan sudah minum susu, tapi matanya masih melek begitu. Mas sudah ngantuk berat ini," ujar Byakta.


Byakta benar-benar menyerah. Dia memberikan baby Am kepada Zeevana kemudian menghempaskan badan ke pulau kapuk. Tidak sampai lima menit dia pun sudah terlelap tidur.


__ADS_2