Meet Again Princess

Meet Again Princess
Pertanggung Jawaban


__ADS_3

Ketukan di pintu ruang perawatannya membuat wanita itu menoleh dengan malas. Nata masuk kedalam ruangannya sendirian. Kening Sisil menyerngit disaat lelaki itu sendiri tanpa ada Darwin bersamanya. Nata mendekat ke pinggir ranjang Sisil,


“ Cecilia “ panggil Nata yang tahu Sisil tidak tidur meskipun wanita itu memunggunginya.


Nata menyeret kursi disana, menimbulkan suara berderet akibatnya.


“ Aku tahu kamu tidak tidur, ayo kita bicara “ ucap Nata kepada Sisil.


“ Katakan saja “ jawab Sisil tanpa menoleh kearah Nata.


Lelaki itu mendesah, paling tidak Sisil mau berbicara kepadanya.


“ Maafkan aku, aku tidak sadar semalam “ lirih Nata saat merasakan tenggorokannya tercekik oleh keadaan.


Sisil tidak bereaksi sama sekali, wanita itu sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sisil membayangkan bagaimana kejadiaan naas itu bisa menimpa dirinya. Yang menyesakkan di dada Sisil adalah terampasnya kehormatan yang telah Sisil jaga seumur hidupnya.


“ Aku akan bertanggung jawab “ jawab Nata membuat Sisil tersentak dan menoleh kearah Nata.


Wanita itu tersenyum sinis, bertanggung jawab seperti apa yang dimaksud Nata? Menghargainya dengan uang? 

__ADS_1


“ Aku akan melamarmu, kita akan menikah “


Mata Sisil terbelalak, benarkah apa yang lelaki itu katakan saat ini? Nata meraih tangan Sisil, lelaki itu menggenggam erat tangan Sisil. Inilah yang sejak tadi ingin Nata sampaikan. Lelaki itu ingin mengutarakan kesungguhannya untuk menikahi Sisil. Nata tidak main-main lagi dengan perasaannya kepada Sisil.


“ Sesampainya kita di Bandung, aku akan berbicara dengan orang tuaku “ ucap Nata penuh kesungguhan.


“ Kamu melakukannya karena rasa bersalahmu ? Jika memang begitu aku tidak akan meminta tanggung jawabmu “ ucap Sisil membuka mulutnya.


Sisil tidak mau Nata menikahinya karena rasa penyesalan yang menggerogoti hati lelaki itu. Sisil memimpikan pernikahan penuh cinta, Sisil hanya akan menikah dengan lelaki yang benar-benar mencintainya dengan tulus.


“ Tidakkah kamu melihat kesungguhanku selama ini kepadamu? Aku mencintaimu Sisil, aku berani bersumpah demi nama orang tuaku “ Nata menatap Sisil sungguh-sungguh, dari matanya terlihat sangat jelas kesungguhan lelaki itu kepada Sisil.


Kalau Sisil mau menikah secepatnya, mungkin Nata tidak akan membuang-buang waktu dan langsung mempersunting wanita yang telah menempati hatinya selama ini. Menikah besokpun, Nata siap asalkan bersama dengan wanitanya.


Sisil terdiam, wanita itu terlihat mencerna ucapan Nata baik-baik. Sisil tidak mau jika kesalahan semalamnya justru menjadi kesalahan seumur hidupnya ketika salah mengambil keputusan untuk hidupnya.


“ Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu “ ucap Sisil pada akhirnya.


Dengan terpaksa Nata mengikuti kemauan Sisil, wanita itu berhak menentukan pilihannya. Apapun yang Sisil pilih nanti, Nata akan menerimanya karena memang itu adalah kesalahannya. Nata sendiri merutuki atas perbuatan bejat yang dia lakukan pada wanita yang seharusnya dia jaga seperti hidupnya sendiri.

__ADS_1


“ Kamu belum menyentuh makan siangmu, aku suapin “ ucap Nata mengambil kotak makan siang yang berada di nakas samping ranjang.


“ Aku bisa sendiri Nata “


“ Aku ingin menyuapimu, jangan menolak “ ucap Nata kukuh, tak terbantahkan.


Dengan telaten, Nata menyuapkan sendok demi sendok makanan itu kedalam mulut Sisil. Sisil nampaknya tidak berniat untuk membantah maupun menolak keinginan lelaki itu karena akan sia-sia saja. Nata memang suka sekali memaksakan kehendaknya sendiri.


“ Cecil, kalau kamu hamil mau anak kita laki-laki apa perempuan ?” pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Nata.


Uhukk..uhuk , Sisil tersedak makanannya, dengan sigap Nata menyodorkan air minum kepada Sisil. Sisil mengambil napasnya dalam, kenapa Sisil tidak berpikir jika dia kemungkinan bisa hamil meskipun itu kali pertama mereka berhubungan intim? Siapa tahu mungkin semalam adalah masa subur Sisil?


“ Kamu gila ?” tanya Sisil marah.


“ Aku hanya bertanya “ jawab Nata menunduk lesu.


“ Keluar, aku ingin beristirahat “ ucap Sisil mengusir Nata dari sana.


Wanita itu berbalik memunggungi Nata, mau tidak mau Nata terpaksa keluar dari ruangan itu membiarkan Sisil untuk beristirahat sejenak. Nata menatap Sisil sejenak sebelum menutup pintu itu secara penuh. 

__ADS_1


Mata Sisil terpejam, kepalanya terasa berdenyut saat ini. Wanita itu melupakan satu akibat fatal yang mungkin akan terjadi kepadanya. Mungkinkah ini pertanda bahwa Sisil harus mempertimbangkan ajakan Nata untuk menikah dengannya? Sisil tahu benar bahwa lelaki itu bersungguh-sungguh dari tatapan matanya. 


“ Benar, aku harus mempertimbangkan kemungkinan benih Nata tumbuh di rahimku “ bisik Sisil tanpa sengaja spontan menyentuh perutnya yang masih rata.


__ADS_2