Me And The Credit Queen

Me And The Credit Queen
Part 7 Pusing Karena Jodoh


__ADS_3

“Kenapa bengong saja, Neng?. Hari libur begini bukannya bantuin aku, eh malah bengong saja,” ujar Bella sambil memakaikan baju kepada bayinya yang baru berusia satu bulan.


“Bos aku tuh nyebelin banget deh, Bel. Masa aku lupa order pesanan dia, terus aku ketiban harus menemani dia mencari sepatu di mall,” oceh Zeevana.


“Nah lho, kamu ketahuan jalan berduaan dengan cowok ganteng,” ledek Bella.


“Apaan, sih. Orang terpaksa juga,” elak Zeevana.


“Kalau ketahuan Abah nanti langsung dinikahin, lho,” sindir Bella.


“Astaghfirullah, Bel. Sssst, awas kamu ya kalau laporan sama Abah,” ancam Zeevana.


Zeevana teringat pesan Abahnya untuk tidak berjalan berduaan dengan lelaki bukan mahramnya. Makanya abah Zeevana memberi kepercayaan kepadanya untuk sekolah di luar pesantren karena kakak-kakaknya lulusan pesantren semua. Zeevana kuliah di jurusan umum bukan di STAI atau sejenisnya. Jadi  kalau sampai ketahuan oleh Abahnya, dia jalan berdua dengan laki-laki maka dia akan dinikahkan dengan laki-laki itu.


“Haduh, kok aku sampai lupa ya dengan komitmen sama Abah. Semoga nggak ada yang lihat,” doa Zeevana dalam hatinya.


“Nggak apa juga kali. Untung buat kamu, Zee,” ledek Bella.


“Untung kepalamu!!,” sungut Zeevana.  Bella hanya senyam-senyum melihat tingkah sepupunya itu.


“Kamu kok nggak ngabarin sih kalau acara aqiqah anakmu diundur. Aku udah jauh-jauh datang juga,” lanjut Zeevana mengalihkan pembicaraan.


“Ya, kamu kan sibuk banget. Kapan lagi coba sengaja main ke sini,” ujar Bella.


“Suamimu ke mana, Bel?,” tanya Zeevana.


“Ke rumah sepupunya,” jawab Bella melirik Zeevana, “Zee, kamu mau nggak aku jodohkan dengan sepupu suamiku?.”


“Aku belum niat mau menikah,” tolak Zeevana.


“Ya ampun, Zee. Umur kamu udah 26 lho. Aku aja udah anak dua, lha kamu nikah aja belum ada niat. Bagaimana, sih,” gerutu Bella.


“Masih mau happy kerja dulu, Bel,” ujar Zeevana mencari alasan.


“Alasan aja kamu,” cibir Bella.


Bella kehabisan akal bagaimana caranya agar Zeevana menerima tawaran dia, tapi kalau orangnya tidak mau ya mau bagaimana lagi.


***


“Mas, Zee belum mau nikah katanya,” ujar Bella lesu berbaring di samping suaminya sambil ngelonin bayi mereka.


“Tenang aja, Sayang. Zee pasti mau, kok. Mau nggak mau dia pasti akan menikah,” balas Bram yakin.


“Mas, Zee itu sebal sekali dengan bosnya. Bagaimana?,” tanya Bella.


“Udah, nggak usah pusing memikirkan sepupu kamu itu. Pasti ada jalannya kalau memang jodoh,” jawab Bram tersenyum.


***


“Zee, Abah mau ngomong sama kamu,” panggil Sa’id, abah Zeevana.


“Zee mau anter barang pesenan temen, Abah,” elak Zeevana sambil menutup pintu kamarnya.


“Zee, duduklah dulu. Abah kan mau bicara,” sela Umi Fatimah.


Zeevana akhirnya menuruti perkataan uminya lalu duduk di hadapan abah Sa’id.


“Kakak-kakakmu sudah menikah semua. Kini tugas terakhir abah untuk menikahkan kamu. Waktu acara aqiqah anak Bella nanti, Abah akan mengumumkan calon suami kamu,” ucap Abah tegas.


Zeevana melonggo tidak percaya, tanpa babibu abahnya sudah menentukan calon suami untuknya. Tidak!!

__ADS_1


“Ta...tapi, Abah. Masa tiba-tiba Abah langsung mau mengenalkan calon suami Zee. Zee saja belum tahu siapa dia. Nggak bisa gitu dong, Abah,” tolak Zeevana.


“Nggak mungkin kamu nggak kenal. Abah kenal dia sudah pasti kamu juga kenal dengan dia,” tegas Abah Sa'id.


“Kok Abah main tebak-tebakan, sih,” gerutu Zeevana.


‘Ya Tuhan, siapa sih orangnya. Buat penasaran saja. Kalau aku nggak suka sama orangnya masa iya mau dipaksa menikah sama dia’ batin Zeevana heran.


“Bisa nolak kan, Bah?. Kalau ternyata Zee nggak suka dia,” tanya Zeevana ragu.


“Mau menolak bagaimana?. Abah kan sudah menerima dia menjadi calon menantu Abah,” jawab Abah tersenyum.


“Abah!!. Tega sekali dengan Zee. Kak Zelva dan Kak Zainab saja memilih sendiri calon suaminya. Kenapa Zee sudah ditentukan oleh Abah?. Nggak adil banget sih jadi bapak,” gerutu Zeevana kesal dengan sikap abahnya.


“Udahlah, Zee. Abah nggak akan salah pilih. Abah juga sudah kenal baik kok sama keluarganya,” sela uminya.


“Ugh, pokoknya nggak adil saja. Assalamualaikum,” pamit Zeevana meninggalkan abah dan uminya di ruang keluarga.


***


“Zee,” panggil Mike.


Zeevana tampak mencoret-coret asal di kertas yang ada di mejanya, panggilan Mike tak dihiraukannya.


“Zeevana!!,” teriak Mike heran dengan tingkah teman kerjanya yang satu itu.


Zeevana tampak kaget dan gelagapan setelah mendengar suara cempreng Mike di gendang telinganya.


“Apa Mike?. Nggak usah teriak-teriak kali,” sahut Zeevana manyun.


“Kamu tuh dari tadi aku panggil nggak nyahut-nyahut juga. Masih hidup rupanya,” ledek Mike.


“Hampir mati kaget. Gara-gara Mike Oktaviani,” balas Zeevana sewot.


“Nggak kok, lagi badmood saja. Jadi malas pulang ke rumah,” jawab Zeevana.


“Kalau nggak pulang ke rumah, mau pulang ke mana?. Ke rumah calon mertua (camer)?,” goda Mike.


“Camer dari Hongkong,” jawab Zeevana asal.


“Apa!!. Aku baru tahu kalau camer kamu orang Hongkong,” ujar Mike pura-pura kaget lalu terkekeh.


“Mike!!. Udah deh godain orang terus,” teriak Zeevana kesal.


“Ehem. Ada apa ini?,”


Byakta keluar dari ruangan  mendengar suara Zeevana sedang berteriak dan memukul Mike dengan berkas di tangannya. Mereka berdua pun berhenti saling pukul setelah mendapat tatapan tajam dari Byakta.


“Hm. Nggak ada, Pak,” jawab Mike.


“Oya, kalau ada yang mencari saya, bilang saja saya sedang keluar,” pesan Byakta.


“Paling juga dicariin Zeevana, Pak. Dia mau menagih utang,” celetuk Mike. Byakta melirik ke arah Zeevana seolah meminta penjelasan.


“Aww!!,” teriak Mike sambil meringis. Sepertinya Zeevana telah menginjak kaki Mike. Byakta menahan senyum.


“Baik, Pak. Nanti akan kami katakan begitu kalau ada yang mencari Bapak,” ujar Zeevana menatap tajam Mike.


Byakta pun meninggalkan ruangan divisi keuangan sambil mengaitkan kancing jasnya. Dia sengaja belum membayar sepatu pesanannya yang telah sampai. Mana mungkin dia lupa kalau ada hutang dengan si Ratu Kredit. Byakta ingin tertawa sendiri.


'Bisa-bisanya seorang Byakta mau membeli sepatu pake acara kredit segala,' batin Byakta.

__ADS_1


Sebenarnya dia mau membeli dengan harga cash, tapi ketika dia tidak ada di ruangan, sepatu itu sudah ada di atas meja kerjanya, jadi terlewatkan olehnya karena tidak bertemu dengan Zeevana langsung.


“Sakit tahu nggak, Zee,” omel Mike setelah melihat Byakta menghilang dari ruangan.


“Habisnya mulut kamu asal ngomong saja” balas Zeevana tak mau kalah.


“Oh, aku tahu kenapa kamu suntuk?,” tanya Mike.


“Apa?,” Zeevana balik bertanya.


“Karena Pak By belum bayar sepatunya, kan?,” tebak Mike.


“Sok tahu kamu,” sungut Zeevana.


‘Memang sih salah satunya itu, tapi bukan itu yang utama. Dua hari lagi aku akan melihat calon suamiku,’ batin Zeevana meringgis.


“Kenapa ekspresi kamu, Zee?. Kok, gitu amat,” tanya Mike heran.


“Udah, deh. Sana kerja!!,” teriak Zeevana emosi.


“Alah, lagak kamu kayak bini Pak Bos aja,” ledek Mike sambil tertawa kecil dia kembali ke kubikelnya.


‘Bos yang lain aja jangan dia,’ batin Zeevana.


Teman-teman satu teamnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zeevana dan Mike, mereka berdua selalu menjadi peramai divisi keuangan.


***


Setelah makan siang, Zeevana memanfaatkan waktunya untuk tagih-menagih pelanggannya di divisi lain yang belum bayar angsuran.


“Zee, lunas yak. Kalau ada barang baru kasih tahu eike, ya,” ujar Susi karyawan di bagian humas.


“Beres. Bulan depan nanti ada tas branded limited edition, lho. Jangan ketinggalan, ya,” Zeevana lalu pergi  keruangan lain.


Sampai di lobi perusahaan, ada pelanggannya yang memanggil, security dan office boy.


“Mba Zee, utang Bapak berapa lagi?,” tanya Pak Kirno, security D’Family Group.


“Hmm, dua ratus ribu lagi, Pak. Bapak mau bayar?,” ujar Zeevana membuka buku utangnya.


“Iya, Mba. Bapak bayar seratus dulu, ya,” ujar Pak Kirno sambil menyerahkan selembar uang merah.


“Kamu, Ben?. Mau bayar juga?.” tanya Zeevana melihat Beni berdiri di samping Pak Kirno.


“Iya, Mba. Mau melunasi utang yang lama biar bisa ambil barang yang lain lagi,” jawab Beni salah satu OB D’Family Group tersenyum malu.


“Oh...boleh, Ben. Kamu mau mengambil apalagi?,” tanya Zeevana.


“Saya...saya mau beli gamis untuk istri saya, Mba,” jawab Beni menunduk.


“Oalah, Ben. Kamu sayang istri sekali,” ucap Zeevana terharu.


Zeevana tersenyum melihat Beni yang malu-malu menyebutkan barang yang ingin dibelinya lagi secara kredit dengan Zeevana.


“Oke. Oke nanti saya carikan yang bagus dengan harga miring, ya,” balas Zeevana.


“Ukuran L ya, Mba,” ingat Beni.


“Sipp. Saya balik ke atas dulu, ya,” pamit Zeevana meninggalkan mereka berdua di lobi.


Sepasang mata geleng-geleng kepala melihat Zeevana bertransaksi tadi di lobi.

__ADS_1


“Hmm, ternyata dia terkenal juga di perusahaan ini,” gumamnya kemudian melanjutkan langkahnya.


__ADS_2