
Arkhhhhhhhh, Sisil berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal. Kelakuan Nata sungguh membuatnya uring-uringan. Sepertinya Sisil harus memakai pakaian tertutup hingga hanya menyisakan kedua matanya saja untuk mengantisipasi Bos kurang ajarnya menciumnya sembarangan.
“Aku pulangggggg,“ teriak Sisil setelah mengucapkan salam sesuai agamanya.
Asisten pribadi yang khusus melayani Sisil langsung berlari kecil menuju Sisil.
“Saya bawakan Non,“ ucap asisten pribadi Sisil hendak membawakan tas Sisil.
“Tidak perlu Mbak, tolong buatkan saya minuman dingin, sangat dingin,“ ucap Sisil berseru.
“Baik Non kalau begitu, Mbak buatkan.“
“Jika perlu bawakan kulkasnya sekalian,“ kata Sisil membuat pelayannya tersenyum geli.
Begitulah Sisil, wanita itu mudah sekali terpancing emosinya. Dan sangat lucu ketika marah. Tapi Sisil tidak pernah berkata kasar kepada semua pelayannya di rumah, karena Sisil tahu norma kesopanan di atas segalanya.
Sisil merebahkan tubuhnya di sofa ruang santai keluarganya, kepalanya berdenyut membayangkan ekspresi Nata yang telihat sangat menikmati segala kemarahannya.
“Mungkin lelaki itu tidak waras,“ kesal Sisil.
“Siapa yang tidak waras Sil?” tanya mommy Sisil ketika melihat wajah kusut putrinya sesaat pulang dari kantor.
“Itu, CEO baru Mom,“ adu Sisil kepada mommynya, bibirnya cemberut menandakan wanita itu menahan amarahnya.
“Memangnya kamu diapain sama Bos baru kamu itu?” selidik Nyonya Corlyn kepada putrinya.
“Astaga Mom, lelaki itu sangat menjengkelkan. Dia berani men-“
Ucapan Sisil terhenti, dia tidak mungkin menceritakan hal itu kepada Ibunya. Apa yang harus dia katakan, haruskan Sisil berkata lelaki itu menciumnya sembarangan? Tidak mungkin, Ibunya pasti akan bertanya lebih jauh lagi tentang Nata.
"Men apa Sil?" tanya mommy Sisil dengan penasaran.
"Menyepelekan pekerjaan Sisil, Mom. Wahhhh parah sekali lelaki itu!" keluh Sisil.
Untung saja pelayan pribadi Sisil segera datang dengan minuman soda yang sudah ditambah es batu beberapa bongkahan.
__ADS_1
"Terimakasih, Mbak," ucap Sisil diangguki pelayannya.
Mommy Sisil menggeleng, kesukaan memakan es batu bongkahan menjadi salah satu cara bagi wanita itu menurunkan amarahnya.
"Oh ya Mom, memangnya di komplek sini ada yang seusia dengan Sisil ya, perempuan juga?" tanya Sisil.
Kening mommynya berkerut.
"Sepertinya tidak ada, yang seusia denganmu kan hanya kamu dan ...."
"Viona?" pekik Sisil mengingat bahwa Viona tinggal bersamanya sebelum sepupunya itu melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
Tidak mungkin jika wanita masa kecil Nata itu adalah Viona. Viona tinggal bersama orang tuanya saat itu. Ataukah mungkin dirinya sendiri?
Mana mungkin, Sisil tidak pernah kenal dengan keluarga Nata.
.
Senyuman cerah mengawali hari wanita cantik itu, Sisil berjalan melewati para pegawai perusahaan disana dengan ramahnya. Membuat para lelaki disana menatap Sisil dengan terpesona.
"Selamat pagi Bu Cecilia," sapa cleaning servis yang kebetulan berpapasan dengan Sisil.
Beberapa pegawai lelaki bawahan Sisil hanya bisa berharap bisa bercengkrama akrab dengan 'Bidadari' perusahaan.
"Dia vitamin pagi di kantor," ucap pegawai lelaki disana, memotret Sisil dan menjadikannya story di media sosial miliknya.
Dibelakang pegawai itu, Nata mengamati bagaimana kegaduhan setiap pagi yang dia lihat setiap kali Sisil datang ke kantor dan menebarkan senyumnya yang menawan.
Nata merebut ponsel lelaki itu.
"Memotret seseorang tanpa persetujuan, apalagi menyebarkannya di media sosial bisa diancam hukuman denda dan juga kurungan penjara, kamu mau saya laporkan?" tanya Nata menatap pegawai lelaki itu marah.
"Maaf Pak, tidak saya ulangi lagi," ucapnya tergagap.
"Hapus sekarang juga!" perintah Nata mengembalikan ponsel pegawainya.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab, Nata hanya tidak suka wajah wanita yang dia klaim sebagai kekasihnya tersebar luas di media sosial. Nata tidak mau saingannya bertambah banyak.
Nata harus memperingati Sisil untuk tidak sembarangan tersenyum kepada semua orang.
Lihatlah, bahkan sampai di meja kerjanyapun wanita itu masih tersenyum menyapa siapapun yang dia temui. Dia terlalu ramah atau memang sengaja menarik perhatian semua orang?
"Cecilia Fanyandra, datang ke ruangan saya segera!" ucap Nata dengan nada tegas.
Sisil yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran miliknya hanya bisa mengangguk lemah. Entah apa lagi kemauan Nata yang harus dia turuti.
Sebelum masuk keruangan Nata, Sisil membawa masker, berjaga-jaga saat lelaki itu mungkin saja akan menciumnya mendadak.
Tok..tokkk!
Sisil mengetuk pintu ruangan Nata sebelum kakinya melangkah masuk.
"Ada apa Bapak menyuruh saya ke mari?"
Mata Nata menyipit melihat Sisil memakai masker layaknya seorang dokter rumah sakit.
"Jangan tersenyum didepan semua orang," ucap Nata menyilangkan tangannya ke depan dada.
Sisil menaikkan alisnya bingung, apa salahnya tersenyum.
"Memangnya apa salahnya Pak?" tanya Sisil merasa bingung dengan tingkah laku bosnya yang kian hari kian gila.
"Tentu saja salah, kamu buat semua lelaki terpesona dengan kencantikanmu, saya tidak suka," keluh Nata.
"Tapi tidak ada larangan tersenyum di kantor Pak!"
"Itu larangan baru, dari saya khusus untuk kamu!" jawab Nata penuh kemenangan.
Ada-ada saja kelakuan Bosnya yang satu ini, mana ada larangan tersenyum di Kantor. Bahkan Perusahaan lain menyarankan 3S, senyum, salam, sapa ketika berada di Kantor.
"Kamu mengerti tidak?"
__ADS_1
"Me-mengerti Pak," jawab Sisil merasa gugup dengan tatapan mata bosnya kepada dirinya.
Susah memang menjadi wanita cantik, selalu menjadi pusat perhatian mata semua orang. Dan, Sisil merasa beruntung memiliki paras seperti itu.