
Tok.Tok.Tok.
Zeevana masih dalam pelukan Byakta ketika mendengar suara pintu apartemennya diketuk seseorang. Selesai sholat subuh, Byakta menarik Zeebana kembali ke tempat tidur sambil ngobrol pagi.
"Mas ada tamu. Aku buka pintunya dulu, ya," ujar Zeevana melepaskan pelukan Byakta.
Zeevana menyambar jilbab langsungnya dan berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
Setelah membuka pintu, ternyata tamu yang datang tak lain adalah Shindi. Wanita itu sangat terkejut melihat Zeevana yang muncul di balik pintu begitu pun sebaliknya. Zeevana juga tidak menyangka pagi-pagi begini Shindi akan mendatangi apartemen suaminya.
"Ze...Zeevana ngapain kamu di sini?," tanya Shindi menatap Zeevana curiga.
"Bu Shindi sendiri mau ngapain?," Zeevana balik tanya.
"Aku kebetulan lewat membeli sarapan pagi, jadi sekalian mau membelikan Byakta juga," jawab Shindi.
"Siapa, Zee?," tanya Byakta menyusul Zeevana ke ruang tamu. Dengan bertelanjang dada Byakta berdiri tepat di belakang Zeevana. Shindi yang melihat penampilan Byakta bertelanjang dada begitu kaget.
'Jangan-jangan mereka habis tidur bersama,' jerit hati Shindi tidak percaya.
Shindi menutup mulutnya tidak percaya. Dia menatap Zeevana dengan tatapan jijik.
'Jilbab saja yang panjang, tapi diajak tidur bos-bos mau juga. Cih!,' batin Shindi.
Tanpa bicara lagi Shindi balik kanan kemudian meninggalkan apartemen Byakta dengan hati kecewa.
"Mas bagaimana ini?. Bu Shindi melihat kita berdua di apartemen dengan penampilan mas begini pula," ujar Zeevana menunjuk dada Byakta tanpa busana dengan cemas dan kesal.
"Terserah, Mas tidak peduli. Jadi dia tidak menganggu Mas lagi," ujar Byakta merangkul pinggang Zeevana.
"Olah raga pagi sebelum ke kantor enak juga kali, ya," goda Byakta melirik Zeevana.
"Apaan sih Mas. Hari sudah siang. Aku nggak bawa baju kerja. Jadi mau pulang dulu ke rumah," tolak Zeevana.
"Baiklah, Sayang. Kalau begitu sampai jumpa di kantor, ya." Byakta mendaratkan ciuman singkat ke bibir Zeevana.
"Mas mau minta dibawakan sarapan nggak?," tawar Zeevana.
"Mmm. Nggak usah lah. Nanti Mas ceplok telor saja atau bakar roti kalau sempat," tolak Byakta.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Mas," pamit Zeevana meraih tangan Byakta lalu mencium punggung tangannya. Byakta tersenyum diperlakukan seperti itu.
"Assalamualaikum," ucap Zeevana keluar dari apartemen.
"Waalaikumsalam. Jangan ngebut, ya," pesan Byakta sebelum menutup pintu. Zeevana pun tersenyum mengangguk.
ππππ
Gosip cepat menyebar seperti jerami dimakan oleh api. Zeevana heran mengapa setiap dia lewat, orang-orang menatapnya sinis dan meremehkannya.
Di kantin perusahaan.
"Zee, sebenarnya kami tidak percaya mendengarkan berita ini. Makanya kami sebagai teman mau minta konfirmasi dengan kamu langsung," ujar Mike pelan.
"Berita apa, ya?. Kok, aku nggak tahu," tanya Zeevana heran.
"Zee, apa benar kamu semalam tidur..." Mike memotong kalimatnya.
__ADS_1
"Tidur dengan Pak Byakta," sambung Vera.
Vera yang paling terpukul mendengar gosip itu. Setahu dia, Zeevana sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis, rasanya tidak mungkin Zeevana melakukan hal gila semacam itu.
Zeevana memejamkan matanya. 'Ya Tuhan, ini pasti ulah Bu Shindi,' batin Zeevana.
"Aku tidak bisa bicara di sini nanti banyak yang mendengarkan," elak Zeevana.
"Baiklah kita ajak dia ke atas," saran Vera. Mereka bertiga kemudian mengajak Zeevana ke rooftop.
"Zee, berita tentang kamu itu nggak enak banget didengar telinga," ucap Vera emosi terhadap berita gosip murahan itu.
"Hmm, aku memang semalam dengan Pak Byakta. Kenapa, ada masalah?," ujar Zeevana dengan wajah tanpa dosa.
"Ya Allah, Zee!!," jerit Mike tidak percaya. Angin kencang menerpa jilbab yang mereka pakai.
"Aku baru merasakan sekarang kalau aku ternyata sangat mencintainya," tambah Zeevana.
Zeevana suka sekali melihat tampang histeris teman-temannya. Sudah saatnya mereka tahu akan hubungannya dengan Byakta.
"Kamu sudah melakukan apa saja Zee dengan Pak By?," tanya Vemy tidak menyangka kalau temannya bergerak lebih cepat dari mereka.
"Ya layaknya hubungan suami istri lah," jawab Zeevana santai.
"Astaghfirullah, Zee!!," jerit Vera tidak percaya.
"Zee, aku dan Vemy juga suka dengan Pak By tapi tidak senekad dan segila kamu, Zee!!," teriak Mike kecewa.
Zeevana tertawa. "Aku emang sudah gila apalagi setelah tahu Bu Shindi itu mau mengejar dia. Aku tidak akan membiarkan dia merebut apa yang sudah menjadi milikku," ucap Zeevana lantang.
"Zee, elling Zee," ingat Vemy.
"Apa!!!," teriak Mike, Vera dan Vemy serempak.
"Waduh, teman kita yang satu ini perlu dirukyah, deh," ucap Mike.
"Sialan kamu, Ke. Kamu kira aku kesurupan apa," elak Zeevana.
"Iya, soalnya kamu mengaku-ngaku menjadi istri Pak By," sungut Vemy.
"Terserah kalau kalian tidak percaya. Tapi ini rahasia, ya. Jangan sampai orang lain tahu selain kalian bertiga," pesan Zeevana.
"Bodo!!. Memangnya kita percaya kalau kamu istri Pak By," ucap Mike masih tidak percaya.
Zeevana kemudian meninggalkan teman-temannya lebih dulu sambil tersenyum.
πππ
"Untuk apa coba sholat kalau kelakuannya saja tidak beda dengan wanita malam," cibir seorang karyawan melihat Zeevana baru saja keluar dari mushola perusahaan.
Zeevana hanya geleng-geleng kepala. 'Mereka membicarakan siapa sih,' pikir Zeevana. Toh, dia merasa bukan wanita malam, jadi ngapain juga harus tersinggung.
"Mas," Zeevana memanggil Byakta ketika mereka papasan di koridor kantor.
"Zee, ada apa?."
"Sini dulu, deh."
__ADS_1
Zeevana menyeret lalu merangkul tangan suaminya agar masuk ke dalam ruang divisi keuangan.
Byakta tersenyum melihat tingkah Zeevana kayak takut kepergok security saja. Byakta mengiringi langkah istrinya yang membawanya masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Tiga pasang mata menatap tidak percaya bahwa teman mereka ternyata agresif juga sampai Byakta di tarik-tarik begitu.
"Ada apa, Sayang?," tanya Byakta heran setelah Zeevana mengunci ruangannya.
"Mas dengar nggak sih gosip tentang aku. Pasti ulah Bu Shindi yang melihat aku ada di apartemen Mas," jawab Zeevana kesal.
"Untuk sementara kita abaikan dulu. Bulan depan Bram akan melepas jabatan CEO dan Mas yang akan menggantikannya," saran Byakta.
"Tapi Mas, aku dibilang wanita munafik, penggoda, sok alim tapi nggak beda dengan wanita penghibur dan lain-lain bikin hati sakit saja," omel Zeevana.
"Kamu merasa itu diri kamu tidak?," tanya Byakta. Zeevana menggelengkan kepala.
"Lha, terus ngapain pusing. Kesalahan mereka karena tidak tahu kalau aku dan kamu sudah halal," Byakta menarik ZeevanaΒ hingga dia terduduk di pangkuan Byakta.
"Mas, aku mau kembali ke meja kerjaku." Byakta tidak mengizinkan Zeevana beranjak dari pangkuannya.
"Temani Mas tidur, ya. Mas mengantuk sekali," Byakta menyandarkan kepalanya ke dada Zeeevana.
"Mas!!!."
Zeevana mendorong bahu Byakta. Byakta terkekeh karena barusan dia merasakan detak jantung Zeevana yang begitu kencang.
Zeevana mengerucutkan bibirnya karena Byakta sudah mengerjainya. Dia pun langsung berdiri namun Byakta masih menahannya.
"Sebelum keluar kiss dulu biar Mas nggak ngantuk," ujar Byakta menunjuk pipinya.
Zeevana tersenyum lalu mencium pipi kanan Byakta. "Yang kiri belum," ujar Byakta geli.
Cup. Zeevana pun kembali mencium pipi bagian kiri Byakta.
"Udah," ujar Zeevana hendak berdiri namun Byakta masih saja menahannya.
"Apalagi, Mas!!," desah Zeevana.
"Di sini," tunjuk Byakta ke bibirnya.
"Apa!!."
Zeevana melebarkan matanya. Dia malu sekali kalau harus mencium bibir suaminya lebih dulu.
"Nggak mau?. Ya udah, begini saja terus nggak apa," tantang Byakta memeluk Zeevana.
Zeevana memejamkan mata, dia harus cepat kembali ke mejanya. Jam istirahat sudah lama berlalu, teman-temannya pasti sudah di sana.
Zeevana memberanikan diri mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Byakta.
"Thanks for your kiss," kedip Byakta tersenyum.
"Genit," balas Zeevana tertawa kecil lalu keluar dari ruangan Byakta.
Byakta pun terkekeh mendengarkan ucapan istrinya itu.
Keluar dari ruangan Manajer, teman-temannya menatap Zeevana heran.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan di dalam ruangan bos lama begitu?," bisik Vemy kepada Mike.
Mike hanya menggendikkan bahunya tanda dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.