
***
“Percayalah satu hal, aku tidak akan membiarkan dirimu berada dalam bahaya,” jelas Gabriel kepada Rebecca.
Keduanya saling menatap, baik Rebecca maupun Gabriel terdiam dengan sejuta kemelut hebat dalam pikiran mereka. Tiba-tiba saja air mata Rebecca menetes, gadis itu tidak mampu menutupi bagaimana perasaannya saat ini. Kegundahan akan dua cinta dari dua lelaki berbeda kepribadian membuat Rebecca tidak bisa mengatasi dilema dalam hidupnya sendiri. Rebecca merasa kalah atas perasaan yang bahkan belum sempat dia mulai.
“Aku tidak pernah berpikir kematianku nanti mampu membuat seseorang menangisinya. Namun dengan melihatmu berdiri di depanku, kini aku mulai menyadarinya. Nanti jika tiba masanya kau pasti menangis karena diriku,” kata Gabriel membuat Rebecca tersentak dalam diamnya.
Jantung Rebecca berpacu semakin kencang saat senyuman menyayat hati muncul di bibir Gabriel. Tentu saja Rebecca akan menangisi kematian Gabriel, lelaki itu telah menyadarkan Rebecca arti sebuah ketulusan dalam hidup ini.
‘Bahkan pohon tidak perlu dipuja untuk buah manis yang dia hasilkan. Begitupun dengan perasaan yang kumiliki denganmu,’ lanjut Gabriel di dalam hati.
***
“Nona Audrey!” pekik kepala pelayan saat tubuh Rebecca terguncang dengan hebatnya.
Mimpi buruk yang kini tengah Rebecca alami membuatnya tanpa sadar berteriak dalam tidurnya. Rebecca terus berseru, memanggil nama Gabriel di setiap tidurnya. Usai kematian Gabriel, Rebecca tidak mungkin berpikir dirinya akan beristirahat dengan damai. Kesalahan yang telah dia perbuat selama ini kepada Gabriel, rasanya sudah memberikan beban di dalam hatinya.
Rebecca terbangun ketika tubuhnya merasakan guncangan dari kepala pelayan. Dia Mia, wanita berusia tiga puluh lima tahun yang terus saja meyakinkan dirinya bahwa dia adalah Audrey Bonadetto. Mia tidak mengatakan hal apapun selain meminta Rebecca untuk beristirahat penuh agar kesehatannya kembali pulih. Bahkan Dokter Frans yang saat itu menangani Rebecca memberikan rujukan kepada Rebecca alias Audrey untuk mendatangi seorang psikolog.
Mereka meyakini, bahwa nona muda mereka, tak lain Audrey Bonadetto tengah mengalami guncangan psikis hebat dalam hidupnya karena kehilangan sosok ibu tercinta. Rasa kehilangan atas kematian seseorang yang paling dekat dengan kita sering kali menyebabkan pukulan hebat pada seseorang yang ditinggalkan.
“Nona Audrey, bangun!” sentak Mia membangunkan Rebecca dari tidurnya.
Rebecca membuka matanya kembali, untuk ke sekian kalinya wanita itu terus bertanya hal yang sama.
“Aku ada di mana?” tanya Rebecca karena dia benar-benar tidak tahu di mana kini dia berada.
__ADS_1
Ketika mendengar pertanyaan itu, Mia hanya menunduk dengan sedih. Dengan lembut Mia menyentuh telapak tangan Rebecca.
“Nona, saya berjanji akan mengabdikan diri untuk Nona Audrey. Tapi saya mohon, Nona Muda jangan seperti ini. Nyonya pasti sedih melihat putri kesayangannya seperti ini,” jelas Mia memohon kepada Rebecca.
Selama hidupnya, Margareth Bonadetto selalu menyayangi Audrey dengan segenap jiwa raganya. Sebagai seorang ibu, Margareth akan mempertaruhkan hidupnya hanya untuk menjaga putrinya agar tetap aman.
“Mama Valeria?” tanya Rebecca menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin mamanya Valeria pergi meninggalkan seluruh keluarga besarnya.
“Va-Valeria? Nona bahkan tidak mengingat nama Nyonya?” tanya Mia dengan pandangan mata tidak percaya.
Rebecca menggeleng, kepalanya terasa berputar-putar setiap kali dia ingin berpikir lebih jauh lagi. Rebecca mengerutkan keningnya saat melihat Mia berjalan menuju lemari display dan mengambil satu bingkai figura berukuran 12 R dari sana. Mia menyodorkan figura foto tersebut kepada Rebecca.
“Beliau, Nyonya Margareth Bonadetto,” jelas Mia membuat Rebecca menarik figura itu segera.
Ataukah, selama ini kenangan tentang seluruh keluarganya hanya mimpi panjangnya semata? Valeria, Fredercik, Pangeran Niel, dan Gabriel hanyalah ilusi selama dia tidak sadarkan diri seperti yang Mia katakan?
“Mama,” lirih Rebecca menangis, memeluk figura itu dengan air mata membasahi wajah ayunya.
Bahkan di dunia ini, dia tidak diberikan keberuntungan bersama dengan ibu kandungnya. Rebecca justru diberikan satu kenyataan pahit bahwa di dalam dunia yang tengah dia jalani dia kehilangan ibunya karena kecelakaan. Permainan macam apa kini?
Mia tersenyum, setidaknya nona mudanya masih mengingat bahwa sosok dalam figura tersebut adalah ibunya—Margareth Bonadetto.
“Nona Audrey harus segera bersiap, Dokter Kathrine akan datang ke mari untuk melakukan konseling dengan Nona Muda,” ucap Mia mengingatkan Rebecca akan jadwal pertemuannya dengan seorang psikiater rekomendasi dari Dokter Frans.
Rebecca mengangguk meskipun dirinya sendiri tidak yakin. Bukankah ini adalah kesempatan Rebecca untuk mencari tahu dunia mana yang nyata, dan mana yang hanya ilusi fana lewat konseling? Ya, Rebecca tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
__ADS_1
Mia membantu Rebecca untuk membersihkan tubuh dan mengganti bajunya. Segala barang yang ada di kamar itu adalah milik Rebecca, termasuk aset-aset berharga peninggalan mendiang Margareth Bonadetto.
“Nona Audrey selalu cantik dengan pakaian apapun yang Anda kenakan,” puji Mia mengagumi kecantikan wajah Rebecca dan kemolekan tubuh milik nona mudanya.
Rebecca memiliki kecantikan serta paras menawan dari sang ibu. Di masa mudanya, Margareth juga sangat cantik dan menjadi idola semua orang.
Mendengar suara deru mesin mobil berhenti di halaman rumah mereka, Mia lantas menuntun Rebecca untuk segera keluar dari kamar dan menuju ruang santai yang ada di lantai dua rumah megah tersebut. Mia kini tersenyum menyapa Dokter Khatrine.
“Senang bertemu denganmu, Audrey,” sapa Dokter Khatrine kepada Rebecca.
Rebecca menoleh dengan cepat saat mendengar suara wanita yang sangat dia kenali itu.
“Kak Meechella?” ucap Rebecca terbelalak melihat kakaknya Meechella ada di sana.
Dokter Khatrine dan Mia saling berpandangan, namun detik selanjutnya Dokter Khatrine tersenyum menjawab sapaan dari Rebecca.
“Wuah, sepertinya wajah saya sangat familiar ya, Nona Audrey?” tanya Dokter Khatrine.
Rebecca mendengkus pelan. “Berhenti bermain-main Kak, katakan di mana kita sekarang?” sentak Rebecca sudah merasa kebingungan.
“Di rumahmu, bukan begitu?” tanya Dokter Khatrine mulai menganalisa apa yang tengah terjadi kepada sosok Audrey Bonadetto.
“Sampai kapan kalian akan bermain drama seperti ini? Apa kalian sengaja mengerjaiku? Atau kalian tengah mengikuti acara TV, di mana kameranya?” teriak Rebecca sangat ketakutan.
Memiliki identitas orang lain, dengan wajah dan tubuh yang masih sama persis rupanya sangat menakutkan bagi Rebecca. Dia seperti hidup di dunia lain, menjalankan peran sebagai seseorang yang kebetulan memiliki kesamaan tubuh dengan dirinya.
“Nona Audrey, tenangkan dirimu. Bisakah kita mulai tahap konseling yang pertama?”
__ADS_1