Meet Again Princess

Meet Again Princess
Persaingan


__ADS_3

Suasana terasa mencekam didalam ruangan divisi keuangan,


" Kau, mulai sekarang magang dengan sekretarisku " ucap Nata menunjuk Ares yang saat ini menatapnya bingung.


Mereka semua yang ada disana langsung saling menatap satu sama lain. Bahkan dari mereka ada yang saling berbisik mendengar pernyataan yang keluar dari mulut CEO mereka.


" Mengerti kamu ?" tanya Nata dengan nada tegas.


" Mengerti Pak " jawab Ares mengikuti perintah Nata.


Sisil menaikkan alisnya, kenapa Nata berlaku seperti itu? Apa karena Nata anak pemilik perusahaan jadi dia bisa seenaknya saja dalam memberikan perintah.


" Kenapa dia harus dipindahkan bersama Neta? Bukankah sudah jelas apa jurusan mereka yang magang disini ?" tanya Sisil menyuarakan pendapatnya.


Nata menatap Sisil, pandangan mereka bertemu. Bahkan pandangan keduanya mampu meremukkan satu sama lain jika tidak ada yang mengalah sama sekali.


" Cecilia " panggil Bu Mina menyadarkan Sisil untuk tahu batas sebagai pegawai disana.


" Saya pemimpin disini, saya berhak memberikan perintah selagi itu tidak mengambil atau mengurangi hak para pegawai saya " jawab Nata tidak mau kalah.


" Lalu apakah bapak memberikan kami hak atas privasi kami ?"


Mata Nata berkilat terkejut, bisa turun derajatnya jika Sisil menyebutkan kelakuannya yang sering memantau Sisil dari CCTV.


" Cecilia, berhenti " hardik Bu Mina.


Untunglah, ucapan Bu Mina mampu membuat Sisil berhenti menatap Nata dengan menantang. Nata berjanji akan memberikan Bu Mina sedikit bonus di akhir bulan nanti karena menyelamatkannya.


" Saya minta maaf Pak atas sikap Cecilia " ucap Bu Mina meminta maaf atas sikap Sisil kepada Nata.


" Kamu, ikut saya sekarang juga " tunjuk Nata kepada Ares.


Ares mengangguk, dia mengemasi barang-barangnya. Mahasiswa magang itu terlihat sangat manut dan pasrah dengan perintah yang Nata berikan padanya.


" Cecilia, kamu ikut saya keruang disipliner " ucap Bu Mina membuat mata Sisil terbelalak.


Kenapa dia yang mendapatkan sanksi? Bukankah Nata yang tidak masuk dalam memberikan larangan ataupun perintah kepada bawahannya.


.


.


" Kamu, sekarang berada dalam pengawasan Aneta " ucap Nata.


" Baik Pak, saya mengerti "

__ADS_1


" Hem, bagus " jawab Nata.


" Tapi Pak, jurusan adik Ares kan perbankan kenapa tidak di divisi keuangan saja ?" tanya Aneta yang merasa bingung dengan gelagat bosnya akhir-akhir ini.


" Kok kamu malah ngajarin saya?"


Aneta tergagap, wanita itu menunduk


" Maaf Pak "


" Kamu urus saja magang ini " ucap Nata melenggang masuk kedalam ruangannya.


Nata mengawasi Ares dari dalam ruangannya, Nata tidak akan membiarkan bocah itu mendekati wanitanya. Apalagi Nata bisa melihat, jika Sisil begitu membela bocah itu meskipun mereka baru pertama kali bertemu.


Apa menariknya Ares dimata wanita? Nata lebih unggul 100% dari bocah itu. Masalah wajah? Tentu saja Nata tidak tersaingi sama sekali.


Ataukah Nata harus berpura-pura bertanya teori pembukuan kepada wanita itu?


Senyuman langsung muncul dari bibir lelaki itu ketika satu ide terlintas dalam benaknya. Bersyukurlah dia berteman dengan Fernand yang memiliki seribu akal bulus dalam memperdaya wanita. Kini Nata akan belajar dari apa yang Fernand ajarkan kepada mereka. Untuk kali ini, Nata merasa beruntung berteman dengan Fernand.


Nata mencari laporan keuangan yang menurutnya masih kacau, Nata sengaja menggunakan laporan itu untuk membuatnya dekat dengan Sisil.


" Biasanya aku benci laporan kacau, sekarang aku berterimakasih padamu " ucap Nata tersenyum memandang laporan itu yang tergeletak diatas mejanya.


.


Ada dalam benak Sisil untuk risen dari pekerjaan itu,mencoba bergabung dengan perusahaan keluarganya yang sudah lama menantikan kedatangan penerus keluarga Corlyn.


Sisil berjanji kepada orang tuanya, jika dia keluar dari Perusahaan Dirga maka Sisil akan bersedia bekerja di Perusahaan Corlyn.


Lama-lama Sisil merasa tidak nyaman jika harus bekerja dengan diawasi dari kamera CCTV yang mengganggunya. Sisil seakan tidak bisa bebas jika semua aktivitasnya diawasi Nata seperti itu.


" Bu Cecilia " panggil Ares dengan senyuman sumringah diwajahnya.


Sisil menoleh,


" Ah, Ares "


" Ibu mau makan siang dimana ?" tanya Ares membuat Sisil mengecek jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.


" Kenapa? Ares mau nraktir saya ?" tanya Sisil menggoda Ares.


" Boleh, Ibu biasa makan dimana ?" tanya Ares


" Dia makan siang sama saya " jawab Nata yang tiba-tiba saja muncul dibelakang mereka, mengagetkan keduanya yang tidak menyadari kehadiran Nata sebelumnya.

__ADS_1


Ares menatap Sisil,


" Bagus kalau Pak Nata bergabung, dia yang akan bayarin kita. Iya kan Pak ?" tanya Sisil tersenyum kearah Ares dan Nata.


" Benar Pak? Wuahhhh makasih Pakk Nata " teriak Ares girang.


" Oh ya, panggil Bu Mitha dan yang lainnya. Kita makan siang enak hari ini " suruh Sisil diangguki Ares.


Ares berlari menuju divisi keuangan, mengumumkan bahwa makan siang mereka hari ini akan ditanggung Nata. Seluruh devisi keuangan berteriak bahagia, jarang-jarang atasan mereka mengajak makan diluar karena kantin Perusahaan sudah menggeratisi makanan untuk para pegawainya.


Nata menatap Sisil tak percaya,


" Saya tidak bilang setuju " protes Nata akan sikap Sisil yang mengambil keputusan sepihak.


" Saya juga tidak setuju Bapak mengawasi saya dari CCTV " jawab Sisil.


" Saya hanya mengawasi kinerja pegawai saya " ucap Nata berkelit.


" Saya juga begitu Pak, saya mau berbagi sama yang lain. Masa saya makan dibayarin Pak Nata yang lain enggak " jawab Sisil melipat tangannya kedepan dada.


Nata menggelengkan kepalanya, wanita itu sangat kerasa kepala rupanya. Baiklah, tunggu saja apa yang akan Nata lakukan untuk membuat Sisil takhluk kepadanya.


Setelah para pegawainya berkumpul, Nata dan mereka semua yang berasal dari divisi keuangan langsung menuju cafe yang ada diseberang Kantor.


Sisil melirik kearah Nata yang tengah mati-matian menyembunyikan emosinya.


" Awas Pak, ada lubang " ucap Sisil membuat Nata berhenti dengan spontan.


Nata menunduk, lelaki itu sama sekali tidak melihat ada lubang ada disana.


" Tapi bohong " kekeh Sisil di ikuti tawa dari pegawai yang lain.


Wajah Nata memerah, Sisil benar-benar menguras kesabarannya untuk hari ini.


" Bu Cecilia lucu ya " ucap Ares terpesona dengan karisma wanita itu.


" Oh ya, Ares mau jadi pacar saya ?" goda Sisil merangkul lengan Ares, berjalan disampingnya meninggalkan Nata yang kini berada dibelakang mereka dengan wajah memerah menahan amarah.


Nata mendengus, dia tidak akan tinggal diam melihat kedekatan Sisil dengan bocah ingusan yang sudah menantangnya untuk bersaing.


Bughh ,


Nata sengaja menabrak Ares dan Sisil hingga tangan Sisil lepas dari lengan Ares. Sisil memicingkan matanya menatap Nata,


" Upss sorry, nggak sengaja tadi ada lubang " jawab Nata tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.

__ADS_1


__ADS_2