Meet Again Princess

Meet Again Princess
Kisah Cinta Mama Papa


__ADS_3

Pemikiran Rebecca mengenai dunia pararel rupanya bukan hanya halusinasinya semata. Pasalnya, demi membuktikan jika dirinya tidak dalam alam mimpi, ataupun pengaruh dari obat-obatan, wanita itu berkali-kali menampar wajahnya sendiri dan merasakan sakit yang sangat nyata. Rebecca tidak salah lagi, kali ini Audrey telah membawanya masuk ke dalam tubuh wanita itu. 


Jika benar kedatangannya ke dunia pararel itu untuk berjumpa lagi dengan Gabriel, maka Rebecca akan berterima kasih banyak kepada Audrey karena sudah memberikannya kesempatan kedua. Rebecca akan menantikan, pertemuannya dengan Gabriel di dunia ini. Dengan segenap perasaannya, Rebecca akan memberitahu Gabriel tentang semua rasa, dan juga pengorbanan yang sebenar-benarnya.


Kepergian Gabriel telah menorehkan luka teramat dalam bagi Rebecca. Wanita itu kehilangan bumi tempatnya berpijak, Rebecca seakan kehilangan alasannya untuk tetap melanjutkan hidupnya saat wajah pucat Gabriel lah yang terakhir kali dia lihat sebelum mayat lelaki itu dikremasi di rumah duka sebelum abu jenazahnya dimasukkan ke dalam liang lahat. Di sanalah tempat peristirahatan terakhir Gabriel.


Ya, ini adalah cara Tuhan memberinya kesempatan berterima kasih kepada Gabriel. Mengungkapkan segala keluh kesah Rebecca, dan mengucapkan selamat tinggal yang belum sempat dia ucapkan di dunia nyatanya.


“Nona Muda, apakah terjadi sesuatu di dalam?” seru Mia memanggil Rebecca dengan beberapa ketukan di pintu kamar mandi.


“Tidak ada, aku akan keluar sebentar lagi,” kata Rebecca segera mengenakan kimono mandinya untuk segera menuju walk in closet, berganti baju, dan bersiap diri.


Di luar sana, Mia telah menunggunya. Mia bersama dua orang pelayan berdiri dengan pakaian serta aksesoris yang akan Rebecca kenakan nantinya untuk menyambut kedatangan ayah dari Audrey Bonadetto.


‘Audrey, aku akan melakukan peranku dengan baik,’ batin Rebecca menatap dirinya dari pantulan kaca rias.


Mia bersama dua pelayan membantu Rebecca untuk berganti baju, setelah itu pelayan rumah yang memang bertugas sebagai perias tengah memoles beberapa make up di wajah Rebecca. Tangannya yang lihai gemulai, menari bersama spon dan kuas make up membuat wajah Rebecca semakin menawan.


Make up sederhana, sangat kontras dengan kulit putih milik Rebecca saat ini.


“Anda sangat cantik, Nona Muda,” puji pelayan yang bertugas sebagai perias khusus di rumah yang kini Rebecca tempati.


“Hm, banyak yang bilang begitu,” jawab Rebecca dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Tidak ada wajah merah merona ketika mengatakan jawaban itu, semuanya dalam pemantauan Mia. Kepala pelayan di rumah keluarga Bonadetto rupanya merasa bingung dengan segala perubahan pada diri nona mudanya usai tidak sadar dalam beberapa hari.


Rasanya, Mia ingin mengakui ada yang tidak beres pada diri Audrey. Namun Mia sendiri merasa bingung, semuanya terlihat sama. Dan, Dokter Khatrine mengatakan bahwa Audrey hanya menceritakan mimpi panjangnya saat dia tidak sadarkan diri. Semua ucapan Audrey, hanyalah kisah singkat tentang mimpinya saja.


“Nona Muda, Tuan Besar telah datang,” kata pelayan lainnya mengetuk pintu kamar Audrey.


Rebecca kini menoleh, dia kemudian menatap Mia seolah bertanya apa yang akan dia lakukan saat ini. Mia terlihat sama bingungnya dengan Rebecca. Biasanya, nona mudanya itu akan berlari menuruni tangga ketika mendengar berita ayahnya telah sampai di rumahnya. Namun perilaku Audrey sekarang terlihat cukup acuh, dan juga mengherankan siapapun yang melihatnya.


“Mari kita turun ke bawah, Nona Audrey,” ujar Mia mempersilahkan Rebecca berjalan lebih dulu.


Rebecca meremas tangannya, aneh sekali. Rebecca justru terlihat seperti orang asing yang tengah memerankan peran seakan dirinya ini adalah Audrey Bonadetto. Tidak tahu apa kesukaan wanita itu, dan apa yang dibenci oleh Audrey. Rebecca bertindak-tanduk sebagai Rebecca Carollino yang berperilaku bebas tanpa batasan dari siapapun, terkecuali batasan dari mamanya—Valeria Roseandra Corlyn—tak mampu dia langgar atau nyawanya akan melayang, hanya hiperbola Rebecca saja.


“Em, Mia. Apa yang harus aku katakan kepada Tuan Joseph?” tanya Rebecca ragu-ragu.


Rebecca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ‘Masa aku harus memanggil Tuan Joseph sebagai ayah?’ pikir Rebecca.


“Silahkan, Tuan Besar. Nona Muda sudah turun,” ucap para pelayan mempersilahkan tuan besarnya untuk masuk ke dalam rumah.


Langkah kaki Rebecca terhenti, kakinya terasa kaku untuk digerakkan. Sosok siapa yang datang di depannya membuat Rebecca terkejut bukan main. Usai dirinya dengan status berbeda, mamanya, kemudian Meechella, kali ini Pangeran Edward berdiri di hadapannya dengan tatapan yang mungkin Rebecca sendiri tak mampu mengartikannya.


“Papa,” gumam Rebecca mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengamati apakah lelaki yang tengah berjalan ke arahnya benar-benar sang papa atau hanya halusinasinya semata.


“Tuan Besar, selamat datang,” sapa Mia membungkuk hormat.

__ADS_1


Tuan Joseph hanya mengangguk, matanya lebih fokus kepada putrinya yang hanya diam menatapnya tanpa berkedip. Tidak biasanya Audrey hanya diam melihat kedatangan dirinya ketika Joseph telah lama tak menampakkan dirinya.


“Audrey, kamu marah kepada Papa karena Papa tidak datang ke acara pemakaman Mama?” tanya Tuan Joseph membuat Rebecca terkejut.


Demi Tuhan, bahkan kisah cinta Pangeran Edward dan Margareth dibawa ke dunia pararel dengan jalan cinta yang sama menyesakkan dada. Mereka terlihat saling mencintai, tapi keadaan membuat mereka tak bisa menunjukkan hubungan suci mereka kepada dunia luar.


Pada dunia ini, siapakah yang menjadi penghalang hubungan Pangeran Edward dan Margareth? Mungkinkan Tuan Putri Christine juga ada dalam dunia pararel yang tengah Rebecca singgahi sekarang?


“Maafkan Papa, Audrey,” kata Joseph justru menyentak Rebecca ke kenyataan.


Rebecca mundur sesaat, lelaki itu memang sama persis dengan papanya. Tidak ada yang berbeda, suara mereka sama persis, dan kebodohan keduanya juga bagaikan pinang dibelah menjadi dua.


“Mengapa … mengapa Papa tidak datang?” tanya Rebecca mati-matian menahan keterkejutannya.


Tuan Joseph terdiam sesaat, mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan alasan mengapa dia tidak bisa datang ke acara pemakaman wanita yang sangat dia cintai. Bahkan Tuan Joseph tidak mampu menengok putrinya yang beberapa hari tak sadarkan diri. Semua itu karena Alexa, istrinya mengancam Joseph dengan keselamatan Audrey jika Joseph sampai nekat menemui putrinya.


“Papa, tengah berada di luar negeri dan baru kembali hari ini. Papa sangat merindukanmu, Audrey putriku,” kata Joseph membuat Rebecca mengerjapkan matanya.


Hatinya terasa diremas, entah mengapa menyaksikan jalan cerita orang tua kandungnya tidak bisa bersama baik di dunianya sendiri maupun di dunia pararel selalipun. Kejutan apa lagi yang akan Rebecca dapatkan di dunia itu?


“Bahkan kau sama bodohnya tak peduli di mana kau berada,” lirih Rebecca seperti bergumam seorang diri.


“Audrey, Papa bisa menjelaskan segalanya kepadamu,” tutur Tuan Joseph mencoba mengambil hati Audrey.

__ADS_1


__ADS_2