
Semakin hari berita kedekatan Byakta dan Zeevana sebagai pasangan yang kontroversi karena melihat penampilan Zeevana yang tampak religius itu mendadak viral.
"Byakta benar-benar tidak tertarik lagi dengan ku. Apa dia sudah tergila-gila dengan gadis munafik itu?," gumam Shindi bersandar di kursi empuknya.
"Pura-pura alim dan pendiam, tapi ternyata liar!!. Pantas saja ketika aku meminta bantuannya, dia menolak dengan alasan tidak tahulah. Aku juga tidak menyangka Byakta mau tidur dengan gadis seperti Zeevana."
Shindi menghempas berkas yang ada di sampingnya. Shindi benar-benar kesal karena semua hadiah yang dia berikan kepada Byakta kembali dalam keadaan utuh di ruangannya. Byakta sama sekali tidak membuka hadiah pemberian darinya.
Di kantin perusahaan.
Belum waktunya istirahat, Zeevana sudah duduk di kantin. Perutnya terasa mual, mungkin secangkir air jeruk hangat bisa menghilangkan rasa mualnya.
"Hai...," sapa Shindi mendekati Zeevana yang sedang mengaduk-aduk air jeruknya. Zeevana menatap Shindi tanpa tersenyum.
"Sudah berapa kali kau tidur dengan Byakta, sampe mual begitu?," tanya Shindi sinis lalu duduk di hadapan Zeevana.
Shindi memang melihat Zeevana menutup mulutnya yang seolah-olah menahan mau muntah.
Zeevana menarik napas dalam. Apa dia harus meladeni Shindi?
'Baiklah aku akan membuat mu semakin panas Bu Shindi,' batin Zeevana tersenyum geli.
"Kenapa Bu Shindi tertarik sekali dengan urusan asmaraku?. Apa karena Pak Byakta pernah naksir Ibu, terus dengan percaya dirinya Ibu kira Pak By masih menyukai Ibu?," tanya Zeevana.
Shindi tersenyum sinis menahan emosinya. Bagaimana pun dia seorang atasan yang tetap harus jaga image di depan Zeevana.
"Kalau Ibu mau tahu,Β setiap kali Pak Byakta menginginkan aku, aku selalu siap untuknya," tatap Zeevana tersenyum.
"Murahan!," maki Shindi.
"Kenapa?!. Yang kami lakukan itu tidak salah. Yang salah itu orang yang terlalu mencampuri urusan orang lain," sindir Zeevana.
Shindi menahan kesal karena merasa tersindir dengan ucapan Zeevana.
"Pak Byakta itu punya Zeevana. Jadi Bu Shindi jangan mengganggu milik orang lain," ingat Zeevana.
"Dengar Zeevana!!. Kau kira dirimu itu siapa?. Berani melarang ku mendekati Byakta," sungut Shindi kesal.
Shindi lalu berdiri dan meninggalkan Zeevana yang masih menikmati air jeruknya. Zeevana terkekeh sendiri melihat raut muka masam Shindi.
πππ
Setelah menghangatkan perutnya Zeevana kembali lagi ke ruangannya.
"Kamu kenapa Zee dari tadi bolak-balik ke kamar mandi?," tanya Vera curiga.
"Perut ku mual Mba, jadi tadi ke kantin sebentar membeli air jeruk hangat," jawab Zeevana.
"Mual?," bisik Mike kepada Vemy.
"Jangan-jangan dia hamil karena udah tidur dengan Pak By," tebak Vemy berbisik kepada Mike.
__ADS_1
"Kalau maag ku kambuh memang suka begitu, Mba," tambah Zeevana karena melihat Vemy menatapnya curiga.
Di ruang CEO
"Mas By, kok nggak risih dengar gosip tentang kalian?," tanya Bram.
"Ngapain risih. Kami kan tidak melakukan perbuatan dosa," jawab Byakta santai.
"Iya, Mas. Tapi kan dipikiran orang beda karena mereka tidak tahu kalau kalian sudah menikah. Sepertinya jabatan CEO harus cepat serah terima ini," ujar Bram.
"Nanti saja, Bram," tolak Byakta.
"Kalau mau tunggu kontrak Zeevana selesai bakalan lama. Masih sanggup main kucing-kucingan. Nggak asik lagi pergi naik mobil sendiri-sendiri," ujar Bram memanasi Byakta.
Byakta hanya diam saja mendengarkan ucapan Bram.
"Tapi kasihan Zee, Mas. Namanya bisa tercemar oleh berita nggak benar," lanjut Bram lagi.
"Aku bicarakan dulu dengan papa, Bram," ujar Byakta. "Siapa yang akan mengganti posisi manajer keuangan kalau aku naik jabatan?."
"Di divisi keuangan kan Mas bisa lihat siapa yang kredibel untuk menggantikan, Mas," saran Bram.
Byakta tersenyum, 'Sepertinya istri ku sendiri yang lebih cocok untuk menggantikan posisi itu.'
πππ
Byakta dan papanya berada di perpustakaan sekaligus ruang kerja dia dan papanya. Byakta menceritakan semua kepada papanya tentang apa yang mengganjal pikirannya sekarang.
"Itu lebih bagus, By. Riskan juga kalau karyawan tidak tahu hubungan kalian yang sebenarnya. Nanti juga kamu kalau mencari sekretaris sebaiknya laki-laki saja."
"Minggu depan acara serah terima jabatan akan kita laksanakan sekaligus mengumumkan hubunganmu dengan Zee," ujar Arya.
Setelah konsultasi dengan papanya, Byakta keluar untuk memberitahu Zeevana tentang hal ini.
"By..." panggil Dwina melihatnya hendak menuju kamar.
"Ada apa, Ma?," toleh Byakta.
"Kamu ya nyetok es krim di freezer. Banyak banget?," tanya mama heran.
Byakta mengeryitkan dahi. Dia sama sekali tidak membelinya. Karena penasaran Byakta meinggalkan mamanya lalu menuju ke dapur untuk melihat isi kulkas.
"Ya Allah, kayak mau jualan aja." Byakta kaget melihat berbagai macam varian es krim merk ternama.
"Ma, di rumah ini hanya ada kita berempat di tambah Bik Nining dan Pak Joni. Nggak mungkin kan mereka berdua?," ujar Byakta. Mamanya manggut-manggut membenarkan.
"Kalau bukan kamu, berarti Zeevana dong, By," tebak Dwina.
"That right." Byakta menunjukkan jari telunjuk dan jempol seperti orang mau menembak.
"Zeevana hobi es krim?," tanya mamanya.
__ADS_1
"Kurang tau juga, Ma. Aku mau ke kamar dulu, Ma," jawab Byakta sekaligus meninggalkan mamanya.
πππ
Di kamar, Byakta melihat Zeevana sedang asik menjilat es krim di atas ranjang. Sepertinya menikmati sekali. Byakta tersenyum lalu mendekatinya.
"Zee, malam-malam nyemil es krim. Kamu nggak takut gendut?," tanya Byakta mendekatinya.
"Habis enak banget, Mas. Nggak bisa nahan," jawab Zeevana masih sambil menjilat es krimnya agar tidak menetes di atas ranjang.
"Hmm, kamu nyetok es krim kok kayak orang mau jualan," ujar Byakta.
"Kalau Mas mau, ambil aja. Aku malas Mas mau bolak-balik beli. Jadi sekalian saja," ujar Zeevana tersenyum. Byakta hanya geleng-geleng kepala.
"Aku jadi iri sama es krim itu," sindir Byakta. Mata Zeevana mendelik curiga lalu tersenyum.
"Ngapain iri sih, Mas. Mas itu sudah sama kok kayak es krim," ujar Zeevana.
"Kok bisa?," tanya Byakta belum nyambung.
"Karena Mas sudah membuat hati ku tenang dan adem." Zeevana terkekeh.
Baru kali ini Byakta melihatnya tertawa bahagia sekali. Entah nyambung atau tidak ucapannya barusan Byakta tidak peduli.
Dia tersenyum melihat istrinya.
"Kayaknya enak banget," ucap Byakta pelan.
Zeevana menyodorkan es krim di tangannya untuk Byakta. Laki-laki itu kemudian memegang tangannya dan menyingkirkannya ke samping, lalu mendekati wajahnya. Zeevana terkejut karena Byakta sudah mencium bibirnya dan menikmati sisa-sisa es krim di mulutnya.
"Lebih enak ini," kata Byakta menyentuh bibir istrinya. Zeevana masih bengong dengan aksi suaminya tadi.
"Hei, cepatlah habiskan eskrimnya. Kita mau tidur," ajak Byakta sambil merangkak ke samping Zeevana,Β menghempaskan badannya dan menarik selimut.
"Mas jangan tidur duluan," rengek Zeevana baru sadar.
Dia cepat-cepat menghabiskan sisa es krimnya.
Byakta pura-pura tidak mendengarkan dan berbalik memunggunginya. Dari tempat tidur Byakta mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Tak lama kemudian Zeevana sudah memeluk badannya dari belakang.
"Mas udah tidur, ya?," bisik Zeevana. Byakta bergeming namun tersenyum.
"Cepat sekali tidurnya. Nggak yakin, deh?," ujar Zeevana lagi. Lagi-lagi Byakta cuek saja.
"Kalau begini apa masih bisa tidur," goda Zeevana menciumi tengkuk suaminya.
'Zee jangan mengganggu ku,' batin Byakta.
Namun aksinya semakin menjadi dan Zeevana malah tertawa geli.
"Zeevana!!. Hentikan!," teriak Byakta.
__ADS_1
Byakta membalik badannya lalu menerkam Zeevana. Tidak akan dia beri ampun istrinya malam ini.
Niatnya untuk memberitahu Zeevana tentang hal yang telah dia bahas bersama papanya tadi jadi terlupakan.