
Pintu ruang rawat terbuka, menghentikan percekcokan yang terjadi antar dua lelaki pewaris perusahaan keluarga mereka. Jika ada kamera atau reporter disana, mungkin keduanya akan menjadi trending topic untuk tahun ini karena saling berteriak didepan ruang perawatan.
“ Bagaimana keadaannya dokter ?” tanya Nata dan Darwin bersamaan, setelah itu mereka berdua saling menatap dan mendengus.
Dokter wanita itu hanya tersenyum,
“ Hanya syok ringan, ditambah dengan guyuran air semalaman yang menyebabkannya demam tinggi. Tapi tidak masalah nanti kalau sudah sadar bisa langsung pulang tapi lebih baik rawat inap untuk semalam “ ucap dokter itu membuat kedua lelaki itu mendesah lega.
“ Terimakasih dokter “ ucap Nata diangguki dokter itu.
“ Oh iya ada satu masalah “ dokter itu menatap Nata dan Darwin bergantian.
“ A.apa masalahnya ?” tanya Nata cemas jika hal buruk terjadi pada wanita yang dia cintai.
“ Jangan bertengkar didepan Nona Cecilia, suara kalian mengganggu istirahatnya “ jawab dokter itu tertawa di ikuti para perawat lainnya yang sejak tadi mendengar keributan yang berasal dari Nata dan Darwin.
Nata menundukkan wajahnya malu, lelaki itu langsung masuk kedalam ruang perawatan Sisil di ikuti Darwin dibelakangnya.
“ Siapa yang menyuruhmu masuk ?” tanya Nata menatap Darwin dengan melotot.
“ Siapa juga yang menyuruhmu masuk ?” tanya Darwin menimpali pertanyaan Nata.
“ Dia kekasihku, kamu tidak berhak atas dirinya “ tegas Nata justru membuat Darwin terbahak.
Nata menaikkan alisnya bingung, apanya yang lucu sehingga Darwin tertawa sampai terbahak seperti itu.
“ Tapi dia tidak mengakuimu sebagai kekasihnya “
Sisil menyerngit merasakan kepalanya yang terasa sangat pusing, ditambah lagi teriakan-teriakan dua lelaki yang membuat kepalanya terasa ingin pecah. Matanya menyipit melihat Nata dan Darwin berada disana,
“ Aku akan menikahnya dengannya “ ucap Nata menantang.
__ADS_1
“ Kita lihat saja apakah Cecilia mau menikah denganmu “
“ Kau !”
“ CUKUPPPPPP !!!”
Kedua lelaki itu terbelalak mendengar suara teriakan yang lebih keras daripada suara mereka berdua, Nata dan Darwin menoleh kearah Sisil yang kini memegang kepalanya yang terasa sangat pusing dan juga berat.
“ Ceciliaa “ panggil mereka berdua langsung mendekat kearah Sisil.
“ Dimana yang sakit? Mau aku panggilkan dokter ?” tanya Nata menatap Sisil dengan khawatir.
Wanita itu memalingkan wajah dari Nata, lelaki itu bertanya dimana yang sakit? Mungkin lelaki itu sudah kehilangan ingatan dalam satu malam.
“ Cecilia, kamu butuh sesuatu ? Katakan “ ucap Darwin menatap Sisil dan tersenyum.
“ Apa-apaan sih “ keluh Nata mendorong Darwin untuk menjauh dari Sisil.
Sisil menghembuskan napasnya frustasi, wanita itu tidak bisa beristirahat jika kedua lelaki itu masih ada disana.
“ Pergi !” ucap Sisil tanpa menatap kearah Nata maupun Darwin.
“ Dia mengusirmu, tunggu apa lagi ?” tanya Nata menatap Darwin dengan mengejek.
“ KAMU JUGA, KELUAR SEMUAAA “ teriak Sisil marah.
Baik Nata maupun Darwin menganga tak percaya, keduanya beringsut keluar dari sana. Nata menutup pintu ruang rawat Sisil dengan perlahan. Sebaiknya Nata membiarkan Sisil beristirahat lebih dahulu sebelum Nata membicarakan peristiwa semalam dan hubungan mereka lebih lanjut lagi.
“ Maaf, wali dari Ibu Cecilia ?” seorang perawat menghampiri Nata dan Darwin.
“ Saya walinya “ jawab mereka berdua membuat perawat itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“ Silahkan datang ke ruang administrasi di depan untuk pembayarannya Pak “ ucap perawat itu diangguki Nata dan Darwin.
Mereka berdua saling menatap, detik selanjutnya keduanya berlari untuk sampai diruang administrasi lebih dulu. Keduanya memang nampak seperti anak kecil yang berebut mainan dan tidak mau kalah.
“ Saya wali dari Cecilia “ teriak keduanya membuat semua orang yang ada di meja administrasi menoleh kearah mereka berdua.
Seorang petugas administrasi mengambil beberapa lembar persetujuan perawatan yang harus wali pasien tanda tangani untuk pembayaran dan juga perawatan lebih lanjut.
“ Atas nama bapak siapa ?”
“ Adinata Dirga Pratama “ “ Darwin Jaxon “ ucap mereka berdua bersamaan.
Semua orang disana menatap Nata dan Darwin geli, mereka bahkan sampai tertawa melihat Nata dan Darwin yang saling mengacungkan diri. Nata merebut bolpoint itu dari tangan petugas administrasi dan menandatanganinya dengan segera. Lelaki itu merogoh sakunya, mulutnya menganga begitu mendapati sakunya kosong. Lelaki itu lupa membawa dompet saat dirinya menuju kamar Sisil, sialan.
“ Kamu saja yang bayar “ ucap Nata akhirnya membuat Darwin menatapnya tak percaya.
****
Mereka berdua menunggu Sisil di luar ruangan, tidak ada yang berani masuk kedalam. Nata menghela napasnya berkali-kali,
“ Uang perawatan, nanti aku ganti “ ucap Nata kepada Darwin.
“ Tidak perlu, aku melakukannya untuk Cecilia, bukan dirimu “ jawab Darwin mendengus.
Disaat itu pula perawat masuk kedalam ruang rawat Sisil membawakan makan siang dan juga obat untuk Sisil. Seperti mendapatkan kesempatan, mereka berdua masuk keruang rawat Sisil.
“ Ini makanannya dan juga obat yang harus Ibu Cecilia minum “ jelas perawat itu diangguki Sisil.
Wanita itu tidak menatap Nata maupun Darwin meskipun Sisil tahu jika keduanya ikut masuk kedalam ruang perawatannya.
“ Oh ya katakan kepada mereka berdua, saya tidak ingin diganggu dulu “ ucap Sisil membuat kedua lelaki itu menekuk wajahnya sedih.
__ADS_1
Semarah itukah Sisil dengan Nata hingga menatap wajahnya saja tidak sudi? Bahkan untuk mengusirnya saja harus meminta tolong kepada perawat yang tengah berjaga. Apa yang harus Nata lakukan untuk menebus kesalahannya? Haruskah Nata bersimpuh meminta maaf kepada wanita itu?