
Hujan deras sejak siang mengguyur Kota Lyon, cuaca dingin tak serta merta membuat perasaan wanita yang tengah meringkuk di bawah selimut tebal menjadi tenang. Wanita itu berkali-kali memukul kepalanya, mencoba membawa kewarasannya kembali hingga dia mampu berpikir jernih atas apa yang tengah terjadi terhadap dirinya.
Mengapa dia bisa berada di Kota Lyon dengan identitas yang berbeda? Kepala Rebecca semakin berdenyut hebat ketika Mia menunjukkan deretan foto masa kecilnya bersama Margareth sang ibu. Rebecca merasa aneh, hanya nama ibunya yang masih sama. Bahkan dalam dunia yang kini Rebecca datangi, Tuhan pun masih tetap menjauhkan Rebecca dari ibunya.
Rebecca menatap foto semasa dia duduk di bangku menengah pertama bersama para teman-teman sekelasnya. Semua wajah dalam pigura itu terasa begitu asing, Rebecca sama sekali tidak mengenali wajah mereka barang satu orang saja. Dunia ini benar-benar bukan dunianya.
“Nona Audrey, bisakah Anda segera bersiap karena nanti malam Tuan Joseph akan datang ke mari untuk melihat Anda,” kata Mia menyita perhatian Rebecca.
Rebecca kembali menghela napasnya panjang, entah kapan Mia akan berhenti merecokinya dengan selalu datang ke kamarnya. Mia sepertinya tidak pernah melepaskan pandangannya dari Rebecca. Mia beranggapan bahwa wanita yang selalu dia rawat layaknya anaknya sendiri adalah Audrey Bonadetto. Segala perubahan sikap, serta tingkah laku hanyalah efek karena psikis Audrey yang tengah terganggu.
Padahal, wanita itu bukanlah Audrey yang sebenarnya. Dia adalah Rebecca, dirinya tiba-tiba saja terbangun dengan identitas berbeda serta lingkungan asing.
“Siapa, Joseph? Kapan kau akan berhenti membawa seseorang kehadapanku, Mia?” seru Rebecca telah kehilangan kesabarannya.
Dirinya ingin menghabiskan waktunya di kamar berdominasi pink pastel itu untuk merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi Mia selalu saja membawa seseorang ke hadapan Rebecca tanpa meminta izin lebih dulu dari dirinya.
“Nona Audrey tidak mengingat ayah Nona sendiri?” tanya Mia menatap Rebecca tidak percaya.
Rebecca menatap Mia dengan tatapan sinis. “Bagaimana aku bisa mengingat ayah orang lain, saat aku sendiri tidak tahu di mana kini aku berada!” pungkas Rebecca setengah berteriak saking kesalnya.
Sungguh, Rebecca rasanya tengah bermimpi panjang. Dia masih bisa mengingat dengan jelas, isak tangisnya tatkala mengantarkan Gabriel ke peristirahatan terakhirnya, di pemakaman keluarga kerajaan Kekaisaran France. Terakhir kali, Rebecca meminta Pangeran Niel mengantarkannya ke apartemen milik Gabriel, menghabiskan seharian di sana seorang diri dengan segala kenangan yang pernah terjadi bersama Gabriel.
__ADS_1
Kala itu, Rebecca membaca surat peninggalan dari Gabriel. Lelaki setinggi 185 cm itu memberikan Rebecca segala akses atas harta kekayaan, dan juga berbagai investasi lainnya. Tapi bukan itu yang membuat Rebecca merasa hancur, melainkan surat dari Gabriel untuknya. Hanya dengan mengingat isi surat dari Gabriel saja telah membuat hatinya remuk redam tak bersisa.
Tik! Suara seperti air yang baru saja lolos dari dahan pepohonan. Rebecca menoleh ke kanan dan kirinya, mencari sumber suara yang sama dengan suara dalam pendengarannya.
“Nona Audrey? Anda mendengar saya bicara, atau tidak?” tanya Mia sengaja mengeraskan suaranya.
“Sttt… Mia, kamu mendengar suara itu?” tanya Rebecca menatap Mia dengan tatapan serius.
Mia mengangguk, dia tentu saja mendengar suara yang sama dengan Rebecca.
“Iya, saya mendengarnya,” sahut Mia menaikkan satu alisnya.
“Suara apa itu, Mia? Aku selalu saja mendengarnya, suara itu sangat misterius,” kata Rebecca terlihat jelas raut wajahnya kebingungan.
“Nona Audrey! Berhenti untuk bercanda!” ujar Mia tidak suka akan becandaan Rebecca.
“Bercanda?” beo Rebecca mengulangi tuduhan Mia terhadap dirinya.
“Itu suara hujan, Nona Audrey. Jangan bertanya hal yang tidak masuk akal seperti itu lagi. Ayo, segera bersiap sebelum Tuan Joseph datang,” ucap Mia menarik tangan Rebecca untuk bangun dari posisi tidurnya.
Rebecca memekik kencang, wanita itu enggan bersiap untuk bertemu dengan ayah dari Audrey. Kenapa Rebecca harus bersiap saat yang datang adalah ayahnya sendiri? Mungkinkah itu kebiasaan Audrey ketika bertemu dengan ayahnya?
__ADS_1
“Mia, untuk apa aku bersiap kalau ayahku sendiri yang datang menemuiku?” tanya Rebecca merasa kebingungan.
Menurutnya, hidup Audrey lebih parah dari hidupnya sendiri. Audrey seperti wanita yang sangat kesepian, terlihat dari minimnya kontak di dalam ponsel wanita itu. Tidak ada pesan atau panggilan khusus yang layak untuk Rebecca jadikan bahan pertimbangan identitas seorang Audrey sebenarnya.
Jawaban dari Rebecca jelas saja membuat Mia menatapnya aneh. Audrey sudah biasa bersiap ketika ayahnya datang mengunjunginya. Margareth selalu mengajarkan Audrey jika wanita itu harus menghormati ayahnya dengan menjaga penampilannya saat bertemu dengan sang ayah.
“Nona! Sampai kapan Nona akan seperti ini?” keluh Mia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Tanpa menunggu izin terlebih dahulu dari Rebecca, Mia dengan sigap menarik tangan Rebecca untuk dia arahkan menuju walk in closet. Mia mendorong tubuh Rebecca memasuki bath up, sedangkan Mia memilih baju yang tepat untuk Rebecca kenakan malam ini guna menyambut kedatangan Joseph ke rumah itu.
“Mia, kurang ajar sekali dirimu!” pekik Rebecca namun masih tidak Mia hiraukan.
“Segera selesaikan mandimu, Nona Audrey. Atau aku harus memandikanmu juga seperti anak kecil?” tanya Mia membuat Rebecca menghempaskan air yang ada di dalam bath up mandinya.
Rebecca menatap dirinya dari pantulan kaca yang ada di dalam kamar mandi. Kening Rebecca berkerut heran ketika mendapati tanda lahir yang ada di belakang telinga kirinya. Seingat Rebecca, tanda lahir itu ada di telinga kanannya.
“Iya, aku mengingat tanda lahirku dengan jelas. Tanda lahirku ada di telinga kanan,” gumam Rebecca menatap pantulan dirinya dari kaca.
Wanita itu mendekati kaca, mencoba menghapus tanda lahir itu. Dalam pikirannya, mungkin saja itu adalah kotoran yang tidak sengaja menempel di telinga kirinya. Pemikiran Rebecca ternyata salah, itu benar-benar tanda lahir asli, sedangka tanda lahirnya di belakang telinga kanan tidak ada.
“Tidak mungkin, jika tanda lahirku saja berbeda letak. Itu berarti aku sedang berada di dunia pararel! Aku terbangun di tubuh Audrey!” kata Rebecca menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sungguh, kepala Rebecca terasa begitu berat. Dia kira kehidupan dunia pararel hanya ada di dalam drama yang selalu dia tonton. Nyatanya, kali ini Rebecca mengalaminya sendiri. Tidak heran mengapa dirinya sama ibu dengan Audrey.
“Kalau Mama Margareth, dan Kak Ella ada di sini, berarti Gabriel juga ada di dunia ini bukan?” kata Rebecca mengingat kembali jika perasaannya masih belum terungkapkan kepada Gabriel hingga lelaki itu menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya.