Meet Again Princess

Meet Again Princess
Ingatan Rebecca


__ADS_3

Bimbingan Konseling yang dilakukan oleh Dokter Khatrine bertujuan untuk mencari tahu apa pemikiran Audrey di dalam alam bawah sadarnya. Seseorang yang mereka panggil dengan Audrey Bonadetto kembali tersadarkan selama tak sadarkan diri dalam beberapa hari usai kecelakaan yang menewaskan Margareth. Anehnya, Audrey nampak seperti orang lain. Audrey meyakinkan semua orang bahwa namanya bukanlah Audrey Bonadetto, melainkan Rebecca Stephanie Leticia Carollino.


Rebecca, wanita itu merasa kebingungan dengan apa yang kini dialaminya. Dokter Khatrine terlihat sangat mirip dengan Meechella kakaknya. Rebecca yakin benar bahwa mereka mungkin tengah menggodanya. Mungkin Rebecca lupa jika beberapa hari lagi, hari ulang tahunnya akan tiba. Akan tetapi, ulang tahun Rebecca pada bulan ke empat. Lalu untuk apa keluarganya mengerjai wanita itu untuk saat ini?


“Lihat jam pasir ini, saat aku menghitung sampai sepuluh, maka kamu akan masuk dalam alam bawah sadarmu,” kata Dokter Khatrine memberikan sugesti kepada Rebecca.


Rebecca hanya mengangguk mengikuti segala arahan dari Dokter Khatrine.


“Delapan … sembilan … sepuluh,” ujar Dokter Khatrine bersamaan dengan terlelapnya Rebecca di atas kursi yang dia duduki.


Dokter Khatrine mendekat ke arah Rebecca, wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu melakukan beberapa pemeriksaan tubuh Rebecca. Dokter Khatrine menyentuh jemari Rebecca, seakan memberikan kekuatan dari sana.


“Nona Audrey, siapa nama lengkap Anda?” tanya Dokter Khatrine.


“Berhenti memanggilku Audrey, Kak Meechella,” ucap Rebecca dengan matanya terpejam sempurna.


“Lalu, siapa namamu?” pungkas Dokter Khatrine, dengan tangannya siap menuliskan setiap diagnose yang dia tangkap dari konseling pada hari ini.


“Rebecca, aku bukan Audrey. Namaku Rebecca Stephanie Leticia Carollino,” jelas Rebecca menyebutkan nama lengkapnya.


Dokter Khatrine mengangguk, dia mulai mengerti apa yang tengah Audrey Bonadetto alami saat ini. 


“Em, Rebecca. Bisakah Anda menceritakan apa saja yang masih kau ingat?” tanya Dokter Khatrine.


Rebecca tiba-tiba menangis, air matanya meluruh membasahi pipi pucatnya. Dokter Khatrine dan Mia saling memandang karena tidak tahu apa penyebab nona muda mereka menangis. Dokter Khatrine menyentuh jemari Rebecca.

__ADS_1


“Jangan takut, Dokter akan memegangi tanganmu. Apa yang Anda pikirkan?” Dokter Khatrine masih mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam alam bawah sadar seseorang yang mereka anggap sebagai Audrey.


“Gabriel, dia … dia meninggalkanku tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia meninggalkanku tanpa pamit terlebih dahulu. Kemaren, adalah hari pemakamannya,” lirih Rebecca mengingat betapa hancurnya hati dan perasaannya ketika melepas Gabriel untuk dikuburkan sesuai adat dan agama lelaki itu.


Rasa sakit kehilangan Gabriel kini kembali mencuat ke permukaan. Sakit itu masih dia rasakan, bahkan luka dalam hatinya belum kering benar. Rebecca telah melukai perasaan dua lelaki sekaligus dalam hidupnya.


“Aku merasa bingung, tiba-tiba bangun di tempat asing dan semua orang memanggilku Audrey,” isak Rebecca merasakan ketakutan dalam dirinya.


Tidak ada yang dia kenali saat ini. Rebecca seperti terlempar ke dunia pararel yang membuatnya hidup dengan identitas berbeda namun memiliki tubuh serta paras tubuh sama persis dengan dirinya di dunia nyata. Bahkan jika benar dirinya tengah bermimpi panjang, bagaimana cara Rebecca bisa keluar dari sana?


Dokter Khatrine yang mendengarkan segala penjelasan Rebecca kini mengamati pasiennya dengan seksama. Keningnya terlihat berkerut dan kedua alisnya saling bertautan, wanita itu seperti tengah berpikir keras. Ini adalah kali pertama Dokter Khatrine mendapatkan pasien dengan gangguan disosiatif yang melupakan segala kenangan tentang dirinya sendiri.


“Di mana terakhir kali kamu berada, Rebecca?” tanya Dokter Khatrine.


Rebecca menyebutkan alamat apartement Gabriel. “Aku berada di kawasan Colombes, di jalan Rue des Voies Bois. Apartemen Gabriel ada di sana, aku terakhir kali berada di apartemen Gabriel untuk mengenang lelaki itu,” ucap Rebecca mengingat kembali terakhir kali dia berada di apartemen Gabriel.


“Jalan Rue des Voies Bois, apa nama apartemen Gabriel?” Dokter Khatrine merasa penasaran, Rebecca benar-benar menghafal setiap kenangannya bersama seseorang yang dia panggil sebagai Gabriel.


“Santa Colombes,” jawab Rebecca.


Dokter Khatrine menghela napasnya panjang. Tempat yang Rebecca sebutkan merupakan kawasan perindustrian yang tak mungkin sebuah apartemen dibangun di sana. 


“Nona Audrey, saat hitungan kelima maka Anda akan terbangun,” seloroh Dokter Khatrine kepada Rebecca.


Ketika hitungan ketiga Dokter Khatrine, Rebecca mengangkat tangannya. Memberikan isyarat kepada Dokter Khatrine untuk menghentikan hitungannya terlebih dahulu.

__ADS_1


“Ada suara air, terdengar suara tetesan air yang menggenang pada dedaunan. Aku mendengarnya sangat jelas,” kata Rebecca menjelaskan suara aneh yang dia dengar sangat jelas di telinganya.


Itu suara air yang menitik pada jalanan datar saat hujan tiba, itu suara ketika hujan menyapa dedaunan di pohon yang rindang. Mengapa suara itu terdengar begitu jelas di telinga Rebecca? Mungkinkah kepalanya kini mengalami kebocoran?


“Empat, lima,” lanjut Dokter Khatrine segera mengembalikan alam pikiran Rebecca sebelum wanita itu semakin jauh lagi.


Rebecca terbangun, tangannya refleks menghapus air mata yang masih basah di pipinya. Wanita itu menatap Dokter Khatrine dan Mia secara bergantian, terdapat raut wajah dipenuhi tanda tanya yang kini Rebecca tujukan kepada dua orang. 


Mia memanggil salah satu pelayan, meminta mereka membawakan minuman untuk Rebecca.


“Jus sirsak?” tanya Rebecca ketika pelayan di rumahnya menyodorkan minuman itu kepadanya.


“Itu jus buah kesukaan Nona Audrey,” kata Mia membuat Rebecca tercengang di tempatnya.


“Aku menyukai jus sirsak?” tanya Rebecca lagi. 


Matanya membelalak tak percaya, dia sangat membenci buah sirsak karena rasanya yang sangat asam. Tak mungkin kebenciannya pada buah selama puluhan tahun lamanya bisa berubah menjadi minuman kesukaan dalam beberapa waktu saja. Mia mungkin telah merencanakan hal buruk kepadanya, sampai mengarang cerita tak masuk akal kepada dirinya.


Rebecca mendengkus, menatap Mia dengan tatapan jengkel.


“Berikan aku telepon rumah!” perintah Rebecca kepada Mia.


Mia meraih gagang telepon, menyodorkannya kepada Rebecca. Wanita itu merasa bingung atas permintaan nona mudanya yang meminta telepon secara tiba-tiba. Entah apa yang akan Rebecca lakukan dengan alat komunikasi tersebut.


Tangan Rebecca terlihat begitu cekatan menekan sebuah nomor di sana. Telepon itu dia arahkan pada telinganya, namun tidak ada nada tersambung ketika Rebecca menelepon nomor keluarga kerajaan. Bahkan, nomor Paul yang tak mungkin ganti saja seakan nomor tersebut lenyap di telan bumi.

__ADS_1


“Aish, sialan!” teriak Rebecca mengacak rambutnya dengan kesal.


Rebecca menatap Dokter Khatrine. “Kak Meechella, tolong hentikan sandiwara ini,” pinta Rebecca menangis, memohon kepada Meechella.


__ADS_2