
Di jantung ibu kota Paris, rapat internal para dewan rakyat tengah berlangsung di sana. Terdapat dua kubu calon pasangan, mereka adalah Joseph dan juga Samuel. Keduanya sama-sama memiliki nilai unggul dalam pemilihan umum calon presiden beserta wakilnya. Joseph Matius, didukung oleh perusahaan keluarga istrinya, Alexa. Pernikahan Joseph dan Alexa sampai saat ini masih belum diberikan keturunan.
Meski begitu, keduanya jarang membicarakan perihal keturunan karena hubungan mereka berdua yang sangat renggang. Mereka tinggal dalam satu atap yang sama, namun mereka hanya bertegur sapa selayaknya orang asing. Tidak ada keharmonisan, atau mungkin ketentraman dalam kediaman pasangan Joseph dan Alexa.
“Saya harap tim sukses kita mampu menangani berita-berita money politik yang tengah gencar beredar di kalangan para petinggi,” ucap Joseph kepada tim suksesnya.
“Baik, Pak. Kami akan mengurusnya dengan sebaik mungkin,” jawab mereka mengikuti perintah dari Joseph.
Tak berapa lama panggilan telepon masuk pada ponsel Joseph. Lelaki itu mendadak mengerutkan keningnya.
“Rapat kita selesai dulu sampai di sini,” perintahnya sebelum keluar dari ruangan pertemuan yang kebetulan tersedia di rumah megah bak istana kerajaan Perancis.
Joseph berjalan menuju tempat yang dia rasa tak akan ada seseorang mendengarkan percakapannya. Panggilan telepon itu berasal dari Mia, salah satu orang kepercayaan Joseph dan Margareth. Ternyata panggilan tersebut bukan hanya dilakukan sekali pada hari ini, melainkan terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari Mia, kepala pelayan di rumah mendiang Margareth.
Dengan sekali usap, Joseph telah terhubung dengan Mia di tempatnya.
“Mia, ada kabar apa hingga kau meneleponku sebanyak ini?” tanya Joseph penasaran.
“Maaf, Tuan Besar. Saya hanya ingin memberi kabar tentang kesehatan Nona Audrey,” kata Mia dengan takut-takut.
“Audrey, apa yang terjadi sekarang? Apakah putriku sudah sadarkan diri?” tanya Joseph penasaran.
Meski Joseph tidak kuasa bertemu Audrey dengan leluasa sejak awal pernikahannya dengan Alexa, namun Joseph selalu memantau tumbuh kembang putri semata wayangnya hingga dia tumbuh dewasa seperti sekarang. Kecelakaan mendadak yang menewaskan Margareth tentu saja menjadi luka batin tersendiri bagi Joseph. Segala usahanya untuk mencari kebenaran seperti terhambat oleh kuasa seseorang.
__ADS_1
Siapa lagi dalangnya jika bukan keluarga dari Alexa yang tidak ingin Joseph terus saja berhubungan dengan Margareth. Aneh, ketika seorang ayah berniat dekat dengan anaknya justru dipersulit oleh keadaan yang ada.
“Nona Audrey sudah sadar, Tuan. Ta-tapi ada yang tidak beres dengan beliau,” ucap Mia berniat memberitahu Joseph mengenai keadaan Audrey, karena bagaimanapun Joseph adalah ayah kandung Audrey.
“Tapi kenapa, Mia? Apa yang terjadi pada putriku?” tanya Joseph, keningnya berkerut pertanda lelaki itu sangat penasaran akan kesehatan putrinya dengan Margareth.
Audrey adalah symbol cintanya bersama Margareth, bahkan saat dunia menutup akses mereka saling bertemu, tetap saja hati serta perasaan Joseph masih dimiliki oleh mendiang wanita tercintanya hingga Margareth menghembuskan napas terakhirnya. Cinta yang seharusnya mampu untuk menjadi alasan penyatuan dua orang, malah menjadi alasan perpisahan bagi mereka berdua.
Walau kadang kala Joseph mencari-cari waktu yang tepat demi menemui Margareth dan Audrey di saat rindu telah menggunung di hati dan pikiran lelaki itu.
“Nona Audrey melupakan identitasnya. Hanya Nyonya Besar saja yang masih Nona ingat. Sekarang Nona Audrey tengah menjalani konseling bersama Dokter Khatrine,” jelas Mia kepada Joseph.
“A-apa? Bagaimana mungkin itu terjadi, Mia? Laporkan kepadaku setiap detail hasil pemeriksaan yang akan dokter sampaikan kepadamu,” kata Joseph memberikan perintahnya.
Sejak kecil Audrey hanya tinggal dengan ibu dan para pelayannya saja. Dia tumbuh tanpa seorang ayah bersamanya, Joseph hanya sosok yang sangat jauh untuk Audrey gapai bahkan dalam mimpinya sekalipun.
“Aku akan datang ke rumah secepatnya, tolong jaga Audrey dengan baik,” pintanya penuh sesak dalam dada.
Bukankah seharusnya itu adalah tugasnya selayaknya ayah yang menjaga putrinya agar tetap aman? Mengapa Joseph harus menyembunyikan kebenaran mengenai anak semata wayangnya hanya demi kekuasaan semata? Jawabannya karena Joseph ingin berkuasa, hingga tidak ada orang yang berani melawan kekuasaannya. Joseph ingin berdaulat atas pilihannya sendiri, tanpa selalu disetir oleh keluaga istrinya, dan juga merasa was-was atas keselamatan Audrey yang bisa saja terancam kapan saja.
Mia mengangguk di tempatnya. “Tanpa Tuan perintahkan, saya akan menjaga Nona Muda dengan baik,” kata Mia sebelum panggilan mereka berakhir.
Baru saja Joseph hendak berbalik badan, ternyata Alexa sudah berdiri entah sejak kapan. Kemungkinan Alexa juga mendengarkan segala pembicaraan Joseph dengan Mia.
__ADS_1
“Gadis itu?” tanya Alexa kepada Joseph.
“Panggil dia dengan selayaknya, Alexa!” kata Joseph memperingati istri sahnya.
“Anak dari wanita simpananmu, begitukah aku harus memanggilnya, Joseph?” tanya Alexa tersenyum sinis, menahan rasa sesak yang kini berselimuti jiwanya.
“Berhenti mengucapkan hal buruk tentang putriku,” sergah Joseph tidak tahan lagi mendengarkan ucapan Alexa yang selalu saja menghina Margareth maupun Alexa.
Alexa bertepuk tangan. “Kau punya seorang putri, Pak Joseph?” pekik Alexa dengan sengaja mengeraskan intonasi suaranya.
Joseph tercengang, tak menyangka Alexa akan bersikap kekanak-kanakan di saat rumah mereka masih ramai oleh tamu yang baru saja usai menghadiri rapat internal tim sukses Joseph dalam pencalonan presiden. Semua mata kini menatap ke arah Alexa dan Joseph, mereka seakan mendengar kalimat namun tidak yakin dengan kalimat tersebut.
“Alexa, tutup mulutmu!” bisik Joseph penuh peringatan.
Alexa terkekeh ringan. “Lihat, kau yang sangat ketakutan saat dunia mengetahui bahwa dirimu sudah memiliki anak dengan wanita selain diriku. Lalu sebutan macam apa yang cocok untuk anak dari wanita simpanan seperti dirinya?” kata Alexa tanpa peduli raut wajah Joseph saat ini.
“Jangan menguji kesabaranku, Alexa!” ujar Joseph menatap Alexa seakan-akan dia berbicara dengan lawannya.
“Kau tak akan pergi ke manapun. Jika aku sampai melihatmu mendatangi putrimu, aku akan memberi tahu kepada seluruh dunia kelakuan bejat macam apa yang kau mainkan,” ancam Alexa.
Alexa merasa tidak kuasa ketika mengetahui suami yang dia cintai ternyata mencintai wanita lain dan membina kehidupan yang bahagia dengan Margareth. Apa lagi hadirnya buah hati dalam pengkhianatan itu semakin membuat Alexa tak mampu membiarkan kesewenang-wenangan Joseph terus saja terjadi.
Dia juga punya hati dan perasaan, meski Alexa terkesan sangat dingin dan juga arogan, namun dia tetaplah wanita yang menginginkan suaminya memperlakukan dirinya selayaknya perlakuan suami kepada istrinya.
__ADS_1