Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 29 Terjebak di Gudang


__ADS_3

Setelah menjadi CEO, Byakta tidak satu ruangan lagi dengan Zeevana. Kini kantornya berada di lantai delapan. Beberapa hari menjadi CEO, Zeevana selalu menyempatkan diri menemuinya. Setiap jam istirahat mereka akan makan berdua di ruangan CEO. Zeevana membawa makanan untuk Byakta karena suaminya itu sibuk sehingga tidak sempat untuk diajak makan di kantin.


"Mas, makan dulu. Nanti kerjanya dilanjutin lagi," ujar Zeevana.


"Iya, Sayang. Nih, sudah selesai." Byakta kemudian menghampiri Zeevana yang sudah menunggunya di sofa.


"Aku tadi delivery nasi padang jadi punya Mas, aku samakan saja," ujar Zeevana sambil menyodorkan kotak nasi ke arah Byakta.


"Ayo Mas, makan. Sudah lapar sekali," ajak Zeevana tidak sabar untuk makan karena mencium aroma nasi padang pesanannya.


"Kamu kok suka banget nasi Padang?," tanya Byakta.


"Sebelum hamil nggak juga, Mas. Tapi sekarang kalau nggak makan nasi Padang jadi nggak selera makan," jawab Zeevana sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Hmm, berarti dedek bayinya nih yang doyan nasi Padang," ujar Byakta sambil mengelus perut Zeevana.


"Mungkin juga, Mas." Zeevana tertawa kecil.


Selesai makan Byakta meninggalkan Zeevana di ruangannya karena mau sholat di musholla. Sedangkan Zeevana sudah sholat lebih awal kemudian dia baru makan.


"Mas, aku kembali ke ruangan ku ya," pamit Zeevana setelah Byakta selesai sholat.


"Nanti aja. Kamu temani Mas sebentar di sini," pinta Byakta kemudian mendekati Zeevana.


"Mas, aku juga sekarang kan sebagai atasan. Aku tidak mau menjadi contoh yang buruk bagi bawahan ku," tolak Zeevana halus. Kalau di hatinya, Zeevana malah ingin berlama-lama di ruangan suaminya.


"Baiklah Ibu manajer," goda Byakta mendekatkan wajahnya lalu mencium kilat bibir Zeevana.


"Ish, kesempatan," gumam Zeevana.


Zeevana tersenyum lalu memukul dada suaminya. Byakta pun terkekeh melihat tingkah Zeevana yang tersipu malu.


💞💞💞


Keluar dari lift Zeevana menghentikan langkahnya ketika seorang Office Boy menghampiri Zeevana sebelum dia masuk ke ruang divisi keuangan.


"Bu Zee, ada pesan dari Bu Mike. Katanya Ibu diminta untuk menemuinya di gudang lantai tujuh," ujarnya.


"Ngapain Bu Mike di gudang?," tanya Zeevana heran.


"Katanya mencari arsip. Bu Mike meminta Ibu untuk membantunya," jawab OB yang tidak terlalu Zeevana kenal.


"Baiklah. Terima kasih, ya," ujar Zeevana mengurungkan niatnya masuk ke ruang divisi keuangan.


Zeevana menuju lift untuk menyusul Mike yang berada di gudang. Kalau bukan karena teman dekat, mana mau Zeevana menyusul ke gudang. Apalagi posisi dia sebagai atasan, berani sekali. Tapi berhubung Mike kawan karibnya, dia akan membantu Mike.


Tiba di lantai tujuh. Pintu gudang tampak terbuka dan suasana koridor lantai tujuh tampak lengang.


Zeevana memasuki ruang gudang yang terang karena lampunya menyala. Tumpukan berkas-berkas dan arsip yang sudah lama tersusun rapi di sana.


"Mike!!," panggil Zeevana lalu masuk lebih dalam ke gudang. Namun tidak ada sahutan dari siapa pun di dalam.


Ceklek!!


Pintu gudang pun tertutup. Zeevana menoleh kaget melihat pintu yang tiba-tiba tertutup. Zeevana berjalan cepat ke arah pintu dan mencoba membuka pintu.


"Buka pintunya!!. Ini ada orang di dalam," gedor Zeevana sambil berteriak. Tidak ada sahutan dari luar. Zeevana mulai cemas.


"Buka!!," teriak Zeevana sekuat tenaga. Namun sia-sia pintu gudang sudah terkunci dari luar.

__ADS_1


"Ya Allah," rintih Zeevana sambil menyeka keringat di dahinya.


Suhu di dalam gudang terasa panas karena minim ventilasi dan hampir kedap suara.


Zeevana terduduk lemas di balik pintu gudang. Dia lupa membawa ponselnya jadi tidak bisa menghubungi siapa pun untuk meminta pertolongan.


"Ya Allah, tolonglah hamba. Semoga Mas By bisa menemukan aku," ujar Zeevana cemas sambil mengelus perutnya.


💞💞💞


"Hey. Kalian tahu nggak Bos kita di mana?," tanya Mike.


"Sudah istirahat tadi dia keluar. Sampai sekarang belum kembali ke ruangan," ucap Vera.


"Apa dia di ruangan Pak By, ya?. Kan sekarang mereka nggak satu ruangan lagi," tebak Mike tersenyum.


"Mungkin saja," balas Vera.


"Tapi kayaknya Zee nggak bawa ponselnya. Di ruangan manager, ponselnya dari tadi berbunyi terus," sela Vemy.


"Iya, ya. Coba kita cek dulu, tuh ponselnya bunyi lagi," ujar Vera segera memasuki ruangan Zeevana.


[Waalaikumsalam. Saya Vera, Pak]


Balas Vera mengangkat ponsel Zeevana.


[Lho, Zeevana ke mana?]


Byakta heran kenapa sampai Vera yang mengangkat ponsel istrinya.


[Bukannya Zee di ruangan Pak By. Sejak istirahat tadi, Zee belum kembali ke ruangannya, Pak. Dan sepertinya dia lupa membawa ponselnya]


"Zee nggak ada di sana?," tanya Mike. Vera mengangguk.


"Ke mana tuh anak?. Apa ke rooftop?. Coba kita cek ke sana," ujar Mike khawatir karena kondisi Zeevana sedang hamil begitu.


"Onni, coba kamu cek ke rooftop," perintah Vera selaku karyawan paling senior di ruangan itu.


"Iya, siap Bu Vera," ujar Onni meninggalkan ruang divisi keuangan.


Jeda sepuluh menit Onni sudah kembali dan membawa informasi bahwa di rooftop tidak ada siapa-siapa.


"Ya Allah, menghilang ke mana tuh anak," ujar Vemy cemas.


"Iya, aneh banget. Aku sempat menanyakan kepada karyawan di luar tadi, tapi nggak ada yang melihat Zee," sambung Onni.


"Sekarang sudah hampir jam pulang," gumam Vera.


Tap.Tap.Tap.


Byakta memasuki ruang divisi keuangan ditemani sekretarisnya Bayu.


"Pak By!!," seru mereka melihat kedatangan Byakta.


"Zeevana belum ada juga?," tanya Byakta.


"Iya, Pak. Kami sudah cek ke rooftop dan toilet, Zee tidak ada di sana," jawab Vera.


"Kalian pulanglah," perintah Byakta kemudian masuk ke ruangan Zeevana.

__ADS_1


"Baik, Pak!!"


"Bay, bawa tas Ibu ke mobil. Saya akan ke ruang komputer untuk melihat cctv," perintah Byakta.


"Baik, Pak."


Byakta dan Bayu pun berpisah. Semua karyawan satu persatu sudah pulang. Dia mengajak beberapa security perusahaan untuk menemaninya mencari Zeevana.


"Angga, coba lihat rekaman cctv siang tadi di setiap lantai gedung," perintah ku memasuki ruangan komputer.


"Ada apa memangnya, Pak?," tanya Angga yang bertugas memantau ruang komputer khusus untuk cctv.


"Istri saya tiba-tiba menghilang setelah jam istirahat dan setelah keluar dari ruangan saya," jawab Byakta cemas.


"Baik Pak, akan saya cek," ujar Angga sigap. Angga memperhatikan setiap rekaman cctv yang terjadi setelah jam istirahat selesai.


"Pak, ini Bu Zeevana ketika sebelum masuk ke ruang divisi keuangan. Ada seorang OB yang menghampirinya," tunjuk Angga ke layar komputer kepada seorang laki-laki berseragam OB.


"Iya, terus ke mana lagi dia setelah itu?," tanya Byakta masih memperhatikan layar komputer.


"Kayaknya ke lift menuju lantai..."


"Tujuh!!," sambung Byakta melihat Zeevana keluar dari lift.


"Bu Zeevana masuk ke dalam gudang Pak dan lihat... Ada laki-laki yang menguncinya dari luar," tunjuk Angga lagi.


"Ayo Pak, kita ke gudang. Cepat!!," ajak Byakta kepada Pak Kirno dan Agus security perusahaan.


"Siap, Pak!!," sahut mereka berdua.


"Terima kasih, Angga," ucap Byakta sambil mengangkat jari jempolnya.


Byakta pun segera keluar dari ruang komputer diiringi kedua securitynya.


"Sama-sama, Pak," balas Angga.


Tiba di depan gudang. Byakta mencoba membuka pintunya namun tidak terbuka.


"Zee, kamu di dalam?. Jawab Zee!!," gedor Byakta. Namun tidak ada sahutan dari Zeevana.


"Pak, kita dobrak saja," saran Pak Kirno.


"Cepatlah dobrak!!," perintah Byakta setuju.


Satu.Dua.Tiga.


Brakk!!!


Pintu gudang langsung terbuka setelah didobrak oleh Pak Kirno dan Agus. Byakta segera masuk ke dalam gudang dan berteriak memanggil Zeevana.


"Zee!!."


Laki-laki itu terkejut melihat Zeevana tergeletak tak berdaya di sudut ruangan.


"Zee!. Bangun, Sayang," Byakta menepuk-nepuk pipi Zeevana agar sadar. Dia lalu mengecek nadi istrinya. Masih ada.


"Ayo, Pak. Kita cepat keluar dari sini," ajak Byakta lalu menggendong Zeevana dan membawanya ke rumah sakit agar cepat mendapatkan pertolongan.


"Cari informasi, siapa OB yang berbicara dengan istri saya dan orang yang telah menguncinya di gudang," perintah Byakta geram kepada Pak Kirno sebelum dia meninggalkan perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2