
Gerimis kini mulai mengguyur seluruh wilayah Kota Lyon, Perancis. Kota yang terkenal menjadi simbol perdagangan, pariwisata, serta perindustrian besar di Negara Perancis nampaknya tengah dirundung musim dingin. Curah hujan sangat tinggi, mengurangi padatnya laju kendaraan yang biasanya lalu lalang di jalanan kota tersebut. Biasanya, saat musim panas Kota Lyon akan menjadi destinasti wisata paling menawan, dengan skyline langit malam hari yang benar-benar menakjubkan mata.
Rumah bergaya art nouveau berlantai tiga dengan bangunan membentang luas kini tengah dilingkupi oleh duka. Salah satu rumah mewah yang terletak di jalan Rue Pierre Valdo kini telah dirundung duka mendalam. Kepergian nyonya rumah untuk selamanya nampaknya telah mengubah atmosfir di rumah berwarna cream terang tersebut.
“Apa Nona Audrey sudah membuka matanya?” seru salah satu pelayan yang ada di sana.
Audrey Bonadetto, anak tunggal dari Margareth Bonadetto dengan salah satu calon presiden di Negara Perancis. Kisah kelam Margareth dan Joseph di masa lalu telah membawa Audrey ke dalam dunia ini. Margareth dan Joseph awalnya saling mencintai, namun Joseph harus menikah dengan salah satu bangsawan Perancis atas perintah orang tuanya. Tidak heran, perjodohan antar bangsawan di era itu bukanlah hal aneh lagi.
Namun rupanya cinta Joseph kepada Margareth sudah tidak bisa dibendung lagi. Joseph nekat menikahi Margareth secara agama tanpa ada yang tahu mengenai hubungan mereka berdua. Joseph tinggal di Paris bersama istri sahnya, sedangkan Margareth harus hidup bersama Audrey anak sematawang mereka.
Margareth meninggal di usia empat puluh lima tahun, wanita berparas cantik jelita harus meregang nyawa karena kecelakaan yang menimpanya dan sang putri. Untunglah, Tuhan masih menyayangi Audrey dan memberikan satu kali kesempatan menikmati hidup yang lebih baik.
“Dokter Frans, bagaimana keadaan Nona Audrey?” tanya Mia, selaku kepala pelayan di rumah itu.
Usai dinyatakan normal, Audrey terpaksa dibawa pulang kembali ke rumahnya agar keluarga Joseph tidak bisa mengendus keberadaan Audrey. Mereka menyediakan berbagai perlengkapan medis dengan peralatan canggih seperti halnya di rumah sakit.
Gadis yang dipanggil Audrey kini mengerjapkan matanya, pencahayaan dari cahaya lampu yang menerobos masuk pada retina matanya membuat gadis itu menyerngitkan keningnya. Dengan perlahan, gadis itu mulai mengamati ke sekelilingnya.
“Gabriel?” gumamnya untuk pertama kali saat matanya benar-benar terbuka.
Semua pelayan serta Dokter Frans saling menatap, tidak paham akan kata yang nona muda mereka katakan.
“Di mana Gabriel?” tanya gadis itu sekali lagi, mata coklat bak senja di sore hari kini mengedarkan matanya mencari sososk Gabriel yang sangat dia rindukan.
Raut wajahnya terlihat berpikir dengan keras. “Di mana ini?” tanya gadis itu karena merasa asing akan bangunan yang ada di sana.
Gadis itu berusaha bangun, namun kepalanya terasa berputar seperti wahana kincir angin.
__ADS_1
“Di mana aku?” teriaknya tanpa memedulikan rasa sakit saat kepalanya mulai berdenyut hebat.
Itu bukan rumahnya, bukan pula bangunan dari istana Kekaisaran Frace. Tidak mungkin jika anak buah Anthonio kembali berniat menculiknya kan? Ataukah kejadian saat pihak keluarga istana membawanya secara paksa ke istana, kini terulang kembali dan dirinya dipindahkan ke tempat ini?
Banyaknya pemikiran yang tengah gadis itu pikirkan semakin menambah berat beban di kepalanya.
“Nona Audrey tidak apa-apa?” tanya Mia berusaha mendekati nona mudanya.
“Audrey? Siapa Audrey?” ucap gadis itu menatap semua orang bingung.
“Nona kehilangan ingatan? Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi ini?” pekik Mia tak kuasa membendung air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.
Kehilangan ingatan katanya? Bahkan dirinya bisa mengingat jelas siapa namanya, siapa nama orang tua dan juga keluarga besarnya.
“A-apakah kalian dibayar untuk menyekapku di sini?” tuduhnya menatap semua orang, raut wajahnya terlihat ketakutan.
“Nona Audrey, hari ini tanggal berapa?” tanya Dokter Frans kepada sosok yang mereka yakini adalah Audrey—nona muda mereka selama ini.
Sepertinya baru kemaren rasa sesak penuh air mata dia rasakan. Kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi hidupnya bukanlah impian gadis itu selama ini. Ya, Gabriel, mungkin seumur hidupnya dia tidak akan mampu melupakan segala kebaikan Gabriel kepada dirinya. Cara lelaki itu memperlakukannya, dan bagaimana Gabriel telah mempertaruhakn jiwa dan raganya untuk dirinya selama ini.
“Tanggal sebelas,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dokter Frans menghela napasnya panjang. “Coba ceritakan apa yang masih Nona Audrey ingat,” pinta Dokter Frans ingin memeriksa kesehatan gadis bernama Audrey itu.
Manik mata coklat terang itu memejam sejenak, mengingat kembali apa yang terjadi kepada dirinya selama ini.
“Aku datang ke Perancis saat orang tuaku memberitahu bahwa Gabriel tengah koma. Ketika aku sampai di rumah sakit, dokter telah memvonisnya meninggal dunia. Gabriel … Gabriel tidak memberikanku kesempatan untuk meminta maaf ataupun mengucapkan terima kasih atas semua yang telah dia lakukan untukku,” jelasnya dengan napas tersengal-sengal.
__ADS_1
Semua orang di sana terbelalak, semua ucapan Audrey nampak seperti halusinasi bagi semua orang yang hadir di kamar pribadinya.
“Dokter, kenapa Nona Audrey berhalusinasi?” tanya Mia begitu panik.
“Halusinasi?” bisik gadis itu menautkan kedua alisnya.
Mengapa semua orang memanggilnya dengan sebutan Audrey? Dia bukan Audrey, dia adalah Rebecca Stephanie Leticia Carollino. Seluruh orang yang ada di Perancis pasti mengenalnya karena Rebecca adalah tunangan dari Pangeran Niel. Apa telah terjadi sesuatu kepada Rebecca? Ataukah Rebecca tengah berada dalam dunia ilusi seperti kisah-kisah komik yang sering dia baca sebagai pengantar tidurnya?
“Saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk Nona Audrey. Biarkan beliau beristirahat terlebih dahulu,” jawab Dokter Frans.
Rebecca merasa dirinya tengah berada di tempat asing. Mengapa dia bisa tiba-tiba berada di tempat itu?
“Katakan padaku, ini tanggal berapa, bulan apa?” tanya Rebecca kepada salah satu pelayan di sana.
“Tanggal lima bulan Januari, Nona Audrey,” jawab mereka bagaikan hantaman keras bagi Rebecca.
Rebecca menoleh menatap kalender yang ada di sana, ucapan pelayan itu bukanlah kebohongan. Jangan-jangan mereka telah memesan kalender palsu hanya untuk memanipulasinya semata?
“Nona Audrey, ada yang Anda inginkan?” ucap Mia usai mengantarkan Dokter Frans keluar dari kamar nona mudanya.
“Berhenti kalian memanggilku Audrey! Aku bukan Audrey, dan ini bukan rumahku! Apa yang terjadi padaku hingga alat ini ada di sini?” teriak Rebecca dengan kesal saat melihat alat bantu pernapasan dan beberapa alat medis berada di sana dengan infus yang masih menusuk kulitnya.
“Nona Audrey, tenanglah,” pinta Mia, matanya mulai berkaca-kaca melihat nona mudanya berubah sikap dan tingkah laku.
Audrey yang dia kenal adalah sosok gadis tenang, tidak suka membantah, ataupun bisa kasar kepada orang lain.
‘Kecelakaan itu rupanya membuat psikis Nona Audrey terguncang,’ batin Mia mulai memahami perasaan seorang anak yang ditinggalkan orang tuanya secara mendadak.
__ADS_1