Meet Again Princess

Meet Again Princess
Mengingat Kembali


__ADS_3

Rebecca menatap ruangan yang nampak asing di ingatannya. Berkali-kali wanita itu menggelengkan kepalanya, berusaha untuk membawa kembali kesadarannya ke dunia nyata. Rebecca meyakini bahwa dirinya kini pasti tengah bermimpi buruk hingga dia harus terbangun dalam identitas yang berbeda. Semua orang memanggilnya Audrey sejak dirinya membuka mata untuk pertama kalinya.


Padahal, Rebecca masih mengingat dengan benar setiap detik waktu dalam hidupnya yang dia lewati bersama dengan Pangeran Niel dan Gabriel. Bahkan saat ini, dengan smartphone di tangannya, dirinya masih belum menemukan berita apapun tentang keluarga kerajaan. Rebecca juga tidak bisa mengakses segala media sosial miliknya. 


Wanita itu sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini. Pikiran Rebecca kembali berkelana pada hari di mana Gabriel mempertaruhkan nyawanya untuk dirinya.


“Rebecca, demi keselamatanmu, kamu harus kembali ke Indonesia.”


Pernyataan Pangeran Niel kala itu, ketika Rebecca berdiri dengan lemas menunggu sosok Gabriel yang menghilang usai sadarkan diri. Rebecca benar-benar khawatir, wanita itu tidak bisa membayangkan jika Gabriel akan mendatangi Anthonie. Siapa yang berpikir lelaki yang baru saja selamat dari maut usai kecelakaan besar langsung bertekad bulat menemui musuh Pangeran Edward yang berani menyentuh Rebecca.


Dia Gabriel, tidak peduli berapa banyak luka, seberapa dalam sayatan yang dia terima demi melindungi wanita yang dia cintai teramat besar. Dalam pikiran Gabriel, asalkan Rebecca baik-baik saja maka nyawanya dia pertaruhkan sekalipun Gabriel siap siaga. Beraninya Anthonie menyentuh wanitanya, beraninya Anthonie berniat melukai Rebecca bahkan hampir membunuhnya.


Ada satu hal yang Gabriel tahu, Rebecca adalah anak Pangeran Edward yang sejak awal telah menjadi target oleh Anthonie demi menyingkirkan ayah kandung dari Rebecca dari kursi calon presiden Negara Perancis. Rebecca, wanita itu datang secara tiba-tiba dalam hidup Gabriel dan memporakporandakan prinsip yang telah dia pertahankan sejak awal.


Darah bercucur dari lengan Gabriel, lelaki itu mengemudikan mobil milik salah satu anak buah Anthonie dengan meringis kesakitan. Sekarang Rebecca tengah berada di rumah sakit, Gabriel tahu kalau wanita itu pasti sedang mengkhawatirkan dirinya. Gabriel beberapa kali membunyikan klakson mobil yang dia naiki agar para pengendara di dekatnya segera menyingkir.


“Jangan khawatir Rebecca, aku pasti kembali dengan selamat,” ucap Gabriel menahan perih sayatan senjata tajam di lengannya.


Genangan darah membasahi baju yang kini Gabriel pakai, bahkan kursi dan setir mobil semuanya berlumuran dengan darah kental milik Gabriel. Aroma amis menyeruak memenuhi isi mobil, namun Gabriel telah biasa berkecimpung pada dunia yang dipenuhi oleh cucuran darah orang.


Kini semua mata menatap lelaki itu ketika dirinya keluar dari mobil dan memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk rumah sakit. Security dan perawat Unit Gawat Darurat sontak saja menghampiri Gabriel.

__ADS_1


“Tuan, Anda tidak apa-apa? Mari saya bantu,” kata security rumah sakit.


Gabriel menggeleng, lelaki tidak ingin merepotkan orang-orang di sana. Terlebih Gabriel harus segera naik ke ruang perawatannya untuk menemui Rebecca. Bayangan wajah khawatir dari Rebecca memenuhi pikiran Gabriel saat ini.


“Minggir, aku harus naik ke atas,” jawab Gabriel berjalan dengan bibir bergetar.


“Tuan, tangan Anda berdarah. Anda harus diobati,” teriak perawat Unit Gawat Darurat ketika Gabriel berjalan menjauhinya.


Gabriel tidak memperdulikan teriakan perawat itu, langkah kakinya terus saja menjangkau lift untuk membawa tubuhnya naik ke ruang perawatannya. Gabriel menekan tombol lantai di mana Rebecca kini berada. Tidak butuh waktu lama, pintu lift tertutup dan berjalan naik sesuai tombol lantai yang telah Gabriel tekan.


Ting! Pintu lift terbuka, Gabriel berjalan tergopoh-gopoh keluar dari lift. Matanya berkaca-kaca ketika melihat punggung wanita yang sangat dia cintai. Darah dari lengannya menetes di jubin putih yang lelaki itu lewati.


“Kau takut meninggalkan Gabriel sendiri di sini?” tanya Pangeran Niel yang mampu Gabriel dengar dari tempatnya berdiri.


“Ree-“ Suara Gabriel terasa parau, kakinya begitu lemas.


Tubuh Gabriel limbung, tersungkur pada lantai dingin di bawahnya. Suara menggema yang ditimbulkan membuat Rebecca dan Pangeran Niel sontak saja menoleh ke asal suara. Tanpa berpikir panjang Rebecca berlari menyusul Gabriel. Wanita itu bersimpuh, menangkap tubuh Gabriel. Mata Rebecca terbelalak melihat darah yang berasal dari tubuh Gabriel.


Mata Rebecca berkaca-kaca. “Gab, a-apa yang terjadi padamu, hah?” teriak Rebecca berlinang air mata.


Lelaki itu tersenyum begitu menawan, mencoba menunjukkan kepada wanita yang dia cintai bahwa dirinya baik-baik saja. Tangan Gabriel menyentuh wajah Rebecca hingga meninggalkan bekas darah yang bercucur dari lengannya di pipi Rebecca. Senyuman yang keluar dari bibir Gabriel membuat hati Rebecca terasa remuk redam hingga tidak mampu dia artikan lagi.

__ADS_1


“Aku punya senjata untuk melindungimu,” ucap Gabriel menatap Rebecca dengan senyuman teduhnya.


Rebecca menggeleng, mengapa Gabriel membahayakan nyawanya hanya untuk melindungi dirinya. Dada Rebecca serasa sesak, wanita itu tidak mampu membendung air matanya lagi. Tangan Gabriel yang menyentuh pipinya kini luruh ke lantai. Mata setajam elang milik Gabriel terpejam, menandakan bahwa lelaki itu tidak sadarkan diri saat ini.


“Bangun Gab, atau aku akan membunuhmu!” teriak Rebecca mengguncang tubuh Gabriel.


Pangeran Niel langsung menghubungi pengawalnya, lelaki itu meminta agar mereka segera mengirimkan dokter serta perawat ke sana untuk menyelamatkan Gabriel. Tidak membutuhkan waktu lama, dokter dan perawat berlarian keluar dari lift. Mereka membopong tubuh Gabriel masuk ke dalam ruang perawatan.


Rebecca hendak ikut masuk ke dalam, akan tetapi Pangeran Niel menyentuh pundak Rebecca dan menghentikannya. 


“Hei, dokter bersamanya,” ucap Pangeran Niel sambari menyentuh tangan Rebecca.


Jika Rebecca masuk ke dalam ruangan, dokter dan perawat pasti akan merasa terganggu dengan kehadiran Rebecca di sana. Pangeran Niel mengerti kekhawatiran yang kini Rebecca rasakan, namun semua ini demi keselamatan Gabriel. Melihat darah yang bercucur dari lengan Gabriel, lelaki itu telah kehilangan banyak darah. Apabila Gabriel tidak segera ditolong, maka siapa yang tahu jika terjadi sesuatu dengan pengawal kesayangan Rebecca itu.


Rebecca memeluk erat Pangeran Niel, menangis dalam pelukan pangeran dari Kerajaan France. Pangeran Niel mengelus puncak kepala Rebecca dengan lembut, menenangkan wanita yang dia cintai agar mampu menahan dirinya.


“Gabriel, dia. Hiks … dasar bodoh!” ucap Rebecca terisak dalam pelukan Pangeran Niel.


Jantung Pangeran Niel serasa dicubit melihat wanita yang dia cintai tengah menangisi lelaki lain di dalam dekapan hangatnya. Tak pernah Pangeran Niel rasakan sebelumnya perasaan menyakitkan seperti hari ini. Keberanian Gabriel seakan menamparnya dengan kenyataan bahwa segala tuduhan yang dia tujukan kepada Gabriel sebelum hari ini bukanlah kenyataan. Pangeran Niel mengetahui segala seluk beluk tentang Gabriel, Pangeran Niel mengira jika kehadiran Gabriel di dalam kerajaan hanya untuk menghancurkan seluruh keluarga kerajaan.


Hari ini Pangeran Niel menyadari satu hal, semua yang Gabriel lakukan selama ini murni atas perasaannya semata. Gabriel begitu berani menjadikan nyawanya taruhan. Terbesit dalam benak Pangeran Niel, mampukah dirinya melakukan hal yang sama jika dirinya menjadi Gabriel?

__ADS_1


‘Benar, dia lelaki bodoh yang mempertaruhkan hidupnya untukmu.’


Kebodohan Gabriel demi menyelamatkan Rebecca membuat Pangeran Niel serasa ditampar oleh kenyataan. Matanya menatap para tim medis di dalam sana dari kaca, bisakah Tuhan menunjukkan kebesarannya saat ini? Membiarkan pertarungan Pangeran Niel dan Gabriel seimbang, tanpa menghilangkan nyawa salah satu di antara mereka. Isak tangis dari wanita yang dia cintai membuat Pangeran Niel merasa berat, mengakui bahwa lelaki yang tengah terkapar di dalam ruang perawatan sangat penting bagi Rebecca.


__ADS_2