
Kehidupan Audrey Bonadetto ternyata tidak lebih baik dari kehidupan Rebecca. Wanita itu hanya hidup bersama sang ibu, jauh dari sanak keluarganya yang lain, disembunyikan identitasnya dari dunia. Kehidupan mewah, serba berkecukupan rasanya tak membuat hidup Audrey dan ibunya menjadi bahagia. Kebersamaan serta keutuhan keluarga yang selalu saja ibunya pertahankan tidak juga membuahkan hasil hingga detik terakhir wanita itu berada di dunia.
Disembunyikannya identitas Audrey dari dunia tidak lain hanya karena Tuan Joseph ingin melindungi Audrey dari jangkauan Alexa dan para petinggi politik lainnya yang berniat buruk terhadap Tuan Joseph. Cinta dan kasih sayang Tuan Joseph kepada Audrey melebihi nyawanya sendiri. Keinginan lelaki itu menjadi presiden dari Negara Perancis bukan untuk memuaskan egonya semata.
Tuan Jospeh, ingin hidup dengan merdeka, tanpa pengaruh dari Alexa, dan juga keluarganya. Sudah cukup hidupnya dipenuhi dengan sandiwara tak berujung hingga menyebabkan Margareth jauh dari dirinya.
‘Mengapa hanya nama Mama yang tetap sama di dua dunia berbeda?’ batin Rebecca berpikir dengan keras.
Di depan mata Rebecca, berdiri Tuan Joseph menatapnya dengan penuh kerinduan. Jika semua orang memiliki tubuh, paras yang sama, namun beridentitas berbeda. Mengapa hanya Margareth yang memiliki nama, serta bentuk tubuh sama? Perbedaan itu hanya berlaku untuk mereka yang masih hidup. Iya, Margareth sejak awal memang telah meninggal dunia, bahkan sejak saat Rebecca lahir di dunia.
Itulah mengapa di dunia itu pula Margareth meninggal dunia sebelum Rebecca masuk ke dalam tubuh Audrey Bonadetto seperti sekarang.
“Audrey? Kamu sungguh marah dengan Papa, Nak?” tanya Tuan Joseph menatap putrinya dengan tatapan berkaca-kaca.
Padahal dia telah berusaha meluangkan waktunya untuk melihat putrinya sebelum nanti dia memasuki masa kampanye pencalonan presiden dan tidak bisa bertemu dengan Audrey karena kesibukannya selama itu. Tuan Joseph mengakui kesalahan apa yang sudah dia perbuat, dan dosa besar apa yang telah dia lakukan karena melukai perasaan putri kandungnya selama ini.
Audrey tentu saja marah dengannya, saat seorang anak kehilangan ibunya untuk selamanya, mereka cenderung membutuhkan sosok ayah yang nanti akan menjadi sandarannya ketika pijakan kakinya tak lagi mampu menumpu tubuh lemahnya. Seorang anak perempuan, selalu memimpikan seorang ayah yang nantinya akan menjadi super man dalam hidupnya.
Akan tetapi, Audrey tak pernah mendapatkannya dalam hidupnya. Wanita itu telah kehilangan masa-masa berharga dalam hidupnya untuk menciptakan kenangan indah tentang sosok ayah di dalam kehidupannya. Audrey tak memiliki keberanian memimpikan kebersamaannya dengan sang ayah. Audrey berbeda dengan Rebecca, meski Pangeran Edward tidak bersamanya, namun Rebecca tetap mendapatkan kasih sayang utuh dari Valeria, Frederick, serta keluarga besarnya yang lain.
__ADS_1
Rebecca lebih beruntung dari Audrey karena dia memiliki keluarga besar, serta saudara-saudara yang menyayanginya meski dia kala itu belum mengetahui identitas aslinya, siapa orang tua kandungnya sebenarnya. Kasih sayang dari Valeria, Frederick, serta saudaranya yang lain membuat Rebecca mengerti betapa beruntungnya hidup Rebecca jika dibandingkan dengan seorang Audrey Bonadetto.
“Bisakah… bisakah kita ke makam Mama?” tanya Rebecca dengan suara seraknya.
“Tentu saja, Sayang. Kita akan ke makam Mama bersama-sama,” sahut Tuan Joseph menyentuh puncak kepala Rebecca yang dianggapnya sebagai Audrey.
Tuan Joseph menatap Mia. “Persiapkan keberangkatan kami ke makam Margareth,” kata Tuan Joseph diangguki oleh Mia.
Mia langsung menyiapkan segala keperluan, outer musim dingin untuk Rebecca, dan mempersiapkan pengawal untuk mengiringi kepergian Rebecca bersama Tuan Joseph. Tak lupa, Mia turut ikut bersama dengan tuan besar dan nona mudanya karena tugasnya adalah memastikan keselamatan nona mudanya di manapun dia berada.
Tuan Joseph menyentuh puncak kepala Rebecca, senyumnya terukir melihat putrinya mampu bertahan sampai ke titik itu tanpa kekuatan dari siapapun.
“Bertahan sedikit lagi, Audrey. Papa akan memperkenalkanmu kepada dunia, kamu akan memiliki duniamu sendiri,” tutur Tuan Joseph seperti mantra seorang orang tua yang tengah mendoakan kebaikan putrinya.
Jemari Tuan Joseph meraih tangan Rebecca, menggandeng tangan putrinya untuk menuju mobil pribadinya. Mia berada di belakangnya mengikuti mereka berdua hingga sampai di dalam mobil. Pengawal Tuan Joseph mempersilahkan Rebecca dan lelaki itu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Mia duduk di kursi depan, di samping kursi pengemudi.
Para pengawal Tuan Joseph dan sekretaris pribadinya naik mobil di belakang seperti biasanya.
“Putri Papa sudah besar rupanya, tidak terasa Papa akan melihatmu naik pelaminan saat nanti seorang lelaki memintamu pada Papa,” ucap Tuan Joseph tersenyum kepada Rebecca.
__ADS_1
Rebecca menoleh ke arah Tuan Joseph, kasih sayang lelaki itu terasa nyata hingga menggetarkan detak jantung tubuh Audrey saat ini.
“Mia, apa kata dokter mengenai perkembangan kesehatan putri cantikku ini?” tanya Tuan Joseph.
“Dokter Frans menyatakan bahwa pemeriksaan tubuh Nona Audrey baik-baik saja. Namun Dokter Khatrine memiliki diagnose yang berbeda,” jawab Mia sambari menatap tuan besarnya, dan Rebecca silih berganti.
“Apa kata Dokter Khatrine, Mia?” pungkas Tuan Joseph tidak sabaran.
“Kehilangan Nyonya Besar, membuat Nona Muda menciptakan dunianya sendiri,” jelas Mia merasa berat mengatakan hal itu di depan nona mudanya.
“Dokter Khatrine hanya mengada-ada saja, Papa. Rebecca, em maksudku Audrey tidak apa-apa,” ujar Rebecca membela dirinya.
Bukan Audrey yang tengah menciptakan dunianya sendiri, melainkan Rebecca yang masuk ke dalam dunia Audrey tanpa tahu jalan keluarnya. Kalau Rebecca mampu, mungkin Rebecca tidak akan berlama-lama dalam tubuh wanita yang memendam segala perasaan sesak di hatinya. Merasakannya saja, Rebecca ingin menangis tanpa henti. Audrey tipe wanita yang suka memendam perasaannya sendiri tanpa ada orang tahu.
“Audrey, apapun kata Dokter Khatrine, jangan membantahnya. Ikuti saja semua sarannya, kamu harus bisa mengalahkan sisi lemahmu, Sayang,” kata Tuan Joseph menyentuh puncak kepala Rebecca, memberikan petuah kepada putrinya.
‘Kenapa semua orang tidak percaya kalau aku ini bukan Audrey? Aku hanya seseorang yang kebetulan terperangkap dalam tubuh wanita itu,’ batin Rebecca meremas ujung outer yang tengah dia pakai.
Wajahnya memaling ke arah jalanan Kota Lyon, guyuran hujan membuat langit sore menjadi redup layaknya malam hari. Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Rebecca menghela napasnya panjang, pikirannya berkelana memikirkan apa yang tengah terjadi di dunianya saat dirinya terperangkap dalam tubuh Audrey.
__ADS_1
Sebuah motor mewah berwarna merah berhenti tepat di samping mobil yang Rebecca tumpangi. Kebetulan juga seseorang pengendara itu membuka helm miliknya dan menoleh ke arah jendela kaca mobil milik Tuan Joseph untuk berkaca. Jantung Rebecca berpacu sangat kencang melihat wajah lelaki itu.
“Gabriel?” gumamnya namun masih bisa didengar oleh ketiga penumpang lainnya di dalam mobil itu.